
Hehhh
Tanpa Iyya menghela
nafas, ia menatap kecewa pada daddy nya. Seandainya ia sudah dewasa pasti ia ingin sekali menabok kepala daddy nya dan mengatakan jangan lama-lama. tapi sayangnya dia hanya anak kecil, yang bahkan untuk mengerti isi hatinya saja butuh orang lain untuk menerjemahkannya.
“Cayang cekayi, padahal
tadi om Langga belucaha menggoda mom Eca, untung ada Iyya di cini!”
Celetuk Iyya dengan
polosnya membuat Div seketika menolah pada Iyya dan Ersya. Aneh, rasanya ia sangat tidak rela jika ada yang mendekati mereka berdua. Membuat Div kehilangan konsetrasinya.
“Div …!” teriak Ersya
saat melihat ada sebuah mobil sedang di depannya hendak menabrak mereka,
teriakan Ersya membuat Divta sadar, ia segera mengendalikan mobilnya agar tidak
keluar jalur.
Ersya terus memegangi
tubuh mungil Iyya dalam dekapannya saat Div berusaha mengendalikan mobilnya yang hampir oleng, untung saja pria itu dulu gemar melakukan balap
liar, jadi bukan hal yang sulit hanya untuk memanufer mobilnya saja.
Cekkkikkkk
Gue belum mau mati ……
Suara decitan rem yang beradu dengan aspal jalanan, menggema di telinga, mata Ersya terus terpejam. Tampak sekali jika ia begitu ketakutan.
“Sudah …, buka mata kalian!”
Suara berat itu membuatnya yakin untuk membuka matanya. Tapi tangannya masih terus mendekap gadis kecil itu dalam pelukannya. Perlahan ia membuka matanya.
“Lo apa-apaan sih, mau
buat kita mati?”
Ersya terlihat begitu
marah pada Div, ia bahkan belum mau melepaskan Iyya walaupun keadaannya sudah
aman. Mobil itu sudah berhenti di bahu jalan. Meninggalkan jejak ban yang menggaris aspal di sepanjang jalan yang di lalui.
Hmm
Div berdehem, ia memang
salah tapi dia paling tidak suka jika di marahi apalagi ini di depan putrinya. Untung Div bukan tipe orang yang suka meledak-ledak di depan umum. Ia lebih
suka menyelesaikan masalah tanpa orang lain.
“Mom …, Iyya nggak bisa
nafas!”
Gadis kecil itu
terlihat kesusahan bergerak karena Ersya terus mendekapnya, bahkan wajahnya
berada tepat di dada Ersya. Ersya pun tersadar, ia segera melepaskan
dekapannya.
“Iyya …, Iyya nggak pa
__ADS_1
pa kan?” tanya Ersya sambil memperhatikan seluruh tubuh Iyya memastikan jika
tidak ada yang terluka.
“Iyya nggak pa pa mom …! Dad jago bawa mobilnya, jadi mom nggak ucah khawatir!”
Mendengar ucapan
Iyya, Ersya mengerutkan keningnya. Ia beralih menatap Div yang terlihat begitu
tenang.
“Ini maksudnya
apa nih? Jangan bilang kalau ini sudah sering terjadi?” tanya Ersya dan Iyya
pun menganggukkan kepalanya.
Ersya terlihat begitu kesusahan menelan ludahnya sendiri, seketika wajahnya berubah pucat. Seharusnya ia tidak perlu heran karena di hari pertama mereka bertemu juga mereka hampir bertabrakan. Tapi jika di pikir waktu itu memang tidak di ketahui siapa yang salah di antara mereka. mungkin Div juga salah saat itu karena tidak
konsentrasi jika di depannya ada mobil seperti kejadian tadi.
Ersya memeluk tubuh Iyya lagi dan menatap Div dengan begitu tajam.
“Gue jadi takut naik mobil
sama lo!”
“Ohhh maksudnya
mau naik mobilnya sama Rangga, iya?”
“Ihhh kok jadi bawa-bawa Rangga sih!”
“Kamu kan suka di goda sama dia!”
“Siapa yang bilang?”
Kali ini ucapan Ersya tertahan saat akan mendebat lagi ucapan Div, ia beralih menatap Iyya dan
anak perempuan itu tersenyum puas melihat ekspresi wajah Ersya.
Karena Ersya tidak lagi melanjutkan ucapannya, Div pun kembali melajukan mobilnya. Kembali memecah keramaian kota Jakarta cukup ramai. Sesekali Ersya memperhatikan mimik wajah pria di sampingnya itu, seperti tanpa dosa. Ia bahkan sama sekali tidak mengucapkan maaf untuk kepanikan yang ia rasakan hari ini.
Iyya terlihat sudah tertidur di dalam pangkuannya, seandainya saja tidak ada Iyya hari ini,
Ersya pasti sudah mengeluarkan jurus silatnya.
Kesal ….
Pengen sekali marah, tapi ia harus berpikir ulang untuk marah. Mana ada baby sitter yang memarahi atasannya.
Bukankah hari ini akan menjenguk orang melahirkan?
Ersya menoleh ke belakang, bangku belakang terlihat begitu bersih tidak ada apapun.
Apa dia tidak menyiapkan bingkisan …?
Wanita itu kembali menatap pria di sampingnya itu, ingin sekali bicara tapi mulutnya masih
begitu sayang untuk ia gunakan berbicara dengan pria itu.
Hahhh …, masa bodoh lah …
Hemmm
Ersya berdehem, ia berharap pria itu akan menoleh padanya dan bertanya. Satu, dua, tiga …,
tidak ada respon sama sekali. Menyebalkan …
__ADS_1
“Bisa kita berhenti sebentar?”
Ersya benar-benar menjatuhkan harga dirinya dengan bertanya lebih dulu. tapi pria itu
masih dengan gayanya yang cool, tidak menoleh padanya. payah ….
“Tuan Div yang terhormat, bisakah kita mampir ke tempat oleh-oleh sebentar?”
Benar-benar pria yang menyebalkan level akut menurut Ersya, setelah ia berbicara manis barulah pria itu menoleh padanya dan tersenyum. Jika ia tidak mengenal siapa pria itu
pastilah dia kana sangat jatuh cinta pada senyum pria itu. Begitu mempesona. Heoks ….
“Begitu lebih bagus!”
Ohhhh astaga …, dia ini benar-benar membuatku muak
….
Ersya memilih mengalihkan tatapannya ke depan dari pada terus menatap pria yang bisa membuatnya naik pitam. Tapi ternyata Div cukup peka, ia menghentikan mobilnya tepat di depan toko buah. Karena masih di rumah sakit, mungkin buah lebih cocok untuk di jadikan oleh-oleh. Nanti kalau
sudah di rumah barulah mereka bisa membawa pernak-pernik bayi.
Div menoleh pada Ersya, ia melihat putrinya tertidur pulas di gendongan Ersya.
“Biar aku saja yang turun!” Div menawarkan diri, pasti akan sulit bagi Ersya untuk turun, lagi
pula Iyya pasti juga akan terbangun.
“Beneran tidak pa pa?”
“Iya!”
Div pun melepas sabuk pengamannya, ia mengambil dompet yang ia selipkan di dasbor mobil. Pria
itu turun dan berjalan mengitari mobil karena toko buah itu berada di sebelah
Ersya.
Div tampak
memilih beberapa buah dan penjualnya memasukkan satu per satu ke dalam
keranjang buah dan membungkusnya. Setelah melakukan pembayaran, Div kembali berjalan menghampiri mobil, ia meletakkan keranjang buah itu di bangku belakang
dan kembali menjalankan mobilnya meninggalkan toko buah. Jarak rumah sakit
dengan toko buah cukup dekat jadi hanya dalam waktu lima menit saja mobil itu
sudah sampai.
Mobil itu berhenti tepat di depan gedung rumah sakit FrAd Medika tempat Nadin melahirkan.
“Biar aku yang turun duluan!” ucap div tiba-tiba membuat Ersya sedikit terkejut, “Diam dan aku akan menggendong Iyya!”
Ersya hanya menganggukkan kepalanya. Bisa lembut juga
dia ….
Div membuka pintu yang ada di samping Ersya, memperhatikan posisi Iyya yang tidur menghadap Ersya dengan kepala menempel di dada Ersya.
“Lepaskan tanganmu!” perintah Div.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰