Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
mom eca


__ADS_3

“Aku


sedang ada perjalanan bisnis bersama pak Divta! Semalam aku melihat mu di sini,


aku kira aku sedang berhalusinasi tapi ternyata pagi ini aku benar-benar


bertemu denganmu!”


“Sejak


kapan di sini? Tanya Felic.


“Sejak


kemarin! Kanapa sendiri?” tanya Rangga. Tapi Felic memilih untuk diam. Rangga


jadi begitu penasaran dengan wanita itu.


“Ga


…, gue boleh memastikan sesuatu?”


“Apa?”


Srekkkkk


Dengan


tiba-tiba Felic memeluknya, membuat Rangga tercengang, cukup lama Felic


memeluknya, yang awalnya ia tidak ingin membalasnya , tangannya menjadi


tertarik untuk membalas pelukan itu.


Setelah


puas, Felic pun melepaskan pelukan Rangga.


“Aku


sudah tahu jawabannya!” ucap Felic kemudian.


“Apa?”


tanya rangga yang masih bingung.


“Maaf


tapi hati ini sudah bukan milikmu lagi!”


Ucapan


Felic benar-benar seperti belati yang sudah menghujam jantungnya, apapun itu. Rangga


terdiam di tempatnya meskipun wanita itu sudah pergi meninggalkannya.


Rangga


pun memilih kembali ke resort, langkahnya terhenti di depan pintu masuk. Divta


sedang berdiri di sana menatap Rangga dengan penuh selidik, Divta tahu siapa


yang baru memeluk pria itu, istri dari sahabat adik nya.


“Pak


Divta!”


“Aku


melihat semuanya!”


“Maafkan


saya pak Div, tapi Felic hanya bagian dari masa laluku yang sedang berusaha


untuk saya lupakan!”


“Baguslah


…, kalau tidak makan akan sulit bagimu untuk hidup tenang!”


Sebelum


Rangga kembali bertanya, Iyya sudah berlari kecil menghampiri daddy nya.


“Dad


…!”


“Hai


Iyya sayang …, sudah siap?” tanya Div sambil mengangkat tubuh mungil itu dan


Iyya pun mengangguk.


“Bersiaplah,


kita harus egera sarapan!” ucap Divta pada Rangga.


“Baik


pak!”


Iyya


begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada Rangga, pria itu terlihat begitu


sedih menurutnya.


“Dad

__ADS_1


…!” ucap Iyya sambil menjauhkan wajahnya dan mendongakkan agar bisa melihat kea


rah daddy nya, tangannya mengalung sempurna di leher daddy nya.


“Iya?”


tanya Div sambil berjalan.


“Apa


om Langga cedih …?”


“Menurut


Iyya bagaimana?”


‘Om


Langga teliahat cedih …, kayak Dad pas Iyya cakit!”


“Iya


seperti nya. Tapi jangan khawatir nanti om Rangga nggak akan sedih lagi kan ada


Iyya yang hibur om Rangga!”


Sekretaris


Revan tetap berjalan mengikuti langkah Divta, mereka menuju ke restoran yang di


sediakan oleh resort.


“Dad


…, Iyya mau liat pantai dulu sebelum makan!” ucap Iyya.


“Begitukah


…? Baiklah kita ke pantai dulu ya lihat ombak!” Divta kembali mengankat tubuh


Iyya.


“Revan,


kalau Rangga sudah sampai suruh menyusul ke pantai!”


“Baik


pak!”


Divta


pun mengajak Iyya kie pantai, mereka menikmati matahari pagi yang memang


panasnya belum terlalu menyengat, masih jam setelah tujuh, jadi sinarnya masih


bersahabat.


“Iyya


“Baiklah


…, kamu di sini ya …, daddy yang fotoin!”


Divta


pun meminta Iyya berfose dan Div mulai membidikkan kameranya. Hal itu ia


lakukan hingga berkali-kali dengan fose yang berbeda.


“Kita


halus foto beldua dad, nanti kalau mommy Iyya kembali kita bisa foto beltiga!”


ucap Iyya membuat Divta terdiam.


Anak ini benar-benar membuatku


semakin bersalah saja ….


Akhirnya


Divta pun mengambil posisi, mereka berfoto selvi, sambil mengabadikan


pemandangan-pemandangan yang bagus itu.


“Iyya


melindukan mom, Dad …!” ucap Iyya dalam pelukan daddynya. Tangannya mengalung


sempurna di leher Div. wajahnya berubah sendu setiap kali mengingat mommy nya.


“Daddy


juga!” ucap Divta, ia bahkan belum sempat mengucapkan minta maaf dan


terimakasih dengan anugerah yang di titipkan padanya. ia juga tidak bisa


mengucapkan salam perpisahan. Andai saja waktu dapat di putar, ia tidak akan


pernah meninggalkan Davina sendiri dengan beban yang begitu berat.


“Dad


…, bagaimana mom nya Iyya? Apa mom nya Iyya cantik?” tanya Iyya lagi, ia hanya


pernah melihat wajah mommy nya di foto yang sengaja iv pasan di kamar Iyya,


agar Iyya bisa setiap hari menatap wajah mommy nya.


“Iya

__ADS_1


…, mom nya Iyya secantik Iyya!” dulu dia terlalu picik, Davina tidak jahat tapi


dia hanya meminta keadilan atas penderitaan yang selama ini ia terima, ia ingin


memiliki cinta yang sama seperti gadis-gadis lain, putri-putri lain dan juga


teman-teman lain. tapi sepertinya dia kurang beruntung, aksi protesnya malah


membuat dirinya di benci oleh orang lain.


“Apa


wajahnya sama dengan bidadali yang kehilangan cayapnya itu?” tanya Iyya lagi


saat mengingat tentang Ersya.


“Siapa?”tanya


Div yang lupa tentang kejadian itu, ia bukan orang yang suka mengingat


kejadian-kejadian kecil.


“Mom


Eca!” ucap Iyya, Ersya  sudah sempat menyebutkan


namanya.


“Ica?”


tanya Div.


“Eca


dad …!”


“Eca,


siapa Eca?”


“Dia


bidadali Iyya ..!”


Divta


terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak sanggup mengatakan jika


mimpinya itu tidak mungkin terjadi karena mimpi itu yang membuat Iyya tetap


sehat sampai saat ini.


“Apa


nanti kalau bidadali Iyya cudah ketemu cayapnya, juga akan pelgi cepelti mom


nya Iyya?”


Divta


bingung harus mengatakan apa, putrinya semakin lama semakin pintar saja, Iyya


menjadi banya bertanya yang pertanyaannya sulit untuk dia jawab.


Bagaimana daddy bisa membawanya


untukmu Iyya …, daddy tidak mengenalnya …


“Sayang


…, itu om Rangga! Kita sarapan dulu ya!” ucap divta yang mengalihkan


pembicaraan. Bersyukurlah karena Rangga datang tepat waktu.


“Maaf


pak, menunggu terlalu lama!” ucap Rangga saat menghampiri mereka.


“Tidak


pa pa, ayo …!”


Mereka


pun berjalan memuju ke resto, Revan sudah menunggu di sana dnegan menu yang


begitu lengkap di atas meja. Ekretaris Revan juga sudah menyiapkan obat yang


harus di minum oleh Iyya nantinya.


Setelah


menikmati sarapannya, Divta pun segera melakukan meeting dnegan klien yang


datang dari luar negri, mereka akan berencana memperkenalkan resort itu hingga


ke luar negri beserta pantainya yang indah.


Tugas


Divta adalah mengajak tamunya itu untuk berkeliling melihat keindahan resort


dan juga pantai itu, mendeskripsikan setiap tempat dengan begitu indah.


Bersambung


jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dnegan emmebrikan like dan komentarnya ya, kasih vote juga yang banyak, hadiahnya juga jangan lupa.


follow ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


 


happy Reading


__ADS_2