
“Aku
sedang ada perjalanan bisnis bersama pak Divta! Semalam aku melihat mu di sini,
aku kira aku sedang berhalusinasi tapi ternyata pagi ini aku benar-benar
bertemu denganmu!”
“Sejak
kapan di sini? Tanya Felic.
“Sejak
kemarin! Kanapa sendiri?” tanya Rangga. Tapi Felic memilih untuk diam. Rangga
jadi begitu penasaran dengan wanita itu.
“Ga
…, gue boleh memastikan sesuatu?”
“Apa?”
Srekkkkk
Dengan
tiba-tiba Felic memeluknya, membuat Rangga tercengang, cukup lama Felic
memeluknya, yang awalnya ia tidak ingin membalasnya , tangannya menjadi
tertarik untuk membalas pelukan itu.
Setelah
puas, Felic pun melepaskan pelukan Rangga.
“Aku
sudah tahu jawabannya!” ucap Felic kemudian.
“Apa?”
tanya rangga yang masih bingung.
“Maaf
tapi hati ini sudah bukan milikmu lagi!”
Ucapan
Felic benar-benar seperti belati yang sudah menghujam jantungnya, apapun itu. Rangga
terdiam di tempatnya meskipun wanita itu sudah pergi meninggalkannya.
Rangga
pun memilih kembali ke resort, langkahnya terhenti di depan pintu masuk. Divta
sedang berdiri di sana menatap Rangga dengan penuh selidik, Divta tahu siapa
yang baru memeluk pria itu, istri dari sahabat adik nya.
“Pak
Divta!”
“Aku
melihat semuanya!”
“Maafkan
saya pak Div, tapi Felic hanya bagian dari masa laluku yang sedang berusaha
untuk saya lupakan!”
“Baguslah
…, kalau tidak makan akan sulit bagimu untuk hidup tenang!”
Sebelum
Rangga kembali bertanya, Iyya sudah berlari kecil menghampiri daddy nya.
“Dad
…!”
“Hai
Iyya sayang …, sudah siap?” tanya Div sambil mengangkat tubuh mungil itu dan
Iyya pun mengangguk.
“Bersiaplah,
kita harus egera sarapan!” ucap Divta pada Rangga.
“Baik
pak!”
Iyya
begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada Rangga, pria itu terlihat begitu
sedih menurutnya.
“Dad
__ADS_1
…!” ucap Iyya sambil menjauhkan wajahnya dan mendongakkan agar bisa melihat kea
rah daddy nya, tangannya mengalung sempurna di leher daddy nya.
“Iya?”
tanya Div sambil berjalan.
“Apa
om Langga cedih …?”
“Menurut
Iyya bagaimana?”
‘Om
Langga teliahat cedih …, kayak Dad pas Iyya cakit!”
“Iya
seperti nya. Tapi jangan khawatir nanti om Rangga nggak akan sedih lagi kan ada
Iyya yang hibur om Rangga!”
Sekretaris
Revan tetap berjalan mengikuti langkah Divta, mereka menuju ke restoran yang di
sediakan oleh resort.
“Dad
…, Iyya mau liat pantai dulu sebelum makan!” ucap Iyya.
“Begitukah
…? Baiklah kita ke pantai dulu ya lihat ombak!” Divta kembali mengankat tubuh
Iyya.
“Revan,
kalau Rangga sudah sampai suruh menyusul ke pantai!”
“Baik
pak!”
Divta
pun mengajak Iyya kie pantai, mereka menikmati matahari pagi yang memang
panasnya belum terlalu menyengat, masih jam setelah tujuh, jadi sinarnya masih
bersahabat.
“Iyya
“Baiklah
…, kamu di sini ya …, daddy yang fotoin!”
Divta
pun meminta Iyya berfose dan Div mulai membidikkan kameranya. Hal itu ia
lakukan hingga berkali-kali dengan fose yang berbeda.
“Kita
halus foto beldua dad, nanti kalau mommy Iyya kembali kita bisa foto beltiga!”
ucap Iyya membuat Divta terdiam.
Anak ini benar-benar membuatku
semakin bersalah saja ….
Akhirnya
Divta pun mengambil posisi, mereka berfoto selvi, sambil mengabadikan
pemandangan-pemandangan yang bagus itu.
“Iyya
melindukan mom, Dad …!” ucap Iyya dalam pelukan daddynya. Tangannya mengalung
sempurna di leher Div. wajahnya berubah sendu setiap kali mengingat mommy nya.
“Daddy
juga!” ucap Divta, ia bahkan belum sempat mengucapkan minta maaf dan
terimakasih dengan anugerah yang di titipkan padanya. ia juga tidak bisa
mengucapkan salam perpisahan. Andai saja waktu dapat di putar, ia tidak akan
pernah meninggalkan Davina sendiri dengan beban yang begitu berat.
“Dad
…, bagaimana mom nya Iyya? Apa mom nya Iyya cantik?” tanya Iyya lagi, ia hanya
pernah melihat wajah mommy nya di foto yang sengaja iv pasan di kamar Iyya,
agar Iyya bisa setiap hari menatap wajah mommy nya.
“Iya
__ADS_1
…, mom nya Iyya secantik Iyya!” dulu dia terlalu picik, Davina tidak jahat tapi
dia hanya meminta keadilan atas penderitaan yang selama ini ia terima, ia ingin
memiliki cinta yang sama seperti gadis-gadis lain, putri-putri lain dan juga
teman-teman lain. tapi sepertinya dia kurang beruntung, aksi protesnya malah
membuat dirinya di benci oleh orang lain.
“Apa
wajahnya sama dengan bidadali yang kehilangan cayapnya itu?” tanya Iyya lagi
saat mengingat tentang Ersya.
“Siapa?”tanya
Div yang lupa tentang kejadian itu, ia bukan orang yang suka mengingat
kejadian-kejadian kecil.
“Mom
Eca!” ucap Iyya, Ersya sudah sempat menyebutkan
namanya.
“Ica?”
tanya Div.
“Eca
dad …!”
“Eca,
siapa Eca?”
“Dia
bidadali Iyya ..!”
Divta
terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak sanggup mengatakan jika
mimpinya itu tidak mungkin terjadi karena mimpi itu yang membuat Iyya tetap
sehat sampai saat ini.
“Apa
nanti kalau bidadali Iyya cudah ketemu cayapnya, juga akan pelgi cepelti mom
nya Iyya?”
Divta
bingung harus mengatakan apa, putrinya semakin lama semakin pintar saja, Iyya
menjadi banya bertanya yang pertanyaannya sulit untuk dia jawab.
Bagaimana daddy bisa membawanya
untukmu Iyya …, daddy tidak mengenalnya …
“Sayang
…, itu om Rangga! Kita sarapan dulu ya!” ucap divta yang mengalihkan
pembicaraan. Bersyukurlah karena Rangga datang tepat waktu.
“Maaf
pak, menunggu terlalu lama!” ucap Rangga saat menghampiri mereka.
“Tidak
pa pa, ayo …!”
Mereka
pun berjalan memuju ke resto, Revan sudah menunggu di sana dnegan menu yang
begitu lengkap di atas meja. Ekretaris Revan juga sudah menyiapkan obat yang
harus di minum oleh Iyya nantinya.
Setelah
menikmati sarapannya, Divta pun segera melakukan meeting dnegan klien yang
datang dari luar negri, mereka akan berencana memperkenalkan resort itu hingga
ke luar negri beserta pantainya yang indah.
Tugas
Divta adalah mengajak tamunya itu untuk berkeliling melihat keindahan resort
dan juga pantai itu, mendeskripsikan setiap tempat dengan begitu indah.
Bersambung
jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dnegan emmebrikan like dan komentarnya ya, kasih vote juga yang banyak, hadiahnya juga jangan lupa.
follow ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
happy Reading