
Pria yang sering di sebut hot daddy
itu begitu sibuk akhir-akhir ini, ia bahkan dengan sengaja menyibukkan diri karena
menurutnya hidupnya kini hanya ada dua warna hitam dan putih. Kerja dan putri
kecilnya. Ia seperti sengaja menutup diri dari kehidupan luar.
Pria itu sedang sibuk dengan layar
lipatnya saat seseorang mengetuk pintu ruangannya dari luar, karena pintu tidak
di tutup ia bisa langsung tahu siapa yang mengetk pintu itu.
Kedatangannya membuatnya terpaksa
menghentikan pekerjaannya dan mendongakkan kepalanya. Seorang pria yang tidak
kalah tampannya masuk ke ruangannya, dia adalah saudara laki-laki nya.
“Bang!”
“Eh kamu Gra, duduklah!”
“Terimakasih!” pria itu pun duduk
tepat di depan meja kerjanya.
“ ada apa?” tanyanya.
Pria yang memanggilnya abang itu
segera menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Sibuk ya bang?"
"Tidak begitu, ini hanya ada
proyek baru di Surabaya, hanya mengeceknya saja!"
"Ohhhh ....!"
"Ada apa?"
Agra mengambil sesuatu dari balik
jasnya dan meletakkannya di atas meja.
“Bang Divta malam ini ada acara
nggak?”
Divta mengerutkan keningnya,
“Kenapa?”
“Sebenarnya ada undangan dari
Bactiar group tapi aku nggak bisa datang karena ada acara sendiri di rumah
mertua!”
Divta pun mengambil undangan itu, ia
melihat undangan yang sama dengan undangan milik seseorang.
Gadis itu....
Divta segera membuka dan memastikan
jika itu benar-benar undangan yang sama.
"Kenapa bang?" tanya Agra
saat melihat abangnya begitu serius mengamati undangan itu.
Rizal & Tisya
Ini undangan yang sama...., sepertinya akan menarik!!!
Divta segera menyimpan undangan itu.
“Baiklah …, aku akan menggantikan
mu!” ucap Divta dengan pasti.
"Sebenarnya tidak masalah sih
kalau nggak hadir bang, mungkin akan sedikit membosankan di sana!"
"Aku akan datang!"
“Waaahhhh …, makasih banyak bang!
Belum juga aku bicara!” ucap Agra dengan senyum menawannya.
“Udah tahu maksudmu!”
“baiklah …, jangan lupa pulang bawa
jodoh!” ucap Agra lalu beranjak dari duduknya hendak meninggalkan ruangan
abannya
“Emang jodoh kayak beli cabe di
pasar tinggal comot!” ucap Divta sambil memutar bolpoin di tangannya.
Agra kembali menoleh pada abangnya
itu.
“Ingat bang, usia sudah hampir
kepala empat, jangan asik dengan diri abang sendiri!” ucapnya lagi. Memang
divta sekarang sudah berusia tiga puluh lima.
“Ya! Jangan mengingatkan umur
padaku!"
__ADS_1
“Ya sudah, Agra pulang dulu ya
bang!” Agra pun benar-benar meninggalkan ruangan itu. Divta pun hanya
mengangguk.
Memang benar, Divta terlalu asik
dengan hidupnya yang sendiri karena ia terlalu kecewa dengan kisah cintanya
yang selalu berlabuh pada orang lain. Cinta yang ia inginkan ternyata bukan
untuknya membuatnya ia merasa lelah dengan hatinya.
"Apa salahnya hidup sendiri,
aku sudah punya Divia ..., itu sudah cukup!"
Mengingat putri kecilnya, ia pun
segera mencari ponselnya. Ia harus memberi kabar setiap satu jam sekali pada
putri kecilnya itu, di usia putrinya yang menginjak empat tahun itu cukup
membuatnya begitu merindukan.
"Hallo Dad ....!"
"Hallo princess daddy, what are
you?"
"Iyya makan dad, nani
memaksaku makan teyus ....!"
"Iya dong princess, kamu harus
makan yang banyak biar terus sehat!"
"Iyya cehat, dad ...! Kalian
telalu cemas!"
"Daddy merindukanmu sayang
...., sampai jumpa nanti malam ya sayang!"
"Bye dad ...., I love you ....!"
"I love you too!"
Divta pun segera mematikan sambungan
telponnya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Mobil yang di tumpangi Ersya dan
Rangga akhirnya sampai juga di parkiran.
Setelah turun dan merapikan gaunnya, ersya segera mengandeng tangan Rangga.
Ersya.
“Apaan sih Sya?”
“Emang ada pasangan yang jalannya
sendiri-sendiri, biar keliatan beneran harus gandnegan dong!”
“Awas aja macem-macem!”
“Nggak …, gue Cuma mau satu macem!”
“Apa?”
“Jadi pacarmu semalam!”
“Itttsss, ayo jalan!” Rangga pun
menarik tangan Ersya, Mereka segera berjalan menuju ke pintu masuk.
Ersya segera menghentikan langkahnya
saat sampai di depan pintu masuk, "Kita nunggu Felic di sini ya!".
"Baiklah ....!"
Tidak berapa lama mobil yang membawa
Felic pun berhenti di depan Ersya dan Rangga.
Rangga di buat terpaku dengan
penampilan Felic.
cantiknya.....
"Hust ...., hust ....,
berkedip!" ucap Ersya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah
Rangga.
"Apaan sih Sya ....!"
Felic berjalan begitu anggun
mendekati mereka. Felic mempercepat langkahnya
"Hai Sya ....!" Felic
segera memeluk Ersya.
"Kamu cantik banget Fe
....!"
"Kamu juga Sya!"
__ADS_1
Saat Felic hendak menatap Rangga,
tiba-tiba saja Wilson berdiri tepat di depan Rangga dan menghalanginya.
"Apaan sih Wil ...!" ucap
Felic kesal.
"Tuan dokter melarang nyonya
dekat-dekat dengan pak Rangga!"
"Issstttt ....., padahal gue
juga nggak boleh deket-deket sama kamu!"
Ha ha ha
Ersya tertawa sendiri melihat
tingkah Felic dan pengawalnya itu.
"Kalian benar-benar ya
....!"
"Ya udah ..., sekarang kamu
berjalan lebih dulu bersama Rangga, aku sama Wilson di belakang! Okey
...!" ucap Felic.
"Baiklah ...., semangat!"
Kehadiran mereka langsung jadi
sorotan, Karena kebanyakan tamu undangan adalah relasi bisnis dan beberapa
teman Rizal dan juga Tisya.
Tentu mereka bertanya-tanya tentang
siapa sebenarnya yang hadir kali ini. Ersya menyerahkan undangannya pada
penerima tamu, setelah membubuhkan tanda tangan mereka di persilahkan untuk
masuk. Begitupun dengan Felic.
Tidak ada yang istimewa dengan
undangannya makanya mereka di perlakukan biasa saja.
Ersya mengedarkan pandangannya
dengan tangan yang menggandeng Rangga, ia terus mencari seseorang yang ia
rindukan tapi ingin sekali ia lupakan.
"Ga ...., gimana
penampilanku?" tanya Ersya, ia masih belum yakin dengan penampilannya.
"Sudah cantik!" ucap
Rangga tanpa menatap Ersya, yang sedari tadi ia perhatikan adalah Felic. Ia
masih begitu mengagumi wanita itu.
Ersya kemudian menemukan sosok yang
begitu ia cari, pria dengan jas putih senada dengan celananya, ia masih begitu
tampan untuknya sekeras apapun ia menyakiti nya.
Sepertinya pria itu menyadari
kedatangan nya, Ersya segera memasang senyum semanis mungkin.
Masih cinta kan kamu sama aku mas....
Ersya mengeratkan tangannya apa
Rangga membuat Rangga menoleh padanya.
"Dia melihat kita Ga ...!"
Tisya sepertinya menyadari arah
tatapan tunangannya itu, ia segera menghampiri tunangannya dan menggandeng
tangannya dengan begitu mesra.
"Mas Rizal ....!"
"Iya sayang ..., apa?"
tanya Rizal sambil mengalihkan pandangannya dan menatap pada Tisya.
"Liatin siapa sih mas dari
tadi?"
"Nggak ada sayang!"
"Wah ...., kalian begitu serasi
sekali!" ucap salah satu teman yang berdiri di depan mereka.
"Terimakasih!" ucap Tisya
dengan senyum yang menggoda.
Ersya yang melihatnya begitu kesal,
ia meremas lengan Rangga dengan begitu kuat hingga membuat Rangga kesakitan.
"Apaan sih Sya ....!"
"Gue lagi kesal Ga ...., lihat
mereka begitu mesra!"
__ADS_1
"Sabar Sya!"
"Gue udah sabar Ga ...!"