Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Undangan yang sama


__ADS_3

Pria yang sering di sebut hot daddy


itu begitu sibuk akhir-akhir ini, ia bahkan dengan sengaja menyibukkan diri karena


menurutnya hidupnya kini hanya ada dua warna hitam dan putih. Kerja dan putri


kecilnya. Ia seperti sengaja menutup diri dari kehidupan luar.


Pria itu sedang sibuk dengan layar


lipatnya saat seseorang mengetuk pintu ruangannya dari luar, karena pintu tidak


di tutup ia bisa langsung tahu siapa yang mengetk pintu itu.


Kedatangannya membuatnya terpaksa


menghentikan pekerjaannya dan mendongakkan kepalanya. Seorang pria yang tidak


kalah tampannya masuk ke ruangannya, dia adalah saudara laki-laki nya.


“Bang!”


“Eh kamu Gra, duduklah!”


“Terimakasih!” pria itu pun duduk


tepat di depan meja kerjanya.


“ ada apa?” tanyanya.


Pria yang memanggilnya abang itu


segera menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Sibuk ya bang?"


"Tidak begitu, ini hanya ada


proyek baru di Surabaya, hanya mengeceknya saja!"


"Ohhhh ....!"


"Ada apa?"


Agra mengambil sesuatu dari balik


jasnya dan meletakkannya di atas meja.


“Bang Divta malam ini ada acara


nggak?”


Divta mengerutkan keningnya,


“Kenapa?”


“Sebenarnya ada undangan dari


Bactiar group tapi aku nggak bisa datang karena ada acara sendiri di rumah


mertua!”


Divta pun mengambil undangan itu, ia


melihat undangan yang sama dengan undangan milik seseorang.


Gadis itu....


Divta segera membuka dan memastikan


jika itu benar-benar undangan yang sama.


"Kenapa bang?" tanya Agra


saat melihat abangnya begitu serius mengamati undangan itu.


Rizal & Tisya


Ini undangan yang sama...., sepertinya akan menarik!!!


Divta segera menyimpan undangan itu.


“Baiklah …, aku akan menggantikan


mu!” ucap Divta dengan pasti.


"Sebenarnya tidak masalah sih


kalau nggak hadir bang, mungkin akan sedikit membosankan di sana!"


"Aku akan datang!"


“Waaahhhh …, makasih banyak bang!


Belum juga aku bicara!” ucap Agra dengan senyum menawannya.


“Udah tahu maksudmu!”


“baiklah …, jangan lupa pulang bawa


jodoh!” ucap Agra lalu beranjak dari duduknya hendak meninggalkan ruangan


abannya


“Emang jodoh kayak beli cabe di


pasar tinggal comot!” ucap Divta sambil memutar bolpoin di tangannya.


Agra kembali menoleh pada abangnya


itu.


“Ingat bang, usia sudah hampir


kepala empat, jangan asik dengan diri abang sendiri!” ucapnya lagi. Memang


divta sekarang sudah berusia tiga puluh lima.


“Ya! Jangan mengingatkan umur


padaku!"

__ADS_1


“Ya sudah, Agra pulang dulu ya


bang!” Agra pun benar-benar meninggalkan ruangan itu. Divta pun hanya


mengangguk.


Memang benar, Divta terlalu asik


dengan hidupnya yang sendiri karena ia terlalu kecewa dengan kisah cintanya


yang selalu berlabuh pada orang lain. Cinta yang ia inginkan ternyata bukan


untuknya membuatnya ia merasa lelah dengan hatinya.


"Apa salahnya hidup sendiri,


aku sudah punya Divia ..., itu sudah cukup!"


Mengingat putri kecilnya, ia pun


segera mencari ponselnya. Ia harus memberi kabar setiap satu jam sekali pada


putri kecilnya itu, di usia putrinya yang menginjak empat tahun itu cukup


membuatnya begitu merindukan.


"Hallo Dad ....!"


"Hallo princess daddy, what are


you?"


"Iyya makan dad, nani


memaksaku makan teyus ....!"


"Iya dong princess, kamu harus


makan yang banyak biar terus sehat!"


"Iyya cehat, dad ...! Kalian


telalu cemas!"


"Daddy merindukanmu sayang


...., sampai jumpa nanti malam ya sayang!"


"Bye dad ...., I love you ....!"


"I love you too!"


Divta pun segera mematikan sambungan


telponnya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


***


Mobil yang di tumpangi Ersya dan


Rangga akhirnya  sampai juga di parkiran.


Setelah turun dan merapikan gaunnya, ersya segera mengandeng tangan Rangga.


Ersya.


“Apaan sih Sya?”


“Emang ada pasangan yang jalannya


sendiri-sendiri, biar keliatan beneran harus gandnegan dong!”


“Awas aja macem-macem!”


“Nggak …, gue Cuma mau satu macem!”


“Apa?”


“Jadi pacarmu semalam!”


“Itttsss, ayo jalan!” Rangga pun


menarik tangan Ersya, Mereka segera berjalan menuju ke pintu masuk.


Ersya segera menghentikan langkahnya


saat sampai di depan pintu masuk, "Kita nunggu Felic di sini ya!".


"Baiklah ....!"


Tidak berapa lama mobil yang membawa


Felic pun berhenti di depan Ersya dan Rangga.


Rangga di buat terpaku dengan


penampilan Felic.


cantiknya.....


"Hust ...., hust ....,


berkedip!" ucap Ersya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah


Rangga.


"Apaan sih Sya ....!"


Felic berjalan begitu anggun


mendekati mereka. Felic mempercepat langkahnya


"Hai Sya ....!" Felic


segera memeluk Ersya.


"Kamu cantik banget Fe


....!"


"Kamu juga Sya!"

__ADS_1


Saat Felic hendak menatap Rangga,


tiba-tiba saja Wilson berdiri tepat di depan Rangga dan menghalanginya.


"Apaan sih Wil ...!" ucap


Felic kesal.


"Tuan dokter melarang nyonya


dekat-dekat dengan pak Rangga!"


"Issstttt ....., padahal gue


juga nggak boleh deket-deket sama kamu!"


Ha ha ha


Ersya tertawa sendiri melihat


tingkah Felic dan pengawalnya itu.


"Kalian benar-benar ya


....!"


"Ya udah ..., sekarang kamu


berjalan lebih dulu bersama Rangga, aku sama Wilson di belakang! Okey


...!" ucap Felic.


"Baiklah ...., semangat!"


Kehadiran mereka langsung jadi


sorotan, Karena kebanyakan tamu undangan adalah relasi bisnis dan beberapa


teman Rizal dan juga Tisya.


Tentu mereka bertanya-tanya tentang


siapa sebenarnya yang hadir kali ini. Ersya menyerahkan undangannya pada


penerima tamu, setelah membubuhkan tanda tangan mereka di persilahkan untuk


masuk. Begitupun dengan Felic.


Tidak ada yang istimewa dengan


undangannya makanya mereka di perlakukan biasa saja.


Ersya mengedarkan pandangannya


dengan tangan yang menggandeng Rangga, ia terus mencari seseorang yang ia


rindukan tapi ingin sekali ia lupakan.


"Ga ...., gimana


penampilanku?" tanya Ersya, ia masih belum yakin dengan penampilannya.


"Sudah cantik!" ucap


Rangga tanpa menatap Ersya, yang sedari tadi ia perhatikan adalah Felic. Ia


masih begitu mengagumi wanita itu.


Ersya kemudian menemukan sosok yang


begitu ia cari, pria dengan jas putih senada dengan celananya, ia masih begitu


tampan untuknya sekeras apapun ia menyakiti nya.


Sepertinya pria itu menyadari


kedatangan nya, Ersya segera memasang senyum semanis mungkin.


Masih cinta kan kamu sama aku mas....


Ersya mengeratkan tangannya apa


Rangga membuat Rangga menoleh padanya.


"Dia melihat kita Ga ...!"


Tisya sepertinya menyadari arah


tatapan tunangannya itu, ia segera menghampiri tunangannya dan menggandeng


tangannya dengan begitu mesra.


"Mas Rizal ....!"


"Iya sayang ..., apa?"


tanya Rizal sambil mengalihkan pandangannya dan menatap pada Tisya.


"Liatin siapa sih mas dari


tadi?"


"Nggak ada sayang!"


"Wah ...., kalian begitu serasi


sekali!" ucap salah satu teman yang berdiri di depan mereka.


"Terimakasih!" ucap Tisya


dengan senyum yang menggoda.


Ersya yang melihatnya begitu kesal,


ia meremas lengan Rangga dengan begitu kuat hingga membuat Rangga kesakitan.


"Apaan sih Sya ....!"


"Gue lagi kesal Ga ...., lihat


mereka begitu mesra!"

__ADS_1


"Sabar Sya!"


"Gue udah sabar Ga ...!"


__ADS_2