
Div mengeluarkan
ponselnya, melihat warna ponselnya itu ia jadi ingat jika Ersya tidak punya
ponsel karena ponselnya ia bawa. Karyawan yang mengikutinya terlihat tersenyum,
mungkin ia ingin menertawakan warna ponsel pria tampan di depannya. Pria maco
dengan ponsel berwarna pink.
Div yang merasa dirinya
di tertawakan segera menyembunyikan ponsel itu ke dalam saku celananya.
Hmmmm
Ia mencoba menormalkan
perasaannya, ia kembali melihat-lihat baju itu, mencoba membayangkan ukuran
tubuh Ersya. Dulu dia paling pandai untuk menebak ukuran tubuh wanita tapi
sekarang begitu berbeda, setelah hampir lima tahun sama sekali tidak menyentuh
tubuh wanita membuatnya kesulitan menerawang. Padahal dulu hanya dengan melihat
tubuh wanita itu ia sudah bisa tahu berapa ukurannya.
Menyebalkan ….
Ia membenci situasi
ini, mau beli sembarangan takut nggak muat atau kebesaran, mau taya malu.
Setelah pemikiran
panjang akhirnya ia membeli semua baju yang ada di gantungan itu.
“Ini semua saja!”
ucapnya sambil menunjuk satu gantungan dengan berbagai warna dan ukuran yang
tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar.
Karyawan itu malah
bengong menatap Div, dia belum yakin dengan apa yang di katakan oleh pria di
depannya itu.
“Semuanya?”
“hmmm!”
Akhirnya setelah kedua
kalinya baru karyawan itu yakin jika pria di depannya itu memang memintanya
untuk membungkus semua baju yang ada di depannya.
“Silahkan tunggu di
kasir tuan, kami akan mengemasnya!”
“Baik!”
Div berjalan menuju ke
kasir, mengeluarkan kartu saktinya dan kasir pun mulai menghitung jumlah
belanjaannya.
“Dua puluh juta tuan!”
Setelah melakukan
pembayaran, beberapa karyawan membantu membawakan barang belanjaannya ke mobil.
“Terimakasih!”
“sama-sama tuan!”
Div hampir saja masuk
ke dalam mobil tapi kembali ia urungkan saat melihat sebuah toko ponsel yang
tidak jauh dari tempat mobil itu terparkir, ia kembali menutup pintunya dan
berjalan menuju ke toko itu.
“Ada yang bisa kami
bantu?” tanya karyawan counter hp.
“Hp terbaru!”
Setelah selesai membeli
hp, ia pun segera kembali ke mobi. Tidak terasa sudah hampir satu jam dia keluar
dari kamarnya.
Ersya sepertinya sedang
menikmati kehidupannya saat ini, sambil menunggu Div kembali ia sengaja berkaraoke ria di kamarnya. Memilih lagu kesukaannya dan suara cemprengnya
__ADS_1
memenuhi kamarnya dengan jogetan sekenanya.
Div yang sudah sampai
di depan kamar beberapa kali mengetuk pintu tapi sepertinya penghuni kamar itu
tidak mendengarkannya.
“kemana sih dia?” gumam
Div, ia begitu kesal karena seluruh tangannya penuh dnegan paper bag dengan berbagai ukuran begitu berat.
Akhirnya mau tidak mau Div menurunkan sebentar barang belanjaannya agar bisa membuka pintu, untungnya
ia membawa kunci kamar.
Setelah kunci pintu
terbuka, Div kembali mengambil barang-barang belanjaannya dan membuka pintu
menggunakan kakinya. Ia begitu terkejut saat melihat Ersya melompat-lompat di
atas sofa dengan mikrofon di tangannya, suaranya benar-benar memenuhi seisi
kamar.
Div segera meletakkan
barang-barang belanjaannya di lantai, ia berjalan menghampiri Ersya.
Benar-benar wanita ini …
Ersya dnegan pakaian
seksinya bertingkah begitu santainya tanpa ada beban karena memang ia merasa
seorang diri.
Div berdiri di belakangnya dengan menyilangkan tangannya di depan dada, membiarkan Ersya bertindak sesukanya. Lagu andra and the back bone berjudul ‘sempurna’ menjadi
pilihan Ersya, terlihat sekali berapa usianya sekarang tapi masih bertingkah
seperti anak usia tujuh belas tahun.
Ersya begitu terkejut
saat berbalik ke belakang, tiba-tiba saja suaranya hilang entah ke mana. Tangannya
yang memegang mikrofon segera ia sembunyikan di belakang punggungnya.
“Div …!”
Div hanya menarik sudut
turun dari sofa dan mematikan layar tv nya.
“Sejak kapan kamu di situ?”
“Sejak kamu
lompat-lompat dan teriak-teriak! Enak banget ya …, begitu kelakuanmu kalau
nggak ada Divia!”
“Issstttt …!” Ersya hanya mencibirkan bibirnya dan memilih duduk di sofa.
“Enak sekali duduk,
ambil tuh baju kamu!” ucap Div yang juga ikut duduk di samping Ersya membuat
Ersya segera berdiri karena duduk Div begitu dekat dengannya.
Ersya melihat ke arah Div
masuk, ia begitu tercengang saat melihat paper bag dengan berbagai ukuran berada di lantai. Ada lebih dari dua puluh paper bag tapi ada sattu paper bag
yang menjadi pusat perhatiannya.
Ponsel ….
Ersya segera menghampirinya dan benar ada satu paper bag bertulis salah satu nama toko
elektronik.
“Ponsel baru!” ucap
Ersya membuat Div segera menoleh ke arah Ersya. Ia baru ingat jika tadi sempat
membeli ponsel.
“Bawa ke sini!”
perintah Div tanpa mau berpindah dari tempatnya.
Ersya pun segera
mengambil semua paper bag itu dan membawanya mendekat pada Div. terutama paper
bag berisi ponsel itu, ia meletakkannya di atas meja.
“Ganti bajumu dulu, dan
kita bisa bicara kembali!” ucap Div membuat Ersya kembali memperhatikan
penampilannya. Ia sampai lupa jika saat ini sedang memakai baju yang sangat
__ADS_1
seksi.
Ahhhh iya ….
Ersya pun segera berlari masuk ke dalam ruang ganti dengan membawa semua paper bag itu. Ia mengeluarkan semua isi paper bag.
“Banyak sekali …, ini
semua untukku?” gumamnya sambil melihat satu persatu bajunya, tidak ada satupun
Div beli untuk dirinya sendiri.
“Dia benar-benar boros …!
Mahal semua lagi …!”
Ersya pun memilih sebuah
atasan putih tanpa lengan dengan kancing depan dan rok plisket polkadot warna
putih dan hitam. Begitu pas di tubuhnya yang ramping.
Ia kembali menghampiri
Div dan duduk di sofa yang sama, sedikit memberi jarak dan mengosongkan bagian
tengahnya. Div melipat satu kakinya di atas kakinya yang lain. ia menyerahkan
sebuah ponsel untuk Ersya.
Ersya mengerutkan
keningnya, “Ini bukan ponselku!”
“Ponselmu aku buang!”
“hahh…, dia buang?”
“Ponsel butut, mau buat
apa!”
“Ponsel itu banyak
sekali kenangannya!”
“Kenangan dengan mantan
suami?”
“Bukan seperti itu!”
“Terserah, ini ponsel
baru supaya nanti saat saya menghubungi kamu tidak ada alasan lagi, yang
baterai lowbat lah atau kameranya tidak jelas, spikernya rusak dan masih
banyak lagi keluhan!”
Isssstttt …, itu kan Cuma
buat alasan ….
Mau tidak mau Ersya pun
akhirnya mengambil ponsel itu, ternyata nomornya juga sudah terpasang di situ.
“Di situ sudah ada
mobile banking nya jadi kalau kamu atau Iyya butuh sesuatu, kamu bisa
menggunakannya!”
Mata Ersya segera
berbinar-binar, “berapa saldonya?”
“Cukup untuk jajan kamu
dan Iyya selama satu bulan, dan setiap bulannya aku akan menstarfernya! Dan ini
…!”
Div menyerahkan sebuah
kartu, “Ini gaji kamu!”
“Jadi aku tetap di
gaji?”
“Saya tidak suka
memperkerjakan orang secara gratis!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1