Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Ponsel Baru


__ADS_3

Div mengeluarkan


ponselnya, melihat warna ponselnya itu ia jadi ingat jika Ersya tidak punya


ponsel karena ponselnya ia bawa. Karyawan yang mengikutinya terlihat tersenyum,


mungkin ia ingin menertawakan warna ponsel pria tampan di depannya. Pria maco


dengan ponsel berwarna pink.


Div yang merasa dirinya


di tertawakan segera menyembunyikan ponsel itu ke dalam saku celananya.


Hmmmm


Ia mencoba menormalkan


perasaannya, ia kembali melihat-lihat baju itu, mencoba membayangkan ukuran


tubuh Ersya. Dulu dia paling pandai untuk menebak ukuran tubuh wanita tapi


sekarang begitu berbeda, setelah hampir lima tahun sama sekali tidak menyentuh


tubuh wanita membuatnya kesulitan menerawang. Padahal dulu hanya dengan melihat


tubuh wanita itu ia sudah bisa tahu berapa ukurannya.


Menyebalkan ….


Ia membenci situasi


ini, mau beli  sembarangan takut nggak muat atau kebesaran, mau taya malu.


Setelah pemikiran


panjang akhirnya ia membeli semua baju yang ada di gantungan itu.


“Ini semua saja!”


ucapnya sambil menunjuk satu gantungan dengan berbagai warna dan ukuran yang


tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar.


Karyawan itu malah


bengong menatap Div, dia belum yakin dengan apa yang di katakan oleh pria di


depannya itu.


“Semuanya?”


“hmmm!”


Akhirnya setelah kedua


kalinya baru karyawan itu yakin jika pria di depannya itu memang memintanya


untuk membungkus semua baju yang ada di depannya.


“Silahkan tunggu di


kasir tuan, kami akan mengemasnya!”


“Baik!”


Div berjalan menuju ke


kasir, mengeluarkan kartu saktinya dan kasir pun mulai menghitung jumlah


belanjaannya.


“Dua puluh juta tuan!”


Setelah melakukan


pembayaran, beberapa karyawan membantu membawakan barang belanjaannya ke mobil.


“Terimakasih!”


“sama-sama tuan!”


Div hampir saja masuk


ke dalam mobil tapi kembali ia urungkan saat melihat sebuah toko ponsel yang


tidak jauh dari tempat mobil itu terparkir, ia kembali menutup pintunya dan


berjalan menuju ke toko itu.


“Ada yang bisa kami


bantu?” tanya karyawan counter hp.


“Hp terbaru!”


Setelah selesai membeli


hp, ia pun segera kembali ke mobi. Tidak terasa sudah hampir satu jam dia keluar


dari kamarnya.


Ersya sepertinya sedang


menikmati kehidupannya saat ini, sambil menunggu Div kembali ia sengaja berkaraoke ria di kamarnya. Memilih lagu kesukaannya dan suara cemprengnya

__ADS_1


memenuhi kamarnya dengan jogetan sekenanya.


Div yang sudah sampai


di depan kamar beberapa kali mengetuk pintu tapi sepertinya penghuni kamar itu


tidak mendengarkannya.


“kemana sih dia?” gumam


Div, ia begitu kesal karena seluruh tangannya penuh dnegan paper bag dengan berbagai ukuran begitu berat.


Akhirnya mau tidak mau Div menurunkan sebentar barang belanjaannya agar bisa membuka pintu, untungnya


ia membawa kunci kamar.


Setelah kunci pintu


terbuka, Div kembali mengambil barang-barang belanjaannya dan membuka pintu


menggunakan kakinya. Ia begitu terkejut saat melihat Ersya melompat-lompat di


atas sofa dengan mikrofon di tangannya, suaranya benar-benar memenuhi seisi


kamar.


Div segera meletakkan


barang-barang belanjaannya di lantai, ia berjalan menghampiri Ersya.


Benar-benar wanita ini …


Ersya dnegan pakaian


seksinya bertingkah begitu santainya tanpa ada beban karena memang ia merasa


seorang diri.


Div berdiri di belakangnya dengan menyilangkan tangannya di depan dada, membiarkan Ersya bertindak sesukanya. Lagu andra and the back bone berjudul ‘sempurna’ menjadi


pilihan Ersya, terlihat sekali berapa usianya sekarang tapi masih bertingkah


seperti anak usia tujuh belas tahun.


Ersya begitu terkejut


saat berbalik ke belakang, tiba-tiba saja suaranya hilang entah ke mana. Tangannya


yang memegang mikrofon segera ia sembunyikan di belakang punggungnya.


“Div …!”


Div hanya menarik sudut


turun dari sofa dan mematikan layar tv nya.


“Sejak kapan kamu  di situ?”


“Sejak kamu


lompat-lompat dan teriak-teriak! Enak banget ya …, begitu kelakuanmu kalau


nggak ada Divia!”


“Issstttt …!” Ersya hanya mencibirkan bibirnya dan memilih duduk di sofa.


“Enak sekali duduk,


ambil tuh baju kamu!” ucap Div yang juga ikut duduk di samping Ersya membuat


Ersya segera berdiri karena duduk Div begitu dekat dengannya.


Ersya melihat ke arah Div


masuk, ia begitu tercengang saat melihat paper bag dengan berbagai ukuran berada di lantai. Ada lebih dari dua puluh paper bag tapi ada sattu paper bag


yang menjadi pusat perhatiannya.


Ponsel ….


Ersya segera menghampirinya dan benar ada satu paper bag bertulis salah satu nama toko


elektronik.


“Ponsel baru!” ucap


Ersya membuat Div segera menoleh ke arah Ersya. Ia baru ingat jika tadi sempat


membeli ponsel.


“Bawa ke sini!”


perintah Div tanpa mau berpindah dari tempatnya.


Ersya pun segera


mengambil semua paper bag itu dan membawanya mendekat pada Div. terutama paper


bag berisi ponsel itu, ia meletakkannya di atas meja.


“Ganti bajumu dulu, dan


kita bisa bicara kembali!” ucap Div membuat Ersya kembali memperhatikan


penampilannya. Ia sampai lupa jika saat ini sedang memakai baju yang sangat

__ADS_1


seksi.


Ahhhh iya ….


Ersya pun segera berlari masuk ke dalam ruang ganti dengan membawa semua paper bag itu. Ia mengeluarkan semua isi paper bag.


“Banyak sekali …, ini


semua untukku?” gumamnya sambil melihat satu persatu bajunya, tidak ada satupun


Div beli untuk dirinya sendiri.


“Dia benar-benar boros …!


Mahal semua lagi …!”


Ersya pun memilih sebuah


atasan putih tanpa lengan dengan kancing depan dan rok plisket polkadot warna


putih dan hitam. Begitu pas di tubuhnya yang ramping.


Ia kembali menghampiri


Div dan duduk di sofa yang sama, sedikit memberi jarak dan mengosongkan bagian


tengahnya. Div melipat satu kakinya di atas kakinya yang lain. ia menyerahkan


sebuah ponsel untuk Ersya.


Ersya mengerutkan


keningnya, “Ini bukan ponselku!”


“Ponselmu aku buang!”


“hahh…, dia buang?”


“Ponsel butut, mau buat


apa!”


“Ponsel itu banyak


sekali kenangannya!”


“Kenangan dengan mantan


suami?”


“Bukan seperti itu!”


“Terserah, ini ponsel


baru supaya nanti saat saya menghubungi kamu tidak ada alasan lagi, yang


baterai lowbat lah atau kameranya tidak jelas, spikernya rusak dan masih


banyak lagi keluhan!”


Isssstttt …, itu kan Cuma


buat alasan ….


Mau tidak mau Ersya pun


akhirnya mengambil ponsel itu, ternyata nomornya juga sudah terpasang di situ.


“Di situ sudah ada


mobile banking nya jadi kalau kamu atau Iyya butuh sesuatu, kamu bisa


menggunakannya!”


Mata Ersya segera


berbinar-binar, “berapa saldonya?”


“Cukup untuk jajan kamu


dan Iyya selama satu bulan, dan setiap bulannya aku akan menstarfernya! Dan ini


…!”


Div menyerahkan sebuah


kartu, “Ini gaji kamu!”


“Jadi aku tetap di


gaji?”


“Saya tidak suka


memperkerjakan orang secara gratis!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2