
Tok tok tok
Sebuah ketukan di pintu seketika membuyarkan konsentrasi mereka. Div memejamkan matanya menahan kesal sedangkan Ersya tersenyum melihat wajah menggemaskan dari suaminya itu. Seperti seseorang yang sudah menahan kentut yang sudah akan di lepaskan tiba-tiba ada yang nahan.
"Syittttt!" umpat Div kesal.
"Ayo cepetan buka!" ucap Ersya dengan sambil mendorong tubuh Div.
"Jangan di kira kamu bisa bebas ya!" ucapnya memperingatkan istrinya.
"Iya, memang aku mau pergi ke mana dengan semua tanda merah ini!"
Div pun segera berdiri dan menyambar baju tidur dengan hanya di kaitkan oleh sebuah tali kecil di pinggang.
"Awas saja kalau kepala pelayan, dia benar-benar ingin di pecat!" gerutu Div sambil menalikan tali kecil itu.
Div berjalan cepat dan membuka pintu itu dengan kasar,
"Ada apa?"
Dan benar saja ada kepala pelayan di depan kamar itu,
"Maaf tuan!"
"Kamu lagi, bisa tidak, tidak terus mengganguku!?"
"Hai Div!" seseorang tiba-tiba muncul dari balik pelayang itu, dia adalah Rendi.
"Kamu!?"
Semenjak Rendi menyusul Div ke luar negri saat itu, hubungan mereka menjadi lebih dekat walaupun tetap saja jika mereka bertemu lebih mirip seperti kucing dan tikus, jarang akur.
Rendi melambaikan tangannya dengan senyum dinginnya.
...🍀🍀🍀...
Kini mereka sudah duduk di sofa yang ada di ruangan di depan kamar, pelayan membawakan minuman untuk mereka.
"Ada apa ke sini?"
Ckkkk
Rendi berdecak, "Tidak biasanya aku ke sini pakek kamu tanya?!"
Masalahnya kamu datang di waktu yang nggak tepat .....
Div menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Rendi mengedarkan pandangannya, "Sepi banget, kemana Divia?"
"Dia sekolah!" jawab Div singkat sambil memejamkan matanya, ia ingin sekali pria di depannya cepat pergi dari rumahnya.
"Ohhhh ...., istri kamu?"
"Sudah jangan banyak nanya, kamu nggak haus apa! Itu minuman buat di minum!?" ucap Div dengan nada kesal.
Rendi mengerutkan keningnya, dia lagi PMS ya ...
"Nggak suka banget aku ke sini! Ada apa sih? Dan kamu siang-siang pakek baju tidur, ngapain? Nggak enak badan?" tanya Rendi sambil duduk tegap seperti biasa dengan kaki di timpahkan ke kaki yang lainnya.
Kenapa lama-lama nih orang ngeselin sih .....
Div menghela nafas, rasanya begitu menderita saat sudah sampai di ubun-ubun dan di tahan dan harus di jinakkan kembali,
"Ada apa ke sini?"
"Tadi aku ke kantor, tapi kata sekretaris kamu, kamu nggak ke kantor makanya aku langsung mampir ke sini, ada beberapa berkas tentang pembangunan taman itu yang harus kamu tanda tangani!"
"Ini masalah perijinan?"
__ADS_1
"Iya, soalnya harus segera aku kirim!"
"Mana berkasnya?"
"Buru-buru sekali, aku masih mau minum, haus!?"
"Memang di rumahmu tidak ada air apa!?"
"Kenapa jadi bawa-bawa rumah sih!?"
Lagi-lagi Div harus lebih menahan diri lagi agar tidak marah-marah.
Tahan Div ...., ini ujian ....
"Ya udah, ya udah ...!" Div segera berdiri dan menyodorkan minuman dingin untuk Rendi, "Ayo minumlah!"
Rendi tersenyum dan menyambut minuman itu, dengan santainya ia meminumnya, dia seperti sengaja menggoda Div agar terpancing amarahnya.
"Bisa lebih cepat nggak minumnya? Mau aku timpuk apa!?"
"Nggak sabaran banget!?"
Sepertinya Rendi tahu apa yang baru saja di lakukan oleh kakak sahabatnya itu, dia pernah dalam posisi itu. Bahkan sampai saat ini pun, seandainya istrinya tidak baru melahirkan mungkin dia tidak akan pernah absen.
"Makanya kalau ngadon cari waktu yang tepat, atau rencanakan untuk bulan madu!" ucap Rendi dengan santainya sambil mengeluarkan beberapa berkas dari tasnya.
Pukkkk
Sebuah bantal tiba-tiba melayang begitu saja ke arah wajahnya,
"Kenapa menimpuk ku? Memang aku salah?!" ucap Rendi dengan santainya tanpa rasa bersalah. Sedangkan pria di depannya sudah begitu kesal.
"Mau di lanjut atau pergi dari rumahku!?" ancamnya.
"Kejam sekali ...!" ucap Rendi sambil pura-pura mengerucutkan bibirnya, ia cukup senang bisa menggoda pengantin baru.
"Mana?" ucap Div sambil mengacungkan tangannya agar langkahnya bisa lebih di percepat.
"Memang harus?"
"Ya, istri kamu berperan sebagai pemilik awal tanah dan rumah itu, jadi harus ada persetujuan dari salah satu pihak pemilik awal!"
"Kamu sudah mirip seperti pengacara saja!"
"Itu salah satu keahlianku!" ucap Rendi membanggakan diri.
"Dasar!"
Div berdiri dari duduknya, ia harus memanggil istrinya untuk tanda tangan.
...🍀🍀🍀...
"Kenapa kembali secepat ini?" tanya Ersya yang sudah duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar sambil menonton drakor yang ada di ponselnya.
Srekkkk
Bukannya menjawab pertanyaan Ersya, Div malah menarik tubuh Ersya.
"Ada apa?" tanya Ersya tidak mengerti.
"Lakukan dengan cepat!"
"Apanya?" Ersya begitu bingung dan tiba-tiba Div menarik baju Ersya dan melepasnya.
Ia juga melepas baju tidurnya dan menindih tubuh Ersya, sedari tadi juniornya sudah meronta. Bahkan kepalanya begitu sakit karena terlalu lama menahannya.
Div dengan sigap menarik kain tipis yang menutup bagian bawah tubuh Ersya, membuka lebar kedua kaki wanita itu dan hanya dengan sekali hentakan saja, juniornya sudah menemukan tempat ternyaman nya.
Ia benar-benar melakukannya dengan begitu cepat dengan irama yang sangat cepat juga hingga hanya dalam waktu lima menit saja mereka sudah melakukan pelepasan.
__ADS_1
Div segera bangun dari tubuh Ersya dan mengecup keningnya, ia juga membopong tubuh Ersya ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuh Ersya dengan air hangat lalu membalutnya dengan handuk dan mengusap rambutnya yang absah dengan handuk. Ia juga membersihkan tubuhnya sendiri dan mencarikan baju untuk mereka berdua.
"Pakai baju ini saja!"
"Itu kayak karung!" protes Ersya.
"Jangan harap bisa pakek baju seksi di depan Rendi ya!?"
Div kembali memilihkan baju untuk Ersya, dan akhirnya menemukan sebuah celana panjang dan baju lengan panjang dengan bagian leher tertutup hingga setengah leher,
"Ini lebih bagus!"
"Panas, Div!"
"Panggil aku dengan benar!" protes Div dengan panggilan yang di berikan oleh Ersya.
Ribet banget sih nih orang .....
"Panas, suamiku!"
"Hanya sebentar, cuma Sampek Rendi pergi dari sini!"
Akhirnya Ersya hanya bisa pasrah dengan kemauan suaminya itu. Kini Div pun juga memilih baju untuknya dan memakainya.
...🍀🍀🍀...
Setelah selesai berganti baju, mereka berdua segera keluar dari kamar, di luar Rendi sudah melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah kesal.
Ia melepas lipatan tangannya lalu melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya,
"Empat puluh tiga menit!"
Div dan Ersya pun duduk di sofa yang tadi di duduki oleh Div, Div seperti tidak terjadi peduli dengan keluhan Rendi.
Ckkkk
Rendi hanya berdecak lalu kembali duduk,
"Untung Tuhan mengaruniaku kesabaran yang luar biasa!"
Mereka benar-benar tidak tahu kalau aku sedang puasa ....
"Jangan mengeluh terus, mana yang harus istri saya tanda tangani?" tanya Div yang memilih tidak menanggapi keluhan Rendi.
Rendi pun menyodorkan sebuah map dan juga sebuah bolpoin dan menunjukkan di mana Ersya harus membubuhkan tanda tangan.
Setelah selesai dengan urusannya, Rendi pun berpamitan untuk pulang, Div mengantarnya sampai ke depan. Sedangkan Ersya, Div memintanya untuk kembali ke kamar.
"Tidak kepikiran untum bulan madu saja?" tanya Rendi sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"Memang itu perlu?"
"Sangat perlu, ya setidaknya tidak akan ada gangguan!"
"Seperti kamu!?"
Rendi tersenyum dan menepuk bahu Div,
"Ya salah satunya! Aku pergi, jika mau menitipkan Divia, ayahnya selalu siap!"
Rendi segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Div yang masih berdiri di tempatnya, ia kepikiran dengan apa yang di katakan oleh Rendi.
Bulan madu ....., bukan ide yang buruk ....
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰