
“Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?”
Mendengar pertanyaan itu Div segera menghentikan kegiatannya yang sedang melepaskan kancing
kemejanya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, untuk pertama kalinya Ersya
menawarkan diri.
“Kamu kesambet ya?”
Ersya gantian yang mengeryitkan keningnya, “Kok gitu sih?”
“Tadi abis kena apa sama istrinya Frans?” tanya Div curiga.
“Ihhh gitu sih!” protes Ersya, “Sebenernya mau nggak?”
Div tersenyum dan mengangkat ke dua tangannya di udara, ingin memeluk istrinya itu,
“Ya maulah!”
Ersya hanya tersenyum dan tidak bermaksud untuk membalas pelukan suaminya, ia memilih untuk pergi ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk suaminya. Memang seharusnya ia lakukan ini dari dulu, semua sikap suaminya padanya tidak ada yang buruk, sudah
sepantasnya dia membalasnya dengan sikap yang baik juga.
Semakin ke sini Div semakin manis saja ...., lamunnya sambil mengisikan air di bak mandi. Mengingat bagaimana suaminya itu dengan kata-kata pedasnya tapi dengan perhatiannya sering kali membuat dirinya luluh.
Setelah air hangat siap, Ersya pun segera keluar, suaminya itu sudah melepas sempurna kemejanya.
"Airnya sudah siap!"
Srekkkk
Div tiba-tiba menarik pinggangnya hingga Ersya berada dalam pelukannya,
"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" bisiknya.
"Apa kau lupa kalau aku sedang_!"
"Issstttttt, kenapa masih belum pergi sih tamunya?" protes Div sambil melepaskan pinggang Ersya.
"Ya emang belum waktunya, sudah sana ke kamar mandi, keburu dingin lagi ntar airnya!"
Divta pun terpaksa meninggalkan Ersya dan pergi ke kamar mandi.
Setelah Div benar-benar masuk ke kamar mandi, Ersya menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk membuat Ersya menghentikan kegiatannya, ia segera menghampiri pintu dan
membukanya. Ada sekretaris Revan di depan pintu, malam-malam?
“Sekretaris Revan?”
“Maaf nyonya saya
menggangu istirahat anda!”
“Iya tidak pa pa, tapi
mas Divta sedang mandi! Kamu tunggu sebentar ya!”
“Tidak perlu nyonya, saya hanya ingin menitipkan ini!”
Sekretaris Revan
memberikan tiga lembar tiket, “Tiket?”
“Untuk jelasnya, nyonya
bisa tanyakan langsung pada tuan, kalau begitu saya permisi nyonya, selamat beristirahat!”
Sekretaris Revan meninggalkan Ersya yang masih terdiam di tempatnya, Ersya pun kembali menutup pintu kamarnya. Ia tidak perlu menemani Divia dulu karena dia sudah tidur semenjak
di mobil. Dengan tangan yang masih memegang gagang pintu, mata bulatnya sibuk mengamati tiket di tangannya, bersamaan dengan itu Div keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya,
__ADS_1
“Siapa tadi?”
Pertanyaan itu menyadarkan Ersya,
“Hmm?”
Ersya mendongakkan kepalanya, “Itu tadi sekretaris Revan!” ucapnya sambil menunjuk ke
arah belakang yang jelas-jelas sudah tidak ada sekretaris Revan nya.
“Ohhh!”
jawaban singkat dari Div, keningnya berkerut saat melihat baju tidurnya sudah siap di atas
tempat tidur,
“Ini?”
tanyanya sambil menunjuk bajunya.
“Oh itu aku tadi yang nyiapin!”
Div tersenyum dengan jawaban Ersya, ia pun segera melepas handuknya dan memakai baju tidurnya di depan Ersya. Kini tidak ada rasa canggung lagi di antara mereka.
“Sekretaris Revan mengantarkan ini!” ucap Ersya sambil menunjukkan tiket di tangannya, “Memang kita mau ke Bali?”
“Hmmm!”
“Nihh!”
Ersya menyerahkan tiket itu pada suaminya dan mengambil handuk yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur dan membawanya ke keranjang baju kotor. Saat ia kembali suaminya itu sudah duduk di sofa dengan kaki yang di lipat dua-duanya di atas tangannya sedang sibuk menggeser layar datar miliknya dengan mata yang terus
mengikuti. Ersya pun ikut duduk, ia ingin tahu apa yang di lihat suaminya itu, ia membungkukkan punggungnya agar bisa melihat,
“Duduklah!” perintah Div.
“Emm!”
Sepertinya Div tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Ersya. Ersya pun ikut duduk di samping Div, di layar datar itu terdapat berbagai destinasi wisata yang ada di bali,
inginnya ke Turki, ternyata dia mengajak ke Bali, batin Ersya sedikit kecewa sambil ikut mengamati tempat-tempat wisata di Bali.
“Menurutmu hotel ini
bagaimana?” tanya Div sambil menunjukkan sebuah hotel bintang lima yang ada di
Bali dengan segala fasilitasnya.
“Bagus!”
“Ini beberapa tempat wisata yang dekat dengan hotel, dekat dengan pantai kute juga!”
“Emmm! Tapi yang kiri itu juga lumayan, lebih natural! Tapi terserah mas sih …!”
Div menyadari ada yang
kurang dari tanggapan Ersya, ia pun menoleh pada istrinya itu ada raut kecewa,
“Lain kali kita ke Turki, karena aku hanya punya waktu senggang tiga hari jadi kita ke Bali tidak pa pa ya?”
Ihhhh terlihat sekali ya wajahku …., Ersya mencoba mengembangkan senyumnya, “Iya tidak pa pa! tapi Divia? Dia kan sekolah!”
“Aku sudah minta ijin sama gurunya!”
“Kapan?”
“Sama seperti aku memesan tiket ini!”
Ersya mencebirkan bibirnya, memang dia akui suaminya benar-benar luar biasa. Hanya dengan sekejap saja mampu melakukan banyak hal sekaligus.
Dia benar-benar punya
ilmu seribu bayangan …, tangannya banyak …., batin Ersya. Lalu ia teringat sesuatu yang sedari tadi ingin ia tanyakan.
“Oh iya mas, tadi
__ADS_1
ngomongin apa serius banget sama dokter Frans?”
“Nggak usah kepo!” ucap
Div sambil mengusap asal kepala Ersya.
***
Pagi-pagi sekali sekretaris Revan sudah datang ke rumah Div, sekretaris Revan kali ini tidak
bisa ikut karena dia masih harus menyelesaikan beberapa proyek di Jakarta. Sebenarnya
Div sangat sibuk tapi demi mengalihkan perhatian Ersya, Div merelakan pekerjaannya dan mempercayakan pada sekretaris Revan dan juga Rangga. Walaupun begitu pasti Div akan tetap memandunya dari jauh.
“Sekretaris Revan tidak ikut?” tanya Ersya saat melihat sekretaris Revan tidak membawa apa-apa berasamanya.
“Tidak, dia ada pekerjaan di sini!”
“Ohhh!”
Tadi pagi saat ia bangun dan hendak mengemas beberapa barang bawaannya, ternyata para pelayan sudah menyiapkannya bahkan semua keperluan Divia. Mereka membawa dua baby
sitter juga untuk Divia ke bali.
Kali ini Div tidak menggunakan jetpri karena Ersya lebih menyukai pesawat komersil dari pada jetpri, ia juga mau mengajarkan pada putri kecilnya jika semuanya tidak bisa di
nilai dengan uang.
Hanya butuh waktu dua
jam dan mereka sudah sampai di Bandar udara internasional Ngurah Rai. Di sana mereka sudah di sambut oleh orang langsung dari hotel tempat mereka akan menginap.
“Silahkan tuan dan nyonya!”
“Terimakasih!”
Kali ini Div terpaksa
mengalah dan duduk di samping supir, sedangkan Ersya dan Divia duduk di belakang. Divia begitu senang, bibir nya tidak pernah diam, ia sibuk mengomentari setiap yang ia lihat di bali, sesuatu yang jauh berbeda dengan yang ada di Jakarta. Hingga mereka sampai juga di sebuah hotel, bukan hotel
yang di tunjuk oleh Div semalam, tapi hotel pilihan Ersya.
Ini bukankah yang …, jadi dia nggak jadi yang semalem …, sebuah penginapan dengan di suguhi pemandangan hamparan pantai yang begitu indah. Dan kamarnya langsung menghadap
ke pantai dan juga kolam renang
“Ini kamar kunci kamarnya tuan! Putri anda di kamar sebelah tuan!”
“Iya terimakasih!”
Bersambung
NB :
Aku ada yang baru nih tapi di aplikasi ***, yang punya aplikasinya tolong di singgahi ya, siapa tahu tertarik dengan ceritanya.
Mengisahkan seorang gadis yang malang bernama Audree, ibunya lumpur dan ayahnya tidak pernah sayang hingga membuatnya tidak mau dekat dengan seorang pria.
Hingga akhirnya ia di pertemukan dengan seorang pria yang berusaha keras untuk merubah hidupnya.
Ikuti kelanjutan kisahnya di *** app dengan judul
...*Aku TanpaMu*...
Yang ini nih cover nya☝️
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘😘😘