
Kini mereka sudah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, ruang di mana Ersya dan Divia mengemasi barang-barang oleh-oleh tadi. Ruangan itu sudah kembali rapi entah sejak kapan para pelayan itu merapikannya kembali.
"Sus, tolong ajak Divia ke kamarnya!" perintah Div pada baby sitter Divia.
"Baik tuan!"
Walaupun ingin bersama mommynya, tapi Divia tidak bisa melawan perintah Daddy nya.
Tanpa perlawanan, baby sitter pun membawa Divia masuk ke dalam kamar atas perintah Div, ia tidak mau Divia ikut mengetahui pembicaraan antara orang tua.
Kini Ersya sudah duduk di samping Div, sedangkan nyonya Aruni memilih untuk duduk di sofa yang yang terpisah, sofa dengan ukuran lebih kecil. Wajah mereka tampak lebih serius dari sebelumnya. Apalagi nyonya Aruni, dia begitu kecewa dengan kenyataan yang ia dapat saat kembali pulang.
Matanya terus menatap tajam ke arah Ersya, tapi bukan Ersya namanya jika takut menghadapi tatapan seperti itu. Baginya itu hanya tatapan yang harus di lawan.
Memang aku takut apa jika kamu tatap seperti itu ...., batin Ersya yang tetap bersikap tenang dengan wajah tegaknya.
Berani sekali dia, belum tahu dia berhadapan dengan siapa..., batin nyonya Aruni saat melihat bagaimana wanita di samping putranya itu memandangnya remeh.
“Kapan mama keluar?” pertanyaan itu yang keluar
lebih dulu dari bibir Div, putranya membuat nyonya Aruni beralih menatap putranya.
“Baru tadi pagi sayang, kenapa tidak menjemputku?” tanyanya begitu lembut dengan putranya, berbeda sekali saat ia berhadapan dengan Ersya tadi.
Sebenarnya Div berencana menjemput ibunya tapi bukan ke rumahnya, ke rumah ibunya sendiri. Ia cukup tahu bagaimana susahnya jika seorang menantu hidup dalam satu atap bersama mertuanya. Beberapa rekannya sering membicarakan hal itu saat mereka sedang mengobrol santai, bahkan beberapa dari mereka sering bertengkar dengan istrinya gara-gara ulah ibu mertua.
“Bukankah rencananya masih satu bulan lagi?”
“Polisi memberi keringanan pada mama karena mama sudah bersikap baik, mama sudah mengirimkan pesan sama kamu, kenapa nggak di bales?”
Ia memang tidak memeriksa dengan seksama ponselnya seharian ini, apalagi ia juga belum sempat istirahat.
“Div sibuk ma!” jawab Div yang tidak mau memperpanjang urusannya lagi, hari ini ia hanya ingin beristirahat setelah seharian bekerja.
Terlihat sekali wajah kecewa dari nyonya Aruni, ia sudah bukan menjadi prioritas putranya lagi, “Jadi pekerjaanmu lebih penting dari mama?” tanyanya dengan tidak suka.
Hehhh, terdengar helaan nafas dari Div. Entah kenapa rasa kecewanya pada mama nya masih begitu besar. Kesalahan mamanya terlalu besar untuk di ampuni, dia sudah membuat tiga anak tidak berdosa kehilangan papanya.
Hatinya belum terlalu rela jika mamanya keluar secepat ini, “Itu yang mama ajarkan sama Div, jadi sekarang jangan mengeluh! Lagian mama kenapa ke sini? Rumah mama jauh lebih bagus dan besar dari rumah Div!”
Nyonya Aruni pun berdiri dan menghampiri Div, menyela di antara Div dan Ersya membuat Ersya menggeser duduknya, ia memeluk lengan putranya itu.
Ersya yang kesal segera berpindah ke sofa lainnya, dan langsung mendapat lirikan kemenangan dari nyonya Aruni,
Ini baru awalnya ....., batin nyonya Aruni sambil melengkungkan senyumnya dan kembali fokus pada putranya, “Sayang …, kayaknya mama lebih suka tinggal di sini deh, sama kamu …!”
“Nggak bisa ma, Div sudah punya keluarga!” tolak Div dan melepas paksa tangan ibunya.
Karena penolakan itu, nyonya Aruni menatap ke arah Ersya dengan begitu kesal. Lagi-lagi
pandangannya terlihat menyelidik.
“Jadi benar kamu sudah menikah dengan dia?” tanyanya lagi memastikan apa yang di katakan putranya tadi tidak sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Ma, dia Ersya! Istri Div dan tadi putri kecil itu putrinya Div, namanya Divia!” ucap Div sambil menunjuk ke arah Ersya, kali ini Ersya yang tersenyum penuh kemenangan.
“Sejak kapan kalian menikah? Kenapa tidak bilang atau
bertanya dulu sama mama? Jadi mama ini sudah tidak penting lagi buat kamu?”
“Ayolah ma, jangan seperti anak kecil! Kami menikah baru sebelas bulan lalu!”
“Kok bisa ada anak itu? atau jangan-jangan dia anak
tiri kamu, anak dia dengan orang lain?” tanya nyonya Aruni sambil menunjuk ke arah Ersya dengan tatapan meremehkan.
“Ma …, Divia putri kandung Div dari wanita lain, Ersya ibu sambung Divia!”
Nyonya Aruni terlihat memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia tidak tahu begitu banyak kenyataan yang harus ia hadapi
setelah sembilan tahun mendekam di penjara.
“Pokoknya mama mau tinggal di sini, titik!” ucap nyonya Aruni berkeras hati.
“Terserah mama saja, Div capek mau mandi!” ucap Div sambil berdiri lalu ia memanggil kepala pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Iya tuan!”
“Tunjukkan kamar kosong untuk mama saya! Layani dia dengan baik!”
"Baik tuan!" ucap kepala pelayan lalu beralih pada nyonya Ratih, "Mari nyonya saya antar ke kamar!"
“Tapi ma!” protes Div. Dia saat ini juga sedang butuh istrinya.
“Dia itu istri kamu, berarti menantu mama, sudah seharusnya dia melayani mama sebagai menantu yang baik!”
“Ma_!”
Sepertinya mamanya mas Divta mau bermain-main denganku, baiklah ..., siapa takut!!
“Mas …, tidak pa pa!” ucap Ersya yang menengahi perdebatan ibu dan anak itu.
Ersya beralih menatap mama mertuanya itu, “Mari ma
saya antar ke kamar mama!”
Nyonya Aruni pun berdiri dan mengikuti Ersya.
Div mendengus kesal saat Ersya lebih memilih menemani mamanya, ia memilih menuju ke kamarnya sendiri.
“Silahkan ma!”
“Pelayan, biar dia yang membawa tas saya!”
“tapi nyo_!”
Ersya memberi isyarat pada pelayan untuk tidak membantah, ia ingin tahu bagaimana sifat mertuanya itu. dia bukan wanita lemah yang mudah ditindas.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam kamar, nyonya Aruni segera duduk di atas tempat tidur, mengamati kamar itu.
“Aku mau mandi, siapkan air hangat untukku!” ucap nyonya Aruni dengan arogan nya.
“Baik ma!”
Ersya tidak bisa membentah, karena memang seperti itu seharusnya yang di lakukan menantu terhadap mertua. Ini belum keterlaluan dan masih bisa ia tahan.
Setelah lima menit di kamar mandi, akhirnya Ersya kembali keluar dari kamar mandi, ia melihat mama mertuanya itu sudah berganti dengan baju mandi.
“Ma, airnya sudah siap!”
“Siapkan kopi untukku, selesai mandi kopi sudah harus di meja saya!”
“Baik ma!”
Dia benar-benar seperti nenek sihir …., batin Ersya. Ia hanya bisa menghela nafas kesal karena terus mendapat perintah dari mama mertuanya.
Ersya segera keluar dari dalam kamar selagi mertuanya mandi. Ersya segera menuju ke dapur untuk membuatkan kopi. Div yang selesai mandi melihat istrinya sedang di dapur dengan cepat Div menyusul istrinya. Ia memberi isyarat pada pelayan untuk meninggalkan mereka berdua.
Srekkk
Div memeluk istrinya dari belakang.
"Mas ....!" pekik Ersya terkejut saat ia mendongak ternyata sudah tidak ada siapapun selain mereka berdua, "Semuanya kemana mas?"
Div terus mengecup tengkuk Ersya, "Mereka sudah aku suruh pergi!" ucapnya saat berhenti sebentar.
Div mendorong tubuh Ersya hingga berhimpit dengan meja dapur dan membalik tubuhnya dengan cepat mendaratkan bibirnya ke bibir Ersya, ********** dengan penuh nafsu. Tangannya sudah tidak bisa di kendalikan lagi, tangan itu sudah menyusuk ke balik baju Ersya dan meremas di bagian dada istrinya.
Ersya hanya bisa pasrah, ia juga menginginkannya tapi kemudian ia tersadar saat suara teko yang ada di atas kompor mengeluarkan suara serulingnya,
"Mas ...., airnya sudah matang!" ucapnya saat berhasil menjauhkan bibirnya.
"Biarkan saja airnya matang!"
"Tapi mas, biar aku antar kopi mama dulu, mas Div tunggu di kamar saja ya, aku janji akan menyusul!"
Walaupun berat, Div pun mengiyakan. Ia pun membantu merapikan kembali pakaian Ersya dan membiarkan istrinya itu membuatkan kopi untuk mamanya.
"Jangan lama!" Div memberi peringatan saat Ersya meninggalkannya.
...Aku tidak sempurna, tapi kamu penyempurna hidupku. Saat orang lain tidak bisa menerimaku, kamu malah dengan mudahnya menjadikan kelemahan ku sebagai kekuatanku...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1