
...Kebahagiaan akan terasa lebih manis, lewat sebuah perjuangan yang sepenuh hati. Bukan hanya sebuah angan yang tidak tersalurkan ...
...๐บ๐บ๐บ๐บ...
Kini gadis kecil itu sudah sampai di negara impiannya,
"I'm coming Korea ....!"
Divia begitu senang, ia sampai meregangkan tangannya menyambut kota yang berbau artis idolanya.
"V tunggu aku!"
Divia sudah mengikuti berbagai pelatihan bahasa Korea, ia bahkan mengabaikan les matematika demi bisa ikut les bahasa Korea, walaupun tidak sebaik orang Korea, dia cukup mahir untuk melakukannya.
Dia sudah mempelajari banyak hal tentang Korea, kendaraannya, cara hidupnya dan ia juga sudah mencari tempat kos termurah yang tidak terlalu jauh dari kampus tempatnya belajar.
Memang bukan kampus terbaik tujuannya, karena ia menyadari otaknya tidak seencer adik-adik nya, ia bahkan bisa masuk ke kampusnya juga buka karena prestasi tapi memang dia ingin ke sana dan Daddy nya berada di belakang semua usahanya itu.
Sebuah kos dengan satu kamar dan ruang tengah lengkap dengan peralatan memasak dan kamar mandi sederhana menjadi pilihannya.
Divia memilih 1.5 room karena menurutnya akan lebih lega dari pada one room. Penghuninya pun banyak dari mahasiswa karena sesuai dengan kantong mahasiswa. Tempat baru Divia memiliki satu kamar tidur dan ruang tengah. Ukurannya cukup luas untuk satu orang tentunya tidak seluas kamarnya yang ada di Indonesia.
"Aku pikir cuma dua jutaan ternyata biaya sewanya kisaran harga 400 ribu won sampai 1,5 juta won. Depositnya dimulai dari 5 juta won." Divia menatap surat kontraknya, berbeda dengan di Indonesia kalau di Korea ia harus membayar deposit terlebih dulu.
Tapi ternyata semua harga sewa ini belum termasuk biaya listrik, air, dan maintenance fee. Benar-benar berbeda dengan di Indonesia.
Walaupun membayar deposit di awal tapi para penyewa kos tidak perlu khawatir uang deposit akan dikembalikan lagi kepada si penyewa jika masa kontraknya berakhir.
Walaupun tidak begitu tahu tentang Kos-kosan di Indonesia tapi ia cukup mengerti dengan berbagai aturannya di sana. Beberapa temannya ada yang anak kos.
"Tidak apalah!"
Divia pun segera mengeluarkan barang-barangnya dan menatanya di lemari yang sudah di sediakan. Ia sengaja membawa barang yang tidak terlalu banyak agar ia tetap bisa shoping di Korea.
"Ahhhh akhirnya!"
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, ia merasakan perutnya mulai lapar.
"Cari makan atau cari bahan makanan?"
Divia menimbang-nimbang, ia memeriksa isi dompetnya, sebelum ke Korea ia sudah menukarkan sejumlah uang tapi uangnya sudah kepakai untuk membayar kos.
"Mending cari makanan lalu cari bahan makanan buat nanti malam dan besok sebelum berangkat ngampus!"
__ADS_1
Tidak jauh dari tempatnya tinggal sudah ada minimarket yang menjual beberapa bahan makanan, jadi ia tidak perlu berjalan terlalu jauh.
Ia juga harus mulai membiasakan diri untuk berjalan kaki saat kemana-mana.
"Capek juga ternyata!" keluhnya sambil menselonjorkan kakinya, ia tidak jadi membeli makanan. Ia memilih membeli bahan makanan dan satu cup mie yang siap di sedu.
"Nggak nyangka seenak ini, mie kalau di masak sendiri saat benar-benar lapar!"
Divia mengelus perutnya yang baru saja di isi. Ia benar-benar baru merasakan kehidupan yang sebenarnya, hidup dengan segala usahanya sendiri.
Biasanya di rumah, apa-apa sudah ada yang menyiapkan. Mau ke mana-mana sudah ada yang mengantar.
...***...
Kriiiiiinggggggggg
Suara jam kecil yang berada di samping tempat tidurnya berhasil membangunkan gadis yang baru saja menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya itu.
"Astaga ...., aku sudah kesiangan!"
Divia buru-buru bangun dan ke kamar mandi,
"Ahhh, sudah nggak sempat mandi!"
Ia hanya mencuci mukanya dan berganti baju, mengusap wajahnya dengan bedak tipis, tidak lupa selembar roti ia bawa berlari sambil menuruni tangga tempat kosnya. Ia membungkukkan punggungnya saat melintas di depan orang.
"Semangat!"
Ia memberi semangat pada dirinya sendiri ketika sudah akan memasuki ruang kelasnya,
Matanya mengitari setiap ruangannya, mencari bangku yang masih kosong dan cukup nyaman untuknya. Semua wajah-wajah itu terlihat begitu asing baginya.
"Nggak nyangka aku berada di antara oppa-oppa Korea!" gumamnya pelan menyadari hampir semua penghuni berwajah Korea, hanya ada beberapa terlihat berwajah asing.
Divia juga mulai menggunakan kemampuannya berbahasa Korea untuk menyapa teman-teman barunya.
"Pasti mereka melihat aku aneh!" gumamnya lagi saat sampai di tempat duduk dengan tatapan teman-temannya yang menatapnya aneh.
"Hai, aku Yura!" seorang gadis berwajah Korea itu mengulurkan tangannya pada Divia, tapi tidak dia bisa menyapanya menggunakan bahasa Indonesia yang walaupun kaki.
"Hai, Divia!"
"Kamu dari Indonesia ya?"
__ADS_1
"Hmmm!"
"Mannaseo bangawoyo! (Senang berkenalan denganmu)"
"Cheonmaneyo (Sama-sama)!"
Dari perkenalan itu, akhirnya mereka membahas banyak hal, dan ada hal yang baru Divia ketahui.
"Jadi kamu indo Korea?"
"Iya, appa aku orang Korea, eomma aku orang indo!"
"Pantes aja kamu bisa bahasa Indonesia!"
"Soalnya eomma aku suka pakek bahasa Indo kalau di rumah, maklum lah dia suka menghadirkan suasana indo di rumah, katanya biar kerasa tetap di Indo, aku juga sering makan makanan Indo, nanti aku ajak ke rumah aku, trus aku kenalkan sama eomma, dia pasti seneng dapat temen Sama-sama orang Indo!"
"Pasti, aku seneng banget!"
"Baiklah, aku harus segera pergi sekarang. Aku mengambil pekerjaan paruh waktu, jadi naeil bwayo (Sampai jumpa)!"
"Bye!"
Divia menatap kepergian teman barunya itu. Ia melihat betapa lincahnya temannya itu. Sepertinya berlari dan berjalan Sudja bukan hal yang luar biasa lagi di sini.
"Dia bilang apa tadi? Kerja paruh waktu?"
"Maksudnya di sini bisa sambil kuliah sambil kerja paruh waktu? Bukankah itu hal yang menyenangkan? Aku bisa benar-benar menikmati hari-hariku dong!"
Ia mulai membayangkan bagaimana benar-benar menjalani hidup tanpa kemewahan seperti anak-anak lainnya.
"Iya, mungkin aku harus melakukan hal yang sama!"
Kali ini Divia memutuskan untuk tidak langsung pulang, keberadaanya di negri gingseng ini sedang sangat ia nikmati, ia berjalan menyusuri jalan yang di kelilingi dengan pohon yang tidak hanya di dominasi dengan daun yang berwarna hijau.
Bersambung
NB :
Sebenarnya, atau seharusnya sebagian besar percakapan menggunakan bahasa Korea, tapi maaf karena saya tidak mahir dalam bahasa Korea dan dari pada salah arti jadi untuk cari aman saya gunakan bahasa Indonesia ya, mohon maaf atas ketidak nyamanannya๐๐๐๐
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ...