
"Ellen adalah putri saya, dia
satu-satunya putri saya. Sebenarnya kita bisa menyelesaikan dengan
kekeluargaan!"
"Anda bisa langsung mengatakan
maksudnya tanpa harus muter-muter terlebih dulu taun Gunawan!" ucap nyonya
Ratih dengan masih menggunakan nada yang begitu santai tapi tegas.
"Baiklah, begini...!" tuan
Gunawan kembali menghentikan ucapannya, terlihat wajahnya sedikit ragu.
Mungkin karena melihat wajah datar dari nyonya ratih
membuat nyali pria itu sedikit menciut, apalagi ia tahu wanita yang ada di
depannya itu tidak mudah untuk di pengaruhi.
“Saya tidak mau urusan ini semakin rumit, nyonya
wijaya. Akan lebih baik dari pada nama kita tercoreng terutrama keluarga kita,
bagaimana kalau urusan ini kita selesaikan dengan jalan damai, biarkan Div
menikahi Ellen putri saya. Menurut saya Ellen tidak akan keberatan kalaupun
harus menjadi istri ke dua Div, lagian mereka dulu juga saling suka terbukti
dengan Ellen yang pernah mengandung anaknya Div!”
Mendengarkan perkataan panjang lebar dari pria di
depannya itu membuat nyonya Ratih tersenyum, senyumnya terlihat hambar atau
[ungkin senyum datar.
Melihat nyonya Ratih hanya tersenyum padanya, tuan
Gunawan pun sekalin cemas saja.
“Bagaimana nyonya? Ini juga akan menjadikan dampak
baik untuk perusahan kita, dua perusahaan besar bersatu, tidak akan ada yang
bisa mengalahkannya.”
“Jangan rendahkan diri anda dengan datang ke sini
dengan sikap rendahanputri anda tuan Gunawan, saya tidak akan mengatakan hal
ini jika apa yang anda bicarakan tidak keterlaluan. Seorang anak itu memang
wajib kita bela kalau dia benar, dan orang tua ikut salah jika tetap membelanya
meskipun tahu jika anaknya jelas salah. Cukup putri anda yang rendah jangan
jadikan perusahaan anda menjadi sam rendahnya, jangan sampai ribuan nyawa yang
hidup di bawah perusahaan anda ikut mengalami dampak atas apa yang putri anda
dan anda, tuan gunawan!”
Nyonya ratih tetap bicara dengan tenang tanpa
menunjukkan wajah marah, bahkan terlihat sesekali bibirnya sedikit tertarik
hingga menunjukkan gigi-giginya yang putih terawatt.
“Nyonya Ratih!”
“Maaf tuan SGunawan, saya tidak terlalu banyak
waktu. Jika pembicaraan ini sudah selesai, anda bisa pergi dari sini!” ucap
nyonya Ratih sambil menunjuk ke arah pintu, “maaf saya tidak bisa mengatar!”
Tuan Gunawan pun segera bangkit, wajahnya memerah
antara menahan malu dan menahan marah. Ia segera berlalu tanpa mengucapkan
selamat tinggal. Padahal alasannya datang ke tempat nyonya Ratih karena ia tahu
hanya wanita itu yang bisa mengendalikan anak-anaknya. Segala keputusannya
pasti akan di turuti oleh anak-anaknya, tapi ternyata dia harus pergi dengan
__ADS_1
penghinaan.
Nyonya Ratih tahu buntut dari perkataannya tadi,
tapi bukan menjadi masalah besar karena kalaupun pihaktuan Gunawan melakukan
perlawanan dengan begity banyak bukti kejahatan yang di lakukan putrinya dan
juga berita yang beredar di masyarakat jelas tidak akan bisa membuat tuan
Guanwan berkutik. Jalan satu-satunya yang harus pria itu lakukan adalah
berdamai dengan pihaknya.
Nyonya ratih tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya,
ia harus menemui seseorang yang tahu jalan keluar terbaiknya. Wanita yang sudah
tidak m,uda tapi masih terlihat cantik itu segera mengabil gaway nya yang
sedari tadi teronggok di atas meja. Ia mencari kontak seseorang yang
kahir-akhir ini sudah tidak sering ia hubungi.
Hanya dalam sekali deringan saja, telponnya sudah
langsung tersambung.
“Hallo Salman!”
“Iya nyonya, apa ada masalah?”
“Biasa kita bertemu?”
“Saya akan ke rumah nyonya!”
“Baiklah saya tunggu sambil makan malam!”
“Baik nyonya!”
Seperti biasa nyonya Ratih akan mematikan ponselnya
secara sepihak. Ayah dari Rendi itu masih cukup handal untuk menyelesaikan
masalah pelik, bahkan bakatnya sekarang sudah menurun ke putranya. Pasukan
***
Walaupun ada yang hilang tapi Div merasa sekarang
jauh lebih baik. Kepergian mamanya, ia hanya bisa berdoa semioga mamanya akan
berubah menjadi lebih baik.
Sekarang yang bisa ia lakukan adalah fokus untuk
mengurusi keluarga kecilnya, perut Ersya sekarang juga sudah semakin besar.
Akhir-akhir ini dia masih harus sering wira-wiri ke
kantor polisi dan pengadilan untuk menjadi saksi atas kejahatan yang di lakukan
oleh Ellen. Ia sangat menyayangkan apa yang terjadi dengan Ellen, tapi apa yang
di lakukan sungguh tidak bisa di maafkan.
Dia harus susah payah membangun kembali rasa percaya
yang di miliki Divia, putrinya sudah kembali bisa membaur dengan
teman-temannya. Ersya tidak membiarkan Divia di antara oatau di jemput oleh orang
lain selain dirinya. Bahkan walaupun itu Rangga sekalipun.
Div masih suka cemburu jika Ersya dekat-dekat dengan
Rangga, tapi saat ia sedang sibuk ia juga tidak bisa mempercayakan keselamatan
istrinya kepada orang lain dan dengan terpaksa ia harus meminta Rangga untuk
menjemputnya.
Di kehamilan pertama Ersya saat ini benar-benar
tidak begitu menyusahkan, Ersya akan ngidam dalam batas yang wajah.
Tidak berasa Sembilan bulan sudah Ersya mengandung,
kini kelahirannya tingga menunggu hari saja. Beberapa bulan terakhir Div
__ADS_1
mendengar kabar jika tuan Gunawan menerap di Paris dan meninggalkan putrinya
sendiri di penjara. Tidak jelas apa alasannya, tapi beberapa sumber mengatakan
jika sebagian besar saham di perusahaannya sudah di beli oleh sebuah perusahaan
kecil yang baru di rintis oleh seseorang dan terakhir kali ia ketahui jika
perusahan yang di maksud adalah perusahaan yang miliki oleh paman Salman dengan
menggunakan mana Rendi.
***
“Mas, aku kok ngerasa mau melahirkan ya?” ucap Ersya
yang masih terlihat duduk di tepi tempat tidur. Memeng semenjak dokter
mengatakan jika Ersya tingga menunggu hari saja kan melahirkan, Div tidak lagi
datang ke kantor. Ia memilih untuk menunggui istrinya itu takut jika
sewaktu-waktu sitrinya ,melahirkan. Walaupun di rumah itu ada banyak pelayan
dan penjaga tetap saja Div tidak bisa percya pekasda mereka.
Siang itu Div sedang melakukan meeting melalui layar
laptopnya, fokusnya segera beralih pada sang istri yang terlihat meringis
menahan sakit.
“Sepertinya meeting kita sudah dulu, besok kita
sambung lagi!” ucapnya padalayar yang masih menyala.
“Baik pak!” tersengar sahutan dari sana. Div pun
segera mematikan layar laptopnya dan menghampiri sang istri. Ia memengagi perut
sang istri yang begitu besar.
“Benarkah? Bagaimana rasanya?”
“Tiba-tiba sakit mas, tapi tiba-tiba hilang!”
Div terlihat begitu panic, ia bingung harus
melakukan apa dan menghubungi siapa.
“Kita ke rumah sakit sekarang?”
“Jangan dulu deh mas, kata dokter kan HPL nya masih
empat hari lagi!”
“tapi nanti kalau brojol di rumah gimana? Aku nggak
mau ya anak kita kayak anaknya Frans yang brojol di restaurant!”
“Tenang aja mas, nggak akan! Nanti kalau sakitnya
udah lumayan parah aku bilanh deh sama ,mas!”
“lebih baik kita lakukan operasi cesar aja ya!”
“Nggak ah mas, selagi bisa normal, normal dulu aja
deh. Gini deh mas Div bantu aku siapin keperluan yang harus di bawa ke rumah
sakit ya, abis itu jemput Divia!”
“Yakin nggak pa pa aku tinggal?”
“Mas Div mau aku yang jemput Divia?”
“Jangan dong!”
Bersambung
Tinggal satu bab lagi ya setelah ini, untuk selanjutnya doakan bisa buat ekstra partnya
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1