Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Kembali baik


__ADS_3

"Ellen adalah putri saya, dia


satu-satunya putri saya. Sebenarnya kita bisa menyelesaikan dengan


kekeluargaan!"


"Anda bisa langsung mengatakan


maksudnya tanpa harus muter-muter terlebih dulu taun Gunawan!" ucap nyonya


Ratih dengan masih menggunakan nada yang begitu santai tapi tegas.


"Baiklah, begini...!" tuan


Gunawan kembali menghentikan ucapannya, terlihat wajahnya sedikit ragu.


Mungkin karena melihat wajah datar dari nyonya ratih


membuat nyali pria itu sedikit menciut, apalagi ia tahu wanita yang ada di


depannya itu tidak mudah untuk di pengaruhi.


“Saya tidak mau urusan ini semakin rumit, nyonya


wijaya. Akan lebih baik dari pada nama kita tercoreng terutrama keluarga kita,


bagaimana kalau urusan ini kita selesaikan dengan jalan damai, biarkan Div


menikahi Ellen putri saya. Menurut saya Ellen tidak akan keberatan kalaupun


harus menjadi istri ke dua Div, lagian mereka dulu juga saling suka terbukti


dengan Ellen yang pernah mengandung anaknya Div!”


Mendengarkan perkataan panjang lebar dari pria di


depannya itu membuat nyonya Ratih tersenyum, senyumnya terlihat hambar atau


[ungkin senyum datar.


Melihat nyonya Ratih hanya tersenyum padanya, tuan


Gunawan pun sekalin cemas saja.


“Bagaimana nyonya? Ini juga akan menjadikan dampak


baik untuk perusahan kita, dua perusahaan besar bersatu, tidak akan ada yang


bisa mengalahkannya.”


“Jangan rendahkan diri anda dengan datang ke sini


dengan sikap rendahanputri anda tuan Gunawan, saya tidak akan mengatakan hal


ini jika apa yang anda bicarakan tidak keterlaluan. Seorang anak itu memang


wajib kita bela kalau dia benar, dan orang tua ikut salah jika tetap membelanya


meskipun tahu jika anaknya jelas salah. Cukup putri anda yang rendah jangan


jadikan perusahaan anda menjadi sam rendahnya, jangan sampai ribuan nyawa yang


hidup di bawah perusahaan anda ikut mengalami dampak atas apa yang putri anda


dan anda, tuan gunawan!”


Nyonya ratih tetap bicara dengan tenang tanpa


menunjukkan wajah marah, bahkan terlihat sesekali bibirnya sedikit tertarik


hingga menunjukkan gigi-giginya yang putih terawatt.


“Nyonya Ratih!”


“Maaf tuan SGunawan, saya tidak terlalu banyak


waktu. Jika pembicaraan ini sudah selesai, anda bisa pergi dari sini!” ucap


nyonya Ratih sambil menunjuk ke arah pintu, “maaf saya tidak bisa mengatar!”


Tuan Gunawan pun segera bangkit, wajahnya memerah


antara menahan malu dan menahan marah. Ia segera berlalu tanpa mengucapkan


selamat tinggal. Padahal alasannya datang ke tempat nyonya Ratih karena ia tahu


hanya wanita itu yang bisa mengendalikan anak-anaknya. Segala keputusannya


pasti akan di turuti oleh anak-anaknya, tapi ternyata dia harus pergi dengan

__ADS_1


penghinaan.


Nyonya Ratih tahu buntut dari perkataannya tadi,


tapi bukan menjadi masalah besar karena kalaupun pihaktuan Gunawan melakukan


perlawanan dengan begity banyak bukti kejahatan yang di lakukan putrinya dan


juga berita yang beredar di masyarakat jelas tidak akan bisa membuat tuan


Guanwan berkutik. Jalan satu-satunya yang harus pria itu lakukan adalah


berdamai dengan pihaknya.


Nyonya ratih tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya,


ia harus menemui seseorang yang tahu jalan keluar terbaiknya. Wanita yang sudah


tidak m,uda tapi masih terlihat cantik itu segera mengabil gaway nya yang


sedari tadi teronggok di atas meja. Ia mencari kontak seseorang yang


kahir-akhir ini sudah tidak sering ia hubungi.


Hanya dalam sekali deringan saja, telponnya sudah


langsung tersambung.


“Hallo Salman!”


“Iya nyonya, apa ada masalah?”


“Biasa kita bertemu?”


“Saya akan ke rumah nyonya!”


“Baiklah saya tunggu sambil makan malam!”


“Baik nyonya!”


Seperti biasa nyonya Ratih akan mematikan ponselnya


secara sepihak. Ayah dari Rendi itu masih cukup handal untuk menyelesaikan


masalah pelik, bahkan bakatnya sekarang sudah menurun ke putranya. Pasukan


***


Walaupun ada yang hilang tapi Div merasa sekarang


jauh lebih baik. Kepergian mamanya, ia hanya bisa berdoa semioga mamanya akan


berubah menjadi lebih baik.


Sekarang yang bisa ia lakukan adalah fokus untuk


mengurusi keluarga kecilnya, perut Ersya sekarang juga sudah semakin besar.


Akhir-akhir ini dia masih harus sering wira-wiri ke


kantor polisi dan pengadilan untuk menjadi saksi atas kejahatan yang di lakukan


oleh Ellen. Ia sangat menyayangkan apa yang terjadi dengan Ellen, tapi apa yang


di lakukan sungguh tidak bisa di maafkan.


Dia harus susah payah membangun kembali rasa percaya


yang di miliki Divia, putrinya sudah kembali bisa membaur dengan


teman-temannya. Ersya tidak membiarkan Divia di antara oatau di jemput oleh orang


lain selain dirinya. Bahkan walaupun itu Rangga sekalipun.


Div masih suka cemburu jika Ersya dekat-dekat dengan


Rangga, tapi saat ia sedang sibuk ia juga tidak bisa mempercayakan keselamatan


istrinya kepada orang lain dan dengan terpaksa ia harus meminta Rangga untuk


menjemputnya.


Di kehamilan pertama Ersya saat ini benar-benar


tidak begitu menyusahkan, Ersya akan ngidam dalam batas yang wajah.


Tidak berasa Sembilan bulan sudah Ersya mengandung,


kini kelahirannya tingga menunggu hari saja. Beberapa bulan terakhir Div

__ADS_1


mendengar kabar jika tuan Gunawan menerap di Paris dan meninggalkan putrinya


sendiri di penjara. Tidak jelas apa alasannya, tapi beberapa sumber mengatakan


jika sebagian besar saham di perusahaannya sudah di beli oleh sebuah perusahaan


kecil yang baru di rintis oleh seseorang dan terakhir kali ia ketahui jika


perusahan yang di maksud adalah perusahaan yang miliki oleh paman Salman dengan


menggunakan mana Rendi.


***


“Mas, aku kok ngerasa mau melahirkan ya?” ucap Ersya


yang masih terlihat duduk di tepi tempat tidur. Memeng semenjak dokter


mengatakan jika Ersya tingga menunggu hari saja kan melahirkan, Div tidak lagi


datang ke kantor. Ia memilih untuk menunggui istrinya itu takut jika


sewaktu-waktu sitrinya ,melahirkan. Walaupun di rumah itu ada banyak pelayan


dan penjaga tetap saja Div tidak bisa percya pekasda mereka.


Siang itu Div sedang melakukan meeting melalui layar


laptopnya, fokusnya segera beralih pada sang istri yang terlihat meringis


menahan sakit.


“Sepertinya meeting kita sudah dulu, besok kita


sambung lagi!” ucapnya padalayar yang masih menyala.


“Baik pak!” tersengar sahutan dari sana. Div pun


segera mematikan layar laptopnya dan menghampiri sang istri. Ia memengagi perut


sang istri yang begitu besar.


“Benarkah? Bagaimana rasanya?”


“Tiba-tiba sakit mas, tapi tiba-tiba hilang!”


Div terlihat begitu panic, ia bingung harus


melakukan apa dan menghubungi siapa.


“Kita ke rumah sakit sekarang?”


“Jangan dulu deh mas, kata dokter kan HPL nya masih


empat hari lagi!”


“tapi nanti kalau brojol di rumah gimana? Aku nggak


mau ya anak kita kayak anaknya Frans yang brojol di restaurant!”


“Tenang aja mas, nggak akan! Nanti kalau sakitnya


udah lumayan parah aku bilanh deh sama ,mas!”


“lebih baik kita lakukan operasi cesar aja ya!”


“Nggak ah mas, selagi bisa normal, normal dulu aja


deh. Gini deh mas Div bantu aku siapin keperluan yang harus di bawa ke rumah


sakit ya, abis itu jemput Divia!”


“Yakin nggak pa pa aku tinggal?”


“Mas Div mau aku yang jemput Divia?”


“Jangan dong!”


Bersambung


Tinggal satu bab lagi ya setelah ini, untuk selanjutnya doakan bisa buat ekstra partnya


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2