Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Jangan macam-macam


__ADS_3

"Aughhhh!" pekiknya pelan agar suaranya tidak sampai membangunkan Iyya.


Samar-samar ia masih mengenali orang yang menghimpit tubuhnya dengan dinding di belakangnya itu.


"Apa yang kamu lakukan?" bisik Ersya pelan.


Ersya berusaha untuk melepaskan tangannya yang berada dalam kungkungan pria itu.


"Diam ....!"


Pria ini .....


Ersya masih berusaha untuk melepaskan tubuhnya tapi tangan Divta terlalu kuat melingkar di lengannya.


"Jangan di kira aku akan diam saja saat kamu memperlakukanku di depan Divia ya!" ucap nya lirih.


Hehhhhhhh


Ersya menghela nafas dengan tenangnya.


"Dasar pendendam!"


Dia bisa setenang ini .....


Divta sebenarnya bukan mau melakukan apapun pada wanita di depannya, ia hanya ingin menakut-nakuti wanita di depannya itu tapi ternyata salah, wanita itu sama sekali tidak takut dengan ancamannya. Sikapnya begitu tenang.


Jekkkkk


"Aughhh ...., aughhhhh ....!"


Tiba-tiba Divta memekik kesakitan dan mengangkat kakinya yang sebelah kiri membuat tangannya juga lepas dari menggenggam tangan Ersya.


Ternyata Ersya menginjak kaki Divta dengan begitu keras. Sekarang keadaannya sudah berbalik, Divta yang di kerjai.


"Gila ya lo ...!" tunjuk Divta sambil masih mengusap kakinya yang sakit.


"Rasain tuhhhh, siapa suruh menakut-nakuti aku! Dasar ....!"


Ersya pun segera meninggalkan Divta yang masih kesakitan, ia berjalan keluar kamar Divia. Ia takut jika terus ribut di dalam kamar itu akan membangunkan Divia lagi.


Divta pun mengejar Ersya dengan kaki pincangnya.


"Tunggu!"


Ersya menoleh padanya, "Ada apa lagi? Masih kurang? Mau aku tambah lagi?"


"Issstttt ....!" keluh Divta, "Kau ini sebenarnya laki-laki apa perempuan sih?"


"Gue bisa lebih galak dari ini ya, jadi jangan macam-macam, mengerti!"


Ersya kembali berjalan dan Divta masih tetap mengejarnya. Sebagian besar lampu rumah itu sudah di matikan jadi mereka harus sedikit berhati-hati agar tidak menabrak sesuatu.


Tapi saat hendak mencapai pintu utama, Ersya tiba-tiba berhenti dan berbalik. Divta yang belum siap, ia hampir saja jatuh ke belakang tapi untuknya Ersya dengan cepat menangkap tangannya dan menarik nya kembali.


Tapi sayangnya tarikannya begitu kuat hingga membuat tubuh Divta menabrak tubuhnya membuat mereka berada dalam posisi berpelukan dan terjatuh di sofa yang ada di belakang Ersya dengan posisi tubuh Ersya di bawah.


Walaupun gelap tapi Divta dapat melihat wajah Ersya yang hanya berjarak satu centi di depannya itu. Dunia seakan berhenti berputar dalam sejenak hingga suara Ersya menyadarkannya.

__ADS_1


"Mau sampai kapan lo berada di atas gue kayak gini!" keluh Ersya.


Dengan cepat Divta pun bangun dari tubuh Ersya dan membantu Ersya bangun.


"Gila, lo bener-bener ya ....! Udah tahu badannya gede gitu, untung nggak encok gue ....!" keluh Ersya sambil memegangi pinggangnya.


"Lagian siapa suruh berhenti tiba-tiba!"


Divta tetap tidak mau kalah, daddy Div yang dingin itu tiba-tiba menjadi rame saat bersama Ersya.


"Oh iya, gue lupa! Mana ponsel gue!" Ersya mengacungkan kedua tangannya. Ia ingat jika ia belum mengambil ponselnya dari pria yang ada di depannya itu.


Divta jadi teringat dengan berita-berita yang sedang beredar saat ini.


"Aku lupa meninggalkannya di kantor!"


"Hahhhhh ...., kok bisa sihhh? Trus gue gimana dong?"


"Gimana apanya?"


"Gimana gue pulangnya, gue harus pesan ojek online, gue kerja juga butuh hp, lo ada ada aja sihhhh ....!"


"Biar aku antar!"


"Ya kalau kayak gini mau gimana lagi, ya memang harus!"


Akhirnya Divta pun mengantar Ersya pulang. Ia tidak menggunakan sopir.


"Kenapa nggak pakek sopir?" tanya Ersya saat mobil itu sudah melaju meninggalkan rumah itu.


"Kasihan malam malam bangunin orang!"


"Enak aja, emang kamu kira aku ini robot nggak punya rasa kasihan!"


"Mana ada orang punya kasihan kalau malam-malam suka bangunin orang cuma buat bikinin lo makanan!"


"Tau dari mana?"


"Nggak penting gue tahu dari mana, yang terpenting jadi orang jangan blagu!"


Hehhhh ...., ngomong sama dia lama-lama bikin tensi aku naik aja ....., batin Divta, ia memilih fokus menyetir dari pada meladeni omongan Ersya.


Kena mental ...., kena mental deh lo ...., batin Ersya, ia melengkungkan senyumnya dan beralih menatap ke samping melihat jalanan yang sudah semakin sepi saja.


Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Ersya. Ersya pun segera turun dari mobil tanpa mengucapkan terimakasih.


"Gitu aja nih?" tanya Divta sambil menurunkan kaca mobilnya.


"Emang mau bagaimana lagi? Lo mau gue ajak mampir? Nggak usah, sudah malam bisa-bisa di grebek orang kita!"


"Dasar ...., bilang kek terimakasih!" gerutu Divta, ia pun segera menutup kaca mobilnya dan melanjutkan mobil itu dengan begitu cepat.


Ersya tersenyum melihat kelakuan Divta.


"Lucu juga dia!"


Ersya pun segera berbalik, ia sudah sangat mengantuk pengen segera merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk dan bangun besok pagi sudah segar kembali.

__ADS_1


Tapi langkahnya segera terhenti tepat di depan pintu rumahnya, sudah ada gembok yang menutup pintu itu.


"Waaah ...., ini apa apaan nih!?"


Ersya berkacak pinggang lalu kembali memegang gembok yang menggantung di pintu itu.


"Kenapa di gembok seperti ini?"


Hahhhhhh....


"Ini benar-benar gila!"


Kemudian ia menemukan sebuah amplop berwarna coklat yang tergeletak di atas meja di bawah vas bunga itu.


Ersya pun segera mengambilnya dan membuka amplop coklat itu.


Matanya terus bergerak mengikuti bibirnya, wajahnya terlihat semakin cemas.


"Ini apa apaan sihhhh ....? Mereka benar-benar membuat gue emosi ....!"


"Jadi ini maksudnya gue di usir dari rumah gue sendiri, keterlaluan sekali ....!"


Matanya mengarah pada sebuah koper yang tergeletak begitu saja di samping kursi kecil. Ia pun dengan cepat menyambarnya, membuka resleting nya dan benar saja di dalamnya berisi barang-barang pribadi miliknya.


Hehhhhhh ....


"Sial .....!"


Ersya segera menutup kembali koper itu dan menarik pengamannya agar mudah di tarik.


Saat ia sudah berjalan sekitar lima langkah, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Seseorang keluar dari mobil itu.


"Hai Sya!" sapa pria yang baru saja turun dari mobil.


"Mau ngapain lagi ke sini? Belum puas bikin hidup saya hancur, sekarang mau apa lagi?"


Pria mantan suaminya itu malah melengkungkan senyumnya dan lebih mendekat lagi pada Ersya.


"Mau bagaimana lagi, ini harta kita satu-satunya saat kita menjadi suami istri, ya sudah wajar dong kalau saya meminta bagian saya!"


"Dasar nggak punya perasaan!"


"Tapi tenang saja, aku masih bisa memberimu tumpangan! Gimana kalau kau menginap di kontrakan ku?"


"Nggak perlu ...! Setelah ini jangan pernah temui aku lagi, mengerti!"


Ersya pun begitu kesal dan melewati Rizal begitu saja hingga kopernya mengenai kaki Rizal.


"Aughhhh!" pekiknya tapi Ersya tidak mau peduli.


Ersya pun masuk ke dalam mobilnya, mobil miliknya adalah mobil yang ia dapat sendiri dengan sistem potong jadi sebagai angsuran nya jadi Rizal tidak bisa menariknya juga.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2