
Div masih sibuk di depan mejanya, walaupun tidak pergi ke kantor ia tetap harus menyelesaikan pekerjaannya. Div memperhatikan sejenak istrinya itu, ternyata wanita itu sudah
tertidur pulas di atas tempat tidur. Sebenarnya ia ingin mengajak istrinya keluar karena ini waktunya Divia pulang sekolah, tapi melihatnya tertidur ia mengurungkan niatnya.
Matanya beralih menatap
ponsel yang berada di depannya, sedari tadi ia melihat ponsel itu terus berkedip, entah sudah berapa puluh kali. Dia hanya mengubahnya menjadi mode silent tanpa mematikannya. Ia hanya ingin tahu siapa saja yang menghubungi istrinya seharian ini.
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya, ia memilih mengambil ponsel itu dan tangannya mulai mengecek siapa yang melakukan panggilan beberapa kali itu, bahkan sudah puluhan kali.
Hehhhh …..
Terdengar helaan nafas
halus dari pria itu, ia berdecak beberapa kali lalu melemparkan ponsel itu begitu saja kembali ke atas meja, wajahnya berubah kesal.
“Dia masih terus menghubungin, dasar …!” gumamnya.
Setelah merapikan mejanya, Div memilih mengganti bajunya dengan kemeja dan jas yang tidak begitu resmi, cukup casual untuk sekedar keluar dari rumah.
Div menghampiri Ersya yang sedang tertidur, mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajah Ersya.
"Pulas sekali tidurnya!" gumamnya lirih, ia merasa tertarik untuk terus menatap wajah itu.
Cup
Ia meninggalkan kecupan di kening Ersya sebelum benar-benar meninggalkannya. Setelah memastikan Ersya tertidur pulas, ia meninggalkan kamar itu.
Sebelumnya Div sudah menghubungi Rangga, ia meminta Rangga untuk menjemput Divia. Ia harus
ke suatu tempat dan memastikan sesuatu sebelum Ersya bangun.
"Keluarkan mobil!" perintahnya pada salah satu menjaga.
"Baik tuan!"
...🍀🍀🍀...
Mobil yang di pakai Div sudah sampai di depan sebuah rumah sakit swasta yang tidak jauh dari sekolah Divia, ia segera turun dan meminta salah satu anak buahnya untuk memarkirkannya.
Kita lihat saja, sejauh mana nyali kalian ....., Div tersenyum smirt.
Langkahnya begitu pasti dengan kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. Saat ia memasuki gedung,
tangannya meraih kaca mata itu dan menyakukannya di saku jasnya.
"Apa perlu kami ikut, tuan?"
"Tidak perlu, kalian di sini saja!"
Ia sudah tidak perlu bertanya pada resepsionis mau ke kamar mana dan apa, ia langsung memasuki pintu lift dan menuju ke lantai tiga, sebuah kamar pemulihan, mungkin.
__ADS_1
Tangannya sudah memegang handle pintu yang terbuka sedikit, tapi ia urungkan karena di dalam sepertinya ada orang lain. kamar itu bukan kamar VIP yang berukuran luas, hanya kamar ekonomi kelas satu. Ukuran kamarnya biasa saja sehingga pembicaraan mereka masih bisa di dengar dari luar.
Div sedikit mendekatkan
telinganya ke arah pintu agar ia bisa mendengarkan percakapan mereka,
Tampak pria yang sedang duduk di santai di atas tempat tidur pasien dengan seorang wanita paruh baya yang terus memegangi ponselnya. Wanita itu tampak terus melakukan panggilan.
“Ayolah ma, telpon terus Ersya! Mama mau semua orang tahu kalau Rizal tidak bisa ….!” Rizal bahkan tidak bisa melanjutkan ucapannya, bahkan kenyataan itu terlalu pahit.
“Nggak gitu sayang, mama sedari tadi sudah berusaha menghubunginya tapi dia tetap tidak menjawab telpon mama!”
"Aku harus melakukan segala sesuatu agar Ersya bisa kembali lagi padaku!"
"Jangan terlalu memikirkan Ersya, mungkin Ersya bukan lagi jodoh kamu!"
“Tapi Ma, gimana kalau nanti
Ersya sampai tahu kenyataannya? Berita itu pasti akan segera tersebar!"
"Jangan berpikir terlalu jauh nak! Siapa tahu apa yang kita khawatirkan tidak terjadi!"
"Bagaimana mungkin ma, dua orang lawan jenis kalau tinggal dalam satu rumah apa lagi kalau tidak melakukan hubungan itu! Dan lagi Tuan Div sudah punya seorang putri! Aku nggak
mau Ersya sampai jatuh ke tangan pria lain! rizal sudah pura-pura sakit agar Ersya mau kembali sama Rizal! Biaya rumah sakit ini tidak murah ma!”
“Mama maunya juga gitu,
Div tersenyum dan menyakukan kembali ponselnya lalu berjalan dengan langkah pasta, tangannya membawa sebuah ponsel yang sama yang sedari tadi terus bergetar.
“Apa ponsel ini yang nyonya hubungi!” dia menghampiri kedua orang itu dengan menunjukkan ponsel Ersya yang berada di tangannya.
Kedua orang itu tampak begitu terkejut, mereka bersamaan menatap ke arah Div.
“Tuan Div?” pekik Rizal
“Kamu?” begitupun dengan mamanya.
Div berhenti tepat di samping mereka dan lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia menarik sudut bibirnya kembali,
“Sudah ku duga!” ucapnya sambil menatap penuh permusuhan dengan pria yang sedang duduk di atas tempat tidur pasien.
“Ini tidak seperti yang
anda dengar tuan Div!” ucap Rizal yang terlihat panik. Ia tidak siap dengan kedatangan Div.
“Oh, begitu kah? Tapi sayangnya
bukankah saya sudah tahu rahasia besar mu? Dan saya juga sudah mengatakan pada
anda, jika saya tidak akan mengampuni anda jika anda berusaha mengusik
__ADS_1
kehidupan rumah tangga saya, camkan hal itu baik-baik!” Div memberi jeda pada
ucapannya,
“Dan lagi, Ersya itu
adalah istri saya! Kami sudah melakukan hubungan suami istri, bisa jadi istri saya sedang hamil sekarang! Jadi saya rasa tidak akan ada lagi kesempatan untuk
anda, silahkan cari wanita-wanita lain yang mungkin mau untuk anda jadikan cadangan atau bisa anda bodohi!”
Setelah berhasil menembak tepat sasaran, Div segera meninggalkan mereka dengan penuh kemenangan.
“Awasi mereka, mungkin
pria itu dalang di balik sabotase mobil saya waktu itu!” ucapnya pada anak buahnya yang sudah berdiri di samping pintu masuk.
“Baik tuan!”
Di dalam kamar itu, Rizal benar-benar mati kutu. Ia melepas paksa slang infusnya yang memang sebenarnya hanya berpura-pura.
"Sial ...!" umpatnya beberapa kali, sang mama hanya bisa diam pasrah dan terduduk di sofa.
Kecelakaan itu memang sengaja Rizal lakukan untuk mencari perhatian dari Ersya, ia sengaja menabrakkan diri di jam yang sama dengan jadwal Ersya menjemput Divia.
Sebenarnya lukanya tidak begitu parah tapi ia meminta dokter palsu yang kebetulan di temui
oleh Ersya untuk mengatakan kalau Rizal sedang mengalami depresi.
"Rizal tidak tahu lagi harus melakukan apa kali ini ....!"
Bahkan mamanya
juga berperan dalam hal ini, ia memang sayang dengan Ersya tapi rasa sayangnya
dengan putra satu-satunya itu membuatnya buta, tidak bisa membedakan mana yang
benar dan mana yang salah.
"Sia!" umpatnya lagi hingga beberapa kali.
...Untuk mengalahkan satu musuh, kita tidak perlu membuatnya merasa menang di awal, karena kemenangan di awal akan memperkuatnya di akhir...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1