Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Cari mati


__ADS_3

Kini Iyya sudah masuk


bersama susternya, tinggal ada Ersya dan Divta di ruangan yang besar itu.


Rumahnya


besar sekali, pantas saja sudah kayak selebritis aja …., di mana-mana ada paparazzi



Ersya terus sibuk


mengamati rumah itu, rumah yang lebih mirip seperti istana dengan berbagai


pengawalan di setiap sudat rumah. Ruang tamu yang besar lebih mirip seperti


aula gedung pertemuaan.


“Hutsss! Huttsss!”


Divta mengacungkan


tangannya, memetik jarinya beberapa kali di depan wajah Ersya membuat wanita


itu tersadar dari lamunannya.


“Kenapa? Heran?”


“Nggak cuma_!” Ersya


menggantungkan ucapannya.


“Cuma Heran? Terkesima?”


Hehhhhhh


Ersya menghela nafas


kesal karena Divta mencelanya.


“Iya tahu rumah mu


besar!”


“Lupakan, ada yang


blebih penting dari pada itu!”


“Apa?”


“Aku akan pergi, ada


meeting penting! Karena Iyya masih terus mau bersama kamu jadi,  kamu boleh seharian ini bermain dengannya,


aku akan mengembalikanmu nanti sore, kalau tidak malam!”


“Mengembalikan?”


Emang


gue barang apa? Ersya menatap pria yang menurutnya


begitu sombong itu dengan wajah kesalnya.


“Terserah apa kamu


nanti menyebutnya, tapi jika memindahlan sesuatu yang bukan tempatnya itu


namanya mengembalikan!” ucap Divta.


“Dan lagi, jangan


mempengaruhi hal-hal buruk pada Iyya!”


“Memang aku apa? Mafia?”


“Terserah, aku pergi! Jika


butuh sesuatu minta sama pelayan!”


Divta pun meninggalkan


ruangan itu begitu saja bersama dua pengawalnya yangs elalu setia di


belakangnya. Sekretaris Revan sudah menunggunya di depan.


Setelah Divta pergi,


beberap pelayan menghampirinya. “Mari nyonya saya antar ke kamar nona Divia!”


“Baik!”


Ersya mengikuti para


pelayan itu, antara ruang tamu dengan kamar Divia masih harus melewati beberapa


ruangan yang tidak kalah besarnya dnegan ruang yang ada di depan.


Hingga langkah mereka


berhenti di depan sebuah pintu berwarna merah muda, pintu itu juga besar. Seorang


pelayan segera membukakan pintu dan Ersya langsung di suguhi oleh sebuah kamar


yang lebih mirip seperti yang ada di dunia fantasi, kamar dengan nuansa pink


dengan berbagai permaina anak perempuan bisa masuk ke dalamnya. Begitu luas


dengan kamar tidur seperti kamar tidur princess.


Ini


kamar anak atau tempat suting Disney ….


“Mom Iyya!”


Iyya tiba-tiba berlari

__ADS_1


memeluknya. Ersya segera mencium pipi  gadis kecil itu dengan begitu manja.


“Wow harumnya incesnya


mom, udah mandi ya?”


“Iya, Iyya halus mandi


kalau mau belmain cama mom Eca!”


“Siapa yang bilang


kayak gitu?”


“Dad Iyya, dia cuka


cekali bacakan dongeng buat Iyya, tapi Iyya ingin cepelti teman-teman Iyya, Nay


dan Gala!”


“Kenapa sayang?”


“Meleka ada mom nya


yang bacain dongeng cebelum tidul!”


Kasihan, itu yang terbesit


pertama kali dalam benak Ersya. Seorang gadis kecil yang sangat merindukan


kasih sayang ibunya. Ersya mengusap kepala Iyya dan mengecup keningnya. Ia masih


sangat beuntung karena setidaknya ia punya papa dan mama walaupun mereka sudah


meninggal.


Ibu mertuanya juga


sangat baik padanya, tidak masalah jika mereka sudah bukan menjadi mertua dan


menantu lagi. Tapi ibu mertuanya masih sering memperhatikannya, menanyakan


kabar walaupun hanya melalui pesan singkat, kirim makanan saat tahu jika ia


sedang sakit.


“Baiklah, mom Eca akan


membacakan dongeng buat Iyya, Iyya mau dongeng apa?”


“tapi Iyya cekalang


tidak mau di bacakan dongeng, Iyya nggak mau tidul ciang!”


“kenapa?”


“Iyya takut nanti mom


pelgi caat Iyya bangun!”


“Bagaimana kalau janji


“Janji?”


“janji!”


Esya pun mengajak Iyya


tidur dan membacakan dongeng untuk Iyya. Iyya sangat senang, seperti sebuah


mimpi. Suster dan pelayan tetap menemani mereka samnpai Iyya tertidur.


***


Di tempat lain, Div


sedang meeting dengen beberapa klien pengembang. Ada Agra juga di sana karena


ini merupakan proyek yang lumayan besar.


“Semoga kerja sama kita


berjalan lancar, pak Agra, pak Divta!”


‘Sama-sama pak Ruhan!”


“Baiklah kalau begtu


kami permisis dulu!”


Beberapa orang yang


berasal dari Kalimantan itu pun meninggalkan ruang meeting. Kini tinggal Divta


dan Rangga di ruangan itu.


“Bang, aku ingin


bicara!” ucap Agra saat Divta hendak meninggalkan kursinya.


Divta pun terpaksa


kembali duduk di kursinya. Ia cukup tahu apa yang mungkin hal penting yang


ingin di bicarakan. Ia sudah memikirkan semuanya, konsekwensinya juga.


“Duduklah!” perintah


Divta dan Agra pun duduk tidak jauh dari tempatnya duduk.


“Aku melihat siaran


langsung kemarin, dan baru tadi ada berita yang beredar kalian keluar dari


rumah sakit bersamaan, mereka menyebutkan kemungkinan-kemingkinan. Kemungkinan


jika wanita itu adalah ibu kandung Divia!”

__ADS_1


“Lanjatkan!” perintah


Divta lagi, ia ngin mendengar semua beritanya walaupun sekretaris Revan sudah


mengatakan semuanya.


“Kita sudah berusaha


keras untuk menyembunyikan identitas ibu Divia selama ini bang, lalu dengan


berita itu bagaimana?”


Agra begitu terlihat


antusias untuk bertanya. Setelah sekian lama tidak ada berita dekat dengan


wanita mana pun tiba-tiba saja datang dnegan berita mengejutkan.


“Aku sudah memikirkan


semuanya!”jawab Divta dengan santainya.


Agra mengeryitkan


keningnya, cukup asing tapi abangnya dengan berani mengenalkan ke public sebagai


calon istri, “Siapa wanita itu?”


Lagi-lagi Divta


menanggapinya dengan sangat santai, ia bahkan sempat-sempatnya memutar-mutar


ponselnya di atas meja dengan posisi berdiri memojok,


“Nanti kalian juga akan


tahu karena masalahnya Iyya sangat menyukai wanita itu dan aku tidak mungkin


memintanya bersembunyi karena wajahnya sudah terekspos oleh media masa!”


Semakin penasaran, itu


yang terlintas di benak Agra. “Jadi rencana bang Divta?”


“Kira-kira seperti itu!”


Walaupun menebak-nebak,


agra cukup tahu apa langkah abangnya selanjutnya, “Apa wanita itu tahu rencana


bang Divta?”


“Tahu atau tidak tahu


dia harus mau!” ucap Divta yang terkesan memaksa.  Divta memang bukan orang yang suka


berbelit-belit, jika ia menginginkan sesuatu atau merencanakan sesuatu, maka


sesuatu itu harus terjadi.


“Ibu juga tahu tentang


berita itu!”


Hehhhh


Divta menghela nafas,


ia sudah tahu jika ibu kedua nya itu akan mengetahui semuanya, bahkan mungkin


belum sampai ia berkata saja, ibu keduanya itu akan tahu. Mata-matanya tersebar


di mana-mana. Bahkan dinding pun akan punya tekinga jika berhadapan dengan ibu


ke dua.


“Bukan hal yang


mustahil, ibu pasti tahu dan cepat atau lambat aku harus menghadapi ibu!”


“Bukan cepat atau


lambat lagi bang, tapi ibu sudah memanggilmu ke rumah, ibu memintamu untuk


datang hari ini!”


“Tolong bilang sama ibu


jika aku akan ke sana akhir pekan!”


“Akhir pekan masih lima


hari lagi bang, mau bikin ibu ngamuk dan nyamperin wanita itu?”


“jangan menakutiku!”


“Abis bang divta cari


mati sih!”


“bagaimana kalau lusa?”


‘terserah abang lah,


memang hari ini kenapa bang? Bang Divta nggak lembur kan?”


“Mungkin!”


“Ahhhh terserah lah


bang, aku harus pulang cepet hari ini, Gara ingin bermain bola denganku,


nikmati kesendirianmu bang, aku pergi!”


Agra pun beranjak


meninggalkan ruang meeting, meninggalkan Divta yang masih duduk di tempatnya,

__ADS_1


tangannya masih sibuk memutar ponselnya di atas meja. Ia seperti sedang


memikirkan sesuatu.


__ADS_2