
Kini Iyya sudah masuk
bersama susternya, tinggal ada Ersya dan Divta di ruangan yang besar itu.
Rumahnya
besar sekali, pantas saja sudah kayak selebritis aja …., di mana-mana ada paparazzi
…
Ersya terus sibuk
mengamati rumah itu, rumah yang lebih mirip seperti istana dengan berbagai
pengawalan di setiap sudat rumah. Ruang tamu yang besar lebih mirip seperti
aula gedung pertemuaan.
“Hutsss! Huttsss!”
Divta mengacungkan
tangannya, memetik jarinya beberapa kali di depan wajah Ersya membuat wanita
itu tersadar dari lamunannya.
“Kenapa? Heran?”
“Nggak cuma_!” Ersya
menggantungkan ucapannya.
“Cuma Heran? Terkesima?”
Hehhhhhh
Ersya menghela nafas
kesal karena Divta mencelanya.
“Iya tahu rumah mu
besar!”
“Lupakan, ada yang
blebih penting dari pada itu!”
“Apa?”
“Aku akan pergi, ada
meeting penting! Karena Iyya masih terus mau bersama kamu jadi, kamu boleh seharian ini bermain dengannya,
aku akan mengembalikanmu nanti sore, kalau tidak malam!”
“Mengembalikan?”
Emang
gue barang apa? Ersya menatap pria yang menurutnya
begitu sombong itu dengan wajah kesalnya.
“Terserah apa kamu
nanti menyebutnya, tapi jika memindahlan sesuatu yang bukan tempatnya itu
namanya mengembalikan!” ucap Divta.
“Dan lagi, jangan
mempengaruhi hal-hal buruk pada Iyya!”
“Memang aku apa? Mafia?”
“Terserah, aku pergi! Jika
butuh sesuatu minta sama pelayan!”
Divta pun meninggalkan
ruangan itu begitu saja bersama dua pengawalnya yangs elalu setia di
belakangnya. Sekretaris Revan sudah menunggunya di depan.
Setelah Divta pergi,
beberap pelayan menghampirinya. “Mari nyonya saya antar ke kamar nona Divia!”
“Baik!”
Ersya mengikuti para
pelayan itu, antara ruang tamu dengan kamar Divia masih harus melewati beberapa
ruangan yang tidak kalah besarnya dnegan ruang yang ada di depan.
Hingga langkah mereka
berhenti di depan sebuah pintu berwarna merah muda, pintu itu juga besar. Seorang
pelayan segera membukakan pintu dan Ersya langsung di suguhi oleh sebuah kamar
yang lebih mirip seperti yang ada di dunia fantasi, kamar dengan nuansa pink
dengan berbagai permaina anak perempuan bisa masuk ke dalamnya. Begitu luas
dengan kamar tidur seperti kamar tidur princess.
Ini
kamar anak atau tempat suting Disney ….
“Mom Iyya!”
Iyya tiba-tiba berlari
__ADS_1
memeluknya. Ersya segera mencium pipi gadis kecil itu dengan begitu manja.
“Wow harumnya incesnya
mom, udah mandi ya?”
“Iya, Iyya halus mandi
kalau mau belmain cama mom Eca!”
“Siapa yang bilang
kayak gitu?”
“Dad Iyya, dia cuka
cekali bacakan dongeng buat Iyya, tapi Iyya ingin cepelti teman-teman Iyya, Nay
dan Gala!”
“Kenapa sayang?”
“Meleka ada mom nya
yang bacain dongeng cebelum tidul!”
Kasihan, itu yang terbesit
pertama kali dalam benak Ersya. Seorang gadis kecil yang sangat merindukan
kasih sayang ibunya. Ersya mengusap kepala Iyya dan mengecup keningnya. Ia masih
sangat beuntung karena setidaknya ia punya papa dan mama walaupun mereka sudah
meninggal.
Ibu mertuanya juga
sangat baik padanya, tidak masalah jika mereka sudah bukan menjadi mertua dan
menantu lagi. Tapi ibu mertuanya masih sering memperhatikannya, menanyakan
kabar walaupun hanya melalui pesan singkat, kirim makanan saat tahu jika ia
sedang sakit.
“Baiklah, mom Eca akan
membacakan dongeng buat Iyya, Iyya mau dongeng apa?”
“tapi Iyya cekalang
tidak mau di bacakan dongeng, Iyya nggak mau tidul ciang!”
“kenapa?”
“Iyya takut nanti mom
pelgi caat Iyya bangun!”
“Bagaimana kalau janji
“Janji?”
“janji!”
Esya pun mengajak Iyya
tidur dan membacakan dongeng untuk Iyya. Iyya sangat senang, seperti sebuah
mimpi. Suster dan pelayan tetap menemani mereka samnpai Iyya tertidur.
***
Di tempat lain, Div
sedang meeting dengen beberapa klien pengembang. Ada Agra juga di sana karena
ini merupakan proyek yang lumayan besar.
“Semoga kerja sama kita
berjalan lancar, pak Agra, pak Divta!”
‘Sama-sama pak Ruhan!”
“Baiklah kalau begtu
kami permisis dulu!”
Beberapa orang yang
berasal dari Kalimantan itu pun meninggalkan ruang meeting. Kini tinggal Divta
dan Rangga di ruangan itu.
“Bang, aku ingin
bicara!” ucap Agra saat Divta hendak meninggalkan kursinya.
Divta pun terpaksa
kembali duduk di kursinya. Ia cukup tahu apa yang mungkin hal penting yang
ingin di bicarakan. Ia sudah memikirkan semuanya, konsekwensinya juga.
“Duduklah!” perintah
Divta dan Agra pun duduk tidak jauh dari tempatnya duduk.
“Aku melihat siaran
langsung kemarin, dan baru tadi ada berita yang beredar kalian keluar dari
rumah sakit bersamaan, mereka menyebutkan kemungkinan-kemingkinan. Kemungkinan
jika wanita itu adalah ibu kandung Divia!”
__ADS_1
“Lanjatkan!” perintah
Divta lagi, ia ngin mendengar semua beritanya walaupun sekretaris Revan sudah
mengatakan semuanya.
“Kita sudah berusaha
keras untuk menyembunyikan identitas ibu Divia selama ini bang, lalu dengan
berita itu bagaimana?”
Agra begitu terlihat
antusias untuk bertanya. Setelah sekian lama tidak ada berita dekat dengan
wanita mana pun tiba-tiba saja datang dnegan berita mengejutkan.
“Aku sudah memikirkan
semuanya!”jawab Divta dengan santainya.
Agra mengeryitkan
keningnya, cukup asing tapi abangnya dengan berani mengenalkan ke public sebagai
calon istri, “Siapa wanita itu?”
Lagi-lagi Divta
menanggapinya dengan sangat santai, ia bahkan sempat-sempatnya memutar-mutar
ponselnya di atas meja dengan posisi berdiri memojok,
“Nanti kalian juga akan
tahu karena masalahnya Iyya sangat menyukai wanita itu dan aku tidak mungkin
memintanya bersembunyi karena wajahnya sudah terekspos oleh media masa!”
Semakin penasaran, itu
yang terlintas di benak Agra. “Jadi rencana bang Divta?”
“Kira-kira seperti itu!”
Walaupun menebak-nebak,
agra cukup tahu apa langkah abangnya selanjutnya, “Apa wanita itu tahu rencana
bang Divta?”
“Tahu atau tidak tahu
dia harus mau!” ucap Divta yang terkesan memaksa. Divta memang bukan orang yang suka
berbelit-belit, jika ia menginginkan sesuatu atau merencanakan sesuatu, maka
sesuatu itu harus terjadi.
“Ibu juga tahu tentang
berita itu!”
Hehhhh
Divta menghela nafas,
ia sudah tahu jika ibu kedua nya itu akan mengetahui semuanya, bahkan mungkin
belum sampai ia berkata saja, ibu keduanya itu akan tahu. Mata-matanya tersebar
di mana-mana. Bahkan dinding pun akan punya tekinga jika berhadapan dengan ibu
ke dua.
“Bukan hal yang
mustahil, ibu pasti tahu dan cepat atau lambat aku harus menghadapi ibu!”
“Bukan cepat atau
lambat lagi bang, tapi ibu sudah memanggilmu ke rumah, ibu memintamu untuk
datang hari ini!”
“Tolong bilang sama ibu
jika aku akan ke sana akhir pekan!”
“Akhir pekan masih lima
hari lagi bang, mau bikin ibu ngamuk dan nyamperin wanita itu?”
“jangan menakutiku!”
“Abis bang divta cari
mati sih!”
“bagaimana kalau lusa?”
‘terserah abang lah,
memang hari ini kenapa bang? Bang Divta nggak lembur kan?”
“Mungkin!”
“Ahhhh terserah lah
bang, aku harus pulang cepet hari ini, Gara ingin bermain bola denganku,
nikmati kesendirianmu bang, aku pergi!”
Agra pun beranjak
meninggalkan ruang meeting, meninggalkan Divta yang masih duduk di tempatnya,
__ADS_1
tangannya masih sibuk memutar ponselnya di atas meja. Ia seperti sedang
memikirkan sesuatu.