
Ersya masih terdiam, ia membiarkan wanita itu terus mengamatinya, ia hanya ingin tahu apa yang di inginkan oleh ibu yang ada di depannya itu.
“Kamu siapa? Ini rumah Divta kan?” tanya wanita itu setelah cukup lama memperhatikan Ersya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Iya! Anda siapa ya?” tanya Ersya dengan begitu tenangnya. Ia belum tahu siapa wanita di depannya itu yang sebenarnya.
“Kamu pembantu ya di sini?” tanya wanita itu lagi.
Mungkin karena penampilan Ersya yang hanya memakai
baju rumahan dan tanpa riasan sedikitpun membuat wanita itu mengira dia adalah pembantu rumah itu. hampir saja pengawal itu membuka mulut tapi Ersya segera mengangkat tangannya, memberi isyarat agar tidak ada yang bicara kecuali dirinya.
Melihat bagaimana para pengawal itu menghormati
Ersya, sepertinya wanita itu berkali-kali mengamati Ersya, memastikan jika apa yang dia pikirkan itu benar.
“Kamu ini sebenarnya siapa? Kenapa mereka begitu
menghormatimu?” tanyanya lagi.
“Siapa saya sepertinya tidak penting untuk nyonya, sebenarnya nyonya ini siapa dan mau apa ke sini? Maaf karena saya tidak bisa mengijinkan Anda masuk tanpa seijin suami saya!”
“Chhhh, masih tanya saja!” wanita itu berdecak, “Saya
ke sini untuk menemui putra saya, di mana dia?”
“Siapa yang ibu maksud?” yang Ersya ketahui, nyonya Ratih lah ibu suaminya. Jadi jika ada yang mengaku-ngaku ibu dari suaminya itu sepertinya tidak mungkin.
“Divta putra saya dan kamu siapa lagi? Sok berkuasa sekali!” tanya wanita itu menatap sinis pada Ersya.
Perempuan ini mengada-ada ya ....., batin Ersya.
"Kalau benar, tolong tunjukkan buktinya nyonya!"
Di dalam kamar, Divia mengintip dari jendela besar kamarnya. Ia bisa melihat bagaimana wanita itu terus menyudutkan mommy nya. Ia pun memutuskan untuk menghubungi seseorang dan hanya beberapa detik saja panggilan itu terhubung.
“Iya hallo, ada apa? Sudah kangen banget ya sama
aku?” tanya seorang pria di seberang sana.
“Dad …, ini Iyya!”
“Iyya? Mana mom, kenapa ponsel mommy kamu yang bawa?”
“Mom cedang menghadapi nenek cihil, dad! Daddy hayus
puyang, bantu mommy!”
“Baiklah, daddy sedang di jalan. Kamu tetap tenang,
sebentar lagi daddy sampai, laporkan apa saja yang terjadi sama mommy!”
__ADS_1
“Baik dad!”
Div segera mematikan sambungan telpon dari putrinya
itu, wajahnya semakin cemas.
“Lebih cepat pak!” ucapnya pada sopir yang mengemudikan mobilnya.
“Baik tuan!”
Wajah cemasnya tidak bisa di tutupi lagi, tangannya
terus menggenggam ponselnya, terlihat sekali beberapa kali jarinya mengetuk halus
pada ponselnya, ia sangat berharap istri dan putrinya tidak terjadi sesuatu, hingga sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Dengan cepat Div membuka pesan itu, itu dari Divia. Sebuah foto yang di ambil dari atas dengan jarak
yang cukup jauh. Div harus memperbesar layarnya agar bisa mengetahui siapa yang
sebenarnya ingin masuk ke rumahnya dengan paksa.
“Mama …!” gumamnya saat mengamati wajah wanita yang
ada di dalam foto itu, walaupun tidak terlalu jelas tapi dia bisa memastikan jika itu memang mamanya.
“Lebih cepat, pak!” kali ini kadar kecemasannya semakin meningkat saja. Ia sudah cukup tahu bagaiman sikap mamanya, jauh lebih sadis dibanding dengan musuh terkejam sekalipun, mainnya halus tapi mematikan. Dan Ersya, dia bukan lawan sepadan untuk mamanya.
Perjalanan dari kantor ke rumah yang hanya setengah jam terasa lebih lama dari biasanya. Ingin rasanya ia berlari saja dan
memastikan semuanya masih baik-baik saja.
“Kamu ini sebenarnya siapanya Divta, kenapa kamu bisa berdiri di sini?”
“Saya istri Divta!”
“Itu tidak mungkin! Tidak mungkin putra saya mempunyai istri sepertimu!”
Ia tahu seberapa pemilihnya putranya itu, dan lagi putranya juga tidak pernah begitu serius dengan satu wanita.
“Dari tadi saya mendengar anda menyebut suami saya adalah putra anda tapi anda tidak bisa membuktikannya, bukti apa yang nyonya punya untuk membuktikannya, agar saya
yakin kalau anda benar-benar ibu dari suami saya?”
“Saya tidak perlu membuktikan apa-apa kepada wanita
sepertimu, tidak penting juga! Yang saya butuhkan sekarang tunjukkan pada saya di mana putra saya, atau cepat kamu hubungi dia agar cepat pulang!”
Belum sampai Ersya mendebat ucapan wanita itu, tiba-tiba Divia berlari dan memeluk Ersya dari samping.
“Mom …!” panggilnya membuat Ersya menundukkan punggungnya mengusap kepala putrinya yang tepat berada di pinggangnya itu,
“Sayang kenapa turun?”
__ADS_1
“Iyya nggak mau mom di cakiti cama nenek cihil itu!”
“Tidak pa pa sayang, mom tidak pa pa!”
Wanita itu tampak menyilangkan kedua tangannya di depan perut, ia berdecak.
“Sebenarnya ini drama apa sih? Hehhhh, siapa lagi anak ini …?” wanita itu tampak tidak suka dengan keberadaan Divia.
Kalau dia benar-benar ibunya mas Divta, bukankah seharusnya dia tahu kalau ini cucunya? batin Ersya semakin meragukan wanita di depannya itu.
“Hei nenek cihil …., jangan gangguin mommy Echa, kayau canpek mom Echa nangis, Iyya yang akan melawanmu, nenek cihil!” teriak Divia dengan lantang sambil berkacak pinggang.
Jadi Divia juga tidak mengenalinya ...., batin Ersya lagi.
“Kamu ini ya, kecil-kecil sudah berani sama orang tua! Dasar anak tidak tahu aturan!”
“Jaga ucapan nyonya, dia ini masih kecil tidak sepantasnya nyonya berkata kasar padanya!”
“Dia anak kamu? Makanya di didik dengan benar, ibunya
saja urakan apalagi anaknya, nggak punya sopan santun!”
“Nenek cihil jahat!” teriak Divia dan menarik dressnya dengan kasar membuat nyonya Aruni semakin marah, ia melayangkan tangannya membuat Ersya segera menghadangnya dengan memeluk Divia agar tidak terkena pukulan wanita itu.
Tapi ia tidak mendapatkan pukulan itu, saat berbalik ia bisa melihat tangan nyonya itu tetap menggantung di udara dengan di tahan oleh tangan seseorang.
“Mas …!”
Nyonya Aruni tidak kalah terkejutnya sekaligus senang,
“Div!”
Tapi wajah Div terlihat begitu marah, “Apa yang mama
lakukan? Tidak pantas mama bersikap kasar seperti itu sama cucu mama sendiri!”
Mama …, jadi nyonya ini benar ibunya mas Divta ….
Ersya begitu terkejut menerima kenyataan ini, wanita yang berada di depannya benar-benar mama mertuanya. Ia sudah tidak sopan tadi, tidak membiarkan wanita itu masuk ke dalam rumah putranya sendiri.
“Apa maksudmu? Dia putrimu? Putrimu dengan wanita ini? Kamu sudah menikah?” pertanyaan yang bertubi keluar dari mulut nyonya Aruni.
“Sebaiknya kita masuk dulu, kita bicarakan di dalam!” ucap Div setelah melepaskan tangan mamanya.
...Hidup adalah belajar bagaimana menghadapinya bukan bagaimana bisa lari darinya. Karena sekeras apapun kita berlari, dia tidak akan berhenti mengejar...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like ❤️, komentar dan vote juga ya
Follow akun Ig aku
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...