
Div yang awalnya sedang konsentrasi dengan setir mobilnya itu segera menoleh pada sang istri,
"Kamu kenapa?" tanyanya saat sudah berhasil meminggirkan mobilnya.
"Aku mau muntah!"
Ersya segera membuka pintu mobil dan mengeluarkan isi perutnya di selokan yang ada di samping trotoar.
Hoeks hoeks hoeks
Ersya memuntahkan semua isi perutnya, semua makanan yang tadi masuk ke dalam perutnya seakan terkuras habis.
"Dad, mom kenapa?" Divia begitu khawatir, antara meninggalkan putrinya sendiri di dalam mobil dan menyusul istrinya.
"Sayang, kamu dia di sini ya, biar Daddy susul mom! Jangan keluar, mengerti?!"
"Iya dad!"
Div pun dengan cepat keluar dari mobil dan menyusul Ersya, ia segera mengusap punggung Ersya hingga Ersya benar-benar berhenti muntah.
"Kita duduk di sana dulu ya!" ajak Div.
Ia menunjuk sebuah beton di pinggir jalan yang bisa di duduki.
Ersya pun menganggukkan kepalanya dan duduk di sana, ia harus menormalkan kembali keadaannya yang sangat kacau.
"Aku beli minum dulu!" ucap Div lagi saat memastikan Ersya sudah benar-benar duduk.
Div berlari cepat menuju ke warung yang ada di tepi jalan, membeli air mineral kemasan dan dengan cepat membawanya kembali menghirup Ersya.
Ia membukakan segel botol dan menyerahkannya pada sang istri,
"Minumlah!"
Ersya pun mengambilnya, hanya satu teguk saja dan rasanya sudah tidak enak.
"Pahit sekali!"
"Mana ada air pahit, yang ada lidahmu sedang bermasalah! Itu akibatnya kalau di kasih tahu jangan makan makanan sembarangan, masih saja ngeyel, muntah kan akhirnya!"
"Ya maaf, aku kira juga tidak akan apa-apa ternyata tinggal sama sultan membuat perutku jadi sultan juga!"
"Ada-ada saja! Kita ke rumah sakit ya! Kau benar-benar membuatku takut saja!"
"Ngapain? Aku nggak mau ya aneh-aneh!"
"Takutnya ada infeksi di perut kamu gara-gara makanan-makanan yang baru saja kamu makan, itu nggak sehat tahu!"
__ADS_1
"Jangan mulai deh mas, lagian kan juga sudah keluar semua! Jadi tinggal di isi dengan makanan yang sehat, beres!"
"Jangan anggap remeh ya! Bagaimana kalau cacing-cacing itu menggerogoti perutmu dan kamu tambah kurus!"
"Ihhhh, kamu tuh ya mas, seneng banget nakut-nakutin! Gini aja deh mas, kita makan dulu habis itu kalau perutku masih bermasalah kita lanjut ke dokter!"
"Kok pakek nanti-nanti sih!?" protes Daddy Div.
"Ya mau gimana lagi mas, aku nggak mau ke dokter kamu yang maksa!"
"Sampai kapan sih mau keras kepala?"
"Ya nggak tahu lah mas, sudah bawaan dari orok soalnya! Ayo mas kasihan Divia nungguin!"
Ersya pun berdiri dan berjalan duluan meninggalkan Div. Lagi-lagi Div hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Mom, mom tidak pa pa?" tanya Divia saat Ersya sudah masuk kembali ke dalam mobil. Ersya pun menoleh ke belakang dan tersenyum.
"Nggak pa pa sayang, tadi mama cuma ngeluarin racun dalam tubuh!"
"Memang begitu ya mom calanya mengelualin lacun dalam tubuh?"
"Iya, tapi kamu nggak usah niruin mom ya!"
Daddy Div pun masuk hingga membuat pembicaraan mereka terhenti,
Div menoleh ke belakang sambil memakai kembali sabuk pengamannya, "Iya, sampah tadi itu racun!"
Divia beralih menatap mommy nya, "Mom kok makan lacun cih mom, kan nggak baik! Kata Bu gulu Iyya, lacun itu bica buat celaka!"
"Memang mommy kamu itu keras kepala, sayang! Marahi saja dia!" Div sengaja mengompor-kompori putrinya.
Dasar mas Divta ...., suka sekali cari masalah ...
Ersya menatap kesal pada suaminya, lalu menyiapkan senyum terbaiknya untuk sang putri,
"Nggak sayang, bukan seperti itu! Sebenarnya mom tadi itu cuma masuk angin, jadi dari pada di tahan di perut, anginnya mom keluarin, nih mom mau oleskan minyak angin di perutnya mom!" ucap Ersya sambil menunjukkan sebotol kecil minyak angin di tangannya.
Kata orang-orang memang minyak angin cukup ampuh untuk menghilangkan angin dalam perut
Div pun mulai menjalankan mobilnya kembali, Ersya dan Divia sedang sibuk bercerita hingga ia tidak sadar sedang di bawa ke mana oleh suaminya.
Hanya sepuluh menit dan mobil kembali berbelok memasuki sebuah halaman yang luas, tapi bukan sebuah rumah.
Ersya terkejut saat mengetahui di mana mereka sekarang,
"Mas ...., ngapain kita ke sini?"
__ADS_1
"Sudah ku bilang, kita ke rumah sakit! Jadi jangan membantah!"
Ersya tahu pasti suaminya tidak menyerah begitu saja, dia pasti akan terus menyuruhnya ke rumah sakit sedangkan dari dulu memang dia sangat anti dengan rumah sakit. Baginya rumah sakit itu tempat yang sangat menyeramkan.
Tapi rasa takut nya pada rumah sakit sedikit terobati saat menjenguk Felic waktu itu, saat Felic awal-awal menjadi istri seorang dokter Frans, ia begitu mengagumi rumah sakit yang sangat mewah itu.
"Kita langsung ke rumah besar aja mas, nggak usah ke sini!" ajak Ersya yang melihat suaminya terlihat sekali mood nya sedang tidak baik-baik saja.
"Kita ke sana setelah dari rumah sakit!"
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakitnya besok, kan hari ini kamu ada urusan yang sangat penting mas, jangan sampai kita terlambat datang ke rumah ibu Ratih!"
Div pun mendekatkan wajahnya pada sang istri, mencondongkan tubuhnya hingga membuat tubuh Ersya condong ke belakang,
"Tapi sayangnya sekarang kita sudah di rumah sakit, jadi keputusannya tinggal dua, turun sendiri atau aku akan meminta para perawat untuk mengambilkan kursi roda untukmu!"
Setelah selesai bicara, Div pun kembali mengajukan tubuhnya dan menoleh pada putrinya yang sedari tadi memperhatikan mereka,
"Ayo sayang kita turun, sekarang gantian kita mengantar mom ke rumah sakit!"
"Ciap dad!"
Div dan Divia pun duduk lebih dulu, sedangkan Ersya masih terlihat ragu untuk turun.
"Dia benar-benar keras kepala, untuk tampan! Coba kalau enggak, udah aku ...!" gumam Ersya kesal.
Grekkkk
Tiba-tiba pintu mobil di sampingnya terbuka,
"Mau di apain?"
"Nggak! Tadi cuma becanda, sungguh!"
"Turun!" perintah Div lagi.
"Iya! Bawel!" keluh Ersya.
Bersambung
...Dia adalah bagian dari hidupku yang tidak akan pernah lepas dan tidak bisa di lepaskan, karena ada bagian darinya yang menyatu bersama darahku...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...