Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Jangan bermain api


__ADS_3

Setelah obrolan panjangnya, akhirnya nyonya Ratih datang juga. Tamu yang di maksud sudah pergi dan kini nyonya Ratih sudah menghampiri kedua menantunya itu.


Nyonya Ratih ikut duduk bersama mereka di ruang keluarga.


"Bagaimana kabar kamu?" tanya nyonya Ratih.


"Saya baik Bu!"


"Divia? Dia sehat kan? Aku dengar dari dokter yang menangani Divia, kesehatan nya berkembang dengan sangat baik?"


"Divia juga sangat baik ibu, seperti yang ibu dengar! Oh iya ibu, ini ada oleh-oleh untuk ibu!" ucap Ersya sambil menyerahkan sebuah paperbag kepada ibu mertuanya itu.


"Seharusnya tidak perlu repot seperti ini!"


"Sama sekali tidak merepotkan Kok Bu!"


Nyonya Ratih terlihat mulai membuka paper bag nya dan sebuah hand bag khas motif Bali.


"Bagus!" ucapnya sambil mengamati hand bag itu.


Setelah puas mengamati tas itu nyonya Ratih melambaikan tangannya meminta bi Anna untuk mendekat,


"Iya nyonya!"


"Tolong simpan ini di kamar saya!" ucapnya sambil mengulurkan hadiah dari Ersya.


"Baik nyonya!"


Bi Anna membawa hadiah itu menuju ke kamar nyonya Ratih.


"Aku dengar Aruni sudah pulang! Bagaimana kabarnya?"


pertanyaan dari nyonya Ratih membuat Ersya kembali teringat dengan mama mertuanya itu,


"Iya Bu, baru kemarin?"


"Apa dia menyusahkan mu?" tanya nyonya Ratih yang seperti menyadari perasaan Ersya saat ini.


"Aaahhhh!" Ersya bingung harus menjawab apa, bohong jika tidak menyusahkan walaupun baru sebentar tapi rasanya sangat tidak etis kalau mengeluhkan hal itu. "Tidak begitu ibu, hanya_!"


"Tidak pa pa, dia tidak akan berani melampaui batasannya, jangan khawatir!"


"Pasti Bu!


...🍂🍂🍂🍂...


Div sudah bersiap-siap, karena di harus menghadiri peresmian perusahan baru yang berada di gedung sebelah.


"Apa tidak perlu menghubungi Bu Ersya pak?" tanya sekretaris Revan memastikan karena biasanya jika ada acara seperti ini para tamu membawa serta pasangan mereka.


"Tidak perlu, lagi pula ini hanya jamuan makan saja kan?"


"Iya pak!"


"Ayo!"


Sekretaris Revan mengikutinya di belakang seperti biasa. Tapi langkah Div terhenti saat berada di depan meja Rangga.

__ADS_1


"Ga!"


Rangga yang merasa namanya di panggil pun segera berdiri, "Iya pak!"


"Satu jam lagi Divia pulang, tolong kamu jemput dia dan pastikan sampai di rumah tepat waktu!"


"Baik pak!"


Div kembali berjalan meninggalkan Rangga yanga mulai merapikan kembali mejanya. Memang masih kurang satu jam tapi ia tahu jika atasannya itu sangat tidak menyukai keterlambatan.


Setelah berada di gedung yang di maksud, mereka memasuki gedung yang akan di jadikan ruang peresmian, terlihat di sana sudah ramai dengan para undangan dan Div menjadi wakil dari finitygroup kali ini. Agra harus ke luar kota dan akan kembali malam hari. Biasanya mereka hanya perwakilan tapi karena pemilik perusahaan yang sedang di bangun adalah putra dari sahabat ayah mereka, membuat Div menyempatkan diri untuk hadir sebagai tamu yang akan mengisi acara sebagai motivator.


Kedatangan mereka langsung di sambut oleh sahabat ayahnya itu,


"Nak Div senang sekali saat mengetahui kalau nak Div mau menghadiri acara ini apalagi bersedia memberikan sambutan!" ucap pria dengan rambut putih yang sudah bertebaran itu.


"Saya juga senang bisa membantu paman, semoga perusahaan paman bisa berkembang dengan pesat!"


"Aminnnn! ucap pria itu sambil mengusapkan tangannya ke wajah, "Mari nak Div saya kenalkan dengan putri saya yang baru saja pulang dari pendidikannya, kedepannya pasti akan sangat membutuhkan bantuan nak Div!"


"Mari!" ucap Div dengan ramah, ia sangat menghormati sahabat ayahnya itu. Seingatnya dulu mereka memang sering bermain ke rumah pria itu. Walaupun tidak begitu akrab tapi ia masih ingat dengan putri kecilnya. Masih sangat kecil, ia juga sudah lupa dengan wajahnya.


Mereka menghampiri seorang wanita dengan pakaian resminya, dengan rok di atas lutut tampak kakinya begitu jenjang. Rambutnya lurus di bawah bahu, sedikit di beri warna.


"Sayang, papa kenalkan kami sama seseorang yang sangat mahir berbisnis!" ucap pria tua itu pada putrinya.


"Anda terlalu memuji paman!" Div hanya bisa merendah.


Hingga gadis itu mengerutkan keningnya dan membalik badannya menatap Div, tiba-tiba bibirnya melengkung ke atas,


"Ellen!"


Divta tidak kalah terkejutnya, wanita itu sudah sangat ia kenal. Bahkan saat pelariannya bersama sang ibu mereka sudah saling kenal, nyonya Aruni juga sangat dekat dengan Ellen. Mereka bahkan sempat berpacaran sebelum akhirnya Div kembali ke Indonesia.


"Jadi kalian sudah saling kenal?"


"Iya pak, saat aku ikut mama, kita satu sekolah dulu! Ya kan Div, dulu kita juga sempat_!" Ellen, wanita cantik itu menghentikan ucapannya karena terlalu bahagia, "Dia pria yang Ellen ceritakan sama papa!"


"Benarkah?" pria tua itu tampak terkejut dan tersenyum pada Div.


"Itu hanya masa lalu paman!" ucap Div segera memberi penjelasan sebelum orang itu berpikir macam-macam padanya. Ia tidak tahu apa yang telah di ceritakan oleh Ellen pada papanya.


"Ya sudah, kalian ngobrol dulu sambil bernostalgia!"


"Baik pa!"


Pria itu meninggalkan putrinya dengan Div. Suasana jadi sangat canggung,


"Bagaimana kalau kita duduk di sana!"


Ellen menunjuk sebuah bangku kosong yang berada di dekat balkon.


"Baiklah!"


Div hanya bisa mengikuti wanita itu, walaupun singkat wanita itu pernah mengisi hari-hari dalam hidupnya.


"Setelah di Paris itu, aku kira kira tidak bertemu lagi!" ucap Ellen.

__ADS_1


"Maaf aku terburu-buru saat itu, tidak sempat berpamitan padamu!"


"Memang ada apa? Kenapa? Dan Rendi, dia juga tidak mengatakan apapun?"


"Tidak pa pa, ada masalah kecil di sini, bagaimana di sana? Katamu tidak mau kembali ke Indonesia?"


"Itu karena kamu mengatakan hal itu, tapi ternyata kamu berubah pikiran bahkan tidak menghubungiku lagi!"


"Aku tidak sempat!" jawab Div dingin.


"Bagaimana kabar Tante Aruni? Apa dia baik? Sudah lama sekali semenjak SMA aku tidak bertemu dengannya lagi!"


"Dia baik, bahkan sangat baik!"


Sepanjang acara mereka habiskan untuk mengobrol, bahkan setelah Div naik ke panggung juga masih di lanjut.


"Pak, sudah waktunya kita kembali!" ucap sekretaris Revan mengingatkannya, sudah waktunya untuk ganti pekerjaan.


"Baiklah!"


Div segera berdiri di ikuti dengan Ellen. Ia merapikan jasnya,


"Saya pergi dulu!"


Div segera berlalu, baru beberapa langkah, dan langkahnya harus terhenti sejenak saat Ellen memanggilnya,


"Div, kita masih bisa bertemu kan?" teriak Ellen dan Div hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh kembali ke belakang.


Div segera keluar dari gedung itu dan di ikuti sekretaris Revan,


"Pak, sepertinya anda akrab sekali dengan nona itu?" tanya sekretaris Revan saat sudah berada di dalam lift, ia sedikit khawatir dengan kedekatan atasannya itu.


"Hemm!"


"Bu Ersya_!"


Mendengar nama istrinya di sebut, Div segera menoleh pada sekretarisnya itu membuat Sekretaris Revan terdiam sejenak dan mulai menata ucapannya.


"Maksud saya, biasanya wanita tidak suka jika suaminya dekat dengan wanita lain pak!"


"Memang apa yang kamu pikirkan? Aku akan mendua?"


"Maaf pak!"


Hehhh, terdengar Div menghela nafasnya tidak setuju dengan pemikiran sekretarisnya.


...Mungkin kita dapat di percayai untuk setia, tapi akan kau yakin dengan orang yang kau pikir tidak akan pernah membuatmu tergoda? ...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2