
Karena terlalu lapar Divia sampai menghabiskan semua makanan yang banyak itu, Kim hanya memakan beberapa saja.
"Apa begitu laparnya?" Kim cukup heran dengan tubuh kecil Divia yang mampu menghabiskan semua makana yang telah ia beli.
"Ya, sudah aku bilang kan dari tadi, aku sungguh lapar!"
"Baiklah, sudah selesai makan sebaiknya kita pergi dari sini!" Kim sudah lebih dulu berdiri, ia segera mengirim pesan pada Lee untuk meminta seseorang membersihkan ruangannya.
"Kim, tunggu!" Divia segera berlari saat pria itu sudah berjalan keluar dari ruangan, ternyata Lee sudah langsung menyambutnya di depan.
"Siapkan mobil saja, aku akan pergi dengannya!" ucap Kim kemudian, Divia yang merasa dua pria itu tengah memasukkannya dalam pembicaraan hanya menajamkan telinganya.
"Apa tidak sebaiknya saya mengantar Mr dan nona Vi?"
"Tidak perlu!"
"Baiklah!"
Dia ingin membawaku ke mana? Divia hanya bisa menerka-nerka apa yang akan terjadi padanya.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di lantai bawah, terlihat kantor sudah sepi bahkan sebagian lampu sudah di matikan hanya ada penjaga dan beberapa karyawan yang memang sedang lembur.
Langit pun juga sudah gelap, Divia baru sadar jika ini sudah cukup malam.
Hingga akhirnya mobil yang akan mereka tumpangi sudah terparkir di depan pintu keluar, Lee segera membukakan pintu untuk Divia,
"Silahkan nona Vi!"
"Terimakasih!" tapi saat hampir masuk, Divia memilih mendekatkan telinganya ke arah Lee dan berbisik, "Apa kamu yakin tidak cemburu saat aku dekat dengan Mr Kim?"
Mendengar pertanyaan itu seketika Lee menjauhkan tubuhnya,
"Maaf nona, silahkan masuk!"
Kim ternyata sudah masuk lebih dulu dan duduk di balik kemudi,
"Apa yang nona Vi pikirkan tentang aku dan Mr Kim? Sepertinya dia termakan gosip murahan itu!" gumam Lee sambil menatap mobil yang semakin menjauh itu.
Di dalam mobil itu, seperti sebelum-sebelumnya Kim selalu tidak banyak bicara. Tapi Divia bukan tipe gadis yang pendiam,
"Kim, kita mau ke mana? Atau jangan-jangan kamu mengajakku kabur karena tidak tahan melihat ibu Dee akan membawanya? Jangan seperti itu, itu bukan penyelesaian yang terbaik!"
Mendengar ucapan Divia yang panjang lebar berhasil membuat Kim menghentikan mobilnya,
"Ehhh kenapa berhenti? Kamu tidak ingin meninggalkanku di sini kan?"
"Bisa tidak untuk tidak terlalu banyak bicara!"
"Ya mana bisa, ini sudah dari sananya begini! Yang benar aja!"
Kim tidak lagi menanggapi, ia memilih kembali melajukan kendaraannya, sebuah jembatan menjadi tempat tujuannya, Kim segera keluar dan berdiri di tepi jembatan, menatap sungai yang begitu besar itu.
__ADS_1
Jembatan .....
Divia dengan cepat menyusul Kim keluar saat melihat jembatan yang begitu panjang dengan sungai besar di bawahnya.
Srekkkk
Dengan cepat Divia memeluk Kim dari belakang,
"Kim, please ...., jangan lakukan ini. Dunia tidak akan berakhir dengan perginya Dee, di hanya pergi ke Singapura bukan ke dunia lain!"
"Kim sungguh, aku memang bukan siapa-siapa tapi percayalah aku adalah orang yang paling merasa kehilangan jika kamu pergi!"
"Apakah benar aku tidak ada artinya buat kamu? Lalu arti perkataanku beberapa waktu lalu, apa itu juga tidak ada artinya?"
Kim masih terdiam, ia segera mengusap tangan Divia dan tersenyum,
"Memang kamu pikir aku akan melakukan apa?"
Mendengarkan pertanyaan Kim, Divia segera melepaskan tangannya,
"Kamu bukannya mau bunuh diri?"
"Memang aku terlihat begitu patah hati?"
Kim sudah membalik tubuhnya dan kini Divia bisa menatap wajah tampan Kim meskipun lampu tidak begitu terang, dan ia pun menggelengkan kepalanya.
Tukkk
"Jadi apa kamu menganggapku cukup berarti dalam hidupmu?" Kim bertanya sambil tersenyum tipis,
Divia menyadari ia baru saja terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Emmm, itu tadi hanya_!"
Cup
Tiba-tiba untuk kedua kalinya Kim dengan sengaja mendaratkan kecupan di bibir Divia,
Divia yang mendapatkan serangan mendadak hanya bisa melewatkan matanya, tapi Kim malah ******* bibir Divia hingga ciuman itu semakin dalam.
Hingga beberapa detik dan Kim melepaskan ciumannya, ia menarik pinggang Divia hingga mereka begitu dekat.
"Bisakah kamu menjadi bagian dari hidupku selamanya?"
"Hahhh?" Divia semakin di buat terkejut dengan pernyataan Kim.
"Aku serius!"
"Tapi aku sungguh terkejut!"
Kim tersenyum dan melepaskan tangannya dari pinggang Divia, ia kembali melihat ke arah sungai yang begitu luas itu.
__ADS_1
"Sedari kecil aku merasa sendiri, aku bahkan tidak pernah merasakan kehidupan seperti anak-anak lainnya. Bisa bermain dengan bebas, tanpa peraturan dan tekanan!"
Hahhh ternyata bebannya lebih berat, aku kira selama ini hanya aku yang merasakan itu ...., tapi dia laki-laki pasti akan jauh lebih berat ..., Divia sengaja tidak ingin berkomentar, ia ingin mendengar kelanjutannya saat ini.
Kim pun akhirnya mulai bercerita tentang lukanya ketika ia harus kembali ke Korea saat sang kakak sudah tidak lagi berada di sisinya, bagaimana dia harus berjuang di tengah hatinya yang hancur sendiri tanpa dukungan dari siapapun.
Divia pun mengusap punggung Kim dan berdiri di sampingnya,
"Jika kamu butuh tempat untuk bersandar, aku bersedia! Menangislah jika ingin menangis!"
Tapi Kim menoleh dan malah tersenyum,
"Sekarang sudah bukan waktunya lagi untuk menangis!"
Kim kembali menatap ke depan, begitupun dengan Divia.
"Kim!?"
Setelah cukup lama saling diam, akhirnya Divia kembali membuka suara.
"Hmmm?"
"Kenapa Yee Ri meninggalkan Dee dulu saat kecil?"
"Diam tidak sengaja melakukannya!"
"Maksudnya?"
"Menjadi seorang ibu tunggal dengan kondisi yang saat itu tidak memungkinkan untuk merawat Dee seorang diri bukan sesuatu yang ia minta. Saat itu ia harus melakukan serangkaian pengobatan, dan merelakan Dee untuk aku rawat. Hingga ia hanya mempunyai kesempatan bertemu dengan Dee setahun dua kali."
"Apa sakitnya parah?"
"Cukup, tapi karena kesabarannya akhirnya ia bisa mengalahkan sakitnya dan sekarang dia sudah baik-baik saja. Aku sudah terlanjur berjanji akan mengembalikan Dee saat dia sudah benar-benar sembuh dan sekaranglah waktunya!"
Ternyata sesulit itu ....
Divia tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya perjuangan Yee Ri selama ini. Tapi berpisah dengan Dee, benar-benar sangat berat.
Walaupun mereka baru bertemu beberapa bulan saja, tapi rasanya Dee sudah termasuk dan menjadi bagian dari hidupnya.
"Sudah malam, nenek pasti sudah khawatir! Sebaiknya kita pulang!" ajak Kim dan Divia hanya bisa mengekor di belakangnya.
Apa yang ia rasakan saat ini tidak lebih sakit dengan apa yang di rasakan Kim, dia sudah begitu banyak kehilangan dan sebentar lagi akan terpisah dengan Dee.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...