Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (17. Dia pria yang baik)


__ADS_3

Kim terlihat begitu kesal dan membetulkan jasnya,


"Dee sudah memanfaatkanmu untuk menjebakku!?"


"Maaf, aku tidak tahu!?"


"Kau ini, terlalu polos. Bahkan untuk anak sekecil Dee!?"


Kim tidak mempedulikan Divia, pria dengan wajah tegas itu berlalu begitu saja masuk ke dalam mobil.


"Memang apa salahku?! gumam Divia, wanita berkulit sawo matang itu memilih untuk tidak banyak berpikir, ia segera masuk ke dalam mobil dan duduk diam, sejenak tidak ada yang aneh dengan yang ia lakukan saat ini tapi yang membuatnya aneh pria itu tidak kunjung menjalankan mobilnya.


Divia tidak mau ambil pusing, ia mulai memainkan gaway nya yang baru saja ia terima tadi malam, barang itu menjadi begitu berharga untuknya setelah dua Minggu tidak memegangnya. Ia mulai memeriksa pesan yang masuk, tapi lagi dan lagi ia tetap merasa aneh karena mobil tidak kunjung berjalan.


Ia meletakkan gaway nya dan menatap ke depan, ternyata pria itu juga tengah menatapnya, entah sejak kapan tapi sepertinya cukup lama,


"Ada apa lagi?"


"Kamu pikir saya sopir!?"


"Bukan!?"


"Lalu kenapa duduk di situ?"


Gadis bergigi kelinci itu segera menoleh ke arah bangku kosong yang ada di samping Kim,


"Jadi aku harus duduk di sana?"


"Menurutmu." Kim menatap Divia kesal, ingin rasanya menurunkan saja dia dari mobilnya.


"Baiklah, aku tahu." Divia pun segera mengeset duduknya agar lebih dekat dengan pintu dan membukanya, ia berjalan cepat berpindah ke bangku depan.


Tapi lagi-lagi pria itu tidak juga menjalankan mobilnya, ia membuat Divia bingung, "Sekarang apa lagi?" bahkan ia sudah sangat terlambat sekarang tapi pria aneh itu seakan tidak peduli dengan keadaannya.


Srekkkkk


Tiba-tiba Kim mendekatkan tubuhnya, membuat Divia terdiam


Ia bahkan kesulitan bernafas saat wajah tampan pria asing itu begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma parfum dan hembusan nafasnya.


"Masak pakek sabuk pengaman saja juga harus di ajari!?" celetupnya ketus lalu menjauhkan tubuhnya dari Divia begitu saja sedangkan Divia masih harus menormalkan detak jantungnya.


Kenapa jadi pipiku yang panas? Ini benar-benar berat buat aku ....., Divia memegangi pipinya yang saat ini tengah memerah tapi pria itu seakan tidak peduli dengan keadaannya.


Hingga akhirnya mobil melaju tanpa ada percakapan di antara mereka, bahkan Kim sama sekali tidak tertarik untuk berdebat dengannya.


Mobil pun sampai juga di depan kampus Divia, ia tahu apa yang akan ia lakukan sekarang, turun dan segera kabur dari pria dingin itu. Rasanya berada dalam satu mobil dengan pria dingin itu sudah berhasil membuat tubuhnya ikut membeku.


Eghhhhh .... eghhhh ...., kenapa sulit sekali ...., berkali-kali Divia mencoba untuk membuka pengait sabuk pengamannya tapi tidak bisa, ini bukan pertama kalinya ia naik mobil tapi kenapa sekarang tangannya bahkan terlalu beku untuk membukanya? Divia sudah mencobanya tapi tetap tidak bisa.


Apa yang salah ?????


"Ada apa?" sepertinya Kim menyadari kesulitan yang di alami Divia, akhirnya setelah sekian lama ia kembali bicara.

__ADS_1


"Aku_!" divia bingung harus mengatakannya, ia pasti akan merasa malu jika sampai berkata jujur.


"Ohhh!?" tapi tanpa Divia mengatakannya, Kim sudah langsung tahu. Kim kembali mendekatkan tubuhnya ke tubuh Divia dan membantu membukakannya. Divia kembali beku karena gunung es itu terlalu dekat dengannya.


Tapi ada hal yang aneh, Divia malah membayangkan jika seandainya yang duduk di situ adalah Lee dan Kim juga melakukan hal yang sama terhadap Lee.


Ohhh no ....., Divia segera menggelengkan kepalanya merasa geli.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Ahhh enggak!?"


Kim kembali menjauhkan tubuhnya saat pengaitnya sudah terbuka.


"Maaf ini sulit!?" tetap saja Divia merasa tidak enak hati.


"Kamu pasti baru pertama kali naik mobil, jangan khawatir. Keluarlah!?"


Whats ...., apa dia bilang? Divia sampai tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.


Dasar blagu .....


"Turunlah, kenapa masih di sini?"


"Iya aku turun!" Divia dengan kesal turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan begitu keras hingga membuat Kim memegangi letak jantungnya,


"Dia kebiasaan sekali!?"


"Memang dia pikir hanya dia yang punya mobil, lihat aja nanti kalau tahu siapa aku! Aku akan buat kamu berlutut di depanku tuan sombong!"


"Daddy aku bahkan bisa membeli sepuluh mobil yang sama, dasar sombong!?"


"Siapa yang beli mobil sepuluh?" pertanyaan itu berhasil membuat Divia berhenti dan mencari sumber suara dan ternyata ada Yura di belakangnya.


"Yura, sejak kapan kamu di situ?" Divia menjadi was-was jika sampai temannya itu mendengar semua yang ia katakan, ia bel siap identitas dirinya terungkap.


"Baru saja, aku melihat mu turun dengan kesal dari mobil, memang siapa yang mau beli mobil sepuluh?"


Ahhh syukurlah ....


"Dia, pria sombong itu. Enak aja dia bilang aku belum pernah naik mobil!?"


"Yaa maklum sih, aku juga belum pernah naik mobil sebagus itu, pasti keren bisa naik mobil sebagus itu apalagi kalau bisa membelinya. Kamu jangan berkecil hati Divia, pasti suatu saat kita bisa membelinya!"


Divia hanya bisa tersenyum mendengarkan ucapan temannya itu, ia baru tahu kalau perkataan itu tidak berlebihan.


"Hari ini apa rencanamu?"


"Aku akan melanjutkan desainku, mencari beberapa buku di perpustakaan!"


Lalu bagaimana denganku??? waktunya tinggal dua Minggu lagi pengumpulan dan itu akan menjadi hari penentuannya untuk naik ke jenjang selanjutnya.


"Bagaimana dengan tugasmu, apa sudah selesai? Pria itu sudah mengembalikan laptop mu kan?"

__ADS_1


"Ohhhh, aku?" Divia tampak gelagapan, ia tidak punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan Yura, tapi ia juga tidak ingin membuat semangat temannya goyah gara-gara masalah dirinya,


"Aku sudah mulai mengerjakannya lagi!"


"Syukurlah! apa kau ingin ikut aku ke perpustakaan?"


"Enggak deh, aku akan menghubungi mommy ku sebentar. Sudah lama soalnya nggak hubungi dia!?"


"Baiklah, aku duluan ya!"


"Hmmm!?"


Yura segara berlalu dan Divia memilih berjalan menuju ke taman, ia rasa taman adalah tempat paling nyaman untuknya bicara.


Ia duduk di atas rumput hijau dengan daun berwarna kuning dan orange yang berjatuhan di sampingnya, ia segera menghubungi mommy nya sudah lama ia tidak mendengar suaranya.


"Hai Moms!!"


"Ya Allah Divia, mommy kangen!?"


"Bagaimana kabar Moms dan kurcaci-kurcaci imut ku?"


"Baik sayang, jangan panggil mereka kurcaci lagi, mereka sudah besar sayang!"


"Aku tahu, dia tampan sekali? Bagaimana kapan di ajak pulang?"


"Hahhh, maksud Moms siapa?"


"Pria itu, dia baik dan tampan. Dia selaku memberikan kabar tentang kamu sama Moms, dia juga sangat sopan, Moms suka sama dia!?"


Maksudnya Kim? Apa benar? Divia terdiam dan memikirkan kemungkinan siapa yang bicara pada mommy nya, tapi tidak mungkin orang lain selain Kim karena ponselnya dia yang membawa.


"Vi, apa kamu baik-baik saja?"


"Iya Moms, sudah dulu ya Moms saya ada jam hari ini!"


"Iya, selamat belajar!?"


"Love you Moms!"


"Love you too!?"


Divia segera mematikan sambungan telponnya. Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih sekarang.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2