
Cuaca pagi ini sepertinya begitu memahami perasaan seorang gadis yang termenung di atas sofa yang enggan beranjak dari tempatnya, ia hanya sibuk mengamati gerimis di luar melalui jendela kaca di sampingnya,
Kalau Dee di ambil mamanya, lalu aku akan pergi juga dong dari sini ...., Divia sedang memikirkan nasibnya setelah ini. Ia akan tinggal di kontrakan lamanya, Ia menekuk kakinya dan menyandarkan dagunya di atas lutut.
"Eomma!?" suara ceria itu tiba-tiba muncul entah datang dari mana.
"Dee!?"
"Apa eomma sakit?" tanyanya sambil menempelkan tangan mungilnya di kening dan pipi Divia, melihat tingkah polos Dee, Divia hanya bisa tersenyum.
"Kenapa kamu imut sekali sih?" Divia segera meraih tubuh mungil itu dan mendekapnya ke dalam pelukannya. "Eomma pasti nanti akan sangat merindukanmu!"
"Eomma, apa eomma akan pergi?" Dee segera menyadari ada yang tidak beres, ia menatap Divia dengan tatapan yang begitu penasaran.
Divia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Enggak sayang, tapi setiap orang pasti akan berpisah. Tapi jangan khawatir karena berpisah bukan akhir dari segalanya!"
"Apa ini semua karena Moms Yee Ri?"
Divia mengerutkan keningnya, "Kenapa bisa kamu sampai berpikir seperti itu?"
"Semenjak Moms Yee Ri datang, eomma bersikap aneh, eomma jadi banyak diam!"
"Benarkan seperti itu?"
Dee mengangukkan kepalanya dengan begitu pasti,
"Enggak sayang, eomma tidak pa pa!"
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu di ketuk dan seorang pelayan muncul dari balik pintu,
"Maaf nona Vi, tuan muda Dee, nyonya besar memanggil, di depan ada tamu!"
"Siapa bi tamunya?"
"Nona Yee Ri!"
Divia pun segera menggenggam kedua bahu Dee dan tersenyum, ia ingin tetap terlihat baik-baik saja di depan Dee meskipun dia belum siap berpisah dengannya,
"Dee, di depan ada Moms nya Dee, Dee seneng kan?"
"Hmmmm!" anak itu mengangukkan kepalanya,
"Temui dulu dia, aku akan membersihkan diri dan menyusul, tidak pa pa kan?"
"Hmmm!"
Dee pun akhirnya bersedia untuk pergi bersama pelayan.
Hehhhhh ....
Walaupun. berat akhirnya divia hanya bisa menghela nafasnya,
"Bagaimanapun aku juga harus siap kan!"
__ADS_1
Divia segara turun dari tempat tidur, tapi ada yang janggal. Semenjak pagi ia bangun, ia belum menjumpai Kim sama sekali.
Setalah selesai membersihkan diri dan berganti baju, Divia pun segara menemui nenek dan tamunya.
Terlihat di ruang tamu mereka sedang mengobrol, Divia berjalan perlahan menghampiri mereka.
"Selamat pagi Nek!"
"Selamat pagi nona Yee Ri!"
Divia membungkukkan tubuhnya memberi hormat,
"Duduklah Vi!" nenek memintanya untuk duduk di samping sang nenek.
Walaupun segan, Divia pun ikut duduk. Ia bukan siapa-siapa di rumah ini tidak selayaknya ia berada di sana tapi nenek sudah memintanya,
"Kamu cantik Vi!" tiba-tiba Yee Ri memujinya membuat Divia tersenyum enggan. "Pantas Kim sampai begitu mencintaimu!"
Apa itu sebuah pujian? Apa ia yang nona Yee Ri katakan?
"Nona Yee Ri juga!" hanya itu yang bisa ia balas untuk wanita itu.
"Terimakasih ya sudah membantu merawat Dee selama ini, sebenarnya satu Minggu lagi aku akan membawa Dee ke Singapure. Jika kamu rindu, kamu bisa berkunjung ke sana dengan Kim!"
"Satu Minggu?"
Ini terlalu cepat ....., Divia sampai terkejut di buatnya sedangkan Dee hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dengan cepat Divia tersenyum agar tidak memberatkan bagi Dee,
"Tidak!?" Divia menggelengkan kepalanya dan sesekali menghapus sudut matanya yang mulai berair.
"Maaf, tapi saya harus pergi ke kampus, kalian tidak pa pa kan kalau saya pergi?" divia segera berpamitan,
"Iya, hati-hati ya!" nenek mengusap bahu Divia, ia sepertinya sudah tahu apa yang di rasakan oleh Divia saat ini.
Setelah berpamitan, Divia pun segera pergi. Ia berjalan cepat meninggalkan rumah itu, harusnya ia di antar oleh sopir tapi ia menolaknya karena jika dengan sopir ia tidak akan leluasa untuk menangis.
"Ahhhh, jadi inget kurcaci-kurcaci ku, apa kabar mereka?" Divia terus berjalan sambil sesekali mengusap air matanya. Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah halte bus.
Ponselnya berdering saat ia duduk di bangku halte, dengan cepat ia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.
"Hallo Yura!"
"Di mana? Kenapa belum sampai kampus?"
"Masih di halte, bentar lagi bus nya datang!"
"Tapi kamu tidak pa pa kan?"
"Tidak!?"
"Syukurlah, baiklah sampai jumpa di kampus!"
"Hmmm!"
__ADS_1
Divia segera mematikan sambungan telponnya tepat saat itu bus datang dan berhenti di depannya.
Ia segera masuk ke dalam bus dan mencari tempat duduk tapi ternyata bus begitu penuh hari ini hingga ia tidak mendapatkan tempat duduk, ia sudah cukup kesiangan.
Sepuluh menit kemudian barulah ia sampai di depan kampus, ia berjalan cepat mencari keberadaan Yura. Hingga akhirnya ia bisa menemui temannya itu di perpustakaan,
"Kamu kenapa di sini?" Divia begitu heran saat Yura berada di perpustakaan. Ini bukan kebiasaan temannya itu.
"Kamu lupa? Ada tugas dari profesor Hyun, besok sudah waktunya ngumpulin!"
"Benarkah? Kenapa aku bisa lupa!?" Divia bahkan belum mengerjakan sedikitpun.
"Kamu terlalu banyak galaunya sih! Gimana dengan mantan istri Mr Kim? Apa mereka akan rujuk?"
"Dia bukan mantan istri Kim!"
"Hahhhh?" Yura sampai terkejut mendengarnya hingga membuat petugas perpustakaan memperingatkan mereka untuk tidak membuat keributan di perpustakaan.
Untuk lebih leluasa berbicara, mereka pun memutuskan untuk keluar dari gedung perpustaakmn. Mereka memilih taman sebagai tempat yang paling nyaman untuk bicara,
"Bagaimana ceritanya? Jadi maksud kamu Dee bukan anak Mr Kim?"
Divia pun menggelengkan kepalanya kemudian menceritakan semuanya,
"Kasihan Mr Kim!" celetup Yura membuat Divia menoleh padanya dan memastikan apa yang di katakan temannya itu benar.
"Maksudnya?"
"Ya kalau di lihat dari sikapnya Mr Kim terhadap Dee, dia begitu menyayangi Dee. Bagaimana kalau sampai Dee pergi darinya, pasti dia yang paling terluka di sini!"
Kenapa aku tidak kepikiran ya ...., ia hanya sibuk memikirkan perasaannya sendiri tapi ia tidak berpikir dengan luka yang akan di rasakan oleh Kim.
"Pantas saja aku tidak menemukan dia pagi ini!" Divia baru sadar jika pagi ini bahkan sejak bangun tidur ia menemukan Kim.
"Kasihan!" ucapan Yura benar-benar meyakinkan.
Mendengarkan hal itu, Divia semakin galau saja, sedari pagi yang dia pikirkan hanya Dee dan sekarang beralih pada Kim,
"Apa sebaiknya aku menemuinya saja ya?"
"Ya, sepertinya itu ide bagus!"
"Tapi aku akan bicara apa nanti sama dia?" beberapa hari ini ia sedang berusaha untuk menghindari pria itu, lalu bagaimana dia akan mulai bicara.
"Apa aja, yang jelas menghibur dia!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1