
Siang ini setelah pertemuanku dengan ibu di rumah bersama mama, aku pun bergegas untuk kembali keluar.
"Mas Div mau pergi lagi?" aku hanya mengangguk saat pertanyaan itu muncul dari bibir Ersya. Dia istriku yang harus aku lindungi saat ini, aku tahu menjadi istriku bukanlah hal yang mudah tapi aku tidak ingin dia merasakan kesusahan itu.
Bukan susah soal materi yang aku bicarakan, bahkan dulu saat sebelum menikah aku sudah mengatakan padanya, jika nanti di tengah awal atau akhir akan begitu banyak duri tajam yang siap menghujam dan dia mengatakan siap untuk melalui semua itu demi Divia.
Dia benar-benar gadis bodoh, itu yang aku tahu saat pertama kali mengenalnya. Bahkan dia tidak pernah tahu jika sudah di bohongi oleh mantan suaminya dengan begitu dalam. Dia mengira dirinya sendiri mandul, awalnya aku kira aku tidak akan menjadikan hal itu masalah toh pernikahan kami hanyalah pernikahan di atas kertas dan semua demi Divia.
Tapi lambat laut, perasaan ini berubah. Cinta tumbuh begitu saja di dalam hatiku tanpa bisa ku kendalikan. Keinginan untuk menjadikannya milikku seutuhnya begitu besar hingga kami melakukannya, kami bukan anak remaja, atau anak-anak labil kemarin sore. Aku dan dia sudah berpengalaman, bukan hal yang aneh jika kami melakukan hal itu.
Tapi rasa cinta ini terus menuntut tubuh ini selalu dekat dengannya, hingga kenyataan besar jelas tidak bisa di bungkus lagi dengan kebohongan, Ersya hamil. Duniaku seakan semakin lengkap sekarang, keluarga kecilku akan bertambah satu lagi anggotanya. Ersya mengetahui kebenarannya, dia syok. Jelas!
Tapi aku tahu dia juga bahagia, tapi di saat bersamaan tiba-tiba Ellen kembali muncul dalam kehidupan kami, aku kira dia hanya sekedar masa lalu tapi ternyata tidak, dia menciptakan kerumitan dalam rumah tangga kami. Aku tahu itu tidak lepas dari dukungan mama.
Aku tahu dia yang sudah melahirkan ku, tapi wanita itu juga yang membuatku kehilangan sosok ayah. Dan berada di penjara bertahun-tahun ternyata sama sekali tidak membuatnya jera. Karena menghormatinya sebagai sosok ibu, aku membiarkannya tetap tinggal di rumahku tapi bukan untuk menghancurkan rumah tanggaku.
Setelah ku kecup kening istriku, aku pun berlalu. Sebuah mobil yang biasa aku bawa sudah siap di depan, seperti biasa seorang sopir sudah stand by juga di sana. Tapi karena urusanku sedikit rahasia aku pun memilih untuk pergi sendiri, di saat seperti ini bahkan semut pun tidak bisa di percaya.
"Saya pergi sendiri!"
Setelah mendengar ucapanku, sopir yang biasa mengantarku pun memundurkan langkahnya, memberi jarak dengan mobil sehingga aku dapat leluasa untuk masuk.
Segera ku jalankan mobilku sedikit lebih cepat dari biasanya karena aku harus segera sampai di tujuanku. Sebenarnya dulu begitu malas untuk menemuinya, dia bagai saingan dalam hidupku. Tapi ya sudahlah, kita juga sudah sama-sama dewasa sekarang dengan kehidupan masing-masing, tapi tetap saja mengenai Divia aku masih belum rela. Kadang dia terlalu egois, putriku seharusnya untukku saja. Dia kan juga sudah punya putri sendiri, satu putra dan satu putri harusnya sudah cukup.
Aku pun berhenti di sebuah rumah makan lesehan, letaknya cukup jauh dengan pusat kota jadi butuh waktu lama untuk mencari lokasi ini. Mungkin memang pertemuan ini benar-benar tidak boleh di ketahui oleh siapapun jadi dia memilih tempat ini.
__ADS_1
Aku segera memarkirkan mobilku bersama deretan mobil lainnya dan salah satu mobil itu aku mengenalnya, itu tandanya dia sudah datang. Aku pun segera mempercepat langkahku setelah memastikan mobil kembali terkunci.
Hingga langkah ini terhenti di sebuah saung yang sedikit terpisah dari lainnya, letakkan di tepi sawah. Pria itu tampak begitu serius. Memang kapak dia tidak serius, aku begitu muak dengan sikapnya yang itu, sok keren sekali.
Sepertinya dia menyadari kedatanganku, bahkan senyum pun jarang keluar dari bibirnya. Aku pun malah untuk tersenyum padanya. Ku akui dia punya tampang yang lumayan tampan jadi walaupun tidak tersenyum kaum hawa akan menyukainya, bahkan mamanya Divia dulu juga menyukain pria yang duduk sendiri di saung itu.
Ku akui otaknya juga encer, maka dari itu aku tidak ragu datang jauh-jauh ke tempat ini saat dia mengatakan ingin membicarakan hal penting soal keluargaku.
Bahkan anak buahnya kini sudah di percayai pejabat pemerintahan untuk di jadikan pengawal pribadi, bahkan presiden pun menggunakan jasanya untuk mendidik pasukan pengawal presiden. Bukan hanya soal bertarung, pasukan itu juga harus ahli dalam membaca situasi dan pria dingin ini begitu peka dalam hal itu.
Ya diakui atau tidak aku memang mengagumi bakatnya, kepintarannya, dan instingnya yang tinggi.
"Duduklah, bang!" pria itu mempersilahkan aku duduk tetap dengan mode dinginnya.
Aku bukan orang yang tidak menghargai orang lain, aku duduk tepat di hadapannya hanya berjarak sebuah meja yang akan kami jadikan tempat makanan.
Bahkan segelas minuman pun tidak ada di atas meja, meja itu begitu bersih hanya ada berkas-berkas miliknya.
"Saya ke sini bukan untuk makan, tuan muda!"
Dia benar-benar pengawal yang setia, kadang panggil bang tapi jiwa pengawalnya masih suka melekat.
"Jangan memanggilku seperti itu!" tolakku karena aku merasa tidak nyaman, rasanya jika aku di panggil seperti itu, aku benar-benar seperti anak manja saja.
"Baiklah, langsung ke intinya!"
__ADS_1
Dia benar-benar tidak bisa di ajak becanda sedikit saja, heran aku kenapa istrinya bisa betah sama dia.
"Bisa nggak Rend santai sedikit, aku haus! Dari rumah ke sini itu butuh waktu satu jam dan kamu sama sekali tidak menyuguhiku minuman, sekali-kali traktir aku!"
Pria dingin itu hanya memutar bola matanya kesal, *******. halus juga keluar dari bibirnya. Memang semua orang harus seperti dia, kaku? Dasar es batu.
Tangannya terangkat, mungkin dia sedikit mempertimbangkan usulanku. Dan benar saja seorang pelayan menghampiri kami.
"Berikan minuman dingin spesial di sini, dua!" ucapnya tetap masih dengan tanpa ekspresi.
Pelayan itu kembali meninggalkan kami, aku menselonjorkan kakiku yang sedikit pegal karena perjalanan jauh. Ku lirik berkas yang ada di hadapan Rendi, dia seperti terlihat serius memeriksa berkas itu.
"Apa ada hubungannya dengan berkas-berkas itu?"
Rendi hanya melirik padaku, mulutnya masih tertutup rapat. Mungkin dia sedang mempersiapkan sesuatu.
Karena tidak ada jawaban, aku memilih untuk ikut diam, percuma juga bicara sama orang yang hanya akan ngomong kalau dia mau, kalau enggak juga di tanya kayak apa nggak akan ngomong.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰♥️♥️...