Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Mertua penggangu


__ADS_3

Ersya sudah bergegas memasuki kamar mertuanya dan tepat saat ia meletakkan cangkir berisi kopi panas itu, nyonya Aruni keluar


dari kamar mandi. Wanita itu mengenakan baju mandinya berwarna putih dengan rambut yang dililit dengan handuk ke atas.


"Ma ini kopinya!" ucap Ersya yang sudah menyiapkan kopi panas lengkap dengan kue yang


ada di atas piring kecil.


"Hemm!"


Nyonya Aruni tampak memilih baju yang berada di dalam tas besarnya. Beberapa kali dan tidak ada yang cocok.


"Bajuku sudah usam semua!" keluhnya lalu menatap ke arah Ersya dengan tangan yang masih memegang baju.


"Berapa uang yang di berikan suamimu setiap bulan?" tanyanya dan Ersya hanya mengerutkan keningnya. Ia tidak pernah menghitungnya, jangankan menghitung, mengeceknya saja terakhir kali saat pertama kali suaminya marah karena tidak menggunakan uangnya dan itu sudah cukup lama.


"Emm! Kurang tahu sih ma!"


"Kamu sengaja ya, nggak jujur sama saya?" ucapnya kesal lalu menyambar salah satu bajunya dan membawanya ke ruang ganti. Belum juga masuk, nyonya Aruni kembali berhenti dan menoleh pada Ersya yang sudah hampir keluar dari kamarnya.


“Tetap di situ, jangan kemana-mana!"


"Saya?" tanya Ersya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Memang di sini ada orang lain? Badanku sakit semua, aku belum


sempat spa, jadi kamu harus memijit tubuhku!”


"Tapi ma, aku harus_!"


"Nggak usah banyak alasan deh, kamu mau jadi menantu durhaka?"


Hehhh ...., dasar nenek sihir ....


Ersya tidak bisa membantah, ia memutuskan untuk duduk di sofa sambil menunggui mertuanya itu keluar dari ruang ganti.


Hanya lima menit dan nyonya Aruni sudah kembali ke luar dengan rambut yang terlihat masih basah, terlihat tersenyum saat melihat Ersya masih di tempatnya.


Penurut juga dia ...., kayaknya akan mudah membuatnya menyerah, batin nyonya Aruni, ia melipat tangannya di depan dada.


"Bangunlah, aku yang harusnya duduk di situ!" ucap nyonya Aruni. Ersya hanya bisa menyebirkan bibirnya saat memalingkan wajahnya.


Karena Ersya sudah berdiri, ia segera duduk di sofa di mana Ersya duduk sebelumnya dan menselonjorkan kakinya.


“Ahhhh, capek banget!" ucapnya lagi sambil memijit tengkuknya.


"Mana ma yang di pijit?"


"Keringkan rambutku dulu, kamu punya hair dryer kan?" tanyanya.


"Punya ma, bentar aku ambil ma!"


Ersya bergegas untuk pergi tapi nyonya Aruni kembali menahannya.


"Jangan, jangan ...., biar pelayan saja yang mengambilkan!"


Dia benar-benar ya .....

__ADS_1


Ersya sudah beberapa kali menahan emosinya dengan menghela nafas beberapa kali.


"Ini!"


Nyonya Aruni menyerahkan gagang telpon yang ada di meja kecil di samping sofa.


"Panggil pelayan, katakan suruh bawa hair dryer!"


Ersya pun mengambil gagang telpon itu dan langsung menghubungkan ke kepala pelayan.


"Ambilkan hair dryer ke sini!"


"Baik nyonya!"


Ersya kembali meletakkan gagang telpon itu setelah berhasil menghubungi kepala pelayan dan benar tidak menunggu lama hanya beberapa menit saja kepala pelayan sudah datang dengan hair dryer di tangannya.


"Ada yang bisa saya bantu lagi nyonya?" tanya kepala pelayan.


"Tidak perlu, biar dia yang melakukan semuanya!" ucap nyonya Aruni membuat kepala pelayan terdiam.


Kepala pelayan menatap ke arah Ersya meminta pendapatnya. dan Ersya pun memberi isyarat untuk meninggalkan mereka saja.


"Saya permisi nyonya!"


Setelah kepala pelayan meninggalkan mereka, Ersya pun segera menghubungkan Hair dryer dengan stopkontak. Dengan telaten Ersya mengeringkan rambut mertuanya itu.


"Ma ..., sudah!" ucapnya saat selesai.


"Sekarang pijat aku!"


Ersya pun menyimpan kembali hair dryer.


Mendengar pendapat Ersya, nyonya Aruni pun menyetujuinya.


"Baiklah!"


Nyonya Aruni berdiri dan berjalan ke tempat tidur. Ia segera tidur telentang dan Ersya pun mengikutinya.


"Pijat kakiku dulu!”


“Baik ma!”


Ersya duduk di depan nyonya Aruni dan meletakkan kaki mertuanya di atas pangkuannya.


"Ahhhh ...., begini kan enak!" nyonya Aruni terlihat begitu menikmati pijitan Ersya, matanya juga tampak terpejam.


...🍂🍂🍂...


Di kamar lain tampak pria itu sedang mondar-mandir di depan pintu, ia menunggu seseorang yang akan masuk ke dalam kamar.


ckkkk,


Beberapa kali terdengar decakan. Ia sudah berusaha untuk sabar kali ini.


"Mama benar-benar ....!"


Akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan menghampiri istrinya di kamar ibunya. Perlahan ia membuka pintu dan terlihat istrinya sedang memijat kaki mamanya.

__ADS_1


Ersya yang melihat suaminya di depan pintu. ia segera menahan suaminya agar tidak membuat suara, terlihat mamanya sudah memejamkan mata.


"Tetap di situ, aku akan segera ke sana!" ucap Ersya dengan hanya menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Ia sudah setengah jam menunggu mertuanya itu tertidur dengan pijitannya.


Div mengerutkan keningnya, ia sudah ingin memarahi mamanya tapi istrinya malah menahannya untuk tidak melanjutkan langkahnya.


Dan benar saja, Ersya perlahan menurunkan kaki mertuanya itu dan benar saja, wanita itu sudah sangat pulas. Dengan perlahan ia berdiri dan meninggalkan ibu mertuanya itu.


Ersya segera menarik tangan Div keluar dari kamar, perlahan menutup kembali pintu dengan begitu pelan.


"Kenapa nyusul mas?" tanya Ersya sambil menarik tangan suaminya itu menjauh dari kamar ibu mertuanya.


"Kamu sangat lama, mana bisa aku menunggu lagi!" keluh Div.


"Tapi mas, aku harus mengecek Divia dulu, sudah mandi apa belum!"


"Ayolah ....!"


“Baiklah! Tapi mas, Ersya harus mengurus Divia dulu!”


“Dia kan ada suster, ini suamimu juga butuh di urus!” protes Div.


“Mas ...., jangan kayak anak kecil deh!”


"Baiklah terserah kamu saja!" ucap Div dengan kesal dan berlalu begitu saja meninggalkan Ersya.


"Yahhhh ...., marah ya mas? Jangan marah dong!"


Ersya mengejar suaminya hingga sampai di kamar. Div tetap bersikap dingin, ia segera duduk di sofa kamar dan mengambil gadgetnya, mengecek sosial media miliknya.


Ersya yang merasa bersalah ikut duduk di sampingnya dan melingkarkan tangannya di lengan suaminya itu,


"Mas ...., jangan marah dong!"


Tapi Div terus diam, ia memilih untuk tetap fokus dengan gadgetnya.


Cup


Ersya tiba-tiba mengecup pipi suaminya dan itu berhasil. Div terdiam dan bibirnya melengkung ke atas.


"Sudah nggak marah kan?"


Div meletakkan gadgetnya dan meraih tubuh Ersya, segera menindihnya hingga punggung Ersya membentur sandaran tangan di sofa yang ada di belakangnya.


Tangan Div sudah berhasil melepas semua pakaian Ersya, bibirnya begitu aktif menelusuri butuh Ersya yang sudah tidak tertutup oleh apapun.


Sore yang syahdu untuk pasangan yang baru merasakan indahnya cinta.


...Berbagi segalanya dengan yang kita cintai, walaupun bibir belum berucap, cukuplah tubuh ini menunjukkannya...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak ya, kasih hadiah juga ya biar tambah semangat nulisnya.


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2