Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Rasanya beda


__ADS_3

Div begitu gusar sepanjang meeting, ia tidak tahu kenapa sedari tadi ponsel Divia dan Ersya tidak bisa di hubungi.


"Apa ada masalah pak?" tanya Sekretaris Revan saat menyadari wajah gusar dari atasannya itu.


"Tidak pa pa, bisakah kita segera kembali ke Jakarta?" tanyanya pada sekertaris Revan.


"Kita hanya bisa kembali setelah jam makan siang pak!"


"Kenapa?"


"Karena setelah ini akan ada penandatanganan beberapa berkas yang harus selesai hari ini juga pak!"


"Ya sudah lakukan dengan cepat agar kita bisa segera kembali!"


"Baik pak!"


Sekertaris Revan pun hampir meninggalkan nya, tapi segera ia panggil kembali.


"Tunggu!"


"Iya?"


"Tolong telpon Rangga, dan tanyakan apa bu Ersya ke kantor!"


"Baik pak!"


Sekretaris Revan pun segera keluar, ia pun menghubungi Rangga persis seperti yang di katanya padanya.


Setelah mendapat jawaban dari Rangga, sekretaris Revan pun segera kembali, belum juga masuk ke dalam ruangan itu tiba-tiba seorang kurir menghentikan langkahnya.


"Apa itu buat pak Divta?" tanyanya.


"Iya pak!"


"Biar saya bawa masuk saja, tadi saya yang pesan!"


"Baik pak!"


Sekertaris Revan pun membawa sebuah kotak makan siang yang ia pesan dari restoran terdekat untuk Div.


Tok tok tok


"Masuklah!" perintah Div.


Setelah mendapat ijin, sekretaris Revan pun segera masuk. Ia meletakkan kotak makan siang itu di atas meja.


"Silahkan makan siangnya pak!"


"Terimakasih, bagaimana kata Rangga?"


"Bu Ersya dan Divia tidak datang ke kantor pak hari ini?"


"Benarkah?"


Nggak percaya ......, batin Div kesal sendiri membayangkan Ersya berduaan dengan Rangga.


Sebenarnya pak Div nih kenapa sih? Akhir-akhir ini jadi aneh ...., batin sekretaris Revan.


"Ya sudahlah, duduk saja di situ dan bereskan berkas-berkas itu biar saya tinggal menadatanganinya!"


"Baik pak!"


Sekertaris Revan pun segera duduk di sofa. Merapikan berkas-berkas yang ada di atas meja, memastikan tidak ada berkas yang salah. Sedangkan Div membuka kotak makannya dan menyantapnya.

__ADS_1


Beberapa kali kunyahan hingga ia menghentikan mengunyah,


"Kenapa rasanya jadi aneh gini ya, tidak seperti ....!"


Hahh ...., kenapa aku jadi memikirkan dia sih ....


"Sekertaris Revan! Kesini lah!"


Sekertaris Revan pun kembali berdiri dan menghampiri meja Div.


"Ada apa ya pak?"


"Coba makanan ini!" perintahnya sambil menyodorkan sendoknya membuat sekretaris Revan mengerutkan keningnya, wajahnya terlihat lebih pucat dari pada sebelumnya. Sepertinya dia khawatir, mungkin ada sesuatu dalam makanan itu dan dia tidak teliti.


"Maafkan atas kelalaian saya pak!" ucapnya seketika sambil menunduk merasa bersalah.


"Memang kamu sudah tahu apa kesalahan kamu?" tanya Div lagi dan sekretaris Revan menggelengkan kepalanya cepat.


"Makannya kamu coba makanan ini!"


Sekretaris Revan pun dengan sedikit ragu mendekat dan menerima suapan dari bosnya. Ia mengunyah perlahan makanan itu, sedikit khawatir kalau ternyata ada racun atau apa dalam makanan itu tapi dia tidak menyadarinya.


Glek


Dengan susah payah ia menelan makanan itu,


"Bagaimana rasanya?" tanya Div setelah melihat sekretaris Revan menelan makanannya.


"Enak pak!" kemudian ia merasakan tubuhnya tidak terjadi sesuatu, "Dan tidak ada sesuatu yang berbahaya di makanan ini!"


"Cihhhh, siapa bilang berbahaya!" gerutu Div.


"Lalu kenapa pak Div meminta saya untuk mencobanya?"


Srekkkkk


"Tapi pak, saya sudah makan siang!"


"Terserah, saya tidak mau tahu pokoknya makanan ini harus habis. Jangan buang-buang makanan!"


Sekertaris Revan hanya bisa pasrah,


"Baik pak!"


Ia pun membawa makanan itu kembali ke sofanya dan memakannya. Sesekali ia melihat ke arah bosnya yang terlihat sibuk memandangi ponselnya sedari tadi.


Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan pak bos? Apa benar kata Rangga kalau dia sedang jatuh cinta? Sama bu Ersya? Nggak mungkin ...! batin Sekretaris Revan sambil sibuk mengawasi apapun yang di lakukan oleh pria yang tengah galau itu.


"Dia sengaja tidak mengangkat telponku!" gerutu Div. Semenjak menjelang makan siang, istri dan putrinya tidak bisa di buhungi.


"Revan!" panggilnya lagi pada sekretaris Revan. Untung dia sudah menghabiskan makanannya walaupun dengan penuh perjuangan karena dia baru saja makan siang.


"Iya pak?"


"Apa yang akan kamu lakukan kalau orang rumah sulit di hubungi?"


"Saya tinggal sendiri pak!"


"Ya bukan istri kamu, saya tahu kamu belum menikah!"


Sekretaris Revan hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal,


"Misalnya mencari kabar orang tua kamu, bagaimana kalau mereka sulit di hubungi?" tanya Div lagi.

__ADS_1


"Saya akan menghubungi asisten rumah tangga atau sopir, atau orang-orang yang mungkin dekat dengan mereka pak!"


Ah iya, kenapa dari tadi tidak kepikiran ya ...., batin Div.


"Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu!"


"Baik pak!" pria dengan kaca mata tipis itu kembali fokus dengan pekerjaannya.


Div pun memilih menghubungi kepala pelayan di rumah,


"Hallo!"


"Iya hallo tuan!"


"Apa Divia di rumah, apa dia baik-baik saja?"


"Iya tuan, nona Divia sedang tidur siang!"


"Baiklah!" Div ragu untuk bertanya lagi, tapi dia tidak akan tenang kalau tidak bertanya sekarang, "Lalu, apa nyonya ada?"


"Iya tuan, nyonya di dapur sedang menyiapkan makan malam, apa perlu saya panggilkan nyonya tuan?"


"Tidak, tidak! Jangan, jangan katakan kalau saya menanyakan dirinya!"


"Baik tuan!"


Div pun segera mematikan sambungan telponnya. Ia bisa lega sekarang setelah tahu jika mereka berada di rumah dengan aman.


Div pun segera menghampiri sekretaris Revan dan menandatangani beberapa berkas yang sudah selesai di periksa supaya lebih cepat selesai. Setelah itu tinggal menyerahkan kepala klien bisnisnya.


...🍀🍀🍀...


Setelah selesai semua pekerjaan, mereka pun bersiap-siap untuk pulang. Mereka tidak mungkin menggunakan jetpri untuk pulang. Apalagi saat ini cuaca sedang tidak mendukung. Hujan deras terjadi di beberapa titik.


"Kenapa lambat sekali?!" gerutu Div sambil sesekali melihat ke arah jam tangannya.


"Maaf tuan, tapi hujan sedang lebat jadi saya tidak bisa menambah kecepatan laju mobilnya!" ucap sopir yang membawa mereka.


"Baiklah, lakukan dengan hati-hati!"


"Baik pak!"


Membutuhkan waktu hampir tiga jam untuk sampai kembali ke rumah. Padahal tadi pagi mereka hanya butuh waktu dua jam untuk sampai.


Kini langit sudah sangat gelap, apalagi di tambah hujan deras yang masih terus mengguyur.


"Biar saya ambilkan payung dulu pak!" ucap Sekretaris Revan saat mobil sudah sampai di depan rumah, karena kebetulan di dalam mobil tidak tersedia payung.


"Tidak perlu, kamu langsung pulang saja di antar sopir!" ucap Div yang sudah bersiap membuka pintu.


"Baik pak!"


Div pun segera keluar dari mobil, tubuhnya langsung di sambut oleh air hujan, karena untuk sampai di teras itu ia harus melewati beberapa langkah dulu. Ia segera berlari agar bajunya tidak terlalu basah.


Ceklek


Seseorang sudah menyambutnya di depan pintu dengan membawa sebuah handuk di tangannya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2