
Sudah dua hari, hari-hari Ersya hanya di habiskan untuk menemani suaminya ke kantor. Ia tidak mau di rumah bersama mama mertuanya. Lagi pula selain alasan itu, sang suami memang sengaja mengajak Ersya ke kantor dengan alasan dia butuh asisten pribadi karena Rangga sedang mengawasi Divia di tempat camping. Sebenarnya itu hanya alasan Div saja agar bisa tetap dekat dengan istrinya, dan alasan keduanya karena dia tidak mau sampai Ellen memanfaatkan kesempatan itu untuk menggodanya.
Dia sekarang laki-laki norma yang apabila di sodori makanan empuk bisa jadi ia tidak mampu menahan godaannya.
Kalau itu terjadi beberapa bulan lalu sebelum dirinya menikah dengan Ersya mungkin tidak begitu masalah, karena baginya dekat dengan wanita membuatnya sakit karena trauma yang di derita.
"Kamu yakin nggak makan siang dulu, mas?" tanya Ersya yang melihat suaminya terus sibuk di depan layar laptopnya sedangkan perutnya sudah seperti pertunjukan dangdut.
Div mendongakkan kepalanya, menatap jam dinding yang tergantung di samping rak buku,
"Masih jam sebelas, ada apa?"
"Bisa nggak mas pesankan aku makanan?"
Div mengerutkan keningnya, tidak biasanya sang istri merengek minta makan. Padahal biasanya istrinya itu yang paling bisa menahan lapar.
"Katanya mau makan sama Divia sekalian jemput dia?"
"Divia kan pulangnya masih nanti jam. 2 mas, laper banget rasanya!"
"Baiklah, biar aku minta sekretaris Revan untuk ke sini!"
Div pun menyambar gagang telponnya yang berada di atas meja dan menghubungkan dengan salah satu ruangan.
"Hallo Van!"
"Iya pak?"
"Tolong ke ruangan saya sekarang!"
Div mengembalikan gagang telpon itu ke tempatnya. Ersya yang awalnya tiduran di sofa segera memperbaiki duduknya, ia tidak mau terlihat tidak sopan saat ada karyawan suaminya.
Dan benar saja, tidak sampai lima menit sekretaris Revan sudah berada di ruangan Div,
"Ada apa yang pak?" tanyanya pada atasannya itu.
Div bukan langsung menjawab, dia menoleh pada istrinya. Ersya yang merasa di ajak bicara segera berdiri dan berjalan mendekati mereka.
"Maaf ya sekretaris Revan, saya menyusahkan!"
"Tidak pa pa, buk! Ada apa ya?"
"Sebenarnya aku pengen makan martabak sama Sempol, bisa nggak sekretaris Revan mencarikannya untukku!"
"Baik Bu!"
"Terimakasih!"
"Kalau begitu saya permisi dulu pak!"
Sekretaris Revan pun segera berlalu, tapi kembali di panggil oleh. Div,
"Tunggu!"
Tangan sekretaris Revan yang sudah hampir menarik handle pintu segera di urungkan,
__ADS_1
"Iya pak!"
"Carikan di restauran yang sudah terbukti kebersihan dan higienisnya!"
"Baik pak!"
Div pun mengibaskan tangannya tanda kalau sekretaris Revan sudah boleh pergi,
Ersya menatap jengah pada suaminya,
"Mas, mana ada Sempol yang di jual di restauran, kamu sengaja mau buat aku kelaparan ya?"
"Jangan meragukan kemampuan sekretaris Revan!"
"Aku nggak meragukan mas, tapi yang aku ragukan pemikiran mas Div deh kayaknya!"
Div segera berdiri dan menghampiri istrinya itu membuat Ersya memundurkan tubuhnya hingga membentur meja kerja Div,
"Mau ngapain mas?"
"Mau memberi penegasan kalau pemikiranku sangat benar!" ucapnya sedikit berbisik.
"Mas!!!" Ersya sampai.mencondngkan tubuhnya ke belakang tapi suaminya itu semakin mendekatkannya hingga menghilangkan jarak antara mereka.
Srekkk,
Div menarik pinggang Ersya dan meninggalkan kecupan di bibir Ersya, sebuah kecupan itu berubah menjadi *******, Div mencengkeram pinggang Ersya sedangkan Ersya mengalungkan tangannya di leher Div. Terlihat mereka semakin memperdalam ciumannya hingga lupa keadaan sekitar,
Ceklek
Div yang menyadari ada orang lain di ruangan mereka segera menjauhkan bibirnya dari bibir Ersya dan menoleh ke pintu,
"Ellen!"
Ersya yang baru sadar ikut menoleh dan segera menutup mulutnya,
"Upss!"
Ersya dengan cepat merapikan kembali pakaiannya,
"Masuklah!" perintah Div yang sudah berputar mengelilingi mejanya kembali dan duduk di kursi kerjanya.
Ersya dengan cepat pergi ke sofa dan duduk di sana, ia tidak heran kenapa Ellen datang ke ruang kerja suaminya karena mereka sedang ada proyek kerja sama.
Ellen mengulum senyum, bersikap biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu.
"Selamat siang Div!"
Ellen segera duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Div, "Aku ke sini cuma mau memberikan berkas ini, dan kayaknya ada beberapa yang harus kamu periksa!" ucap Ellen sambil menyerahkan berkas itu.
"Benarkah? Bukankah saya sudah memeriksa semuanya?"
"Ada, di beberapa poin kayaknya harus di rubah!"
"Benarkah?"
__ADS_1
Ellen pun tiba-tiba berdiri dan berjalan mengelilingi meja Div, ia berdiri tepat di samping Div,
"Mana aku bantu Carikan!"
Ellen membungkukkan punggungnya, dan membuka lembaran satu persatu berkas itu, begitu dekat dengan Div, sangat dekat.
Ersya mengepalkan tangannya di sudut lain, ia begitu kesal melihat wanita itu berusaha untuk menggoda suaminya.
Sabar ...., sabar .....! Ini hanya ujian Ersya jadi sabar, dia cuma angin lewat ....
Ersya berusaha untuk cuek, walaupun ia tahu sedari tadi wanita itu meliriknya sepertinya ia sengaja untuk memicu kekacauan yang akan di buat oleh Ersya.
Sebelumnya memang Ellen sempat mencari informasi tentang Ersya, dan dari informasi yang ia dapat walaupun cantik dan memperhatikan penampilan tapi Ersya juga memiliki sifat yang sedikit bar bar.
Sial, dia tidak terpancing lagi ...., batin Ellen kesal.
"Cuma ini saja kan?"
"Iya!"
"Ya sudah, kalau begitu kamu boleh kembali ke kantor kamu dan nanti setelah makan siang berkas ini sudah kembali ke meja kamu!"
"Nggak sekarang aja sekalian Div, aku tungguin nggak pa pa!"
Ellen tampak begitu memaksa, sepetinya ia masih ingin dekat-dekat dengan Div.
"Maaf tapi istri saya kurang enak badan jadi dia tidak terlalu nyaman ada orang lain di ruangan ini!"
Mendengarkan alasan suaminya, Ersya pun dengan cepat merebahkan tubuhnya dan berpura-pura melas, Ellen melihatnya dengan mata kesal. Ia gagal lagi sekarang.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi!"
Padahal dia sudah berharap Div berada di ruangannya sendiri, ia sengaja masuk saat melihat sekretaris Revan meninggalkan kantor. Tapi ternyata Div membawa istrinya ke kantor.
"Akting yang bagus!" puji Div saat Ellen sudah benar-benar pergi.
"Ya iya dong, istri siapa dulu!?"
"Memang aku yang mengajarimu akting?"
"Nggak, tapi ngajari bo'ong!"
Div lagi-lagi selalu kalah debat dengan istrinya. Memang istrinya itu yang paling jago debat.
...Aku tidak butuh apapun selain pengakuan, tapi benarkah hanya pengakuan? kadang kesetiaan lebih penting dari segala yang di butuhkan dalam hubungan...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1