
Ha ha ha ha ….
Ersya sampai terpingkal-pingkal
melihat betapa bodohnya pria jenius itu saat bangun tidur. Ia sampai harus memegangi perutnya karena kram, ia juga menutup mulutnya agar suara tawanya tidak sampai terdengar hingga ke kamar mandi.
Dan benar saja, tidak berapa lama pintu itu kembali di ketuk. Beberapa orang WO sudah berdiri di depan kamar
mereka dengan membawa baju pengantin dan juga alat make up.
“Gimana nyonya, sudah siap?”
“Silahkan masuk!”
“Baik nyonya!”
Mereka pun masuk dengan membawa gaun dan stelan jas yang akan di pakai oleh Ersya dan Divta.
Ceklek
Div kembali keluar dari kamar mandi, ia melihat di kamarnya sudah ramai orang.
“Selamat sore tuan, ini setelah jas untuk tuan!”
“Terimakasih, saya pakai di dalam saja!”
Divta memilih kembali masuk ke ruang ganti yang ada di sebelah kamar mandi.
Sedangkan sebagian dari mereka sudah mulai merias kembali Ersya setelah Ersya mengganti bajunya dengan gaun
pernikahan itu.
Langit sudah semakin gelap, beberapa tamu sudah mulai berdatangan. Div yang sudah selesai memilih untuk menunggu
Ersya sampai selesai di make up.
“Sudah selesai!”
Ersya bisa melihat pantulan dirinya di cermin, gaun biru tua yang membalut tubuhnya begitu pas dengan make up di
wajahnya. Jas biru tua senada dengan yang di pakai oleh Div begitu cocok di
padukan dengan gaun Ersya.
“Baiklah, sebaiknya kita segera
turun sebelum para tamu menunggu kita!” ucap div sambil berdiri dan merapikan jasnya.
“Iya!” jawab Ersya kesal.
“Kalau begitu kami permisi tuan,
nyonya!”
Div hanya menganggukkan kelapanya.
Setelah para WO itu meninggalkan kamar mereka pun juga. Mereka berjalan
beriringan menuju ke ruang pesta.
Tapi saat dekat dengan ruang pesta, tiba-tiba tangan Div melingkar di pinggang Ersya membuat wanita itu dengan
reflek menoleh pada Div.
“Ada apa?”
“Tangan kamu!”
“Kita baru menikah, jadi harus
terlihat romantis, mengerti!”
Akhirnya Ersya pun pasrah, ia
membiarkan saja tangan itu melingkar di pinggangnya yang ramping. Semua mata
menatap mereka, kamera beberapa kali mengabadikan saat mereka begitu mesranya
menuruni tangga.
Iyya sudah menunggu mereka di bawah dengan senyum lebarnya. Div dan Ersya mempercepat langkahnya agar bisa cepat
sampai pada Iyya.
Saat sampai di depan Iyya. Div
melepaskan tangannya dan beralih menunduk, meraih tubuh mungil itu dan membawanya dalam gendongannya dia samping kanan, sedangkan tangan kirinya kembali melingkar di pinggang Ersya.
__ADS_1
Div mengajak istri dan putrinya
menyambut para tamu yang akan memberikan selamat. Setelah itu ada beberapa sesi
foto, bahkan beberapa tamu di persilahkan untuk melakukan foto bersama pengantin.
Iyya terus bersama Ersya dan duduk di kursi pengantin, banyak foto yang di lakukan mulai dari berdua saja hingga bertiga bersama Iyya.
Beberapa artis nasional sudah mulai menampilkan performnya, para tamu di persilahkan untuk menikmati hidangan yang
di sediakan.
Nyonya Ratih juga terlihat sibuk
menyambut beberapa tamu, ternyata tidak hanya dari dalam negri, banyak juga
tamu yang memang sengaja datang dari luar negri. Apalagi perusahan Div juga di
Singapore.
Dua jam berlalu, kini satu persatu
tamu mulai meninggalkan gedung pernikahan setelah ramah tamah selesai. Mereka
keluar dengan membawa souvenir pernikahan. Dan menyisakan keluarga inti, tapi
mereka pun juga harus segera pulang karena sudah mulai gelap.
“Kami pulang dulu ya, kasihan Sanaya sama Sagara, besok harus sekolah!” ucap Agra.
“terimakasih ya atas bantuanmu!”
“Santai aja bang, selamat ya atas
pernikahannya!”
Div dan Agra saling berpelukan, Ara melakukan hal yang sama pada Ersya.
Setelah Agra kini gantian Rendi,
memang tidak sehangat Agra tapi dia juga mengucapkan selamat pada Div.
Di belakang Rendi dan Nadin, ada
dokter Frans dan Felic.
bang!”
“Terimakasih ya, jangan lupa jaga
kandungan istrimu!”
“Siap bang!”
Di belakang, Felic sedang berpelukan
dengan Ersya.
“Selamat ya Sya, semoga di
pernikahan kedua lo ini, bisa menjadi bahagia lo!”
“Makasih ya Fe, semua ini juga
berkat lo …! Maafin gue ya!”
“Kok minta maaf sih?”
“Abis gue pernah salah banget sama lo!”
“Sudah jangan di pikirin, itu udah
takdir, sekarang gua udah hamil lagi kan!”
Setelah dokter Frans dan Felic
berlalu, kini giliran ayah Roy dan bu Dewi tapi yang membuat mereka mengerutkan
keningnya. Iyya bersama mereka.
“Kami pulang dulu ya!”
“Iyya?” tanya Div.
“Iyya mau menginap di rumah
kakeknya, jadi kalian tenang saja, nikmati hari kalian menginap di sini ya!”
__ADS_1
“Benarkah?” tanya Ersya, ia
berjongkok meraih Iyya.
“Iya mom …, Iyya mau adik bayi yang banyak, jadi nanti mom cama dad bica mawakan Iyya adik bayi yang banyak!”
“Mom pasti akan sangat merindukanmu
sayang!”
“Iyya juga!”
Ayah Roy pun kembali menggendong Iyya.
“Titip Iyya ya paman!” ucap Div
sambil mencium kening putrinya itu.
“Pasti, kami pulang dulu ya!”
Kini semua tamu sudah
meninggalkan gedung pernikahan, para WO sudah mulai membersihkan ruangan.
“Maaf tuan, nyonya!”
seseorang menghampiri mereka, sepertinya dia manager hotel membuat Div menoleh
padanya.
“Iya!”
“Ini ada titipan,
sebuah kunci kamar presidential suite, hadiah dari nyonya Ratih untuk tuan dan
nyonya. Bebas menginap sampai satu minggu!” ucap pria itu.
“Begitu ya !”
“Mari saya antar!”
“Baiklah!”
Ersya dan Div mengikuti
pria itu hingga mereka sampai di depan sebuah kamar yang berada di lantai
paling atas dengan satu lantai hanya terdiri dari dua kamar saja.
“Barang-barang ku masih
di kamar yang tadi!” ucap Ersya.
“Tenang nyonya, pihak
kami sudah memindahkan semuanya ke sini!”
“Benarkah?”
‘Iya nyonya!”
Pria itu segera membukakan pintu itu dan setelah terbuka dia menyerahkan kunci itu pada Divta.
“Semoga tuan dan nyonya
menikmati segala layanan kami!”
“Terimakasih!”
Setelah pria itu pergi,
Ersya dan Div segera masuk ke dalam kamar yang lebih mirip seperti apartemen
dengan fasilitas lengkapnya.
Bersambung
...Saat kita merasa apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan perspektif kita, jangan kecewa karena perspektif Tuhan pasti lebih baik...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰