Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Menjemput Divia


__ADS_3

Kini mereka sekarang sedang berada di depan sekolah Divia, mereka harus menjemputnya karena ini waktu Divia pulang setelah empat hari camping.


Sambil menunggu Divia datang, sedari tadi mulut Ersya penuh dengan makanan. Entah sudah berapa banyak jajanan yang sudah ia beli dari pinggir jalan hingga membuat Div kesal sepanjang jalan.


"Habis kini kita harus benar-benar ke rumah sakit!"


"Kenapa sih?"


"Kamu tidak lihat, semua makanan yang kamu makan sekaran itu tidak ada yang higienis, cacingnya pasti sudah menjalar di perutmu!"


"Aneh aneh banget sih dari kemarin teori kamu mas, denyut nadi lah, cacing lah, besok apa lagi!"


"Aku rasa ngurus kamu kayak ngurus lima Divia!"


"Memang aku kenapa mas?"


"Susah di atur!"


Ersya begitu kesal dengan ucapan suaminya. Ia pun memilih diam dan melanjutkan makannya, ada cilok, cireng, somay, gorengan, cimol, kerak telur, sate usus. Dan semua makanan yang Ersya makan adalah makanan berat. Tapi entah kenapa perut Ersya seakan tetap minta di isi.


Div beberapa kali menggelengkan kepalanya saat Ersya makan dengan begitu lahapnya.


"Kita ke dokter!"


"Nggak mau mas!"


"Harus mau!"


"Nggak mau!"


Setelah perdebatan panjang akhirnya Ersya yang menang.


"Kalau mas maksa, okey fine! Kita ke rumah sakit mas tapi ada syaratnya!"


"Apa syaratnya?"


"Kamu harus puasa selama satu bulan, aku akan marah dan tidur di kamar Divia selama satu bulan!"


"Itu namanya keterlaluan, Sya!"


"Mas yang keterlaluan!"


"Kamu!"


Benar-benar sama-sama keras kepala. Div cukup khawatir karena sedari tadi Ersya terus makan. Sekretaris Revan tadi sudah membawakan cukup banyak makanan dan sudah ia habiskan dan ini baru berselang satu jam katanya sudah lapar lagi. Dan yang paling membuat dia kesal karena semua makanan yang di makan oleh Ersya adalah makanan yang tidak ada gizinya.


"Itu mas, mobil Divia!" teriak Ersya dan segera meletakkan makanan nya sambil menunjuk ke arah bus sekolah yang di tumpangi Divia.


"Sudah tahu, nggak usah heboh!" ucap Div dengan nada dinginnya, dia sepertinya masih sangat kesal.


"Ya aku kan kangen mas sama Divia! Aku turun ya mas!"


Belum juga mendapat persetujuan dari Div, Ersya sudah membuka pintu mobil dan turun.

__ADS_1


"Astaga ...., sebenarnya dia itu anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa atau gimana sih, pecicilan ...!" keluh Div sambil menyusul Ersya yang sudah berlarian sambil melambaikan tangannya.


Hingga akhirnya bus itu benar-benar berhenti dan beberapa guru mulai turun.


Terlihat Divia masih menunggu giliran, wajahnya begitu senang saat melihat mom Echa nya. Ia melambaikan tangannya dengan begitu bersemangat.


"Mom ....., mom ..., mom ....!" teriaknya dalam bus. Tiga hari bagi mereka adalah waktu yang panjang.


Di rumah terasa sepi tanpa Divia, Ersya jadi tidak begitu betah di rumah apalagi ia selalu salah di mata mertuanya.


"Iyya, ini mom sayang!" teriak Ersya. Sesekali memberikan kecupan cium jauh.


"Tidak usah teriak, nanti Divia juga turun sendiri!"


Ersya memutar bola matanya sambil menghembuskan nafasnya kesal. Rasanya ingin sekali menjambak rambut suaminya itu agar tidak banyak bicara. Tapi ada guru Divia, ia terpaksa jaga sikap.


Awas saja nanti di rumah tuan Div ....


Akhirnya tiba juga giliran Divia, dengan cepat Divia turun dan berhambur memeluk mom Echa.


"Mom ...., Iyya kangen!"


"Mom juga sayang!"


"Jadi tidak kangen nih sama Daddy?"


Mendengar ucapan daddy-nya, Ersya dan Divia menoleh padanya bersamaan tapi mendengus dan membuang muka lalu tertawa bersama.


"Okey ....! Baiklah Daddy akan jalan-jalan sekarang jadi kalian nggak usah ikut!" ucap Div sambil berlalu meninggalkan mereka berdua sambil membawa semua barang-barang bawaan Divia ke dalam mobil.


Ersya dan Divia pun akhirnya mengejar Daddy Div ke dalam mobil, seperti biasa Divia akan duduk di bangku belakang sedangkan kedua orang tuanya di depan.


"Astaga dad ...., itu campah apa?"


Divia begitu terkejut saat melihat di dasbord depan penuh dengan bungkus plastik dan beberapa sterefon kotor, beberapa lagi masih ada isinya.


Ersya dan Div saling bertatapan, Ersya dengan cepat membersihkannya dan menyimpannya dalam satu kantung plastik,


"Itu tadi kerjaan mom kamu sayang!"


Ersya hanya mengacungkan dua jari tanda berdamai saat melihat Divia sudah melotot padanya,


"Mom ....!"


"Maaf sayang, tadi mom kelaparan sambil nungguin kamu jadi mom makan, sekarang sudah enggak kok, janji!"


"Mom jolok!"


Lagi-lagi Ersya hanya bisa nyengir, walaupun masih kecil Divia sudah terlihat sifatnya mirip bapaknya yang kadang-kadang perfeksionis.


Kini Divia beralih pada Daddy Div, "Kita mau ke mana dad?"


"Ke rumah Oma!"

__ADS_1


"Asyiiik!"


Divia begitu senang, ia sudah membayangkan bisa bermain bersama dengan si kembar Sanaya dan Sagara sambil menceritakan pengalaman barunya ikut camping. ini untuk pertama kalinya ia bisa melakukan apapun dengan bebas tanpa dokter yang terus mengawasinya.


Ersya tidak mengerti kenapa suaminya mengajak ke sana, Ersya menoleh pada suaminya dan bertanya dengan nada rendah agar Divia tidak begitu mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kenapa ke sana mas?"


"Ada perlu sedikit, katanya besok istrinya Frans akan keluar dari rumah sakit!"


"Lalu?"


"Sebenarnya paginya aku ada acara sebentar, siapa tahu Agra punya seseorang yang bisa membantuku untuk meneruskan acara ini, jadi kita bisa ke sana besok!"


"Kalau nggak bisa?"


"Kita datang pas acara syukurannya saja ya!"


"Memang ke mana sih mas?"


"Ke Bandung, rencananya dua hari!"


"Cuma mas saja?"


"Aku nggak mungkin nggak ngajak kamu!"


"Kenapa?"


Masak aku harus bilang kalau di sana ada Ellen juga, bisa runyam kan urusannya ...., batin Div.


"Ya karena kamu istriku!"


Bukannya menyahuti ucapan suaminya, kini wajah Ersya terlihat pucat seperti sedang menahan sesuatu,


"Mas ..., mas ...., mas ...., berhenti sebentar!" ucapnya sambil terus memejamkan matanya dan memukul-mukul lengan Div.


Div yang awalnya sedang konsentrasi menyetir segera menoleh pada Ersya,


"Kamu kenapa?" tanyanya saat sudah berhasil meminggirkan mobilnya.


"Aku mau muntah!"


Ersya segera membuka pintu mobil dan mengeluarkan isi perutnya di selokan yang ada di samping trotoar.


Bersambung


...Berpikir jika kamu adalah satu-satunya yang aku miliki adalah cara untuk tetap bisa melewati semuanya dan bertahan bersamamu...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2