
Hari-hari kami berjalan biasa saja, tidak ada yang mencurigakan seperti tidak ada tidak terjadi apa-apa mungkin mereka sedang kehabisan akal untuk merencanakan sesuatu.
Aku sebenarnya merasa was-was, takut saja mereka merencanakan sesuatu yang aku bahkan tidak sadari.
Seperti hari kemarin, tiba-tiba mas Div pulang. Dia datang memeriksa sesuatu,
"Apa kamu sudah sempat meminum obat ini?"
Aku cukup terkejut dan dengan cepat menggelengkan kepalaku.
"Baru saja bibi akan ambilkan minum untukku!"
"Jangan minum ini!"
"Ada apa? Ini kan dari dokter Frans!"
"Lihat ini!"
Mas Div mengeluarkan ponselnya dan mengajakku untuk duduk di tempat tidur, ia memperlihatkan sebuah rekaman cctv.
"Mas, kamu pasang cctv ya di sini?" protesku.
Dia menatapku dengan tatapan kesal, "Diam dulu atau aku akan mel*mat bibirmu!" dengan reflek aku memegangi bibirku yang masih terasa lebam karena ulahnya.
"Jangan!"
Aku pun tertarik untuk mendekat dan melihat apa yang terjadi, dan tanpa aku ketahui Ellen masuk ke dalam kamarku dan menukar obat yang di berikan oleh dokter dengan obat yang ia bawa.
"Wanita itu keterlaluan sekali, untuk ada cctv!" tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu, "Eh tapi mas, kalau di pasang cctv, lalu tadi malam?"
Tanganku dengan cepat menutup dadaku yang sedikit terbuka, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika apa yang kami lakukan semalam terekam cctv dan di lihat oleh orang.
"Kamu membayangkan apa?" tanya mas Div dengan santainya, dia benar-benar pria mesum. Bukannya ikut panik padahal jelas-jelas yang ada di rekaman cctv itu aku dan dia malah berlagak polos.
"Kita bisa terkena pasal penyalah gunaan ITE mas!"
"Mikirnya kejauhan!" telunjuk mas Div sudah berada di depan keningku saat ini dengan senyum mesum ala mas Div, "Kamu pikir aku sebodoh itu! hehh?"
"Lalu?"
"Cctv ini akan otomatis mati saat aku masuk ke dalam kamar ini!"
__ADS_1
"Bisa ya seperti itu?" tiba-tiba aku seperti orang bodoh. Hehhh, sudah berapa lama aku tidak mengetahui dunia luar hingga tidak tahu ada alat secanggih itu, bahkan cctv saja bisa memindai wajah seseorang.
Sudah satu Minggu dan tidak ada kejadian yang luar biasa. Ellen masih tinggal di rumah kami, mas Div sedang sibuk mengumpulkan bukti untuk mengusir Ellen dari rumah ini.
Siang ini terasa sangat panas, aku memukul untuk bersantai di ruang keluarga sambil menikmati jus buah.
saat sedang menikmati jus buahku yang di buatkan khusus oleh koki khusus yang di tunjuk mas Div tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiriku.
Aku yang sedang duduk berselonjor di sofa depan tv sambil menikmati Drakor kesukaanku sedikit malas untuk berdiri.
"Ada apa?" tanyaku tanpa mau beranjak dari tempatku saat ini, rasanya begitu nyaman setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini. Berada satu rumah dengan Ellen membuatku sering naik pitam, pengen rasanya baku hantam hanya saja belum punya kesempatan.
"Satu jam lagi akan ada tamu, apa nyonya ingin bersiap-siap?"
Bersiap-siap apa? Apa salahnya jika ada tamu tapi penampilanku seperti ini, ada-ada saja. Aku saat ini sedang memakai daster longgar yang sengaja aku beli di pasar, kebetulan saat itu mas Div ijinkan aku untuk ikut ke pasar berbelanja, aku melihat ada obral daster seratus ribu tiga, memang murah tapi nyaman di pakai.
"Aku pakek ini saja!" entah bawaan bayi atau apa, semenjak hamil aku jarang berdandan kalau tidak memang mendesak dan mewajibkan ku untuk dandan.
"Tapi nyonya_!"
Aku segera mengangkat tangannya membuat kepala pelayan berhenti berbicara. Aku malas bergerak saat ini pengen rebahan saja sambil makan.
"Hmm!" jawabku malas, ini sudah terlewat beberapa scene drama koreanya gara-gara meladeni pertanyaan kepala pelayan.
Walaupun sedang menonton tv tapi tetap saja sesekali mata ini menatap ke pintu yang menghadap ke ruang keluarga, itu adalah kamar ibu mertuaku. Entah kenapa wanita itu tidak keluar semenjak pagi, entah apa yang di lakukan di dalam kamar sedangkan Ellen sedang keluar, entah ada urusan apa bukan urusan aku juga. Kalau pun nggak kembali aku malah semakin seneng.
Satu jam berlalu dan kepala pelayan kembali menghampiriku,
"Nyonya, nyonya besar sudah datang!"
Entah kenapa tiba-tiba otakku seperti berhenti bekerja saat ini, mendengar kata nyonya besar bahkan bibirku tidak mampu bergerak.
Mampus aku ....
Aku kembali melihat penampilanku, benar-benar persis ibu-ibu dengan lima anak.
Rambutku ....
Ku raba rambutku, benar-benar seperti sarang burung. kuncirnya sudah tidak berada di tempatnya lagi, segera ku cari benda melingkar itu dan ternyata berada di antara sofa dan bantal sofa. Ku ikat asal rambutku dan ku pastikan jika dasterku tidak ada yang bolong.
"Apa begini sudah lebih baik?" tanyaku pada kepala pelayan. Jelas ini bukan penampilan terbaikku.
__ADS_1
"Apa perlu saya katakan pada nyonya besar untuk menunggu sebentar!"
"Tidak jangan!" jawabku cepat, "Ayo!'
Aku harus menyambutnya, aku tahu sekarang ibu Ratih sudah berada di halaman depan sedang berjalan menuju ke rumah. Pelayan juga sudah siap menyambut di depan pintu, saat pintu terbuka aku langsung bisa melihat ibu Ratih berdiri di sana.
"Selamat datang, ibu!" ucapku dengan senyum yang ku buat semanis mungkin.
Ibu Ratih berjalan dengan anggunnya menghampiriku, dia benar-benar luar biasa. Jika aku tua nanti pengen jadi nyonya besar seperti ibu Ratih, tidak seperti_, ah sudahlah mengingatnya saja sudah membuat mood ku anjlok. Kok ya ada ibu kandung yang seperti itu, bahkan ibu tiri lebih baik.
Kami berada di ruang tamu, pelayan sudah membawakan minuman untuk kami,
"Ibu, kenapa datang tidak memberi kabar?"
"Aku sudah mengatakan akan datang sama mama kamu, apa dia tidak memberitahumu?"
"Mama?"
Jadi mama keluar kemarin ketemu sama ibu,
Cukup terkejut, biasanya mama enggan untuk menemui ibu, kayaknya mama kalah pamor kalau di banding ibu. Orang yang melihat pun akan langsung tahu siapa yang pantas jadi nyonya besar.
"Iya, dan saya datang ke sini juga ingin menemuinya, membicarakan kelanjutan pembicaraan kemarin, apa Div sudah datang?"
Mas Div juga tahu? Kenapa mas Div nggak cerita ...?
"Mas Div juga akan pulang?" saya penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan saat ini. Jiwa jahatku seakan sedang menduga-duga. Pantas saja sedari pagi mama tidak keluar dari kamar, jadi ini alasannya.
"Iya!"
...Kamu mungkin hebat dalam segala hal, tapi kamu jangan lupa jika di atas langit masih ada langit, kita hanya sedang menunggu saat roda berputar...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1