Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Mau adek


__ADS_3

Hehhhhh


Ersya bisa bernafas lega sambil mengusap dadanya.


Div meletakkan barbelnya lalu mengusap keringatnya dengan handuk kecil yang tadi ia letakkan begitu saja di kursi kecil yang ada di dekatnya.


Div mengusap keringatnya dan mendekat ke atar Ersya yang masih duduk di atas tempat tidur, ia mencondongkan tubuhnya mendekati Ersya dengan bertumpu pada tangan kanannya hingga membuat wanita itu memundurkan tubuhnya.


"Mau ngapain?"


"Mau sampai kapan berada di sini? Ini kamar tidurku!"


Ahhh iya .....


Ersya hanya tersenyum, ia menggeser tubuhnya ke belakang lalu beranjak naik dan berdiri melompat dari atas tempat tidur.


"Makasih tumpangan tidurnya!" ucap Ersya sambil berlari keluar dari kamar Div.


Div kembali berdiri dan menatap pintu yang sudah tertutup sambil tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.


"Wanita yang unik ....!" gumamnya.


...🍀🍀🍀...


Beberapa kali Divia menatap mommy nya, kali ini ia mengantar Divia sendiri karena Div ada meeting pagi di luar kota.


"Mom cakit ya?"


Ersya yang berada di sampingnya pun menoleh pada putri nya itu.


"Enggak sayang, kenapa?"


"Mom ngantuk ya?" tanya Divia karena melihat momnya beberapa kali menguap.


"Iya sayang!"


"Mom kenapa tidul di kamal daddy?"


Ersya mengerutkan keningnya, ternyata Divia tahu kalau dia tertidur di kamar daddy nya.


"Iyya tahu ya?"


"Iya mom, tadi pagi Iyya ke kamal mom, tapi yang ada daddy! Tlus daddy bilang mom tidul di kamar daddy, Iyya nggak boleh bangunin!"


Kenapa Div nggak bangunin gue ...?


"Nggak pa pa sayang, mom ketiduran aja semalem gara-gara main tebak-tebakan sama daddy!"


"Oh jadi gitu ya!"


"Hemm!"


Kini Divia sampai juga di sekolah. Ersya mengantar Divia sampai di depan kelasnya.


"Mom pulang dulu ya, nanti mom jemput lagi pas pulang sekolah!"


"Iya mom!"


Ersya memeluk dan memberi ciuman pada putri kecilnya itu.


"Sampai jumpa nanti sayang, masuklah!"


"Bye mom!"


Divia pun segera masuk ke dalam kelas, setelah memastikan putrinya masuk. Ersya pun meninggalkan sekolah Divia.


"Kita pulang dulu aja pak!" ucap Ersya pada sopir yang mengantarnya.


"Baik nyonya!"


Tapi belum juga ia masuk ke dalam mobil, ponselnya sudah lebih dulu berdering.


"Bentar ya pak!"

__ADS_1


"Iya nyonya!"


Ersya segera merogoh tas kecilnya. Ia ada banyak panggilan masuk.


"Kenapa dia telpon sebanyak ini? Katanya meeting di luar kota!" gumam Ersya. Belum juga ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, panggilan video call masuk.


Ersya segera menggeser gambar telpon berwarna hijau.


"Iya apa?" tanya Ersya.


"Sewot banget tanyanya! Gimana Divia?"


"Sudah aku antar masuk, kenapa telpon? Katanya ada meeting?"


"Apa kamu nggak liat, nih aku masih di dalam mobil!"


"Ya liat!"


"Masih juga tanya, nanti nggak usah ke kantor kalau saya belum kembali!"


"Kenapa?"


"Nggak usah banyak bertanya kenapa sih? Atau jangan-jangan kamu seneng ke kantor gara-gara pengen ketemu sama Rangga ya?"


"Kenapa sih selalu saja nama Rangga yang di sebut!?"


"Sudah, kalau aku telpon segera angkat, awas kalau nggak!"


Tiba-tiba sambungan vc terputus sebelah pihak.


"Kebiasaan! Kenapa sih dengan Rangga coba? Sensi banget ma Rangga!"


Ersya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil.


...🍀🍀🍀...


Kedatangan Divia langsung di sambut oleh teman-teman barunya. Divia anak yang mudah bergaul jadi tidak sulit untuk mencari teman.


Divia pun segera menghampiri teman-temannya itu.


"Hai ayu, Leca!"


Divia pun ikut duduk bersama dengan mereka.


"Daddy ganteng kamu kenapa nggak ikut antal, tadi mama aku campek nyali-nyali!" ucap anak perempuan dengan pipi chubby dan rambut yang di kuncir dua dia atas.


"Memang kenapa mama kamu cali daddy aku?"


"Mama aku kan lagi hamil, katanya kalau cetiap pagi pengen liat daddy kamu, bial nanti adek aku ganteng kayak daddy kamu!"


"Enak ya punya adek?" Divia jadi kepikiran untuk mempunyai adek. Pasti enak ada temannya di rumah.


"Tapi kan mom cama daddy kamu balu menikah!" ucap anak perempuan dengan rambut pendek sebatas telinga itu, namanya Resa.


"Memang nggak bica ya?"


"Bica, pokoknya mom dan daddy kamu hayus tidul catu kamal!"


Divia meletakkan jari telunjuknya di bawah dagu, ia seperti sedang mengingat-ingat betapa kali mom dan daddy nya tidur dalam satu kamar.


"Tadi malam mom tidul di kamal daddy!"


Anak perempuan yang di kuncir dua itu mengerutkan keningnya, "Memang mom cama daddy kamu kamalnya beda ya?"


"Iya!"


"Mama cama papa aku kamalnya cama, makanya aku punya adek!"


"Ayah cama bunda ku juga!"


"Jadi hayus punya catu kamal ya bial punya adek?" tanya Divia.


"Iya!"

__ADS_1


Divia jadi terus terpikir dengan perkataan teman-temannya. Ia tidak sabar ingin segera pulang dan meminta daddy dan mommy nya untuk tidur dalam satu kamar.


Hingga jam pulang sekolah pun tiba, Ersya sudah menunggu di depan sekolah Divia.


"Mom ....!" panggil Divia saat melihat mommy nya, ia pun segera berlari menghampiri mommynya.


"Iyya kenapa seneng banget kayaknya?"


"Iyya mau punya adek!"


Ucapan Divia berhasil membuat Ersya terserang panik.


"Hahh?"


"Iya mom, Iyya pengen punya adek!"


Bagaimana bisa aku punya anak ...., aku sudah cukup punya kamu Iyya ....


"Mom kenapa cedih?" tanya Divia saat melihat Ersya tiba-tiba saja matanya berair. Ersya dengan cepat menghapus air matanya yang tiba-tiba muncul di sudut matanya.


Kenapa selalu anak yang menjadi pembicaraan, ia pikir sudah cukup baginya punya Divia, tapi ternyata itu tidak cukup bagi orang lain.


"Enggak sayang, mom nggak nangis! Tadi mom cuma kelilipan aja! Ya sudah ayo kita pulang sayang!"


"Nggak ke kantor daddy, mom?" tanya Divia, ia tidak sabar ingin segera memberitahukan keinginan barunya itu pada daddy nya.


"Nggak sayang, daddy lagi di luar kota mungkin pulangnya sore!"


"Yahhhh!"


"Nanti pas makan malam kan daddy sudah pulang, gimana kalau sekarang kita belanja dulu buat mom masak untuk makan malam di rumah?"


"Iya mom, Iyya mau!"


"Anak pintar, ayok!"


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil, Ersya meminta supir untuk mengantarnya ke supermarket untuk membeli bahan masakan.


"Sekarang mom yang bawa troli belanjanya, Iyya bebas memilih apapun yang Iyya mau!"


"Benalkan mom?" Divia begitu bersemangat untuk berbelanja saat Ersya menganggukkan kepalanya. Ini pertama kalinya ia berbelanja dengan mommy nya.


"Yang itu sayang mie nya!"


"Iya mom, daddy cuka banget cama yang ini!"


"Mom tahu!"


Divia memasukkan beberapa mie instan dengan varian rasa.


"Kita ke tempat daging ya sayang!"


"Iya mom!"


Ersya memilih beberapa daging yang berkualitas.


"Ersya!"


Seseorang memanggilnya membuatnya menolehkan kepalanya.



Bersambung


...Maaf ya aku jadi berubah pikiran nih, aku up nya sehari satu aja ya, nanti pas malam minggu crazy up ya...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2