
"Maksudnya apa sih Div?"
"Bukan apa-apa! Apa aku tidak boleh ikut pelelangan ini? Kayaknya nggak ada kriteria khusus dalam pelelangan ini!"
"Tapi buat apa coba?"
"Nanti kamu juga tahu!"
Satu per satu orang-orang yang mengikuti pelelangan meninggalkan rumah itu, Div harus menandatangi semua surat-surat dan memberikan sejumlah cek yang sudah di sepakati kepada ketua pelaksana.
Ersya memilih memisahkan diri dari orang-orang itu, ia kembali mengamati rumah yang sudah di tinggalinnya selama hampir empat tahun dan sekarang harus ia lepaskan.
Dan saat ia ingin melupakan semuanya, pria yang telah menikahinya malah mengambilnya kembali, kenapa?
Ersya memilih duduk di samping jendela besar yang ada di samping ruang keluarga. Ruangan itu adalah ruangan yang biasa ia gunakan untuk menunggu suaminya pulang. Dan persis seperti posisinya saat ini.
"Menyedihkan sekali ..., sakit banget rasanya ketika aku menyadari bahwa aku tidak sama pentingnya dengan seseorang seperti yang aku kira sebelumnya."
Ersya menghela nafas, cinta yang ia banggakan dulu sekarang berubah menjadi sebuah kepedihan. Kepedihan yang rasanya tidak ingin terulang lagi di masa depan.
Akan ada waktu ketika orang yang sabar menjadi muak, orang yang peduli menjadi masa bodoh, orang yang setia menjadi angkat kaki. Itu adalah ketika sifat sabar, peduli, dan setianya tidak dihargai.
"Jangan di kenang terus kalau bikin sakit!" ucap pria yang tanpa Ersya sadari sudah berdiri di belakangnya, entah sejak kapan.
Ersya pun dengan cepat menoleh ke belakang, ia mendapati pria itu menyakukan kedua tangannya di saku celananya.
"Div!"
"Tahu nggak kenapa Tuhan menciptakan rasa kecewa?"
Ersya mengerutkan keningnya dan menatap pria yang sudah menjadi suami keduanya itu.
"Kenapa?"
"Karena mungkin Tuhan sedang ingin mengatakan jika 'Aku punya sesuatu yang lebih baik untuk kamu'!"
Sejak kapan dia menjadi bijak seperti itu? batin Ersya hingga ia mengerutkan keningnya.
"Dapat kata-kata dari mana?"
"Ini!" Div menunjukkan layar ponselnya yang berisi begitu banyak kata bijak.
Hehhh
Ersya menghela nafas, suasana hatinya yang sedang kacau tiba-tiba jadi pengen tertawa.
"Sudah ku duga! Dasar pengacau!"
Div memilih untuk duduk di samping Ersya. Ia ikut mengamati keadaan luar rumah itu.
"Astaga ...., Divia!" Ersya segera berdiri terkejut, sudah waktunya Divia pulang sekolah.
Srekkkk
Tapi tiba-tiba tangan Div menariknya kembali hingga membuat Ersya kembali duduk.
"Duduk dan diam di sini!"
"Tapi Divia?"
"Aku sudah meminta Rangga untuk menjemputnya, diam dan dengarkan aku!"
Ersya pun terpaksa menuruti perintah Div.
"Apa?"
"Menurutmu rumah ini seberharga apa?"
Ersya memicingkan matanya, ingin mengetahui apa maksud dari pertanyaan pria di depannya itu. Tapi zonk, ia tidak mampu menebaknya.
__ADS_1
Ersya menggelengkan kepalanya.
"Ini seperti harapanku, rumah itu sudah runtuh bersama harapan besarkan saat membeli rumah ini!"
"Baguslah!"
"Bagus? Maksudnya?"
"Ya bagus karena setidaknya kamu tidak akan terus menangis di pojokan kamar gara-gara terngiang-ngiang rumah ini!"
"Aku tidak secengeng itu ya!"
"Masak sih? Aku butuh bukti ya, lihat wajahmu saja sudah seperti langit mendung!"
Dari balik dinding itu, Rizal terus mengepalkan tangannya. Ia benar-benar tidak bisa terima jika Ersya sudah melupakan dirinya.
Plekkkk
Tiba-tiba bahunya di pegang seseorang. Rizal segera menoleh dan mencari tahu siapa pemilik tangan.
Rizal mengerutkan keningnya saat tidak mengenali pria yang telah memegang bahunya.
"Kamu siapa?"
Bukannya menjawab pria itu malah tersenyum tipis,
"Anda sudah melepaskan batu permata hanya untuk mendapatkan batu kali, jadi nikmati saja kecerobohan anda!" ucap pria itu lalu berlalu menghampiri Div dan Ersya.
Dia siapa?
Rizal pun penasaran, ia menunggu sampai pria itu bicara pada Div dan Ersya.
"Permisi pak Div, bu Ersya!"
Div pun menoleh,
"Sekretaris Revan, bagaimana?"
"Baik, sepuluh menit lagi!"
"Baik pak!"
Jadi dia sekretaris tuan Div ....
Kini hanya tinggal beberapa orang saja. Ersya dan Div juga sudah keluar dari rumah itu begitu pun dengan Rizal.
Beberapa orang masih sesekali memberi selamat pada Div, beberapa wartawan juga mengabadikan moment ini.
Seorang CEO finityGroup group membeli rumah mantan suami istrinya
Benar-benar menjadi tranding topik. Setiap apapun yang menyangkut keluarga finityGroup selalu menarik untuk di ulas.
"Apa alasan anda membeli rumah ini tuan Div?"
"Istri saya!"
"Apa istri anda masih ingin menempati rumah ini?"
"Tidak!"
"Lalu untuk apa anda membelinya?"
"Tunggu sampai semuanya selesai dan kalian akan tahu jawabannya!"
Para pengawal Div segera meminta para pencari berita itu untuk mundur agar Div dan Ersya bisa leluasa bergerak.
Rizal mendekati kerumunan itu,
"Selamat ya tuan Div, anda menang kali ini!" ucapnya pada Div.
__ADS_1
Saya terima!"
"Ini kuncinya!" Rizal menyerahkan sekumpulan kunci dengan berbagai ukuran. Tapi Div menahan kunci itu agar tidam terlepas dari tangan Rizal.
"Saya tidak butuh ini!"
"Maksud tuan?"
"Lihat di sana!" Div menunjuk sebuah mobil buldoser yang siap meruntuhkan rumah itu. Buldoser itu tinggal menunggu aba-aba saja.
Ersya tidak kalah terkejutnya dengan Rizal.
"Div ada apa ini?"
Bukannya menjawab, Div malam memberi aba-aba dan pengemudi buldoser itu sudah meluluh lantahkan rumah itu.
Para pencari berita tidak kalah terkejutnya, ia segera berebut untuk menanyakan maksud dari semua itu. Ersya hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat melihat rumah itu rata dengan tanah.
"Pak Div, tolong konfirmasi nya, kenapa rumah ini di hancurkan?"
"Saya akan membuat taman di sini untuk istri saya!"
Rizal begitu kesal karena kenangannya satu-satunya yang ia miliki dengan Ersya kini rata dengan tanah.
🍀🍀🍀
Kini Ersya dan Div sudah berada di dalam mobil. Mereka duduk di bangku belakang. Di depan ada sopir dan juga sekretaris Revan.
"Kenapa?" sedari tadi itu yang di tanyakan Ersya pada suaminya itu.
"Jangan membuatku kesal dengan terus menanyakan hal itu!" ucap Div dengan wajah dinginnya.
"Kamu membuatku terkejut dengan melakukan itu, pasti ada alasan kuat lainnya kan?"
"Tidak!"
"Ya udah sekarang katakan apa alasannya?"
"Bukankah tadi aku sudah bertanya? Bagaimana menurutmu rumah itu, apa begitu berharga dan kamu menjawab jika rumah itu sudah seperti puing-puing sama seperti hati kamu! Jadi aku hanya membantumu mengabulkannya!"
Hahhhh ....
Ersya benar-benar tidak percaya, dia sampai mengusap kepalanya beberapa kali,
"Hah hah hah ....!" Ia terus menghela nafas dengan mulut yang menganga.
"Nyesel banget rumah itu hancur?" tanya Div.
"Gimana nggak nyesel, uang 300 juta dan kamu buang sia-sia tau nggak sih, seharusnya kau bisa menjadikannya kontrakan dan kau akan mendapatkan uang lagi! Kau benar-benar membuatku tidak percaya!"
"Cihhh, dasar mata duwitan, aku kira ....!" gumam Div. Ia tersenyum samar nyaris tidak terlihat.
"Kamu kira apa?" Ersya memicingkan matanya.
Padahal Div sedari tadi sudah kesal, ia mengira jika wanita di sampingnya itu tidak terima ia menghancurkan rumah itu karena itu kenang-kenangan cintanya dengan mantan suaminya.
Bersambung
sudah mampir belum nih? dia novel adaptasi komik milik kak yoolook culture yang berjudul Nona melawan dengan tuan muda? Ayo yang belum mampir, di favorit dulu aja ya, ntar di baca kalau udah banyak. Yang pengen baca komik nya juga bisa, di akunnya author yoolook culture kalau baca novelnya di akun aku ya.
yang ini nih sampulnya!
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰