Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Bangun malam


__ADS_3

"Daddy ....!" tiba-tiba suara Divia yang memanggil daddynya berhasil membuat Rangga terkejut, ia sampai terlonjak dari duduknya dan segera berdiri di belakang kursi yang didudukinya.


Daddy Div berjalan menghampiri Divia dan segera membawanya ke dalam gendongannya hanya dengan satu tangannya.


"Mana mom, sayang?" tanya daddy Div lalu Divia menunjuk ke arah Ersya yang masih duduk di tempatnya.


"Baiklah, apa sudah selesai bermainnya?"


"Cudah!"


"Baik, kita pulang ya! Ajak mom Eca juga!"


"Baik Dad!"


Divia pun segera turun dari gendongan Div dan berlari menghampiri Ersya.


Pria itu hanya sibuk mengamati dari kejauhan dengan menyakukan kedua tangannya.


Setelah Divia menghampiri Ersya, mereka pun memutuskan untuk pulang, sudah jam empat sore. Sudah waktunya untuk pulang juga.


"Kalian duluan masuk ke mobil, ada yang perlu aku bicarakan pada Rangga!" ucap daddy Div.


Dan pria yang di sebutkan namanya itu seperti sedang tidak fokus, rasanya ingin segera kabur saja jika bisa.


Setelah Ersya dan Divia meninggalkan mereka, seperti biasa daddy Div menatap pada pria di depannya.


Matilah aku ....., batin Rangga. Ia terus mendudukkan kepalanya.


"Hemmm, lain kali tidak ada kesempatan lagi!"


"Mengerti pak!"


"Kamu boleh pergi sekarang!"


Rangga pun memisahkan diri, ia pulang dengan mobil kantor sedangkan Ersya dan Divia pulang bersama daddy Div.


"Memang aku melakukan apa? Dasar pak Div posesif banget!" gerutu Rangga sambil masuk ke dalam mobilnya bersama sopir.


Sopir hanya menatapnya dengan penuh tanya.


"Apa ada masalah pak Rangga?" tanya sopir itu setelah Rangga duduk di sampingnya.


"Memang begitu ya orang kalau jatuh cintanya telat, suka labil!"


"Siapa yang pak Rangga maksud?"


Rangga baru sadar jika sedari tadi ia protes pada orang lain.


"Bukan apa-apa, antar saya pulang saja!"


"Baik pak!"


Di mobil lain, daddy kini duduk di kursi kemudi sedangkan di sampingnya ada mom Ersya. Divia memilih duduk di belakang karena ia ingin tempat yang luas.


"Dad!" panggil Divia membuat Div yang sedang sibuk mengemudikan mobilnya menoleh pada putri kecilnya itu.


"Hemm?"


Ia menoleh sebentar lalu kembali fokus dengan jalanan yang memang sedang sangat macet-macetnya karena jam pulang kantor.


"Om Langga aneh deh hali ini!"


"Aneh kenapa sayang?" Div terlihat menerka-nerka arah pembicaraan putrinya. Ia sudah siap-siap ingin melotot pada wanita yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


Ersya yang awalnya fokus menatap ke luar jendela jadi tertarik untuk menatap Divia yang duduk sendiri di belakang sambil mengerutkan keningnya.


"Om Langga ngomongnya aneh cama mom!"


"Aneh?"


Ersya yang menyadari arah pembicaraan Divia begitu panik. Ia tidak bisa memberi kode pada anak itu untuk tidak bicara. Dia pasti akan bicara sesuai porsinya anak kecil.


Ersya segera berbalik dan menatap Divia. Ia tersenyum di paksa hendak memberi kode.


"Iyya sayang ...., nggak ada yang aneh kan tadi? Iya kan Iyya?"


"Enggak mom, tadi om Langga beda!"


Issstttttt ...., jangan sampai Divia bicara macam-macam sama sultan gesrek nih ....


Div malah semakin penasaran saat Ersya mencoba mencegah Divia mengatakan sesuatu.


"Katakan saya ada apa? Daddy pengen tahu!"


"Mom bilang, om Langga telkenal pacal!"


"Pasal?" tanya Div sambil menatap Ersya.


Ersya yang merasa di tatap pun memilih untuk memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela.


"Iya dad! Kata mom, om Langga kena pacal pelbuatan tidak menyenangkan, daddy tolong bebacin om langga pakek pengacala dong dad!"


Mendengar ucapan polos dari Divia membuat Div dan Esya segera menoleh bersamaan.


Dug


"Aughhh!"


"Aughhh!"


Ha ha ha ha .....


Divia malah tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kedua orang tuanya itu.


"Daddy sama mom lucu kayak tom and jally!" ucap Divia sambil memegangi perutnya.


"Bisa nggak kalau mau putar kepala itu ngomong-ngomong dulu?!" gerutu daddy Div masih sambil mengusap keningnya dan kembali fokus di depan.


"Situ juga gitu, nggak ngomong-ngomong! Ngapain nyalahin gue!"


Ersya memilih untuk kembali menatap ke luar jendela.


🍀🍀🍀


Malam ini Ersya tidak bisa tidur, ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan menikmati udara malam di teras yang ada di samping rumah.


"Ahhhh ...., seger di sini!"


Ia memilih duduk di kursi berbahan rotan berbetuk lingkaran dengan cekung di tengahnya itu. Ia menyandarkan punggungnya agar lebih nyaman.


Lampu rumah sudah di matikan semua, pastilah semua penghuni rumah itu sudah beristirahat. Ia melihat jam yang ada di ponselnya, sudah jam satu malam.


"Ngadem bentar, habis itu tidur lagi!" gumamnya lagi. Terbangun di jam seperti ini pasti sulit untuk bisa tidur lagi.


Ersya mendongakkan kepalanya menatap kamar yang berada tepat dia atasnya.


"Jam segini lampunya masih nyala aja, apa coba yang dia kerjakan?" gumamnya. Di atas itu adalah kamar Div.

__ADS_1


"Kaya nggak ada waktu siang aja, atau memang dia yang menganggap waktu malam sama seperti siang makanya di kantor ada kamar tidurnya!"


Ersya hendak memejamkan matanya sejenak di kursi itu tapi tiba-tiba ia di kejutkan dengan suara langkah kaki.


Ia segera bangun dan melihat ke dalam,


"Itu siapa ya?"


Perlahan Ersya mulai berjalan menuju ke arah orang itu berjalan. Sepertinya baru saja dari lantai dua. Karena keadaan sangat gelap, ia sulit mengetahui siapa orang itu.


Hingga langkahnya terhenti di dapur.


"Kenapa lampu dapur masih menyala?" gumamnya lirih.


Ia semakin mendekat ke dapur, ia begitu di kejutkan saat melihat orang sedang sibuk di dapur.


"Tuan koki, kenapa malam-malam di dapur?"


Pertanyaan Ersya sepertinya begitu mengejutkan beberapa orang di dalam dapur itu hingga membuat mereka menghentikan pekerjaannya.


"Nyonya? Maaf jika kami menggangu tidur anda! Kami akan lebih hati-hati lagi!"


Ersya segera mengibas-ngibaskan tangannya.


"Tidak ...., tidak ...., bukan itu! Tadi aku kebangun karena memang kebangun bukan karena kalian! Kalian ngapain malam-malam?"


"Kami harus membuatkan makanan untuk tuan Div, nyonya!"


"Jam segini?"


Ersya lupa dengan cerita kepala pelayang beberapa bulan lalu saat ia pertama kali main ke rumah itu.


"Tuan Div memang terbiasa makan di jam seperti ini nyonya!"


"Ya udah, gini aja deh biar aku antar makanannya ke kamar dia!"


"Tapi nyonya?"


"Tidak pa pa, aku kan istrinya! Ini sudah kewajiban saya! Mana makanannya?"


"Ini nyonya!"


Koki itu menyerahkan sebuah nampan berisi sepiring spaghetti dan juga susu hangat.


Ersya pun segera membawa nampan itu ke kamar daddy Div.


Bersambung


**NB :


...Untuk bulan ini jangan khawatir, yang daddy Div akan tetap aku up setiap hari, bakal aku usahain doble ya,...


... untuk the twins gantian agak lambat ya, ...


...trus yang nona melawan dengan tuan muda, saya ngikut aplikasi soalnya nunggu aba-aba dari sana ya...


yang terpenting yang bawah ini nih**


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2