
Siang ini, di dapur rumah CEO terlihat sibuk. Ersya bersama para pelayan sedang memasak makan siang di dapur.
"Apa yang di sukai Div?" tanya Ersya pada salah satu koki yang biasa melayani Div.
"Ini nyonya daftar beberapa sayuran yang di sukai dan tidak di sukai tuan Div!" Koki itu menyerahkan selembar kertas berisi daftar makanan yang di sukai dan tidak di sukai.
Sayur
tidak suka : Wortel, labu, bayam, kentang.
suka : Brokoli, sawi, kangkung, tomat
Lauk
Tidak suka : cumi, lele, sosis
Suka : udang, ayam, daging sapi.
"Baiklah, kalau gitu kita masak udang saja ya!"
"Baik nyonya!"
Ersya sibuk meracik bumbu, kali ini dia ingin memasak sendiri untuk Div.
Walau bagaimana pun dia harus jadi istri yang baik walaupun rasa baby sitter.
"Mom ...., ngapain di dapul?" tanya Iyya yang tiba-tiba datang.
"Mom lagi masak sayang, setelah ini kita ke kantor Daddy ya!"
"Benalkah?" Iyya terlihat begitu senang, ia bosan hanya terus di rumah saja sepanjang hari. Ia hanya akan pergi kalau ke dokter. Tapi sepertinya setelah ada mom Echa, kehidupan Iyya akan berubah.
"Iya sayang, sekarang Iyya siap-siap ya, mom masaknya sudah hampir selesai!"
"Iya mom!"
Iyya dengan cepat menuju ke kamarnya, ia di bantu pelayan untuk mandi dan mengganti bajunya.
Akhirnya masakannya matang, Ersya segera mengemasnya di dalam kotak makan siang.
"Iyya ....., ayo sayang!" panggil Ersya. Ersya sudah bersiap-siap dan berdandan rapi. Memang sekarang jarang memakai baju formal tapi tetap saja dia selalu tampil modis.
"Iya mom!"
Tidak berapa lama Iyya menghampiri Ersya, mereka selalu memakai baju senada. begitu kompak.
"Kita ke kantor tuan Div ya pak!"
"Baik nyonya!"
Ersya dan Iyya segera masuk ke dalam mobil. Sopir segera melajukan mobilnya. Waktu makan siang masih kurang setengah jam lagi.
"Iyya sayang!"
Ersya mengusap putrinya itu.
"Iya?"
"Nanti Iyya sama daddy dulu sebentar ya!"
“Memang mom mau ke mana?”
Ersya bingung harus mengatakan apa, tapi memang dia tidak mungkin membawa Iyya.
“Mommy mau ketemu sama
seseorang sebentar, nanti setelah itu kita beli es krim, mau?”
“yessss…., Iyya mau!”
"Anak pintar!" ucapnya sambil mengusap kepala Iyya.
Jalanan masih terlihat lenggang, mobilnya tidak terlalu lama berhenti di satu tempat. Hanya butuh waktu lima belas menit mereka pun sampai juga di depan gedung finityGroup.
__ADS_1
"Kita turun sayang!"
"Iya mom!"
Ersya segera mengajak Iyya turun. Ini untuk pertama kalinya setelah menjadi istri seorang Div, Ersya menginjakkan kakinya di perusahaan suaminya.
"Selamat siang bu!" sapa beberapa karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
"Selamat siang!" Ersya membalas sapaan mereka dan itu terjadi beberapa kali.
Tangan kanannya menggandeng tangan Iyya dan tangan kirinya menenteng tas yang berisi kotak makan siang.
Mereka harus memakai lift untuk sampai di ruangan Div.
"Sayang lepasin tangan mom dulu ya, mom mau pencet tombolnya!"
"Biar saya saja!" seseorang muncul di belakang mereka, Ersya segera menoleh.
"Rangga!"
"Om langga!"
"Hai Iyya!"
Rangga pun menekankan tombol naik ke ruangan Div.
"Kamu juga mau ke ruangannya Div?" tanya Ersya setelah mereka masuk ke ke dalam lift.
"Iya, inih ....!" Rangga menunjukkan sebuah map, "Mau minta tanda tangan!"
"Ohhh!"
Ting
Akhirnya pintu lift terbuka, Rangga meminta Ersya untuk keluar lebih dulu dan dia berjalan di belakang nya.
Setelah sampai di depan ruangan Dqddy nya, Ia segera melepaskan tangan Ersya dan berlari menghampiri Daddy nya.
“Daddy!” sapa Iyya , seperti biasa tidak peduli daddy nya sedang apa yang penting ia memeluk daddy nya.
“Sayangnya daddy!”
Div segera memeluk dan mencium putrinya itu.
"Kamu sama siapa sayang?" tanya Div.
"Cama Mom dong dadd!"
Div melihat ke arah pintu masuk dan benar saja ada Ersya dan Rangga yang masuk bersamaan.
Ada sekitar enam orang di ruangan itu dengan posisi yang berbeda-beda.
"Selamat siang bu!" sapa mereka sambil menunduk hormat.
"Selamat siang!" balas Ersya dengan senyum manisnya.
Ersya pun berjalan duluan meninggalkan Rangga. Ia menghampiri Div dan Iyya.
“Mom bawa bekal buat
daddy!” ucap Iyya sebelum Ersya sempat bicara. Ersya pun meletakkan kotak makan itu di atas meja di depan Div.
“Benarkah!” ucap Div dengan dibuat mode terkejut sekaligus senang, tapi sayang gagal. Wajahnya tetap saja datar.
“Wahhh, nyonya Div perhatian sekali ya!” ucap salah satu staf itu memuji Ersya yang perhatian.
“Terimakasih, tapi ini sudah kewajiban saya sebagai istri!”
Ahh, dia sok manis ....., batin Div. Ia kemudia. mengalihkan tatapannya ke arah para staf itu.
“Ya sudah kalian boleh
keluar dulu, saya mau makan siang dengan istri dan putri saya!” ucap Div.
__ADS_1
“Baik pak!”
Semua staf itu meninggalkan ruangan Div. Tapi ada satu yang masih tertinggal.
"Kenapa kamu tidak ikut keluar?" tanya Div saat Rangga masih berdiri di tempatnya.
"Saya mau meminta tanda tangan pak Div, ini sudah di tunggu pak!"
“Baiklah sini!”
Rangga pun segera mendekat, ia membuka berkas yang akan di tanda tangani dan meletakkannya di meja depan Div.
Div pun segera membubuhkan tanda tangan dan kembali menutup map itu.
"Sudah kan?"
"Sudah pak, kalai begitu saya permisi!"
"Hmm!"
Rangga pun segera meninggalkan ruangan itu.
Setelah hanya tinggal bertiga, Ersya membukakan bekal
makan siang untuk mereka. mereka makan bersama. Mereka beralih ke sofa dan duduk di sana.
"Mom loh Dad yang masak!"
"Benarkah?"
"Iya dad!"
Div pun menatap Ersya, "Ketemu Rangga di mana?"
"Heh? Di bawah!"
"Suka sekali bareng sama dia!"
"Nggak sengaja, kalau nggak percaya tanya saja sama Iyya!"
Ersya dengan sibuk menyuapkan makanan untuk Iyya.
"Daddy juga mom!" ucap Iyya.
"Hahh?"
"Ayo mom!"
Div menatap Ersya, dengan ragu Ersya pun menyendok makanan dan menyuapkannya pada Div. Iyya terlihat begitu senang.
"Mom cama daddy cangat lomantis!"
"Kamu ya!" Ersya mencubit hidung Iyya gemas.
***
Di tempat lain, Rizal sudah bersiap-siap menuju ke tempat janjian mereka.
Ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan Ersya.
Ia bahkan datang satu jam lebih awal dari waktu yang di janjikan pada Ersya.
Dia begitu bersemangat. Beberapa minggu yang lalu dia sempat memutuskan hal besar dalam hidupnya.
Ia memutusakan pertunangan nya dengan Tisya dengan alasan yang kurang masuk akal. Dia mengatakan pada Tisya jika dirinya masih mencintai mantan istrinya.
Tapi hanya Rizal yang tahu apa alasan sebenarnya, ia tidak mungkin selabil itu, Rizal bukan anak kecil lagi. Dia sudah dewasa dalam bersikap.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰