Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (23. Dia baik juga)


__ADS_3

"Dee sepertinya sengaja melakukan ini!?" gerutu Divia sambil mengaduk susuk hangat untuk Dee, seharian ini ia merasa di kerjai oleh anak kecil dan bapaknya.


Setelah sang nenek datang, bahkan mereka harus tinggal satu kamar sekarang,


"Benar kan kalian tinggal satu kamar?" tanya sang nenek dan Kim kembali memeluk Divia,


Dia kenapa jadi kesenengan meluk aku sihhhh ...., Divia hanya beberapa kali memberi kode dengan menggerakkan bahunya tapi pria itu sepertinya begitu sengaja.


"Iya Nek, benar kan Dee?" tanya Kim pada Dee yang tengah berdiri tidak jauh dari mereka,


"Iya nenek, eomma, Dee, appa tidur dalam satu kamar!?"


"Baguslah!? Tapi setelah ini Dee harus tidur di kamar Dee sendiri, biarkan Kim dan Vi tidur berdua!"


"Iya Nek!"


Dee mengedipkan matanya membuat Divia tidak percaya dengan tingkah anak berusia empat tahun itu, dia bahkan lebih cerdik dari keempat adiknya.


"Vi, sampai kapan mengaduk susu itu?" pertanyaan seseorang menyadarkan dia dari lamunannya, Divia sampai tidak sadar jika ada Kim di sana.


"Bukan urusan kamu, minggir!?" Divia segera melewati tubuh Kim dan membawa susu itu untuk ia antar ke kamar Dee.


Tok tok tok


"Dee, boleh aku masuk?"


"Masuklah eomma!?"


Setelah mendapatkan persetujuan dari Dee, Divia pun membuka pintu kamar Dee yang tidak tertutup sempurna.


Ternyata di dalam kamar sedang ada nenek,


"Nenek, nenek juga sedang di sini?"


"Iya!?"


Terlihat mereka sedang asik melihat gaway milik Dee, mereka saling tertawa saat melihat ada yang lucu.


"Wahhh seru sekali kayaknya, boleh aku gabung!?" Divia meletakkan gelas yang berisi susu untuk dee di atas nakas dan hendak bergabung tapi buru-buru Dee menyembunyikannya.


"Tidak eomma, ini rahasia Dee dengan nenek!"


"Benarkah?" Divia mencubit kedua pipi tembem Dee dengan gemas, "Padahal aku begitu penasaran!?" keluhnya lalu ikut duduk.


Dee langsung berhambur memeluk Divia, ia seperti benar-benar menemukan sosok ibu dari seorang Divia.


"Eomma, aku menyayangimu!"


"Aku juga, segeralah minum susumu lalu tidur!?"


Divia mengambil kembali susunya dan membantu Dee meminum susunya, setelah susunya habis Divia juga membantu Dee untuk tidur, menyimpan gawaynya di atas nakas samping tempat tidur, seperti biasa Divia akan mengusap kepala Dee agar cepat tidur seperti yang biasa ia lakukan pada keempat adiknya.


Ehhhh, jadi kangen mereka. Sudah sebesar apa ya mereka?


Kemudian ia baru sadar masih ada nenek di sana, Divia menatap nenek yang ternyata sedari tadi menatapnya,


"Nek, kenapa?"


"Kim pasti sangat beruntung mendapatkan wanita sepertimu, aku seperti melihat sosok ibunya Kim di diri kamu!?"


Aku pasti yang akan sial gara-gara Kim, apalagi sikapnya yang aneh belakangan ini ....


"Nek, nenek istirahatlah. Biar Dee, Vi yang menemani!?"


Sang nenek menggema tangan Divia dan mengusap punggung tangannya,

__ADS_1


"Kamu saja yang tidur, kata Kim kamu masih punya tugas yang harus kamu kerjakan dengan Kim, kerjakan saja sekarang. Biar Dee sama nenek, nenek juga masih kangen sama dia!?"


Dia juga menceritakan soal tugasku, keterlaluan ....


"Tapi nek_!?"


"Nggak pa pa, pergilah!?"


Walaupun enggan akhirnya Divia harus pergi. Ia berencana pergi ke kamarnya, tapi ternyata di depan kamarnya sudah ada pelayan nenek.


"Bi!?"


"Selamat malam nona!?"


"Kenapa bibi di sini?"


"Saya sedang menunggu nyonya besar kembali."


"Tapi nenek ada di kamar Dee!" Divia menunjuk ke arah kamar Dee, "Dan ini kamar saya!?"


"Mulai malam ini kamar nona bersama tuan!?"


Hahhhh, iya kenapa aku bisa lupa?


"Tapi barang-barang ku_?"


"Nyonya besar sudah memindahkan semuanya ke kamar tuan!"


Yang benar saja ....


Divia yang kesal akhirnya hanya bisa pasrah dan berjalan cepat menuju ke kamar Kim.


"Kim!?" Divia sudah berkacak pinggang dan bersiap untuk marah pada pria itu, tapi wajah pria itu tampak begitu santai tanpa dosa membuat kemarahan Divia hanya menguap di udara,


"Hahhhh, Hahhhh!?" bahkan Divia tidak bisa mengatakan apapun karena terlalu kesal, "Bisa-bisanya kamu mengatakan hal itu, sudah jelas kamu yang menahan lap_," ucapannya terhenti saat melihat laptop miliknya sedang berada di depan Kim dan sedang menyala,


"Hei ...., apa yang kamu lakukan dengan laptopku!?" teriak Divia.


"Vi, bisa kan bicaranya tidak usah teriak-teriak?" Kim malah melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah santainya membuat Divia semakin emosi.


Divia berjalan cepat menghampiri Kim,


"Duduklah!" Kim malah menepuk tempat kosong di sampingnya, duduk di karpet yang sama.


"Nggak!?"


"Kebiasaan ya Vi, jangan suka teriak-teriak aku nggak budek!?"


"Kamu tahu bu_dek?" Divia terkejut saat Kim mengatakan kosa kata bahasa Indonesia.


"Menurutmu? Duduklah atau aku akan menyimpan kembali laptopmu!?" ancam Kim dan Divia pun terpaksa duduk tepat di samping Kim.


Apa yang aku dengar tadi benar? Dia mengatakan budek? Kayaknya aku deh yang salah dengar ....


"Kenapa diam saja? Lihat ini!" Kim menarik kepala Divia agar lebih dekat dengan layar, tentunya dekat dengan dirinya juga,


"Apaan sih Kim!?" protes Divia lagi.


"Lihat, itu yang sudah aku tandai warna merah berarti salah, desain ulang sesuai letaknya yang aku kasih tanda biru!?"


Divia pun jadi tertarik untuk mengamati hasil desainnya, dan benar saja ada banyak tanda di sana.


Dia yang melakukan semua ini? Ternyata baik juga dia ....


"Kerjakan dengan benar sekarang!" Kim pun mundur dan meminta Divia untuk mulai mengerjakannya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, gini!" Kim memberi koreksi pada beberapa perkataan Divia, sesekali ia juga mengarahkan Divia dengan tangannya,


"Nah itu lebih bagus!?"


"Letakkan di kiri, jangan di kanan."


Hampir tengah malam mereka masih asik di depan layar datar milik Divia,


"Aku mengantuk, besok lagi ya, please ...!?" terlihat mata Divia memang sudah berair saat ini.


"Baiklah terserah, tapi ingat waktunya tinggal tiga hari lagi!?"


"Iya tahu!?"


Divia meninggalkan begitu saja laptopnya dan berjalan cepat ke tempat tidur.


Kim setalah menyimpan dan mematikan laptopnya pun segera mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur,


"Ahhhh capeknya!?" Kim menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur hal itu membuat Divia kembali bangkit. Padahal dia tadi sudah hampir tertidur tapi kini matanya malah kembali lebar gara-gara ulah Kim.


"Kim, ngapain di sini?"


"Tidur! Ini tempat tidurku!?"


"Nggak, ini tempat tidurku ya!?"


"Sejak kapan?"


"Sejak hari ini."


"Atas dasar apa?"


"Atas dasar perintah nenek!?"


"Ini tempat tidurku jauh sebelum kamu tinggal di sini, jadi siapa yang lebih kuat di sini? Aku!?" Kim menunjuk dirinya sendiri, "Jadi kita harus berbagi tempat tidur, gampang kan, aku di sini dan kamu di situ!?"


"Nggak bisa gitu dong!?"


"Ya udah kalau nggak mau siap-siap aja tidur di lantai, aku nggak mau ya kalau harus ngalah sama kamu!?"


"Tapi aku perempuan Kim, ngalah dikit kek sama perempuan!?"


"Sudah nggak ada jamannya pria ngalah sama perempuan, kalau mau tidur di sini ya udah berbagi kalau nggak mau ya tidur aja di lantai!"


"Kejam banget jadi orang!"


Divia pun memilih mengambil bantal dan tidur di bawah, Sofanya terlalu pendek untuk tidur tidak akan muat untuk tubuhnya.


Dia benar-benar raja tega, nyesel aku udah memujinya tadi, pengen banget aku tarik kembali pujiannya ....


Divia terus saja menggerutu dalam hati sampai ia benar-benar tertidur.


"Dasar keras kepala, memang aku mau ngapain!?" gumam Kim. Tapi nyatanya ia tidak bisa tidur, ia pun kembali bangun dan memindahkan Divia ke atas tempat tidur dan dia memilih untuk tidur di sofa.


"Ahhhhh, sempit sekali!?" keluhnya sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2