
“Silahkan!”
Rangga membukakan pintu
mobil sambil menunduk persis seperti menyambut sang permaisuri.
“Ga …, lo yakin ini
tempatnya, bukankah ini butiknya Tenika Red?” Ersya cukup tahu beberapa nama
perancang busana ternama, tapi ia tidak punya cukup keberanian untuk mencoba
baju rancangan mereka. ia masih terlalu sayang dengan uangnya.
“Iya benar, kenapa?”
Rangga masih dengan gaya santainya, mungkin dia juga pernah mengalami fase
seperti Ersya sekitar dua tahun lalu tapi ia sekarang sudah mulai terbiasa
dengan kejutan kejutan yang akan hadir.
“Lo nggak salah tempat
kan?” bukannya tidak percaya dengan apa yang bisa di lakukan oleh seorang
Pradivta, tapi ia masih ragu saja jika bisa memakai baju rancangan mahal.
“Lo belum tahu saja
siapa pak Div ini, ayo turunlah!”
Melihat Ersya terus
menunda untuk turun padahal pintu mobil sudah terbuka membuat Iyya gemas ingin
sekali menarik baby sitter yang menjelma menjadi mommy nya itu keluar dari
mobil dan memperlihatkan seberapa hebatnya daddy Iyya.
“Ayo mom!” ucap Iyya
sambil menarik tangan Ersya, ia sudah turun dari mobil. Membuat Ersya mau tidak
mau turun juga. Mereka berjalan menuju ke pintu masuk butik.
Rangga membukakan pintu
yang berbahan kaca itu, membiarkan Ersya dan Iyya masuk lebih dulu.
Iyya tidak kalah
hebohnya, ia ingin segera melihat-lihat gaun di dalamnya. Dengan cepat ia
berjalan dan menarik tangan Ersya.
Siapa yang tidak kenal
dengan Tenika Red, namanya memang sudah sangat terkenal di dunia fashion
internasional saat karyanya di gunakan oleh beberapa artis luar negri. Pria ini
terkenal dengan keahliannya merancang busana khusus pengantin wanita. Walaupun begitu
ia juga menggandeng perancang ternama untuk membuat rancangan baju pengantin
pria.
Hingga akhirnya langkah
Iyya terhenti karena ia melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk di sofa
sambil mengobrol.
“Oma …!” panggil Iyya,
ia segera melepaskan tangan Ersya dan berlari menghampiri wanita paruh baya
dengan penampilan yang begitu elegan sedang duduk dengan seseorang yang Ersya
sudah kenal melalui media sosial.
“Ga …, siapa wanita
yang di panggil oma itu?”
Ersya bertanya lirih
__ADS_1
pada pria yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
“Dia nyonya Ratih, ia
ibu kedua pak Div jadi jangan lupa beri hormat, lakukan seperti apa yang aku
lakukan!”
“Siap!”
Rangga pun berjalan mendahului
Ersya, mereka menghampiri nyonya Ratih yang sedang duduk sambil membicarakan
konsep pernikahan Div dan Ersya nantinya.
“Selamat siang nyonya
Ratih!” sapa Rangga sambil menundukkan kepalanya. Ersya melihat bagaimana yang
di lakukan Rangga, terlihat jika Rangga menggerakkan tangannya memberi isyarat
pada Ersya agar dia melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan.
Ersya pun menundukkan
kepalanya, “Selamat siang nyonya Ratih!”
Nyonya Ratih menatap
mereka, “Selamat siang, duduklah!” perintahnya.
Melihat Rangga tak
kunjung duduk ,membuat Ersya bingung harus duduk atau tidak. Rangga menoleh
padanya dan mengedipkan matanya tapi sepertinya Ersya tidak mengerti dengan
isyarat yang di berikan oleh Rangga membuat nyonya Ratih harus mengulang
perintahnya.
“Duduklah!”
Kali kedua barulah ia
yang berkepentingan di tempat itu bukan Rangga.
Ersya pun segera duduk,
“Terimakasih nyonya!”
Iyya, entah sudah
kemana anak itu. Setelah di minta untuk memilih beberapa baju yang dia sukai,
anak itu memilih ,meninggalkan Ersya dengan nyonya Ratih. Membiarkan mereka
mengobrol dengan bebas, Rangga hanya terus mengawasi kemanapun Iyya pergi. Ia tidak
punya kesempatan untuk memberi arahan pada Ersya lagi bagaimana cara bersikap
yang baik dengan nyonya Ratih.
“Silahkan di ukur
tubuhnya, dan buat yang simple tapi elegan!” perintah nyonya Ratih pada desainer itu. Hanya mengatakan hal itu saja,
desainer itu sudah tahu bagaimana ia harus membuat gaun pengantinnya.
“Baiklah nyonya!”
Desainer itu meminta
asistennya untuk mulai mengukur tubuh Ersya.
Setelah menyelesaikan
pengukuran terhadap tubuh Ersya akhirnya pria yang akan menikah itu datang
juga.
Seperti biasa ia
juga memberi hormat, “Maaf ibu, Div terlambat!”
“Sudah biasa!” ucap
__ADS_1
nyonya Ratih dengan wajah datar dan tegas itu.
Asisten pemilik butik
pun kembali melakukan pengukuran terhadap tubuh Div dan Iyya juga.
Mereka butuh hampir
satu setengah jam untuk menyelesaikan semuanya. Selain memesan gaun pengantin,
nyonya Ratih juga membelanjakan beberapa dres untuk Iyya dan Ersya.
Setelah menyelesaikan
semuanya mereka pun meninggalkan tempat itu. Mereka menghampiri kembali mobil mereka, tapi nyonya Ratih menghentikan langkah mereka.
“Div, kita harus membicarakan semuanya sambil makan siang!”
Sungguh ucapan yang sakti, tidak butuh bantahan dan Div langsung mengiyakan.
Mereka pun akhirnya
makan siang di restauran terdekat dari tempat itu. Mereka memilih privat room
agar lebih tenang tanpa.
Ersya sedari tadi hanya
terus di buat bingung, ia sama sekali tidak mengenal wanita yang ada di depannya itu. Tapi ia tahu jika Div sangat menghormati wanita itu.
Di restauran itu, Div
dan nyonya Ratih membicarakan lebih lanjut bagaimana konsep pernikahan mereka dan akan di adakan di mana. Div ternyata sudah menyewa WO yang akan menangani semuanya. Tidak hanya cukup dengan satu WO saja, tidak tanggung-tanggung ia
menyewa jasa WO lebih dari satu dengan penangan yang berbeda-beda.
Karena bola api sudah
terlanjur menggelinding, mau tidak mau mereka harus benar-benar melangsungkan
pernikahan, Div tidak tanggung-tanggu, ia bahkan menyiapkan pernikahan itu
dengan begitu besar. Menyewa beberapa stasiun tv lokal untuk menyiarkan secara
langsung pernikahan mereka. bukan karena pernikahan itu istimewa, ia hanya
ingin meredam gossip yang sudah terlanjur beredar tanpa bisa di kendalikan itu.
Dan jika hal itu di biarkan terus berlanjut, bukan tidak mungkin perusahaan
juga akan menanggungnya.
“Terimakasih atas
kesediaan ibu menyiapkan semuanya!”
“Bukan hal yang besar,
lakukan saja yang menurutmu benar, aku hanya akan mendukungnya! Kamu sudah
cukup dewasa untuk menyelesaikan semuanya dengan baik!”
“Iya ibu, Div mengerti
tentang kekhawatiran ibu, Div pasti akan lebih berhati-hati!”
“Aku pergi dulu, kalian
lanjutkan saja makan siangnya!”
Nyonya Ratih
meninggalkan mereka begitu saja. Selama dua jam ini, Ersya tiba-tiba berubah
menjadi pendiam, ia seperti tidak punya kemampuan untuk bicara hanya dengan
mendapat tatapan dari wanita yang baru saja meninggalkan mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1