Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Persiapan pernikahan 2


__ADS_3

“Silahkan!”


Rangga membukakan pintu


mobil sambil menunduk persis seperti menyambut sang permaisuri.


“Ga …, lo yakin ini


tempatnya, bukankah ini butiknya Tenika Red?” Ersya cukup tahu beberapa nama


perancang busana ternama, tapi ia tidak punya cukup keberanian untuk mencoba


baju rancangan mereka. ia masih terlalu sayang dengan uangnya.


“Iya benar, kenapa?”


Rangga masih dengan gaya santainya, mungkin dia juga pernah mengalami fase


seperti Ersya sekitar dua tahun lalu tapi ia sekarang sudah mulai terbiasa


dengan kejutan kejutan yang akan hadir.


“Lo nggak salah tempat


kan?” bukannya tidak percaya dengan apa yang bisa di lakukan oleh seorang


Pradivta, tapi ia masih ragu saja jika bisa memakai baju rancangan mahal.


“Lo belum tahu saja


siapa pak Div ini, ayo turunlah!”


Melihat Ersya terus


menunda untuk turun padahal pintu mobil sudah terbuka membuat Iyya gemas ingin


sekali menarik baby sitter yang menjelma menjadi mommy nya itu keluar dari


mobil dan memperlihatkan seberapa hebatnya daddy Iyya.


“Ayo mom!” ucap Iyya


sambil menarik tangan Ersya, ia sudah turun dari mobil. Membuat Ersya mau tidak


mau turun juga. Mereka berjalan menuju ke pintu masuk butik.


Rangga membukakan pintu


yang berbahan kaca itu, membiarkan Ersya dan Iyya masuk lebih dulu.


Iyya tidak kalah


hebohnya, ia ingin segera melihat-lihat gaun di dalamnya. Dengan cepat ia


berjalan dan menarik tangan Ersya.


Siapa yang tidak kenal


dengan Tenika Red, namanya memang sudah sangat terkenal di dunia fashion


internasional saat karyanya di gunakan oleh beberapa artis luar negri. Pria ini


terkenal dengan keahliannya merancang busana khusus pengantin wanita. Walaupun begitu


ia juga menggandeng perancang ternama untuk membuat rancangan baju pengantin


pria.


Hingga akhirnya langkah


Iyya terhenti karena ia melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk di sofa


sambil mengobrol.


“Oma …!” panggil Iyya,


ia segera melepaskan tangan Ersya dan berlari menghampiri wanita paruh baya


dengan penampilan yang begitu elegan sedang duduk dengan seseorang yang Ersya


sudah kenal melalui media sosial.


“Ga …, siapa wanita


yang di panggil oma itu?”


Ersya bertanya lirih

__ADS_1


pada pria yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


“Dia nyonya Ratih, ia


ibu kedua pak Div jadi jangan lupa beri hormat, lakukan seperti apa yang aku


lakukan!”


“Siap!”


Rangga pun berjalan mendahului


Ersya, mereka menghampiri nyonya Ratih yang sedang duduk sambil membicarakan


konsep pernikahan Div dan Ersya nantinya.


“Selamat siang nyonya


Ratih!” sapa Rangga sambil menundukkan kepalanya. Ersya melihat bagaimana yang


di lakukan Rangga, terlihat jika Rangga menggerakkan tangannya memberi isyarat


pada Ersya agar dia melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan.


Ersya pun menundukkan


kepalanya, “Selamat siang nyonya Ratih!”


Nyonya Ratih menatap


mereka, “Selamat siang, duduklah!” perintahnya.


Melihat Rangga tak


kunjung duduk ,membuat Ersya bingung harus duduk atau tidak. Rangga menoleh


padanya dan mengedipkan matanya tapi sepertinya Ersya tidak mengerti dengan


isyarat yang di berikan oleh Rangga membuat nyonya Ratih harus mengulang


perintahnya.


“Duduklah!”


Kali kedua barulah ia


yang berkepentingan di tempat itu bukan Rangga.


Ersya pun segera duduk,


“Terimakasih nyonya!”


Iyya, entah sudah


kemana anak itu. Setelah di minta untuk memilih beberapa baju yang dia sukai,


anak itu memilih ,meninggalkan Ersya dengan nyonya Ratih. Membiarkan mereka


mengobrol dengan bebas, Rangga hanya terus mengawasi kemanapun Iyya pergi. Ia tidak


punya kesempatan untuk memberi arahan pada Ersya lagi bagaimana cara bersikap


yang baik dengan nyonya Ratih.


“Silahkan di ukur


tubuhnya, dan buat yang simple tapi elegan!”  perintah nyonya Ratih pada desainer itu. Hanya mengatakan hal itu saja,


desainer itu sudah tahu bagaimana ia harus membuat gaun pengantinnya.


“Baiklah nyonya!”


Desainer itu meminta


asistennya untuk mulai mengukur tubuh Ersya.


Setelah menyelesaikan


pengukuran terhadap tubuh Ersya akhirnya pria yang akan menikah itu datang


juga.


Seperti biasa ia


juga memberi hormat, “Maaf ibu, Div terlambat!”


“Sudah biasa!” ucap

__ADS_1


nyonya Ratih dengan wajah datar dan tegas itu.


Asisten pemilik butik


pun kembali melakukan pengukuran terhadap tubuh Div dan Iyya juga.


Mereka butuh hampir


satu setengah jam untuk menyelesaikan semuanya. Selain memesan gaun pengantin,


nyonya Ratih juga membelanjakan beberapa dres untuk Iyya dan Ersya.


Setelah menyelesaikan


semuanya mereka pun meninggalkan tempat itu. Mereka menghampiri kembali mobil mereka, tapi nyonya Ratih menghentikan langkah mereka.


“Div, kita harus membicarakan semuanya sambil makan siang!”


Sungguh ucapan yang sakti, tidak butuh bantahan dan Div langsung mengiyakan.


Mereka pun akhirnya


makan siang di restauran terdekat dari tempat itu. Mereka memilih privat room


agar lebih tenang tanpa.


Ersya sedari tadi hanya


terus di buat bingung, ia sama sekali tidak mengenal wanita yang ada di depannya itu. Tapi ia tahu jika Div sangat menghormati wanita itu.


Di restauran itu, Div


dan nyonya Ratih membicarakan lebih lanjut bagaimana konsep pernikahan mereka dan akan di adakan di mana. Div ternyata sudah menyewa WO yang akan menangani semuanya. Tidak hanya cukup dengan satu WO saja, tidak tanggung-tanggung ia


menyewa jasa WO lebih dari satu dengan penangan yang berbeda-beda.


Karena bola api sudah


terlanjur menggelinding, mau tidak mau mereka harus benar-benar melangsungkan


pernikahan, Div tidak tanggung-tanggu, ia bahkan menyiapkan pernikahan itu


dengan begitu besar. Menyewa beberapa stasiun tv lokal untuk menyiarkan secara


langsung pernikahan mereka. bukan karena pernikahan itu istimewa, ia hanya


ingin meredam gossip yang sudah terlanjur beredar tanpa bisa di kendalikan itu.


Dan jika hal itu di biarkan terus berlanjut, bukan tidak mungkin perusahaan


juga akan menanggungnya.


“Terimakasih atas


kesediaan ibu menyiapkan semuanya!”


“Bukan hal yang besar,


lakukan saja yang menurutmu benar, aku hanya akan mendukungnya! Kamu sudah


cukup dewasa untuk menyelesaikan semuanya dengan baik!”


“Iya ibu, Div mengerti


tentang kekhawatiran ibu, Div pasti akan lebih berhati-hati!”


“Aku pergi dulu, kalian


lanjutkan saja makan siangnya!”


Nyonya Ratih


meninggalkan mereka begitu saja. Selama dua jam ini, Ersya tiba-tiba berubah


menjadi pendiam, ia seperti tidak punya kemampuan untuk bicara hanya dengan


mendapat tatapan dari wanita yang baru saja meninggalkan mereka.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2