Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Aku mencintaimu


__ADS_3

Melihat Ersya merajut, Div pun lagi-lagi mendesah, menghela nafasnya. Ia sebenarnya sadar apa yang dia rasakan, mungkin ini yang di namakan cinta tapi ia bingung harus mengungkapkannya bagaimana.


Lagi pula ini untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya hingga ujung nyawa, bukan karena dia tidak cinta hingga tidak mau menyatakannya. Kalau boleh memilih mungkin Div akan lebih memilih menghadapi puluhan penjahat dari pada terjebak dalam urusan hati. Salah ngomong sedikit pasti artinya akan beda, lalu kalimat apa dulu yang tepat yang harus ia katakan.


Pilihan terakhir untuknya adalah browsing, ia harus memilih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Div pun menjauhkan tubuhnya, mengambil kembali tab yang ada di atas nakas di sampingnya tidur.


Ersya yang menyadari tidak ada pergerakan lagi begitu kesal,


Aku kira akan merayuku agar tidak marah, ternyata cuek banget ....., kesel banget gue ..., kayaknya iya deh, dia nggak benar-benar cinta sama gue! Gimana kalau akhirnya nanti dia milih si ulet bulu itu dan bukan gue?


Ingin rasanya Ersya berbalik dan mencakar wajah suaminya itu.


Malang bener hidup gue, setelah di buang suami, sekarang di pungut suami baru tapi cuma jadi baby sitter putrinya!


Ersya terus saja menduga-duga hal yang mungkin akan terjadi kalau dia menyerah sekarang. Ia membayangkan jika tiba-tiba dalam hidup mereka ada istri ke dua, bukan karena ia serakah. Lagi pula siapa yang akan suka punya madu.


Tidak ...., ini tidak bisa di biarkan ..


"Tidaaaak!"


Dengan reflek Ersya berteriak membuat Div yang masih berada di sebelahnya hampir melempar tanya begitu saja.


Ersya sampai terbangun dan dalam posisi duduk,


"Kamu mimpi buruk ya?"


Pertanyaan itu menyadarkannya jika di sampingnya tidur masih ada seseorang, Ersya dengan cepat menoleh ke samping menatap suaminya itu dengan tatapan cemas.


"Ada apa?"


Div yang ikut cemas melihat istrinya segera mengambilkan air putih dalam gelas kaca yang ada di samping tempat tidur, dimana dia mengambil tab miliknya tadi dan menyerahkan gelas itu pada sang istri.


"Minumlah!"


Ersya dengan cepat menyambar gelas itu dan meneguk isi air itu hingga menyisakan setengah, Div kembali mengambil gelas itu dan meletakkan kembali di atas nakas, Div berbalik menatap Ersya kembali,


"Ada apa?" Div begitu cemas.


Ersya menarik tangan Div dan meletakkan di atas dada miliknya,


"Mas, kamu tahu kan aku takut?"


"Hmmm!" Div menganggukkan kepalanya cepat.


"Mas kamu nggak akan nikah lagi kan? Aku nggak akan jadi janda untuk yang ke dua kalinya kan? Kalau kita cerai aku dapat harta Gono gini nggak? Aku nggak usah di bagi harta nggak pa pa deh, asal Divia sama aku ya, mas bebas deh mau nikah sama di Ellen lagi nggak pa pa, mas kan bisa punya anak lagi, Divia sama aku saja!"


Div mengerutkan keningnya, "Kamu ngomong apa sih?"

__ADS_1


Melihat betapa ngaco istrinya, Div pun meletakkan punggung tangannya di depan kening sang istri,


"Nggak panas! Kamu sakit ya?"


Ersya menarik tangan Div hingga terlepas dari keningnya, "Kamu kok gitu sih mas, aku serius! Mas Divta cinta kan sama Ellen? Aku nggak akan halangin kebahagiaan mas Divta tapi aku mohon biar Divia sama aku, dia hidup aku mas!"


"Jadi maksud kamu aku bukan hidup kamu?"


Div kesal dengan ucapan terakhir sang istri, kesannya hanya Divia yang ada di hati wanita itu.


Salah ngomong ya ...., Ersya dengan cepat menutup mulutnya.


"Bukan begitu, kamu juga berarti mas!"


"Kalau aku berarti, terus ngapain mau di kasihkan ke orang lain? Memang kamu pikir aku mau?"


Dia nggak mau? Apa itu artinya dia tidak ...., tanpa sadar bibir Ersya mengulum senyum.


"Jadi mas Div nggak mau?"


"Kalau aku berarti buat kamu, aku nggak mau!"


"Maksudnya mas Div milih aku? Mas Div cinta sama aku?" Ersya benar-benar penasaran dengan perasaan suaminya, menunggu pernyataan cinta suaminya sudah seperti menunggu antrian toilet umum, sudah kebelet antrenya lama.


"Yah ....., kamu mengacaukan semuanya!" keluh Div.


"Aku salah apa lagi sih mas?"


"Lihat ini!"


Div menunjukkan layar tab miliknya pada sang istri, belum juga selesai ia merangkai kata dari cuplikan kata-kata romantis yang ada di laman pencarian, Ersya sudah lebih dulu menebak perasaannya. Rasanya seperti menunggu jerawat meletus sendiri, tapi seseorang malah memencetnya dengan sengaja. Kesel ....


Membaca kata-kata yang di rangkai sang suami yang terlihat baku di layar tab itu membuat Ersya geli sendiri.


Begini banget ternyata, orang yang taunya kerja sampai lupa mengurusi hati .....


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"


Div begitu kesal, ia ingin segera menarik kembali tab nya agar tidak di jadikan bahan tertawaan.


"Tunggu lah mas, aku belum selesai bacanya!"


Ersya kembali menahan tab sang suami dan mengambilnya.


"Aku baca dengan keras ya mas!?"


"Nggak usah di baca dalam hati saja!"

__ADS_1


"Nggak seru!"


"Terserah kamu lah, suka-suka kamu!"


Div menyerah, ia memilih untuk membalik badannya dan menutup kepalanya dengan selimut. Wajahnya sudah memerah di balik selimut itu menahan malu.


Istriku .....


Aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama dirimu, karena ku tahu ada di sampingmu adalah kebahagiaan yang besar untukku.


Akhirnya aku mengerti indahnya cinta, itu semua karena dirimu


Istriku, aku menginginkanmu seutuhnya, selamanya, kamu dan aku, setiap hari.


Cinta bukanlah hal yang ku cari. Tapi, cinta adalah ketika aku bisa menemukanmu dan hidup bersamamu, istriku


Kamu bagian dari diriku yang selalu aku butuhkan. Aku tidak dapat berjanji untuk memperbaiki semua masalahmu, tetapi aku bisa berjanji kamu tidak akan menghadapi semuanya sendirian.


Aku mencintaimu .....


"Ini bagus mas, apalagi kata terakhirnya!" ucap Ersya mengakhirinya dengan memeluk sang suami.


Div tersenyum, ia pun kembali bangkit dan memeluk sang istri,


"Ada lagi yang belum!"


"Apa?"


"Aku dulu bukan orang yang baik, bahkan jauh dari kata baik. Jika nanti kamu menemukan keburukanku di masa lalu, jangan pernah tinggalkan aku, aku pasti akan hancur tanpamu!"


"Aku juga bukan orang yang baik, aku juga punya masa lalu yang kelam tapi kamu mas, orang yang mau menerimaku dengan segala kekuranganku, bahkan aku tidak bisa memberimu keturunan meskipun kamu menginginkannya!"


Itu kesedihan mendalam yang di rasakan oleh Ersya hingga saat ini. Mendengar ucapan Ersya, Div pun segera menarik tubuh Ersya menjauh.


"Tidak bukan seperti itu, ada kenyataan besar yang belum kamu ketahui!"


...Aku dulu bukan orang yang baik, bahkan jauh dari kata baik. Jika nanti kamu menemukan keburukanku di masa lalu, jangan pernah tinggalkan aku, aku pasti akan hancur tanpamu...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @ tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2