
...Siapapun akan dengan mudah mencintai mawar, tapi perlu banyak waktu untuk mencintai daun....
... – Tom Flynn...
...Padahal Daun yang menjaga tumbuhan agar tetap hidup, daun yang menjadikan bunga tetap mekar...
...🌺Selamat membaca🌺...
Kabar mengenai Ersya yang masuk ke rumah sakit ternyata ternyata sampai di telinga nyonya Ratih,
"Apa yang terjadi?" tanyanya pada anak buahnya.
"Nona Ersya hampir tertabrak mobil orang kepercayaan tuan Rendi, nyonya!"
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sekarang masih di rawat di rumah sakit, tapi ada kabar baiknya nyonya!"
"Apa?"
"Nona Ersya ternyata sedang hamil!"
Kali nyonya Ratih pun menarik sudut bibirnya, ada kelegaan tersendiri dalam hidupnya. Akhirnya anak-anak bisa bahagia dengan keluarga barunya.
"Saya akan ke sana, katakan hal itu pada Div!"
"Baik nyonya, saya permisi!' ucap pria itu sambil menundukkan punggungnya memberi hormat. dan mundur beberapa langkah, belum sampai berbalik nyonya Ratih kembali memanggilnya.
"Tunggu sebentar!"
"Iya nyonya?" pria itu mendongakkan kepalanya kembali tapi tetap berada di tempatnya.
"Bagaimana kabar Aruni?"
wajah pria itu terlihat cemas.
"Ada apa?"
"Sepertinya nyonya Aruni merencanakan sesuatu kembali!"
Nyonya Ratih pun menatap pria itu,
"Nyonya Aruni membawa nona Ellen, mantan kekasih tuan Div ke rumah tuan Div tanpa sepengetahuan tuan Div atau nona Ersya!"
"Awasi dia terus!"
"Baik nyonya!"
__ADS_1
Pria itu pun kali ini benar-benar pergi dari hadapan nyonya Ratih. Nyonya Ratih segera berdiri dari duduknya dan menatap ke arah luar jendela, berdiri bersandar jendela kaca besar dengan tangan yang di lipat sempurna di depan dada.
"Aku harus punya rencana yang lebih bagus dari dia!" gumamnya sambil menatap ke langit yang terlihat bersinar cerah.
Setelah beberapa menit, nyonya Ratih pun berbalik dan mengambil tas branded nya yang ada di atas meja berwarna hitam senada dengan dress hitam yang ia kenakan saat ini.
Langkahnya begitu pasti menuruni tangga butik yang sedang ia geluti saat ini. Nyonya Ratih memang sudah tidak mau lagi ikut campur dalam urusan perusahaan, dia sedang ingin menikmati masa tuanya dengan hanya mengurusi butik.
Di depan butik mobilnya sudah siap beserta sopir dan beberapa pengawal pribadinya.
Asisten pribadinya bahkan sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Kita ke rumah sakit!" ucap asisten pribadinya pada sang sopir.
Mobil pun berjalan keluar area butik, hanya lima belas menit saja nyonya Ratih sudah sampai di depan gedung rumah sakit.
Kedatangannya langsung di sambut oleh beberapa anggota rumah sakit yang mengenal nyonya Aruni. Bahkan beberapa staf langsung membungkukkan badannya memberi hormat saat nyonya Ratih lewat di depannya. Hampir semua anggota rumah sakit kenal dengan wanita itu.
Hingga akhirnya langkah nyonya Ratih sampai juga di depan ruang yang menjadi kamar tempat Ersya di rawat.
Pengawal pribadinya sudah siap untuk membukakan pintu.
Div yang memang sudah siap dengan kedatangan nyonya Ratih sudah menyambutnya. Tapi seperti Div tidak memberitahukan hal itu pada Ersya.
"Selamat datang ibu!" sambut Div.
"Hanya tangan saja yang terluka!" ucap Div sambil menunjukkan lengannya yang masih di perban.
"Bagaimana keadaan istrimu?"
Div pun menggeser tubuhnya agar nyonya Ratih bisa melihat sang istri yang tengah tidur meringkuk di atas tempat tidur.
Nyonya Ratih pun berjalan mendekat, memperhatikan Ersya yang tertidur pulas.
"Maaf Bu, saya tidak memberitahu Ersya jika ibu akan datang, soalnya dia mudah panik kalau tahu sesuatu!"
"Tidak masalah, biarkan dia istirahat! Wanita hamil memang harus lebih banyak istirahat!"
"Terimakasih atas pengertian ibu!"
Tapi hal yang tidak di duga ternyata Ersya menggerakkan tubuhnya. Satu jam sudah cukup baginya untuk tidur siang, ia meregangkan tubuhnya seakan tidak ada siapapun di kamar itu.
"Ahhhh, akhirnya!" gumamnya dengan suara serak karena merasakan tubuhnya lebih segar saat ini.
Dasar bayi besarku ...., batin Div yang melihat ulah istrinya.
Buka matanya baby ...., lagi-lagi batin Div yang memperingatkan.
__ADS_1
"Huaaaaaaaahhhhhhh!" Ersya menguap begitu lebar, untungnya walaupun begitu ia masih sempat untuk menutup mulutnya dengan selimut.
Matanya perlahan terbuka, "Apa aku mimpi ya? Perasaan sudah bangun!" gumamnya sambil menepuk pipinya.
Sakit ....
Dengan gerakan cepat Ersya bangun dari tidurnya dengan rambut yang super berantakan khas bangun tidur.
Mati aku ...., batin Ersya.
"Ibu!"
Nyonya Ratih hanya tersenyum melihat kelakuan Ersya, Ersya pun menoleh pada suaminya yang ternyata juga sedang menahan bibirnya agar tidak tertawa.
Dia pasti sengaja, awas aja ya mas!!!! batin Ersya menatap kesal pada suaminya.
"Maaf ibu, saya tidak melihat kedatangan ibu!" ucap Ersya dengan wajah yang terlihat begitu memelas.
"Tidak masalah!"
Hehhh
Ersya bisa bernafas lega saat ternyata nyonya Ratih tidak marah dengan kelakuannya.
"Duduklah ibu!" pinta Div sambil menggeser bangku yang ada di dekat mereka, nyonya Ratih pun duduk sesuai permintaan Div.
"Terimakasih!"
Nyonya Ratih pun duduk, menatap Ersya. Div dengan cepat berdiri di belakang Ersya dan mengikat rambut Ersya setelah sedikit di sisir dengan jari-jari tangannya.
Nyonya Ratih pun membuat daftar apa-apa yang harus di kerjakan dan yang tidak boleh di kerjakan oleh Ersya dalam satu lebar kertas.
Ahhh, ibu ternyata lebih posesif dari mas Div ....
Ersya bahkan sampai menelan Saliva ya berkali-kali melihat catatan yang begitu banyak dari nyonya Ratih.
...Cinta yang sempurna berasal dari dua orang yang tidak sempurna dan mereka tak saling menyerah untuk saling menyempurnakan...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1