
Ersya terbangun dari tidurnya, ia tidak mendapati suaminya di dalam kamar, mata bulatnya menelusuri ke seluruh penjuru kamar. Bulu matanya yang lentik terlihat bergerak naik turun.
"Ahhh, apa aku tidurnya terlalu lama, tadi tidak nyeri kenapa sekarang perutku terasa nyeri?"
Ersya duduk dan memegangi perutnya yang nyeri, "Aku butuh air putih!"
Ia segera menyibak selimut yang entah sejak kapan menyelimuti tubuhnya, ia turun dari tempat tidur dan memakai sandal bulu berwarna pink terlihat begitu girly.
Ia memeriksa gelas yang ada di atas nakasnya,
"Sudah kosong!"
Jari lentiknya mulai mengambil gelas kosong itu membawanya menuju ke arah pintu,
Ceklek
"Tidak ada siapapun!"
Dua pria berbadan besar tadi sudah tidak berdiri di depan kamarnya, Ersya memanfaatkan hal itu untuk pergi ke dapur mengambil beberapa camilan dan air minum. Kebetulan saat ia ingin kembali, Divia baru saja masuk dengan seragam dan tas di punggungnya.
"Mom, aku pulang!"
Ersya meletakan kembali camilan dan air putihnya dan segera menghampiri putrinya itu memberi pelukan hangat,
"Sayang, bagaimana sekolahnya tadi!"
Hanya perlu satu pertanyaan dan gadis kecil itu terus bicara, menceritakan semua kejadian di sekolah mulai dari A sampai Z. Ersya sampai melupakan keinginannya untuk membawa camilan-camilannya ke dalam kamarnya.
Setelah menyiapkan makan siang untuk Divia, Ersya mengajak putrinya itu mainan di dalam kamar agar tidak ketahuan jika dia sudah keluar dari kamar.
Hingga sore hari, pintu itu di buka. Ersya menoleh ke arah pintu dan benar itu suaminya.
“Dari mana mas?”
Pria itu tampak melepas jas lalu duduk di sofa dan melepas sepatunya,
“Menangkap rubah jantan!”
“Hahhh?”
Ersya tidak paham dengan ucapan suaminya, Divia juga tampak memperhatikan percakapan kedua orang
tuanya itu,
“Yubah jantan itu
cepelti apa, Dad?”
Div yang sudah selesai melepas sepatunya kembali berdiri dan ikut duduk bersama mereka di atas tempat tidur, “kalian sedang mainan apa?”
“kebiasaan deh daddy,
kalau di tanya bukannya jawab dengan jawaban malah di balas dengan peltanyaan
lagi!” protes Divia.
“Maaf, daddy lupa!”
ucap Div sambil mengusap kepala putrinya itu.
“Jadi rubah jantan itu sama menakutkannya dengan rubah betina, dia suka manis di depan ternyata pahit di belakang. Jadi nanti saat kamu sudah dewasa, hati-hati sama yang begituan,
dia lebih jahat dari musuh yang terlihat di depan!”
Divia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali, seolah-olah di paham dengan yang di katakan oleh daddynya.
“Sudah sore sayang, mandi lalu kita makan malam bersama!” perintah Ersya.
__ADS_1
“Baik mom, tapi nanti kita lanjutkan lagi mainnya ya mom!”
“Siap putri kecil ku!”
Divia segera keluar dari kamar itu di temani oleh baby sitter nya. Ersya segera membereskan mainan yang berserakan di atas tempat tidur itu. mainan make up milik Divia, Ersya menyimpannya kembali di lemari mainan yang ada di dekat meja rias miliknya.
“Sejak kapan itu menjadi tempat mainan?” protes Div sambil melepaskan kancing kemejanya. Karena seingatnya lemari itu sengaja ia tempatkan di situ untuk meletakkan beberapa berkas miliknya.
Ersya segera berdiri dan menoleh pada sumber suara,
“Sejak kamar ini menjadi kamarku juga!”
“Lalu_?”
“berkasmu sudah aku
simpan di tempat yang lebih aman!” ucap Ersya sambil menunjuk sebuah laci yang
berada di rak buku milik Div di belakang meja kerjanya,
“Lagian berkas penting jangan di simpan di bawah, anak kecil biasanya sangat suka bermain kertas, jadi aku pindahkan di
atas!”
Ersya menghampiri Div
dan membantunya melepas kancing kemejanya,
“Siapa rubah jantan?”
tanya Ersya dengan tangan manarik kemeja Divta.
Div tersenyum smirt, ia
melepas tangan Ersya dari kemejanya, “Penasaran sekali!”
“Chhh, apa bedanya ingin tahu sama penasaran!”
Div merogoh saku celananya, ia mengeluarkan dua buah ponsel, satu miliknya dan satu lagi milik
Ersya.
“Jawabannya ada di sini!” ucapnya sambil menunjukkan ponselnya sendiri. “Setelah kamu mendengarkan ini, kamu bisa ambil ponselmu dan lakukan sesukamu!”
Div menyerahkan ponselnya yang sudah berada di mode rekam pada Ersya, lalu meletakkan ponsel Ersya di atas nakas.
“Aku gerah mau mandi dulu, kalau sudah cas ponselku karena baterainya mau habis!”
Div meninggalkan Ersya,
ia menuju ke kamar mandi. Sedangkan Ersya yang begitu penasaran dengan isi rekaman itu. ia segera duduk di sofa dan mendengarkan isi rekaman itu, ia
wajahnya berubah kesal mendengarnya sekaligus lega.
“Untuk ke sekian kalinya,
mas Rizal bohongi aku!”
Sayangnya Div sudah
lebih dulu mematikan rekaman itu sebelum ia menghampiri mereka sehingga Ersya
kehilangan rahasia terbesarnya.
Ersya beralih melihat
ponselnya, ada banyak sekali panggilan dari nomor Rizal. Dan dia sekarang merasa bersyukur dengan hukuman yang di belikan oleh suaminya. Setidaknya ia
__ADS_1
tidak meras bodoh sekarang.
Ceklekk
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Div dengan tubuh basah dan handuk yang hanya melilit bagian bawah tubuhnya. Ersya dengan cepat berdiri dan berlari memeluk pria itu.
Srekkkk
“Ada apa?”
“Terimakasih ya mas!”
“Untuk apa?”
Ersya kembali melepas
pelukannya dan tersenyum, “Karena mas Divta sudah membantu Ersya terlepas dari
rubah jantan!”
“Oh itu!” jawab Div dingin tanpa ada embel-embel kata lainnya yang di harapkan Ersya keluar dari bibir pria itu.
“Cuma kayak gitu doing tanggapannya?”
Srekkk
Tiba-tiba Div menarik
pinggang Ersya ke dalam pelukannya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Ersya,
“Bukan begitu caranya berterimakasih. Lakukan terimakasih yang benar nanti setelah tamu bulananmu itu pergi!”
"Jadi sekarang tidak mau menciumku?" pertanyaan Ersya seketika menjadi puncak kemenangan bagi Divta.
Ia memiringkan senyummya, "Siapa takut!"
Cup
Bibir tebal itu dengan cepat mendarat di bibir tipis Ersya, menyesapnya dengan kelembutan, Ersya mengalungkan tangan di leher pria itu, membalas ciuman hangat itu.
Tapi tiba-tiba Divta melepaskan tautan bibir mereka membuat Ersya terdiam,
"Ada apa?"
"Belum saatnya, siapa nanti yang tanggung jawab kalau juniorku minta jatah!"
Ersya kembali tersenyum, "Dasar mesum!"
"Lain kali aku pasti tidak akan mengampuni mu!"
He he he .....
Terlihat sekali jika pria itu sedang sangat menahan,
"Lepaskan tanganmu, biar aku pakai bajuku!"
"Lain kali tidak akan aku biarkan kau memakai bajumu!" ucap Ersya menimpali sambil melepas kan tangannya dari leher pria itu. Div segera berlalu menuju ke ruang ganti sedangkan Ersya menahan senyumnya.
...Ada hal yang tidak bisa di rubah yaitu jodoh, mungkin saat itu orang lain sedang menjagaku untuk mu dan sekarang aku mau kamu yang menjagaku seumur hidup aku...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰