
Hingga sebuah panggilan membuatnya menghentikan kegiatannya. Ia begitu mengenal suara itu.
Kim .....
Walaupun belum melihat sumber suara itu, tapi Divia sudah sangat yakin itu suara Kim. Divia dengan ragu membalik badannya, ia berharap bisa menghindar dari pria itu untuk saat ini, walaupun sebenarnya ia begitu merindukan pria itu.
"Vi, ini beneran kamu kan?"
Divia masih enggan untuk menoleh, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
Karena Divia tidak juga menoleh, Kim pun berniat untuk menarik tangannya tapi suara seseorang menghentikannya. Tangannya sudah melayang di udara tapi segera ia urungkan kembali.
"Nak, gimana? Punya ayah sudah kamu ambilkan?" ayah Rendi ternyata juga tengah berjalan menghampirinya.
Mati aku .....
Divia benar-benar tidak bisa bergerak dari tempatnya.
Kim yang sudah mengenal suara Rendi segera menoleh ke sumber suara, ia juga kembali memasukkan tangannya ke kantong celana dan memundurkan langkahnya memberi jarak antara dirinya dan Divia.
Ayah Rendi tidak terkejut saat melihat Kim juga di sana, karena memang Kim termasuk undangan itu,
"Mr Kim!?" sapa ayah Rendi. dan Kim pun sekarang mulai tahu situasinya.
Jadi Mr Rendi, ayah Divia ..., itulah kenapa Divia seolah-olah tidak mengenalnya.
"Iya, kita bertemu kembali Mr Rendi!"
Divia tidak punya pilihan lain selain membalik badannya. Ia bisa melihat Kim yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Kenalkan ini putri saya, Divia!" Rendi segera merangkul bahu Divia.
Tapi sejurus kemudian Mr Kim mengulurkan tangannya,
"Salam kenal nona Divua, saya Kim yang kebetulan memiliki kerja sama dengan ayah nona!"
__ADS_1
Divia dengan ragu menyambut uluran tangan Kim, rasanya menjadi begitu aneh saat bertemu dalam keadaan yang seperti ini.
"Vi, maksudnya Divia!"
Maafkan aku Kim, aku nggak ada maksud buat bohong sama kamu, hanya saja aku belum ada waktu buat bicara ini ....
Kim akhirnya tahu siapa Divia yang sebenarnya, dia bukan gadis biasa seperti yang ia kenal, dia juga seorang putri dari penguasaan besar bahan bisa di bilang lebih besar dari perusahaan yang ia miliki saat ini.
"Mr, nona_!" Lee yang baru saja datang hampir saja memanggil Divia dengan panggilan biasanya, beruntung Kim dengan cepat memotong ucapannya.
"Ini nona Divia, putri Mr Rendi!" ucap Kim membuat Lee mengerti.
"Selamat malam nona!" akhirnya Lee hanya bisa mengucapkan itu, beruntung ia langsung faham dengan ucapan kim.
"Kalau begitu silahkan nikmati waktunya, kami akan menemui yang lainnya!" ucap Kim lagi, ia merasa kesal karena telah di bohongi oleh Divia selama ini, tapi ia benar-benar tidak bisa membenci Divia.
"Silahkan!" ucap Rendi, tapi bukan ini yang Rendi inginkan. Ia ingin tahu apa hubungan Divia dengan Mr Kim. Tapi saat ini keduanya tampak seperti dua orang asing yang tidak saling kenal.
Apa aku hanya terlalu mengkhawatirkan Divia saja? Tapi bukti nomor itu dan apartemen itu atas nama Mr Kim ...., Rendi masih belum menyerah. Semuanya seakan jelas sebelumnya tapi melihat sikap mereka membuat Divia bertanya-tanya.
"Vi, apa kamu kenal mereka?" itu adalah pertanyaan memancing yang dilakukan oleh Rendi.
"Kenapa ayah bertanya seperti itu?"
"Tidak pa pa, hanya .saja siapa tahu kalian saling kenal!"
Divia baru sadar jika masih ada ayahnya di sana, "Ahhh tidak yah, mana mungkin!"
"Tapi pacar Mr Kim tinggal di apartemen yang sama dengan tempat kamu tinggal, pasti kalian juga setidaknya pernah bertemu atau mungkin bertukar nomor telpon?!"
"Benarkah?" Divia pura-pura terkejut, "Ayah tahu dari mana?" ia jadi khawatir jika ternyata ayahnya sudah tahu semuanya.
"Pas ke apartemen kamu, ayah sempat ketemu dengan Mr Kim di sana, katanya sedang mengunjungi pacarnya!"
"Ohhh ....!"
__ADS_1
Jadi waktu itu ayah dan Kim sempat bertemu lagi .....
Melihat kedua piring yang sudah terisi makanan, Rendi pun segera mengambil piring yang ada di tangan Divia,
"Ayo kita makan!"
"Ayo!"
Akhirnya Divia dan ayah Rendi memilih salah tahu meja dan mulai menikmati jamuan makan malamnya.
Entah kebetulan atau memang di sengaja, Kim dan Lee juga duduk di samping meja tempat Divia duduk, sesekali mereka saling curi pandang tapi tidak ada yang berani untuk menyapa satu sama lain.
"Mr Kim, kenapa kita tidak bergabung saja!" ucap Rendi saat menyadari Kim dan Lee ada di meja sebelah mereka.
"Apa tidak masalah?" tanya Kim tapi tatapnya tetap tertuju pada Divia dan Divia pun dengan cepat menundukkan pandangannya. Ia seperti kucing yang tertangkap basah, menjadi sangat manis dan pendiam.
"Tidak masalah, sekalian kita bisa membahas beberapa pekerjaan sebelum saya kembali ke Jakarta!"
"Baiklah kalau begitu!" karena Rendi terus memaksa akhirnya mereka bergabung. Kik tepat duduk di depan Divia, mereka hanya terpisahkan sebuah meja berbentuk lingkaran.
kenapa selama ini aku tidak sadar jika ayah Vi ternyata Mr Rendi, seharusnya aku sadar sejak awal kami bertemu ...., Kim terus menatap Divia walaupun saat ini Rendi sedang membahas masalah perusahaan.
Terpaksa Lee beberapa kali harus menyadarkan Kim dan membantu Kim menanggapi apa yang di bicarakan oleh Rendi.
Sampai acara berakhir pun mereka tidak ada yang berani menyapa, mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal. Lee pun juga melakukan hal yang sama karena instruksi Mr Kim.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1