
Kini Divia sudah berada di depan gedung yang menjadi tempat bekerja Mr Kim. Ini untuk kedua kalinya ia masuk ke dalam gedung itu.
"Aku masih ingat tempatnya!"
Beberapa karyawan sepertinya sudah hafal dengan wajah Divia. Terlihat beberapa mereka menyapa dan memberi hormat pada Divia.
Divia pun mulai berjalan memasuki lift dan menuju ke lantai tempat Kim bekerja.
Hingga sampailah di depan ruangan dengan pintu yang cukup besar, seorang wanita duduk di depan ruangan itu,
"Selamat siang!" sap Divia sebelum masuk membuat wanita yang mulanya fokus dengan layar yang ada di depannya segera berdiri dan menjawab sapaan Divia.
"Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa Mr Kim ada di ruangannya?"
"Mr Kim masih ada meeting di luar, tapi sepertinya satu jam lagi akan kembali!"
Hehhh, masih lama .....
"Apa boleh saya menunggu di sini?"
"Apa saya tanya dulu dengan Mr Lee?" tanya wanita itu lagi.
"Tidak perlu, kalau begitu saya akan menunggunya di sini saja!" Divia menunjuk bangku tunggu yang ada di depan ruangan itu, bagaimanapun ia tidak bisa memaksakan diri untuk masuk ke ruangan itu, ia harus menghormati setiap peraturan di sana.
"Baik nona, silahkan!"
Divia pun berjalan ke kursi yang berjajar di sana, sedangkan wanita itu kembali fokus dengan pekerjaannya.
Sambil mengusir rasa bosannya, Divia memilih untuk menggerakkan tubuhnya dengan melakukan beberapa gerakan senam tapi ternyata hal itu menggangu wanita yang tengah sibuk bekerja itu,
"Maaf, maaf ...!" Divia segera kembali duduk. Ia yang tidak terbiasa diam itu akhirnya hanya bisa duduk menunggu.
Bukankah aku membawa aerophone ...., ia segara mengeluarkan benda kecil itu dari dalam tasnya, setidaknya ia bisa sedikit mengusir rasa bosannya dengan mendengarkan musik dari dalam ponselnya.
Bahkan hanya sekedar anggukan kepala pun bisa mengusik wanita yang tengah konsentrasi itu,
Aku mengganggu lagi ya ....
Divia pun memilih untuk diam, ini sudah hampir dua jam dan pria yang di tunggunya tidak juga datang.
Divia segara mendekati wanita itu lagi, "Nona, ini sudah dua jam. Apa Mr Kim belum akan kembali?"
"Maaf nona, saya punya banyak pekerjaan, saya tidak bisa menanyakan banyak hal pada Mr Kim hanya karena nona!" terlihat wanita itu begitu kesal dengan keberadaan Divia di sana, apalagi Divia terus saja bertanya padanya.
__ADS_1
"Baiklah, maafkan saya!" baru saja Divia akan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba bahunya sudah di tahan oleh seseorang, Divia segera menoleh ke belakang dan melihat siapa yang tengah menahan bahunya.
"Kim!?"
Ternyata Mr Kim sudah datang bersama dengan sekretaris Lee. Mr Kim sedang menatap wanita itu dengan penuh kemarahan.
"Di lain waktu, saya harap kamu tidak akan pernah berlaku tidak sopan lagi padanya, jika dia yang datang langsung minta dia untuk masuk dan siapkan pelayanan terbaik!" ucap Kim dengan nada marahnya pada wanita yang sudah memarahi divia.
Wanita itu kini hanya bisa menunduk, "Maafkan saya Mr, saya tidak akan mengulanginya lagi!"
"Bukan pada saya, tapi pada dia!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Divia.
"Saya sungguh minta maaf nona! Saya tidak tahu jika nona_!"
"Tidak!" Divia sampai mengibaskan tangannya beberapa kali, "Tidak pa pa, sungguh!"
"Ayo masuk!" mr Kim segera menarik tangan Divia untuk masuk ke dalam ruangannya menyisakan sekretaris Lee dan wanita itu.
Hehhhh ......
Wanita itu segera menghela nafas lega, setidaknya ia tidak sampai di pecat. Tapi kemudian dia teringat sesuatu, ia segera menoleh pada sekretaris Lee yang masih berada di tempatnya,
"Mr Lee, siapa sebenarnya wanita itu?" ternyata sikap istimewa yang di berikan oleh Mr Kim mengundang penasaran wanita itu.
Mr Lee segera melipat lengannya di depan dada dan sedikit mencondongkan tubuhnya pada wanita itu, "Asal kamu tahu wanita yang baru saja masuk bersama mr Kim adalah calon istrinya!"
Lee segera beranjak dari tempat itu sedangkan wanita itu masih saja terdiam dengan perasaan terkejutnya.
"Ya ampun, aku hampir saja kehabisan nafas karena hal ini ....!"
***
Di dalam ruangan itu tampak Kim meminta Divia untuk duduk di tempatnya sedangkan Mr Kim menyandarkan bokongnya di meja yang ada di depan Divia sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa ke sini?"
"Memang aku nggak boleh ke sini?" Divia malah bertanya balik padanya, tidak seperti para karyawannya yang akan langsung menunduk saat melihat tatapan dingin dari Mr Kim.
Sepertinya nyali Divia terlalu besar hingga ia sama sekali tidak gentar dengan tatapan Mr Kim.
"Kenapa tidak menghubungiku?"
"Memang sengaja!"
"Bisa tidak jangan keras kepala!" akhirnya Mr Kim sendiri yang menyerah, ia segera beranjak dari tempatnya dan memutari meja itu, duduk di kursi yang ada di balik meja.
__ADS_1
"Kim, aku cuma mau minta maaf!" Divia akhirnya mengatakan maksudnya datang ke kantor Mr Kim.
"Hmmm, lalu?" Kim malah menatapnya dengan tatapan dingin membuat Divia salah tingkah di buatnya.
Divia segera berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke meja Kim, "Kamu tidak tanya aku minta maaf soal apa?"
Kim sepertinya tidak mau kalah, ia memang tidak menggeser duduknya hanya sedikit mencondongkan punggungnya ke depan agar bisa lebih dekat dekat wajah Divia,
"Memang perlu?"
Hahhh, kenapa dia malah ikut-ikutan, aku kan jadi grogi ...., batin Divia saat wajah mereka menjadi cukup dekat dan ia bisa melihat dengan jelas wajah Kim.
"Ya sangat perlu dong!" Divia memilih kembali duduk dari pada semakin salah tingkah, ia duduk dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan punggung yang bersandar pada sandaran kursi,
"Kalau kamu nggak mau tanya, aku juga nggak jadi minta maafnya!"
"Dasar egois!" gumam Kim tapi masih bisa di dengar oleh Divia membuat Divia tersenyum karena merasa menang kali ini.
"Katakan!"
Akhirnya ....., Divia akhirnya benar-benar menang sekarang.
"Aku minta maaf karena sudah menyalahkan kamu tentang Dee, aku pikir kamu ayahnya Dee!"
Kim meletakkan bolpoinnya dan menatap Divia tidak percaya,
"Jadi menurutmu aku sudah pantas jadi ayah anak satu?"
"Hmmmm, sangat!"
"Issstttt!" padahal bukan itu yang ingin Kim dengar saat ini. Kim mulai melanjutkan pekerjaannya, ia merasa kesal dengan alasan Divia.
Memang aku salah bicara lagi? Aku kan sudah sangat baik meminta maaf ....
Divia menatap pria dingin itu tidak percaya, ia bahkan tidak tahu bagaimana cara bicara dengannya lagi.
Karena terlalu bosan, Divia pun memilih untuk pindah duduk di sofa, ia ingin menunggu hingga pria itu selesai bekerja baru bicara kembali.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...