Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Pelelangan


__ADS_3

"Sampai jumpa saat makan siang!" ucap Div sambil melambaikan tangannya dan melaju bersama mobilnya.


Ersya pun mengajak Divia masuk ke dalam sekolah setelah berpamitan.


Ersya menggandeng tangan Divia hingga sampai di depan kelas.


"Hanya boleh sampai sini saya, Divia berani kan masuk sendiri?"


"Beyani mom!"


"Bagus anak pintar, belajar yang tenang ya, mom di sini! Semangat!" Ersya menyemangati putrinya itu dengan mengangkat tangannya dan mengepalkan di depan dada.


Divia pun masuk ke dalam kelasnya dan membaur dengan anak-anak yang lain.


Karena Divia anak baru di kelasnya, guru Divia memintanya untuk berkenalan di depan kelas sebelum memulai pelajaran.


🍀🍀🍀


Siang ini, waktu pulang sekolah untuk Divia. Sebuah mobil sudah menunggu mereka di depan.


"Maaf nyonya, pak Div meminta saya menjemput nyonya!" ucap seorang supir yang sudah menunggu mereka di samping mobil.


"Daddy baik cekayi cama mom, daddy pasti cayang cama mom Echa!"


"Bukan sama mom, tapi sama Iyya!"


"Nggak, tadi teman-teman Iyya biyang layao daddy Iyya cayang banget cama mom!"


"Begitu ya? Tapi sayangnya mom cuma buat Iyya! Baiklah kita naik ya!"


Ersya membantu Divia naik mobil itu.


"Kita langsung pulang saja pak!"


"Maaf nyonya, tapi pak Div meminta saya mengantar nyonya dan nona Divia ke kantor!"


"Kenapa?"


"Nanti nyonya bisa tanyakan langsung sama pak Div!"


"Baiklah!"


Mobil pun melaju menuju ke kantor cabang finityGroup yang di pagang langsung oleh Div.


Setelah tujuh menit akhirnya mereka akhirnya sampai juga di kantor.


Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Div.


"Sayang ...., daddy merindukanmu!" ucap Div sambil membawa Divia ke dalam gendongannya.


"Pasti daddy yimdunya cama mom, Iya kan dadd?"


Div hanya menoleh pada wanita yang ada di sampingnya itu dan langsung mendapat tatapan membunuh darinya. Sepertinya wanita itu sangat dendam dengan ulahnya tadi pagi.


Issstttttt ...., dasar pendendam ....


Div pun segera mengajak mereka ke ruangannya, Ersya begitu terkejut saat melihat ada yang berbeda dengan ruangan itu.


Dapur ....


Ya, di dalam ruangan itu sekarang ada ruangan khusus berupa dapur yang di pisahkan oleh sebuah pembatas transparan.


"Kenapa ada dapur di sini?" tanya Ersya.


Div menurunkan Divia di sofa lalu menoleh ke arah Ersya yang sudah masuk ke dapurnya.


"Itu saya buat khusus untuk kamu!"


"Aku?" Ersya menunjuk dirinya sendiri tidak percaya.


"Sudah aku bilang kan kemarin, kalau aku nggak ada waktu buat cari makan siang di tempat makan atau di kantin, jadi dari pada buang-buang waktu kamu bisa memasak untuk makan siang di situ sambil menungguku selesai bekerja!"


"Jadi maksudnya aku memasak di sini?"

__ADS_1


"Iya, di lemari pendingin itu juga sudah lengkap seluruh bahan masakannya!"


Ersya menatap tidak percaya pada pria yang sudah menikahinya itu,


"Terimakasih banyak, anda terlalu repot tuan Div!" ucap Ersya dan ia pun mulai beraksi di balik meja dapur itu.


Ha ha ha ha ....


Divia dan daddy nya begitu kompak menertawakan kelakuan mommy nya.


"Ayo mom, kami sudah lapar!" ucap Div yang di buat-buat seperti anak kecil membuat Ersya bertambah kesal.


"Lakukan sekali lagi dan centong sayur ini pasti akan melayang ke kepalamu!"


🍀🍀🍀


Hari ini adalah hari pelelangan rumah Ersya dan Rizal. Ersya sengaja mengantarkan Divia terlebih dulu ke sekolah nya.


Sebenarnya Div tahu tapi dia seperti nya lebih suka pura-pura tidak tahu.


"Sayang ...., ingat nanti jangan kemana-mana dulu sebelum mom menjemput Iyya kembali, mengerti!"


"Iya mom!"


"Telpon mom kalau ada sesuatu!"


Divia mengangguk kan kepalanya, ia sebenarnya begitu khawatir meninggalkan Divia sendiri di sekolah, tapi dia harus mengikuti acara pelelangan juga.


Ersya pun memesan taksi dan segera ke rumah lamanya.


Di sana sudah sangat ramai dengan peserta pelelangan. Rizal sudah menunggunya di sana.


"Hai Sya!" sapanya saat Ersya memasuki rumah itu, ruang tamu rumah itu sekarang sudah di sulap menjadi sebuh ruang pelelangan dengan banyak kursi.


"Hai mas Rizal!"


"Masih ada waktu Sya, sampai rumah ini belum terlepas dari tangan kita!"


"Tapi menurut saya mas, waktu kita sudah habis sampai hari jaksa memukul palu perceraian kita!"


"Tapi maaf mas, cintaku sudah bukan buat mas Rizal lagi!"


"Kamu hanya pura-pura cinta sama dia Sya!"


Hehhhh


Ersya menghela nafasnya, "Apapun yang mas Rizal katakan hari ini tidak akan mengubah apapun, saya rasa acaranya sudah harus di mulai karena saya tidak punya banyak waktu!"


Ersya pun berjalan dan menghampiri orang yang akan memimpin jalannya pelelangan.


"Sudah siap di mulai kan?"


"Sudah bu!"


"Kalai begitu mulai saja sekarang!"


"Baik!"


Pria itu pun segera mengambil mikrofonnya dan membuka acara.


Saat ini Ersya dan Rizal sudah duduk di depan di dampingi oleh pengacara masing-masing.


"Baiklah, kita mulai saja acara pelelangan hari ini, kami buka harga dari dua ratus juta!"


Beberapa peserta pelelangan mengangkat tangannya.


"Dua ratus lima!"


"Dua ratus sepuluh juta!"


"Dua ratus lima belas juta!"


"Dua ratus dua puluh juta!"

__ADS_1


"Dua ratus tiga puluh juta!"


"Dua ratus empat puluh juta!"


"Dua ratus lima puluh juta!"


"Dua ratus tujuh puluh juta!"


"Tiga ratus juta!" suara seseorang di belakang berhasil mencuri perhatian Rizal dan Ersya.


"Div!" gumam Ersya.


"Tuan Div!" gumam Rizal.


"Ayo harga bertahan di tiga ratus juta, saya hitung sampai tiga.


Tiga ratus juta satu!


Tiga ratus juta dua!


"Tiga ratus juta_!" ucapanya menggantung saat ada seseorang menghentikannya.


"Tiga ratus dua puluh juta!"


"Tiga ratus dua puluh juta, masih bertahan di harga tiga ratus dua puluh juta!"


Div mengangkat tangannya lagi,


"Lima ratus juta!"


Harga itu bertahan hingga begitu lama dan akhirnya tidak ada yang berhasil mengungguli harga yang di tawarkan oleh Div.


"Baik keputusan akhir, rumah ini jatuh ke tangan tuan Pradivta Anugra putra!"


Ersya pun segera menghampiri Div.


"Div ...!"


Belum sampai Div bicara, pemimpin pelelangan pun menghampiri Div dan memberinya selamat.


"Selamat pak Div!"


"Terimakasih!"


Rizal hanya bisa melihat mereka dari jauh. Stelah pria itu kembali pergi, Ersya pun kembali bicara.


"Maksudnya apa sih Div?"


"Bukan apa-apa! Apa aku tidak boleh ikut pelelangan ini? Kayaknya nggak ada kriteria khusus dalam pelelangan ini!"


"Tapi buat apa coba?"


"Nanti kamu juag tahu!"


Bersambung


NB :


Hallo semua, ada yang baru nih dari author. Author sendang mengikuti tantangan menulis dari noveltoon yaitu adaptasi komik menjadi novel. Komiknya berjudul Nona melawan dengan tuan muda.


Jadi novelnya juga aku buat judul sama sesuai permintaan noveltoon ya, tapi nam tokohnya sama pihak noveltoon suruh ganti, jadi aku ganti ya


Bisa di favorit nih sekarang juga. Kalau ada kesamaan alur, memang tuntutan dari sononya ya



*ini dia ...., di depan udah aku cantumkan kalau ini adaptasi komik ya,


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2