Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (58. Makan malam)


__ADS_3

Malam yang di tunggu pun akhirnya datang, Divia sudah begitu cantik dengan gaun yang di belikan oleh ayah Rendi. Memang tertutup tapi tampak begitu anggun di tubuh Divia,


Rendi tersenyum melihat Divia yang begitu cantik dengan gaun yang ia pilih. Tapi hatinya juga was-was dengan apa yang baru saja ia ketahui.


"Ayah, kenapa melamun?" pertanyaan Divia berhasil membuat Rendi tersadar dari lamunannya. Rendi segera tersenyum kembali dan mengusap kepala Divia,


"Putri ayah sudah besar rupanya! Kamu cantik!"


"Iya dong yah!"


"Vi, apa ada yang belum kmu ceritakan sama ayah?"


"Maksud ayah?" Divia mengerutkan keningnya.


"Misalnya seorang pria?"


Divia mengerutkan keningnya, 'Apa ayah telah tahu sesuatu?' batin Divia jadi merasa khawatir.


"Seorang pria ya?"


"Siapa tahu jika ayah melewatkan sesuatu di sini!" ucapnya lagi membuat Divia semakin panik di buatnya.


"Nggak ada ayah, sungguh!"


"Baguslah, ayah harap kamu bisa menjaga kepercayaan semua orang!"


"Pasti, Divia juga nggak mau membuat mama, Daddy, mommy, ayah, bunda, semuanya kecewa!"


"Ayah bangga sama kamu!"


"Terimakasih ayah!" Divia segera memeluk sang ayah dari samping, mengandalkan kepalanya di dada sang ayah. 'Maafkan aku ayah, Vi hanya belum siap saja mengatakan semuanya'


"Bagaimana, sudah siap?" pertanyaan sang ayah kembali mengingatkannya, dan Divia pun segera melepas pelukannya.


"Vi ambil tas Vi dulu ya yah, di dalam!"


"Hmm!"


Divia segera kembali ke meja rias dan mengambil tasnya.


Di bawah seorang sopir sudah menunggu mereka dan siap mengantar ke tempat di diadakannya acara.

__ADS_1


Selama beberapa hari ini memang divia menginap di tempat ayahnya. Ia sengaja melakukan itu agar untuk sementara tidak bertemu dengan Kim.


Walaupun berat, tapi ia harus melakukannya demi hubungannya dengan Kim.


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga di depan sebuah gedung dengan lampu-lampu hias yang menghiasi setiap sudut tempat itu.


Wajah Divia berubah khawatir, ia sudah bisa membayangkan berapa banyak orang yang ada di dalam ruangan itu. Ia benar-benar lupa jika mungkin Kim juga berada di sana.


"Ramai sekali yah?"


Tampak beberapa tamu sudah datang, Vi pikir hanya ayah dan beberapa orang saja tapi rupanya ini acara makan malam yang cukup besar.


"Ya ini tidak seberapa, hanya beberapa saja yang ayah ketahui karena sebagian lagi ada acara peresmian di tempat lain yang di hadiri oleh Ajun!"


"Tapi ini banyak sekali yang datang yah!" Divia sudah mulai khawatir, ia langsung kepikiran dengan Kim, bisa jadi salah satu dari mereka adalah Kim.


"Tidak pa pa, lagi pula nanti kamu bisa bertukar pikiran dengan beberapa pebisnis besar di Korea datang! Lagi pula sebentar lagi kamu kan akan ada magang kerja, nanti sekalian ayah akan rekomendasikan kamu!"


Pengusaha besar Korea, apa itu termasuk Kim ....


"Kenapa? Ada masalah?" melihat wajah cemas dari Divia, ayah Rendi pun segera memastikannya. Ia khawatir Divia merasa tidak nyaman di sana.


Divia segara menggelengkan kepalanya, "Enggak yah, Divia kirim pesan dulu sama Yura ya yah, tadi lupa mau kasih tahu Yura kalau aku nggak bisa belajar sama dia!"


Divia dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan tapi bukan kepada Yura melainkan kepada Kim.


//Kim, apa kamu sedang ada acara? Aku harap kamu tidak jadi pergi karena aku tidak bisa menemanimu? Seger jawab pesanku ya//


Tapi cukup lama Divia menunggu, tapi tidak juga mendapat pesanan balasan.


Ya ampun Kim ...., kemana sih kamu ...


"Vi, ada masalah?" Divia dengan cepat menyimpan kembali ponselnya mendengar pertanyaan dari sang ayah.


"Tidak yah!"


"Tapi kamu tampak berkeringat, apa kamu sakit?"


"Tidak, sungguh!"


"Benarkah? Kamu tidak pusing atau merasa sesak kan?" Rendi masih saja kerap mencemaskan kesehatan Divia, ya walaupun sudah di nyatakan sembuh tetap saja daya tahan tubuhnya tidak sebaik kebanyakan orang membuat beberapa orang terdekat Divia memiliki perhatian lebih terhadapnya.

__ADS_1


"Enggak yah, Divia sehat. Jangan khawatirkan Divia!"


"Baiklah, kalau begitu kita masuk sekarang?"


Semoga Kim tidak berada di dalam sana ...., batin Divia untuk menghilangkan rasa cemasnya.


"Hmmm!"


Divia pun mengandeng tangan sang ayah, bersiap untuk masuk.


Beberapa orang langsung menyambut kedatangan mereka. Beberapa dari mereka juga menyempatkan diri untuk bertanya hanya untuk sekedar basa-basi.


Ternyata nama Rendi juga cukup di segani di Korea, bukan hanya nama Rendi tapi nama besar finityGroup.


Jika sudah membahas masalah finityGroup, mereka akan langsung tertuju pada tiga singa besar finityGroup. Agra, Rendi dan Divta, ketiga putra yang memiliki pengaruh besar di dunia bisnis sedangkan dokter Frans lebih memilih fokus pada rumah sakitnya, tapi nama nya juga tidak kalah besarnya dengan ketiga sahabat sekaligus saudaranya itu.


Walaupun Rendi sudah memilih bidang pengamanan tapi tetap saja beberapa kali ia harus ikut turun tangan di bidang bisnis saat Agra atau pun Divta membutuhkannya.


Karena sekarang pasukan keamanan yang berada di bawah didikannya cukup di perhitungannya di beberapa negara.


Jadi untuk beberapa pengusaha memilih intim berdamai dengan Rendi dan kawan-kawan ketimbang melawannya.


"Ayah ke sana dulu ya, itu sepertinya ayah kenal, kamu cari makanan dulu nanti ayah akan menyusul, sekalian carikan makanan buat ayah!"


"Siap ayah!"


Ayah Rendi pun segera menemui orang yang ia kenal sedangkan Divia memilih menuju ke tempat berbagi makanan yang tersaji di sana, ia mengambil dua piring sekaligus dan memilih makanan yang menurutnya ayahnya akan suka.


"Vi!?"


Hingga sebuah panggilan membuatnya menghentikan kegiatannya. Ia begitu mengenal suara itu.


Kim .....


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2