
Pagi ini Ersya sengaja mengantar Divia sendiri karena Div harus berangkat pagi-pagi sekali karena beberapa pekerjaan sedikit tertunda akibat ulahnya kemarin.
Hari ini Div harus lebih banyak melakukan pekerjaan, apalagi ada pekerjaan lain yang harus ia lakukan untuk merencanakan bulan madu.
"Mom tinggal nggak pa pa ya sayang?!" ucap Ersya sambil mengusap kedua pipi putri kecilnya itu.
"Memang mom mau ke mana?"
"Mau mau menemui tante Fe sebentar, soalnya besok tante Fe mau pergi ke kampung!"
"Tapi jangan lama-lama ya mom!"
"Tidak sayang, sudah sana! Bye ...!"
Ersya melambaikan tangannya saat Divia masuk ke dalam kelas, ia sudah janji bertemu di rumah orang tua Felic.
"Kita ke alamat ini ya pak!" ucap Ersya sambil menunjukkan alamat pada sopir pribadinya.
"Siap nyonya!"
Mobil itu segera melaju meninggalkan sekolah Divia. Ersya duduk di bangku belakang, jarak rumah orang tua Felic dengan sekolah Divia lumayan jauh, dia membutuhkan sekitar setengah jam untuk sampai di sana.
Pikirannya kembali kejadian tadi pagi, ia merasa begitu bimbang dengan perasaannya saat ini.
Flashback on
Sama-sama ia bisa mendengarkan seseorang berbisik di telinganya, matanya masih begitu sulit untuk di buka karena olah raga yang mereka lakukan tadi malam sepertinya sangat menguras tenaganya.
"Kau wanita ku, jangan pernah berpikir untuk bisa lepas dariku, bukan cuma sebagai baby sitter Iyya tapi sebagai istri Pradivta Anugra putra!"
Cup
Sebuah kecupan juga mendarat di keningnya kemudian samar ia bisa melihat pria itu meninggalkan kamarnya.
Flashback off
Apa benar dia mengatakan hal itu ....? Kenapa rasanya aku belum yakin, maksudnya bagaimana?
Tangannya sibuk melukiskan ke kaca mobil yang sedikit mengembung karena di luar terlihat hujan, semenjak semalam memang hujan tidak berhenti. Hawanya begitu dingin walaupun sudah menjelang siang.
Hehhhh ....
Helaan nafas begitu berat, terlihat sekali jika ia menyimpan rasa yang begitu berat.
Bukan karena dia belum bisa menerima pernikahan barunya, tapi rasanya terlalu cepat untuk merelakan hatinya berpindah, sedangkan lukanya belum sembuh betul.
Ia hanya takut jika apa yang dia rasakan oleh kepada pria itu hanya sebuah pelampiasan atas rasa sakitnya bukan keinginan untuk mencintai.
"Sebelllllll .....!" keluhnya dengan suara keras membuat sopir menoleh padanya.
"Nyonya tidak pa pa?" tanya sopir sambil menatap Ersya melalui cermin kecil yang menggantung di kaca mobil bagian depan.
Ersya terdiam, ia baru sadar jika dirinya tidak sendiri, ia dengan perlahan menurunkan tangannya yang sedari tadi ia ayunkan ke depan,
"Ahhh tidak pa pa pak, tadi hanya memikirkan sesuatu saja!"
"Kalau ada sesuatu, tolong nyonya katakan!"
"Baiklah!"
__ADS_1
Sopir terlihat kembali fokus ke depan, Ersya bisa bernafas lega. Ia kembali menatap ke luar jendela, melihat bagaimana mobil dan motor saling menyalip dan mendahului.
Aku hanyalah sebuah asa yang tertinggal di celah kericuhan ..., menjelma menjadi sosok yang kuat dan tidak terpatahkan badai
"Nyonya sudah sampai!?" ucap sopir itu mengingatkan Ersya yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.
Ersya segera tersadar dari dunianya, "Ah iya ....! Bapak pulang saja tidak pa pa, nanti aku pakek taksi saja!"
"Maaf nyonya, tapi tuan Div meminta saya untuk mengikuti nyonya kemanapun nyonya pergi!"
Ahhhh ...., dia benar-benar memata-matai aku ....
"Tapi saya akan lama loh!"
"Tidak pa pa nyonya, saya akan menunggunya!"
"Baiklah terserah kamu!"
Ersya tidak mau berdebat, rasanya akan percuma saja. Mungkin anak buahnya tidak akan jauh berbeda dengan bosnya. Ia segera meninggalkan sopir itu dan menuju ke rumah Felic.
"Pagi om Dul!" sapa Ersya pada pria bertubuh tambun yang sedang duduk di teras dengan sebuah koran di tangannya.
"Ersya? Sendiri saja?"
Ersya segera mencium punggung tangan pria bertubuh tambun itu.
"Iya om, nggak kerja om?"
"Dapat sif malam! Kamu nggak kerja?"
"Sudah nggak kerja om, Felic udah sampai di sini belum?"
Setelah selesai berbincang dengan ayah Dul, Ersya pun segera menemui sahabatnya itu. Ia tidak bisa mengantar besok, jadi hari ini ia ingin menghabiskan waktunya bersama sahabatnya itu.
Semenjak mereka sudah sama-sama menikah, mereka jarang mengobrol berdua saja.
Kini mereka sudah duduk di teras yang ada di samping rumah, perut Felic sekarang sudah terlihat sedikit berisi,
"Maaf ya Fe, akhir-akhir ini gue jarang hubungi lo!"
"Iya nggak pa pa Sya, santai lagian gue juga yang salah!"
"Suami lo top cer banget sih Fe, gue ikut seneng lo udah lagi!"
Felic terlihat begitu ragu untuk mengatakan sesuatu, membuat Ersya penasaran dengan apa yang di pikirkan oleh Felic,
"Lo ada masalah ya Fe?"
Felic hanya menggeleng kan kepalanya,
"Fe, gue tahu ada yang sedang lo pikirkan, tapi gue nggak akan maksa lo buat cerita, gue yakin lo ada alasan hingga lo nggak cerita!"
"Maaf ya Sya! Nanti jika lo tahu sesuatu, jangan marah ya sama gue!"
"Serius amet sih Fe! Mana mungkin gue bisa marah sama lo!"
Akhirnya setelah satu jam menghabiskan waktunya bersama Felic, Ersya pun berpamitan. Ia harus menjemput Divia kembali.
"Kita ke sekolah Divia, pak!"
__ADS_1
"Baik nyonya!"
Ersya segera masuk kembali ke dalam mobil,
Sesampai di jalan raya terlihat di depannya ada kemacetan yang begitu panjang,
"Ada apa ya pak di depan?"
"Sebentar nyonya, saya cari tahu dulu!"
Sopir itu keluar sebentar meninggalkan mobilnya yang memang sudah seperempat jam tidak bisa di bergerak dari tempatnya. Sopir terlihat menghampiri pengemudi di depannya dan mengobrol sebentar lalu kembali menghampiri Ersya yang berada di dalam mobil,
Ersya mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobilnya,
"Ada apa pak?"
"Di depan ada kecelakaan ternyata nyonya, mungkin akan sedikit lama kita di sini!"
"Trus gimana dong Divia?"
Ersya begitu bingung harus melakukan apa, kemudian ia teringat dengan Rangga,
Iya Rangga ....
Ersya segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Rangga, hanya dalam beberapa detik akhirnya terhubung juga,
"Hallo Ga!"
"Hallo Sya, ada apa?"
"Bisa bantu gue nggak?"
"Bantu apa?"
"Tolong jemputin Divia dong, gue lagi kejebak macet soalnya, nggak yakin bisa sampai di sekolah Divia tepat waktu! Tapi gue tetap akan ke sana nanti, jadi lo sama Divia bisa tunggu di sana!"
"Mending nggak usah deh, langsung susul kami ke kantor aja, takut pak Div salah faham! Lagian lo kemana sih kok sampek kejebak macet?"
"Gue abis dari rumah Felic!"
"Felic ...!" suara Rangga terdengar berat dan tertahan.
"Udah ah jangan baper, ya udah cepetan jemput Divia ya!"
"Iya bu bos!"
Rangga mematikan telponnya begitu saja,
"Ihhh kebiasaan ya, padahal gue yang telpon dia yang matiin!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1