Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Nyonya rumah ini


__ADS_3

Setelah urusannya dengan ibu keduanya itu, Div pun keluar dari dalam ruangan itu. Keluarnya Div langsung di sambut oleh Agra di sana.


"Gimana bang?" tanya Agra.


"Kamu sudah tahu jawabannya, kenapa masih tanya!" jawab Div,


"Kita bisa bicara dulu sebentar bang!" ucap Agra, "Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan, tentang pekerjaan!"


Divta mengerutkan keningnya heran, "Tidak biasanya kamu membawa pekerjaan ke rumah, ada apa?"


"Tidak pa pa, hanya saja ada beberapa berkas yang harus bang Divta tanda tangani!"


Kali ini terpaksa Div ikut, mereka menuju ke ruang kerja Agra. Dan memang benar ada beberapa berkas di atas ruang kerja Agra.


"Ini bang, beberapa berkas yang harus abang tanda tangani, tadi lupa di kantor!"


Div dan Agra pun duduk di dua buah sofa yang berbeda, sebenarnya bukan itu topik utama ia meminta Div untuk berhenti sebentar ada hal yang lebih penting yang ingin ia bicarakan. Kalau masalah berkas, ia bisa meminta seseorang untuk mengantarnya ke rumah Div.


Div mengambil sebuah bolpoin dan mulai membubuhkan tanda tangannya ke berkas-berkas itu.


"Bang!"


"Hemmm!"


"Sebenarnya ibu merencanakan untuk membebaskan mamanya bang Div!"


Div menghentikan tangannya dan tertarik untuk melihat ke arah saudaranya itu.


"Bagaimana menurut abang?"


Hehhhhh ....


Div menghela nafas dan meletakkan bolpoinnya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


Kesalahan nyonya Aruni sudah sangat besar, ia bahkan tega menghilangkan nyawa dua saudara sekaligus. Apalagi salah satu dari mereka adalah ayah dari anaknya sendiri.


"Kamu salah bila bertanya denganku!"


"Maksud bang Div?" tanya Agra, ia juga menyandarkan punggungnya di sandara sofa. Melipat kakinya di atas kakinya yang lain.


"Ibu yang paling tahu apakah mama pantas di bebaskan atau tidak, jangan sampai saat mama bebas akan menimbulkan masalah baru nantinya!"


"Ini masih wacana saja sebenarnya bang!"


"Aku tahu, dan aku juga yakin kamu masih sangat berat untuk melepaskannya! Membayangkan jika dia akan menyakiti keluargamu lagi membuatmu berpikir ribuan kali untuk melakukan hal itu!"


"Iya, itu salah satunya bang! Maafkan aku!"


"Tidak masalah, sudah selesai kan, aku harus segera pulang!"


Mendengar ucapan saudaranya itu Agra tersenyum.


"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Div saat melihat saudaranya itu tersenyum.


"Tidak pa pa, hanya saja ada saat-saat seperti ini memang!"


Div berdiri dari duduknya dan kembali merapikan jas nya, "Maksudnya?"

__ADS_1


"Ya saat seseorang sadar jika rumah lebih nyaman untuk pulang!"


"Kau ini bicara apa, sudah aku pulang! Jangan mengatakan hal-hal omong kosong!"


Div segera meninggalkan ruangan Agra. Ia memang harus segera pulang karena ia ingin tahu bagaimana pekerjaan pertama wanita itu.


...**""**...


Kini mobil Div sudah memasuki halaman rumahnya, langit sudah mulai gelap. Ia sedikit berlari memasuki rumah.


"Dad ....!"


Iyya langsung menyambutnya, tapi dia tidak menemukan siapapun di belakang Iyya selain pelayan yang menemani Iyya.


Dimana wanita itu ....?


"Sayangnya daddy, kok sendiri, di mana dia?"


Mendengarkan pertanyaan daddy nya, Iyya melepaskan pelukan daddy nya, mengerutkan keningnya dan terlihat berpikir.


"Dia ciapa dad?"


"Maksud daddy mom Eca!"


"Ohhhh mom ya, Mom Eca masih tidul, dia pasti cangat capek, makanya beyum bangun!"


"Benarkah?" Wajah Div seketika mengeras, ia segera bangun.


Wanita itu benar-benar ya .....


"Dad ...., dad ....!" Iyya menarik jas Div beberapa kali membuat Div kembali menatap ke bawah, menatap putrinya itu.


"Plissss, jangan malah ya cama mom Eca!"


"Tidak sayang, daddy cuma mau bicara saja sama mom Eca, Iyya sama bibi dulu ya!"


"Iya dad!"


Div meninggalkan Iyya dan menuju ke kamar Ersya. Dan benar saja wanita itu masih terlelap tidur masih dengan pakaian resminya.


Memang dia pikir dia ratu di rumah ini, enak banget tidur ....


Div menuju ke kamar mandi, ia mengambil ember kecil dan di isi dengan air lalu kembali menghampiri Ersya dan ....


Byurrrrr


"Banjir ...., banjir ....!" benar-benar ampuh, Ersya seketika terbangun dengan basah kuyup.


Ersya terlihat mengusap air di wajahnya saat melihat Div berdiri di depannya dengan sebuah ember di tangannya.


"Bagaimana? Enak tidurnya?"


Dia keterlaluan .....


Ersya menatap kesal pada Div walaupun ia tahu dia yang salah. Div meletakkan ember itu di lantai begitu saja.


"Masih berani menatap ku seperti itu!?"

__ADS_1


"Maaf!" ucap Ersya, walaupun tidak ikhlas tapi ia sadar di rumah itu hanya sebagai pelayan. Ia tidak bisa bertingkah semaunya sendiri.


"Bagus, memang itu yang harus kamu lakukan! Bereskan semuanya dan segera ganti pakaianmu dengan seragam itu, ini sudah waktunya Iyya makan malam!"


"Baik Div!"


"Panggil saya tuan seperti para pelayan lainnya!"


"Baik tuan!"


Div pun segera meninggalkan kamar itu, Ersya yang sangat kesal pun mengambil ember itu dan melemparnya ke arah pintu, tapi tepat saat ember akan mendarat di pintu, pintu itu kembali terbuka.


Bukkk


"Ups .....!"


Ersya sampai berdiri dari tempatnya.


Masalah baru lagi ....


Div ternyata kembali, ia ingin memberitahu Ersya jika Iyya sudah menunggu di bawah, tapi ia malah ketiban sial.


Pria itu memegangi kepalanya yang terasa nyeri.


"Maaf tuan!"


Ersya segera berlari mendekati Div dan mengusap kening Div yang tertimpuk ember.


"Sudah hentikan!" Div menghempaskan tangan Ersya dari keningnya, ia menunjuk wajah Ersya dengan jari telunjuknya hingga kepala Ersya condong ke belakang.


"Kau ini benar-benar pembawa sial, jangan dekat-dekat denganku, mengerti?"


"Iya!"


"Berdiri di jarak aman, minimal satu meter dari tempat saya!"


Ersya pun segera memundurkan langkahnya, hingga tiga langkah di depan Div.


"Bagus! Segera ganti baju dan turun ke ruang makan, Iyya sudah menunggu di sana!"


"Baik tuan!"


Div kembali menutup pintu itu dan memilih meninggalkan kamar Ersya, ia masih memegangi keningnya yang nyeri, bahkan keningnya sampai berwarna merah memar.


"Dia benar-benar bar bar ...., cantik sih cantik, jago dandan tapi kalau bar bar kayak gitu ...., bikin orang susah saja ....!" gerutu Div lalu masuk ke kamarnya sendiri, ia harus segera mandi dan mengganti bajunya sebelum makan malam dengan Iyya.


Ersya pun melakukan hal yang sama, ia mengganti sprei nya dengan yang kering lalu segera mandi dan menganti bajunya dengan seragam baru.


"Seragam yang luar biasa! Kenaikan pangkat yang tidak terduga-duga ....!" Ersya tersenyum hambar melihat seragam baru yang melekat di tubuhnya.


Setelah puas menatap seragam barunya, ia pun memilih untuk segera turun, ia belum terlalu hafal dengan rumah besar itu tapi kalau ruang makan, ia cukup tahu walau ini kedua kalinya ia ke tempat itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2