
"Mas tahu kalau Ersya tidak mandul?"
Jederrrrrr
Pertanyaan Rangga sepeti petir yang menyambar di siang hari bolong. Rizal bahkan sampai hampir tersedak minumannya sendiri.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tahu kan apa alasanku bercerai dengan Ersya?" Rizal berusaha bersikap biasa saja saat ini.
"Benarkah? Bukan karena perselingkuhan yang mas Rizal lakukan?"
Rizal pun begitu kesal dengan ucapan Rangga, ia sampai berdiri dari duduknya, "Kalau kedatangan mu ke sini cuma mau cari ribut, nggak usah datang!"
Rangga tersenyum dengan santainya, ia mengambil gelasnya dan meneguk minumannya. Seolah-olah ia tidak peduli dengan kemarahan kakak sepupunya,
"Sayangnya saya ke sini bukan untuk mencari ribut, ada hal penting yang ingin saya katakan! Jika mas Rizal tidak siap tidak pa pa, aku pergi!" ucap Rangga dengan santainya.
Tapi saat Rangga akan beranjak dari duduknya, Rizal pun kembali duduk,
"Katakan!"
"Mau bagusnya atau jeleknya? Tau mungkin dua duanya kabar jelek untuk mas Rizal!"
"Jangan bertele-tele, katakan saja!"
"Baiklah, begini saja, mau kabar buruk atau kabar yang sangat buruk?"
"Sudah saya bilang, katakan saja! Nggak usah bertele-tele!"
"Baiklah!"
Rangga pun kembali meneguk minumannya dan melipat kakinya di atas kaki sebelahnya, ia duduk begitu santainya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Baiknya, Ersya sekarang sedang hamil!"
Wajah Rizal seketika berubah begitu masam, setelah segala cara ia lakukan agar Ersya mau kembali lagi padanya sebelum Ersya benar-benar hamil dan sekarang benar-benar telah gagal.
"Mas Rizal tahu kan kalau Ersya memang bisa hamil?" tanya Rangga lagi dan Rizal pun menganggukkan kepalanya begitu berat.
"Dan yang paling besar yang aku tahu adalah mas Rizal lah yang bermasalah sebenarnya!"
Rizal mendongakkan kepalanya menatap Rangga, "Kamu tahu dari mana?"
"Tidak penting saya tahu dari mana mas, hal yang paling aku sayangkan sampai detik ini adalah Setega itu kah mas Rizal sama Ersya! Ersya sudah ada bertahun-tahun di hati mas Rizal dan mas Rizal malam menorehkan luka yang begitu besar di hati wanita yang seharusnya mas Rizal perlakukan seperti ratu di hati mas Rizal!"
"Kamu jangan sok tahu, kamu nggak tahu bagaimana beratnya menjadi aku, kamu tidak tahu betapa takutnya aku saat tahu jika tidak bisa menghasilkan keturunan, kamu tidak tahu bagaimana rasanya takut tidak ada yang mau mengenalku lagi!"
__ADS_1
"Tapi cara mas Rizal salah, sudah cukup satu Ersya mas, jangan ada Ersya Ersya yang lain yang akan menjadi korban!"
Rizal tidak menyahut ucapan Rangga lagi, Rangga pun segera berdiri dari duduknya.
"Saya pergi, pikirkan ucapanku mas! Semua orang punya hati yang punya titik jenuh jika terus di sakiti!"
Rangga pun benar-benar pergi dari rumah Rizal. Ia sudah sedikit lega karena bisa mengutarakan kekesalannya pada saudara sepupunya itu.
Rangga kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya di tengah gerimis, sesekali kacanya terlihat buram karena rintik hujan yang mengguyur kota Jakarta malam itu.
"Makan mie instan sepertinya enak!" gumamnya sambil melihat ke arah mini market yang masih buka.
Rangga pun meminggirkan mobilnya, ia berlari kecil agar cepat sampai di minimarket.
kemejanya sedikit basah karena ternyata hujannya cukup deras, tangannya begitu sibuk untuk mengibaskan air yang belum benar-benar meresap ke bajunya, ia juga mengibaskan rambutnya yang sedikit panjang.
Hingga ia tidak begitu memperhatikan gadis yang berdiri di meja kasir itu, ia segera berjalan menuju ke rak mie instan dan mengambil satu cup juga beberapa camilan.
"Tolong sedukan!" ucap Rangga tapi ia begitu terkejut saat melihat gadis yang sama yang beberapa kali ia temui di minimarket dekat rumah Div.
"Kamu? Kenapa bisa di sini?" tanya Rangga.
Tapi gadis itu sepertinya tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Rangga, ia memilih untuk mengambil cup mie instan milik Rangga,
"Silahkan di tunggu di sana!" ucap gadis itu sambil menunjuk ke arah bangku yang ada di samping di Ding kaca.
Hanya menunggu beberapa menit saja, gadis itu sudah menghampiri Rangga dan menyerahkan cupnya.
"Silahkan!"
Rangga pun mengedarkan pandangannya, tidak ada pelanggan lain, mungkin karena sedang hujan jadi jarang orang datang berbelanja.
"Sebenarnya saya butuh teman ngobrol, kalau tidak keberatan bisa nggak temani saya sebentar, sampai mie saya habis!"
"Tapi maaf, saya masih jam kerja!"
"Bagaimana kalau saya tanya langsung sama bos kamu?"
Gadis itu mengerutkan keningnya dan Rangga benar-benar melakukannya, kebetulan sekali pemilik minimarket itu adalah temannya yang berada dalam satu kompleks dengan rumahnya, rumah mereka berhadapan.
Rangga me- loundspeaker ponselnya agar gadis itu ikut mendengarnya.
"Hallo!"
Melihat Rangga begitu serius, gadis itu sampai terkejut di buatnya.
__ADS_1
"Hallo Ga, ada apa? Tumben hubungin gue!"
"Ya nih, gue lagi ada di minimarket Lo, kebetulan kehujanan jadi males langsung pulang, boleh nggak gue sewa karyawan Lo buat temenin ngobrol sebentar?"
"Boleh lah, Lo ajak nikah aja boleh!"
"Belum sejauh itu, terimakasih ya!"
Rangga pun mematikan sambungan telponnya. dan tersenyum pada gadis dengan tag nama di bajunya 'Zea'.
"Bagaimana, sekarang tidak keberatan kan?" tanya Rangga.
Zea pun terpaksa ikut duduk di depan Rangga. Mereka hanya terhalang sebuah meja kecil berbentuk lingkaran. Berharap tiba-tiba ada pelanggan yang datang dan dia bisa terbebas dari pria yang ada di depannya.
"Keberatan sekali, saya cuma butuh teman ngobrol nggak lebih!" ucap Rangga melihat wajah cemas Zea.
"Bagaimana manggilnya, Ze, atau Zea saja?"
"Terserah kamu saja!"
"Kenapa pindah ke sini? Bukan karena saya kan?"
"Jangan Ge Er!"
"Ya aku kan cuma nanya! Kalau kamu nggak mau jawab, berarti saya bebas dong menyimpulkan sendiri!"
"Ya, karena kamu!" ucap Zea cepat. Tepatnya bukan karena Rangga, tapi karena orang-orang yang berada di sekeliling Rangga. Orang-orang itu ada hubungannya dengan dokter Frans dan Felic, ia sudah memalsukan kepergiannya ke luar negri, ia tidak mau kehadirannya menjadi duri dalam rumah tangganya dokter Frans dan Felic lagi, sudah cukup baginya menjadi penyebab kegugurannya Felic.
Dan sekarang dia ingi hidup tenang jauh dari mereka.
Rangga begitu terkejut mendengar ucapan Zea, karena ia tidak pernah benar-benar mengenal gadis yang ada di depannya itu,
"Saya?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, bisa tidak tidak usah menyapa saya lagi setiap bertemu dengan saya?"
"Nggak bisa!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...