
Akhirnya pintu terbuka setelah memutar gagang kunci dua kali.
"Mana kuncinya?"
"Buat apa?"
"Mau saya buang!"
Ersya pun menyerahkan kuncinya fan dengan cepat Div mengambilnya lalu melempar nya begitu saja ke lantai bawah hingga menimbulkan suara ....
klunting .....
Nihhh orang saraf kali ya ...., batin Ersya yang melihat kelakuan ekstrim pria yang ada di hadapannya.
Mereka pun masuk ke dalam kamar itu, Div mengamati kamar yang lebih kecil dari kamarnya itu.
"Kamu harus mematuhi aturan yang saya buat selama tinggal di sini!"
"Apa?"
"Pertama, kamu harus mengenakan seragam baby sitter selama di rumah!"
"Gampang!"
"Tapi tidak untuk keluar rumah, jangan gunakan baju itu saat kamu dan Iyya keluar rumah!"
"Ok siap, ke dua?"
"Ke dua, saat Iyya sudah tidur segera kembali ke kamar kamu sendiri, jangan tidur bersama Iyya!"
"Kenapa?"
"Karena kamu cuma baby sitter!"
Sombong sekali dia ...., baby sitter juga manusia tahu ....., batin Ersya kesal. Dia benar-benar pengen menonjok wajah sok cool di depannya itu.
"Lanjut!"
"Ke tiga, jika di luar rumah kamu harus memerankan menjadi calon mamanya Iyya sampai gosip itu menghilang, mengerti?"
"Termasuk di depan wartawan?"
"Memang kamu pikir aku akan membiarkanmu bertemu dengan para wartawan itu tanpa saya!"
"Ya mana aku tahu!"
"Peraturan selanjutnya, peraturan ke empat, kamu boleh datang ke kantor hanya saat Iyya ingin ke kantor, selebihnya tidak boleh!"
"Lagian aku juga mau ngapain ke kantor kamu, kurang kerjaan banget!"
"Ke lima, berikan kabar tentang Iyya satu jam sekali!"
"Pakek apa dong kasih kabarnya? Hp aku aja belum kamu kembalikan!"
Divta pun akhirnya kembali merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel dengan casing berwarna pink dengan motif love.
"Ini ponsel mu!"
Melihat ponselnya sudah ada fi depan mata membuat Ersya berbinar, ia segera merebut ponselnya dan menciumi ponsel itu hingga beberapa kali.
"Ponsel ku .....!"
__ADS_1
"Segitu senangnya ponsel baru beberapa hari tidak di tangan aja udah kayak bumi ini bakal kiamat kalau nggak pegang hp!" gerutu Div saat melihat betapa bersemangatnya wanita yang ada di depannya itu.
"Hehhhh ....., kamu nggak tahu aja kalau aku nggak bisa hidup tanpa ponsel!"
"Emang empat hari ini kamu mati?"
"Issstttttt ...., menyebalkan!"
Div hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Ersya mengingat sesuatu setelah memegang ponselnya.
"Bukankah kamu bilang tadi di kantor kalau ponsel ku di rumah, tapi kenapa sekarang berada di dalam di jas kamu?"
"Tadi aku bilang di rumah kan?"
"Iya!"
"Sekarang di mana?"
"Di rumah!"
"Benar kan?"
*Ahhhh kenapa kadal kayak gue bisa di kibuli sihhhh ......
Hehhhhhh* ....
Ersya hanya menghela nafas, ia menyerah dan tidak mau berdebat lagi, biarkan pria itu melanjutkan poin selanjutnya.
"Yang ke tujuh apa?"
"Selesai, peraturan baru akan menyusul nanti!" ucap Div.
"Trus gaji ku berapa dong kalau kayak gitu?"
"Woe ....., aku ini manusia , mana bisa nggak nglakuin kesalahan!"
"Terserah!"
Tanpa bicara lagi pria itu pun segera meninggalkan Ersya.
"Hehhhh terserah lah yang penting sekarang gue udah punya tempat tinggal, karir bisa di cari lah!"
Ersya segera meninggalkan kopernya begitu saja lalu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Hahhhh ...., lelah banget!"
Sudah semenjak kemarin semenjak pesta itu Ersya benar-benar kurang tidur. Hanya dengan merebahkan tubuhnya sebentar saja ia sudah masuk ke alam mimpi.
...**"**...
Divta sudah sampai di depan rumah besar milik keluarga finityGroup itu, seperti biasa kedatangannya langsung di sambut oleh paman Salman.
"Selamat datang tuan Div!"
"Terimakasih paman, bagaimana kabar paman?"
"Saya baik tuan, anda sudah di tunggu di dalam sama nyonya, tuan Div!"
"Baiklah ...., saya langsung ke sana paman!"
Awalnya Divta begitu keberatan untuk datang ke rumah besar, bahkan Agra sampai menemuinya dan menelponnya hingga berkali-kali.
__ADS_1
Dan terakhir kali, ia mendapat kabar jika nyonya Ratih membuat wanita itu kehilangan pekerjaannya.
Berdasarkan laporan dari anak buahnya, orang suruhan nyonya Ratih datang dan menemui kepala divisi kantor pusat untuk melepaskan jabatan Ersya dengan berbagai syarat yang di ajukan.
Tok tok tok
Divta sudah mengetuk pintu yang jarang sekali di masuki oleh orang lain selain paman Salman dan Sagara yang belajar.
Seseorang membukakan pintu dari dalam.
"Silahkan masuk tuan Div, nyonya sudah menunggu anda!"
"Terimakasih!"
Setelah Divta masuk, kepala pelayan yang membukakan pintu itu pun keluar dan menutup pintu dari luar.
Divta masih berdiri di jarak satu meter dari sofa tempat nyonya Ratih duduk.
"Salam ibu!"
"Duduklah Div!"
Divta pun duduk di sofa yang terpisah, sofa yang ukurannya lebih kecil dari yang di duduki nyonya Ratih.
"Minumlah, mumpung masih hangat!"
"Iya ibu!"
Di atas meja itu memang sudah ada dua cangkir kopi yang asapnya masih mengepul di udara. Terlihat sekali jika kopi itu baru saja di buat, mungkin di buat oleh kepala pelayan tadi.
Nyonya Ratih sudah menyiapkan semuanya, setelah gebrakan yang ia buat pastilah Div menemuinya.
"Seperti kopi ini, jika masih panas rasanya akan lebih mantap! Begitu juga dengan gosip yang beredar saat ini, bagaimana menurutmu Div?"
"Ibu benar!"
"Jangan sampai kopi yang panas ini tumpah, selain menyakiti tanganmu air itu pasti akan meninggalkan noda di sekitar nya! Jadi jaga jangan sampai tumpah!"
"Saya kurang mengerti ibu!"
Nyonya Ratih selalu membuat perumpamaan yang kadang tidak bisa di mengerti oleh lawan bicaranya.
"Wanita itu sudah ada di tempatmu kan?"
"Jadi ibu sengaja melakukan itu agar saya membawanya ke rumah?"
"Iya! Jika wanita itu masih punya pekerjaan dia masih akan berkeliaran dan para pencari berita itu pasti akan sangat mudah menemukannya dan itu pasti akan sangat bahaya untuk mu!"
Kenapa aku tidak kepikiran sampai ke situ ya ...., batin Div yang cukup mengagumi pemikiran ibu keduanya itu.
Sebenarnya ia hanya sedang memikirkan Iyya, ia sengaja meminta Rangga untuk mencari keberadaan Ersya saat tahu jika wanita itu di pecat dari perusahaannya. Tapi ternyata itu juga bagian dari rencana nyonya Ratih yang memancingnya untuk melakukan hal itu.
Banyak memakan garam kehidupan, membuat seseorang bisa berpikir kritis bahkan jauh sebelum orang lain memikirkannya.
Dengan membawa Ersya ke dalam rumahnya, sama dengan mencegah Ersya bertemu langsung dengan para pencari berita, dengan berada di rumahnya Ersya akan di lindungi oleh para bodyguard- bodyguardnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰