
Sekarang Felic dan Ersya sudah
berada di luar ruangan di depan
kamar perawatan Nadin, Felic menatap Ersya penuh pertanyaan. Ia ingin tahu apa
yang terjadi dan sejauh apa perkembangan yang tidak ia ketahui.
"Jelaskan sama gue!" ucap
Felic.
"Apanya Fe?"
"Sejauh mana, terakhir kali
kalian bertemu di pesta itu, lalu?" tanya Felic begitu penasaran sejauh mana hubungan sahabatnya itu dengan Divta.
Cuma sampai di situ?
Hmmmm
Ternyata Felic benar-benar tidak
tahu perkembangannya, bagaimana ia di usir dari rumahnya sendiri, di pecat
dari pekerjaannya dan sekarang harus tinggal di rumah pria angkuh itu. Semua
itu Ersya lalui sendiri tanpa memberitahu siapapun kecuali Rangga, karena
memang ia bertemu dengan Rangga tanpa sengaja, atau memang di sengaja yang di
rencanakan oleh seseorang.
"Ceritanya panjang Fe, intinya
gue sama dia tidak ada apa-apa, semua ini cuma karena Divia!"
Hehhh …, memang itu alasan utamanya, tapi ia juga butuh pekerjaan dan tempat tinggal. Ersya rasa itu alasan yang
cukup untuk bisa tinggal di rumah mereka.
"Siapa Divia?" tanya
Felic, ia tahu sahabatnya itu baru saja mengalami hal yang paling buruk dalam hidupnya. Di tinggalkan oleh suaminya gara-gara wanita lain dan tidak mungkin jika secepat itu sahabatnya itu mendapatkan pengganti.
"Divia itu gadis kecil yang
malang itu, dia putri pak Divta, aku tidak tahu kalau Divia akan menganggap gue sebagai mammy nya Fe!"
"Jadi lo ngasih harapan palsu
sama anak kecil itu?"
"Gue nggak ada maksud Fe, tapi
gue juga nggak tega pas liat dia nangis dan merengek sama gue! Gue seorang wanita yang entah bisa punya anak atau tidak! Tapi kehadiran Divia mengisi
tempat kosong di hati gue Fe!" ucap Ersya dengan begitu berapi-api, penantiannya
untuk mendapatkan seorang anak selama hampir empat tahun, dan akhirnya ia di
pertemukan dengan malaikat kecil itu.
"Gue cuma nggak mau lo kecewa
lagi Sya!" ucap Felic sambil memeluk sahabatnya itu. Selama ini memang Felic lah orang yang paling dekat dengannya. Melebihi kedekatannya dengan orang tuanya, apalagi setelah neneknya meninggal di susul orang tuanya juga. Hanya Fe
yang paling mengerti walaupun ia juga sering mengerjai sahabatnya itu.
"Semua ini hanya demi Divia,
Fe! Gue janji nggak akan pakek hati selain sama Divia!" ucap Ersya, ia tidak bisa janji lebih dari itu.
__ADS_1
Seburuk apapun nantinya, Felic yakin Ersya pasti bisa melaluinya dengan baik,
"Gue percaya sama lo!"
"Makasih ya Fe ....!"
Setelah percakapan panjang itu
akhirnya Felic dan Ersya masuk ke dalam ruangan itu. Kedatangan mereka langsung
di sambut oleh Iyya. Iyya yang sudah puas bermain dengan Randi segera menghampiri Ersya.
“Mom …., Iyya mau cama Mom!” ucap Iyya sambil memeluk Ersya. Melihat kedekatan Ersya dan Iyya membuat Felic begitu senang. Setidaknya Ersya tidak akan merasa sedih lagi dengan gossip yang mengatakan jika Ersya tidak punya anak.
“Iya sayang!”
Mereka bergabung dengan yang lainnya, Ersya berkenalan
dengan Nadin dan Ara juga, sama Rendi juga. Ersya adalah tipe orang yang mudah bergaul, ia bisa langsung akrab walaupun hanya sekali bertemu, berbeda dengan Felic yang walaupun nyablaknya sama tapi hanya pada orang-orang tertentu saja.
Kalau Ersya sama siapa saja ia bisa akrab makanya tidak salah kalau ia mendapat jabatan sebagai customer service. Prestasinya juga sangat banyak, tapi dengan tanpa ampun bosnya memecatnya.
Setelah cukup lama mereka menghabiskan waktu bersama, Div pun mengajak Iyya dan Ersya untuk berpamitan, Iyya juga harus melakukan
pemeriksaan rutinnya.
“Kalian tunggu di sini!” ucap Div, ia meminta Iyya dan Ersya
untuk menunggu di ruang tunggu sedangkan dia mengambil nomor antriannya.
Pria dengan rambut yang tidak terlalu rapi itu berjalan dan
berhenti di depan meja resepsionis, berbicara sebentar dengan petugasnya dan
menyerahkan sebuah kartu, entah ia dapat dari mana. Sepertinya Div sudah
mengambil nomor antriannya semenjak pagi. Tapi mungkin bukan dia sendiri yang
Div kembali menghampiri mereka, “Ayo sayang!”
Ia mengulurkan tangannya, tapi Iyya memilih menyembunyikan
tangannya di belakang punggung.
“Ada apa Iyya?”
“Iyya maunya masuk dengan mom Eca, sama daddy juga!”
“Baiklah!”
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam sebuah ruang yang bertuliskan nama dr Ratna, dokter Ratna adalah dokter yang di tunjuk untuk menangani penyakit Iyya.
“Selamat sore dokter!” sapa Iyya saat mereka mulai masuk ke
dalam ruangan, tidak biasanya. Gadis kecil itu biasanya sangat murung setiap
kali masuk ke ruangannya tapi kali ini ia tampak begitu ceria.
“Selamat sore Iyya!”
Dokter Ratna mendongakkan kepalanya, ada yang aneh. Atau
memang ada yang belum ia ketahui, untuk pertama kalinya Iyya dan daddy nya mengajak seorang wanita. Mom nya …
“Selamat sore dokter, saya Ersya! Saya ba_!” ucapan Ersya
menggantung saat tiba-tiba Div menarik pinggangnya hingga tubuh mereka begitu dekat dan menyambar ucapannya, “Dia calon istri saya dok, mom nya Iyya! Iya kan sayang?”
Iyya tersenyum, sedangkan Ersya hanya bisa tersenyum masam.
Dia keterlaluan ….
“Iya dok, mom Eca, mom nya Iyya!”
__ADS_1
“Selamat ya Iyya, akhirnya Iyya punya mom!”
“Teyimakacih dok …!”
Dokter Ratna tersenyum, “Iyya sudah siap dokter periksa?”
“Iya Iyya ciap!”
Seperti biasa Iyya akan naik ke atas tempat pemeriksaan,
dokter Ratna akan memeriksa banyak hal. Mulai dari jenyut nadi Iyya, melihat
apakah masih ada kebocoran melalui layar monitor hingga berat tubuh Iyya.
“Sudah selesai sayang!”
Ersya pun merapikan kembali baju Iyya dan menggendongnya
agar bisa turun karena tempat tidur itu terlalu tinggi. Baik Div, Iyya dan Ersya duduk di depan meja dokter Ratna dengan Iyya di pangku oleh Ersya.
“Bagaimana dok?”
Div sudah tidak sabar untuk mengetahui hasil pemeriksaannya,
untuk satu bulan terakhir ini, Iyya jarang mengeluhkan sakit di dadanya.
“Alhamdulillah, keadaan Divia mengalami kemajuan yang
signifikan pak Div, rasa tenang dan bahagia memang sangat di butuhkan oleh Iyya
saat ini, jadi kalau bisa tetap usahakan Divia berada dalam keadaan seperti
ini!”
“Apa itu berarti Iyya sudah bisa menghentikan pengobatannya?”
“Tidak bisa secepat itu pak, harus pelan-pelan, tapi saya akan menurunkan dosisnya menjadi setengahnya pak, saya akan memberikan resep baru untuk Divia!”
“baik dok! Apa itu artinya Iyya sudah bisa masuk sekolah
dok?”
“Bisa …, tapi tetap perhatikan kegiatannya, jangan sampai
Divia kelelahan!”
“Iya dok!”
Mereka sudah keluar dari rumah sakit, mobilnya sudah
menunggu di depan. Div meminta Iyya dan Ersya untuk masuk ke dalam mobil lebih
dulu.
“Kamu mau ke mana?” tanya Ersya sambil mendongakkan
kepalanya keluar dari mobil melalui jendela kaca yang di buka.
“Aku lupa belum menebus obat untuk Iyya!”
“hehh …, dasar pelupa!” gerutu Ersya, tapi sepertinya Div
tidak begitu peduli. Ia memilih untuk berlalu meninggalkan mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1