
...Hal yang hebat yang pernah kita lakukan adalah berguna untuk orang lain, dan hal hebat itu bahkan mungkin tidak begitu kita sadari...
...🌺🌺🌺...
"Yakin dia tidak akan melawan? Saya punya banyak anak buah untuk menyakitimu!"
"Benarkah? Apa anda seberani itu!?"
Yura hanya bisa menutupi wajahnya, ia benar-benar takut berhadapan dengan orang di depannya. Rumor yang beredar, Mr Kim tidak akan pernah mengampuni orang yang sudah berani membuat gara-gara dengannya.
Yura tahu ancaman itu bukan hal yang main-main. Tapi Divia malah terlihat santai dengan tetap bisa tersenyum.
"Jadi anda menantang saya?"
"Tidak!? Saya hanya mau laptop dan ponsel saya kembali!"
"Eomma!?" ucap pria kecil itu membuat Kim dan Lee tercengang di buatnya. Untuk pertama kalinya Dee berbicara dengan orang asing. Dan lagi, ia memanggil Divia dengan eomma?
Bahkan Dee belum pernah melihat sosok ibunya.
"Sudahlah, jangan mempersulit saya. Kembalikan ponsel dan laptop saya dan sudah pasti saya akan mengembalikan anak ini!"
Mendengar ucapan Divia, Dee malah mengeratkan pelukannya,
"Eomma!?" dia tampak enggan melepaskan Divia.
"Dee, apa yang kamu lakukan? Lepaskan dia!" perintah Kim dan Dee malah menggelengkan kepalanya.
"Eomma!?"
"Dia bukan ibu kamu! Lepaskan dia!?"
Dee semakin mengeratkan pelukannya pada Divia.
Baguslah ...., anak ini pintar juga di ajak kerja sama ..., Divia merasa senang karena tidak perlu susah-susah mengajak anak itu pergi.
"Baiklah, saya akan mengambil ponsel dan laptop kamu tapi kembalikan dulu Dee!?"
"Nggak bisa gitu dong, kalau kalian ingin anak ini kembali, cari saja rumah saya dan tentunya bawa laptopnya!"
Divia segera berdiri dan menggendong Dee.
"Minggir, jangan macam-macam ya, jangan juga membuat kekerasan! Okey!?"
Divia tidak berpikir jangan panjang, ia membawa Dee begitu saja. Sedangkan Yura dengan terpaksa mengikuti Divia hingga ke rumahnya.
"Mr, apa perlu kita menghancurkan kesombongan gadis itu?"
Kim mengangkat tangannya, "Jangan!?"
Bukan hal yang sulit hanya untuk menghancurkan gadis biasa seperti Divia. Cukup dengan mencabut data dirinya sebagai mahasiswa, mengusirnya dari Kos-kosan sudah bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk Divia.
Tapi Kim sepertinya juga tidak tahu siapa Divia. Dia bukan gadis biasa yang dengan mudah bisa ia hancurkan.
Tapi bukan itu yang sedang ia rencanakan saat ini. Melihat sikap Dee kepadanya, ia bisa mengambil keuntungan dari itu.
"Awasi saja mereka, bergerak jika mereka menyakiti Dee! Jika tidak kita bisa membiarkannya sampai besok!"
"Baik Mr!"
"Pasang beberapa kamera penyadap di sekitar rumah itu, atau kalau bisa di dalam rumah itu!"
"Baik!"
...****...
"Anak manis, duduk di sini dan bibi akan membuatkan makanan untukmu!?"
"Eomma!?"
"Baiklah eomma akan membuatkan makanan untukmu!"
Dee pun menuruti perintah Divia, ia duduk di sofa yang menghadap ke dapur. Yura hanya bisa menatap anak itu tidak percaya, tapi setelah melihat Divia ke dapur ia pun mengikutinya.
__ADS_1
"Vi, kamu yakin dengan yang kamu lakukan?"
"Hmmm!"
"Kamu tahu kan siapa mereka!?"
"Iya!"
"Ancamannya tidak pernah main-main!?"
Divia menatap Dee yang sedang asik memainkan gawaynya,
Hehhhhh .....
"Kalau di pikir-pikir dia sangat lucu!? Jadi keinget kemepat kurcaciku, bagaimana ya kabar mereka!?"
"Maksudnya?"
"Adikku, mereka sama manjanya seperti anak itu!?"
Tok tok tok
Divia dan Yura saling tatap mereka khawatir dua pria tadi yang datang.
"Tolong bukain dong!?"
"Nggak ah, bukan sendiri!"
"Ihhhhh!?"
Divia terpaksa mengelap tangannya, dan menghampiri pintu. Dua orang tengah berdiri di depan pintu.
"Permisi, kami dari teknisi! Pemilik tempat ini meminta untuk melakukan perbaikan!?"
"Tapi semuanya masih bagus, tidak ada masalah!?"
"Kami biasa melakukan ini satu tahun sekali, jadi ijinkan kami untuk masuk!"
"Baiklah!"
Divia kembali sibuk untuk melanjutkan memasak sedangkan Yura menemani Dee bermain.
Dua pria itu nampak sibuk mengecek kelistrikan rumah Divia.
"Kami sudah selesai, kalau begitu kami permisi!"
"Baiklah silahkan!"
Sekilas tidak ada yang mencurigakan tapi kedatangan mereka sedang memasang kamera tersembunyi di rumah itu.
"Makanan sudah siap, mari kita makan!"
Dee masih sibuk dengan gaway nya, mungkin hal itu yang membuatnya tertutup dengan dunia luar.
Aku harus sabar ....
Divia pun mendekati Dee dan mengambil gawaynya,
"Dee, makan dulu baru lanjutkan ini nanti! Mau kan makan?"
"Iya!?"
"Bagus, anak pintar!?" Divia mengusap kepala Dee dengan lembut.
Divia menggendong Dee ke tempat makan. Bukan ruang makan yang mewah. Hanya sebuah meja kecil yang di jadikan tempat untuk meletakkan semua makanan di atas karpet untuk duduk.
"Makan yang baik, Dee!"
"Baik eomma!?"
"Ya ampun, kamu manis banget!?" Yura sampai mencubit kedua pipi Dee karena gemas.
"Vi, kebayang nggak sih kalau di jadi anak kamu, lucu bangettttt!?!"
__ADS_1
Divia tersenyum dan ikut menatap Dee yang memang jika di perhatikan begitu menggemaskan apalagi jika sedang makan dengan pipi yang penuh itu.
"Atau jangan-jangan memang dia anak kamu?!"
Tukkkk
Tiba-tiba centong sayur itu melayang di kepala Yura.
"Jangan bicara sembarangan ya! Enak aja, gini-gini aku masih perawan. Nggak mungkin lah punya anak!?"
Yura hanya tersenyum menanggapi ucapan Divia.
Setelah makan, Yura pun berpamitan untuk pulang. Ia sudah seharian di rumah Divia, pasti ibunya sedang menunggunya sekarang.
Ia juga masih harus melakukan pekerjaan paruh waktunya.
"Dee, apa kamu mengantuk?" terlihat Dee mulai bosan menonton tv dengannya.
"Iya, aku mau tidur!?"
"Baiklah, aku akan menemanimu tidur!? Tapi gosok gigi dulunya, ini lihat aku sudah membelikan mu sikat gigi baru, kamu suka yang hijau atau yang biru?" tanyanya sambil menunjukkan dua sikat gigi ikutan kecil yang sengaja ia beli khusus untuk Dee.
"Aku mau yang biru!?"
"Baiklah, kita gosok gigi Sama-sama!"
Divia menggendong Dee ke kamar mandi, mengambil kursi kecil agar Dee bisa mencapai wastafel.
Mereka benar-benar seperti sepasang ibu dan anak yang sedang bercanda di sana.
"Sudah selesai, waktunya kita tidur!?"
Divia mengajak Dee ke kamarnya, ia hanya punya kasur lipat kecil.
"Tunggu sebentar ya, aku buka dulu kasurnya!?"
Dee berdiri di tepi tempat tidur dan divia sibuk membual kasur lipatnya, memasang seprei dan meletakkan dua bantal untuk mereka,
"Sini!" Divia melambaikan tangannya dan Dee segera menghampirinya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu cepat tertidur?"
"Peluk aku eomma!?"
"Peluk?" Divia cukup tahu cara merawat anak kecil karena ia sudah terbiasa dengan adik-adiknya. Tapi masalahnya dia bukan adiknya, ada sedikit rasa canggung.
Tapi dia kan masih anak kecil, tidak pa pa kali ya ....
"Baiklah, malam ini aku akan memberikan pelukan ternyaman buat kamu!"
Mereka pun akhirnya tidur dengan saling berpelukan. Hanya dalam hitungan menit dan Dee sudah tertidur pulas.
"Pria itu benar-benar egois, bisa-bisanya dia mengorbankan anak lucu ini demi barang yang nilainya tidak seberapa!?"
"Kasihan sekali kamu Dee!?"
Tiba-tiba rasa iba itu muncul saat menatap wajah Dee yang tenang saat tidur, ia tampak begitu nyaman dalam pelukannya.
Di tempat lain, pria itu tampak menatap layar laptopnya yang terhubung dengan camera tersembunyi yang di pasang di tempat kos Divia.
Terlihat dia begitu serius memperhatikannya, sesekali ia juga tersenyum saat melihat adegan lucu antara Dee dan gadis itu.
Ia hanya akan pergi sebentar untuk mengambil minuman kemudian kembali untuk melanjutkan melihat.
"Sepertinya aku berubah pikiran!?" gumamnya sambil menatap Dee dan divia tertidur pulas di tempatnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...