
Kini Ersya sudah masuk ke dalam rumah, ia segera menemui putri kecilnya itu. Karena hari ini hari minggu, jadi Divia tidak pergi ke sekolah.
Putri kecilnya itu sedang asik bermain di halaman belakang bersama dengan ikan-ikan hias yang sengaja ayah Roy pelihara karena selain Divia, Elan juga sangat menyukai ikan.
"Iyya, coba lihat siapa yang datang!" ucap bu Dewi pada cucunya itu.
Divia yang sedang asik bermain air pun segera mendongakkan kepalanya melihat ke arah datangnya Ersya. Ia melempar mainannya begitu saja dan berlari menghampiri mommynya.
"Mommy ...., Iyya kangen!"
Divia memeluk perut Ersya dengan begitu erat seperti sudah satu bulan tidak bertemu,
"Maaf ya sayang kemarin mom tidak jemput kamu!?"
Divia kembali melepas pelukannya dan mendongakkan kepalanya,
"Nggak pa pa mom, kata om Langga mom ada acala cama daddy!"
Ersya berjongkok dan meraih tangan mungil itu, mengecupnya dengan penuh cinta dan kembali menatap gadis kecil itu. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap rambut dan menyisihkan anak rambut Divia di balik daun telinganya,
"Iyya nggak marah sama mom?"
Divia menggelengkan kepalanya cepat,
"Iyya ceneng kalau daddy nggak malah malah teyus cama mom!"
"Benarkan?"
Divia kembali menganggukkan kepalanya dan tersenyum,
"Terimakasih ya sayang!"
Ersya kembali menarik tubuh mungil itu dalam pelukan.
Bu Dewi yang sedari tadi melihat betapa dekatnya Ersya dengan Divia terlihat tersenyum bahagia, ia senang akhirnya cucunya bisa menemukan ibu yang bisa menyayanginya dengan begitu tulus.
...Ada banyak hal yang indah di dunia ini dan yang paling indah dari semua keindahan itu adalah senyum bahagia gadis kecil itu .......
...🍀🍀🍀...
Siang ini Ersya dan bu Dewi sedang sibuk menyiapkan makan siang, Div sudah datang sejak setengah jam yang lalu. Ayah Roy memaksa Div untuk menunggu sampai makan siang selesai,
"Nak Ersya, Div sukanya makan apa?"
Pertanyaan itu menyadarkan Ersya, ia yang sedang sibuk mengupas terong segera menoleh,
Ersya tersenyum, "Sebenarnya saya kurang tahu bu, tapi setiap yang saya masak sepertinya dia suka hanya ada beberapa makanan yang memang tidak dia suka bu!"
"Beruntungnya Div punya istri sepertimu!?"
"Ibu berlebihan, nggak gitu juga bu! Saya yang beruntung karena punya putri secantik Divia!"
Bu Dewi kembali tersenyum, ia ingat dengan kejadian tadi pagi. Cucunya begitu menyayangi wanita yang telah dipanggilnya mom itu,
__ADS_1
"Terimakasih ya sudah menyayangi Divia seperti putri kamu sendiri! Kamu masih muda dan kamu pasti masih akan punya banyak anak nantinya, tapi jangan pernah lupakan Divia ya!"
Bagaimana aku bisa mengatakan kalau hanya Divia yang jadi putri kecilku? Bagaimana mengatakan kalau aku bukan wanita yang sempurna yang bisa mengandung dari rahimku sendiri, Divia lah penyempurna hidupku .....
"Aughhhhh .....!" pekik Ersya saat tanpa sengaja pisau yang sedang ia pegang melukai jarinya,
"Sya kamu kenapa?"
Bu Dewi terlihat panik, "Darah!?"
Div yang sedang mengobrol dengan ayah Roy di ruangan yang ada di samping ruang makan mendengar teriakan bu Dewi begitu terkejut. Ia segera berlari menghampiri Ersya dan bu Dewi,
"Ada apa? Siapa yang berdarah?"
"Ini Div, tangan Ersya terkena pisau!"
Bu Dewi menunjuk ke arah Ersya yang sedang mencengkeram tangannya yang berdarah.
Div pun tidak banyak berpikir, ia segera menarik tangan Ersya dan mengajaknya duduk di kursi yang ada di ruang makan,
"Sakit?" tanyanya dan Ersya hanya bisa mengangguk.
Div segera melihat jari Ersya dan benar saja, goresan itu cukup dalam dan darah terus merembes.
"Bi ambilkan kotak obat!?" perintah bu Dewi pada asisten rumah tangga.
Div menarik tangan Ersya dan memasukkan jarinya yang terluka ke dalam mulutnya, menyesap darah yang terus merembes agar tidak terus mengalir,
"Gimana sekarang, sudah lebih baik?" tanya Div lagi dan Ersya pun menganggukkan kepalanya.
"Sudah kamu istirahat saja, biar bibi sama saya yang lanjutkan ya!?" ucap bu Dewi sambil mengusap bahu Ersya.
"Maaf ya bu, tidak bisa bantu!"
"Iya nggak pa pa!"
Bu Dewi dan bibi sudah kembali ke dapur, kini di sana tinggal Ersya dan Div.
"Lain kali nggak usah masak lagi!" ucap Div sambil merapikan kotak obat di tangannya.
"Kenapa?"
"Kamu nggak tahu kalau pisau itu tajam?"
"Tahu!"
"Kalau tahu jangan banyak tanya lagi!"
Apa hubungannya?
"Mana bisa aku nggak masak! Itu udah hobi aku dari kecil, lagi pula kalau kena pisaunya seperti ini juga nggak akan bakal bikin mati, ini sudah biasa!"
Hehhh ...., dasar keras kepala ....
__ADS_1
Div berdiri dari jongkoknya dan meletakkan kotak obat itu di atas meja dengan keras,
Brakkkk
Hingga membuat Ersya terlonjak kaget, belum selesai keterkejutannya kini Div sudah membungkukkan badannya hingga membuat Ersya mencondongkan tubuhnya ke belakang.
Tangan Div ada di samping pangkuan Ersya, sedangkan tangan kanannya berada di meja, ia menatap Ersya dengan begitu tajam,
"Ada syaratnya, jangan sampai ada sedikitpun dari tubuh kamu yang tergores, jika sekali lagi ada kejadian seperti ini makan aku tidak akan membiarkanmu melakukan apapun!?"
"Kenapa?"
"Karena tubuhmu dari ujung rambut hingga ujung kaki adalah milikku, mengerti!?"
Ersya hanya bisa menganggukkan kepalanya pelang, ia merasa ada yang berbeda dari tatapan pria itu. Bukan tatapan yang sama saat pertama kali mereka bertemu, tatapan yang sekarang sulit di artikan, ada kenyamanan dalam tatapannya hingga Ersya bisa melupakan kata-kata pria itu. Matanya terlalu fokus pada pria itu.
Grmmmm grrrmmmmm grrrmmmmm
Suara deheman beberapa kali itu berhasil membuat Div menjauhkan wajahnya dari Ersya dan kembali berdiri tegak,
"Ayah!?"
"Mentang-mentang pengantin baru maunya pengen nyosor aja!" ucap ayah Roy.
"Apa sih ayah, nggak gitu!?" ucap Ersya terlihat begitu salah tingkah berbeda sekali dengan Div yang lebih tenang.
"Kalau iya, ayah juga nggak keberatan, benar kan bu?"
Ayah Roy berteriak memanggil istrinya yang masih sibuk di dapur, dan ternyata bu Dewi sudah berjalan menuju ke ruang makan dengan membawa sebaskom sayur yang baru saja matang,
"Iya, kita juga pernah muda ....!"
"Apa ihhh bu ...!"
Ersya semakin tersipu.
Kini Ersya pun membantu bu Dewi untuk menyiapkan makan siang, ia hanya di minta untuk menyiapkan makanan dan peralatan makan di meja ruang makan.
Setelah selesai makan siang, Div mengajak keluarga kecilnya untuk berpamitan.
"Kami pulang dulu ya ayah, ibu!?"
"Iya kalian hati-hati ya di jalan!"
Kini Div dan Divia sudah berada di dalam mobil, setelah berpamitan Ersya pun mengusul putri dan suaminya ke dalam mobil.
...Nggak perlu hal hebat untuk mencintaiku, cukup dengan yang sederhana tapi mampu untuk menguatkan hati yang pernah rapuh...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰