Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (50. Salah beralasan)


__ADS_3

Dengan cepat Divia berbalik badan dan bersembunyi di balik tubuh tinggi Kim,


"Vi, ada apa?" Kim ikut menghentikan langkahnya begitu juga dengan Lee tapi tanpa mengubah arah tatapannya.


"Aku harus ke toilet, aku ke toilet sebentar ya! Aku benar-benar kebelet!" dengan cepat Divia berusaha kabur dari tempat itu.


Tapi lagi-lagi tangan kekar Kim berhasil menahan kerah baju belakangnya.


"Vi ....!"


"Aku serius Kim!" Divia sampai mengatupkan kedua tangannya agar Kim mau melepaskannya.


"Apa kau mengenal mereka?" Kim menunjuk ke arah kliennya dari Indonesia itu.


"Aku benar-benar kebelet!" akhirnya dengan kekuatan penuh Divia bisa lepas dari genggaman Kim, ia dengan cepat berlari meninggalkan ruangan itu.


Mencari toilet wanita yang ada di restauran itu, ia segera menyembunyikan diri di salah satu bilik toilet yang ada di sana,


"Ya ampun, ya ampun ....., aku nggak salah lihat kan, itu tadi beneran ayah!?"


"Bukankah ayah bilang akan datang besok, kenapa sekarang sudah datang?"


"Gimana kalau ayah sampai tahu?"


"Nggak, nggak, jangan deh. Aku belum siap!"


Drettttt dretttttt drettttt


"Astaga, jantungku!" Divia sampai memegangi dadanya karena terlalu terkejut.


Ia segera memeriksa ponselnya dan ternyata ada Kim yang sedang menghubunginya.


"Jangan deh! Nggak usah di angkat kali ya!"


Di ruangan VIP itu, Kim pun memilih meminta Lee untuk mengawasi Divia. Ia harus tetap menemui klien.


"Selamat siang, maaf saya terlambat!" Kim segera menyapa kliennya itu, dua orang yang tengah duduk itu segera berdiri menyambut kedatangan Kim,


"Selamat siang Mr Kim!"


"Silahkan duduk!"


Setelah berbasa-basi akhirnya mereka pun membicarakan mengenai pekerjaan.


"Katanya Mr Kim akan membawa seseorang yang akan membantu Mr dalam proyek ini?"


"Iya maaf, sebenarnya tadi sudah ke sini bersama saya, tapi maaf dia sedang ke toilet!"


"Ohhh sayang sekali, pasti kalau ada orang Indonesia pasti akan lebih mudah!"


"Tapi jangan khawatir Mr Rendi, karena saya sedikit-sedikit bisa berbahasa Indonesia!"


"Benarkah?"


"Iya, kebetulan ibu saya orang Indonesia!"


"Syukurlah kalau begitu, semoga kedepannya tidak ada masalah! Oh iya, terimakasih atas penyambutan Mr Kim di sini, kami sangat terkesan !"


"Tidak masalah Mr Rendi, baiklah silahkan lanjutkan istirahat Mr Rendi, besok kita sudah mulai bekerja!"


"Terimakasih!"


"Semoga istirahat anda menyenangkan!"


Mr Kim pun segara meninggalkan tempat itu setelah satu jam melakukan negosiasi.


Tapi satu jam itu, Divia tidak juga kembali.


"Di mana dia?" tanya Kim pada Lee.

__ADS_1


"Nona Vi sudah kembali ke apartemen!"


"Apartemen?"


"Iya Mr!"


"Antar saya ke sana!"


Kim segera masuk ke dalam mobil, seperti biasa Lee yang mengemudikan mobil. Mereka menuju ke apartemen baru yang di beli untuk Divia.


Kim dengan cepat berjalan menuju ke parlemen Divia, Lee terus saja mengikutinya, dengan cepat ia juga mengetuk pintu berwarna silver itu.


Ceklek


Dari dalam tampak Divia membukakan pintu dan menyambut mereka dengan tersenyum,


"Hai!" ia juga melambaikan tangannya.


Kim tidak menjawab sapaan Divia, ia memilih berlalu begitu saja masuk ke dalam menerobos tubuh Divia.


Divia mengerutkan keningnya dan menatap pada Lee, bertanya pada pria itu walaupun tanpa kata,


"Maaf nona, Mr Kim mencari anda!"


"Begitu ya!"


"Kalau begitu saya permisi!" Lee segera meninggalkan tempat itu, dengan perlahan Divia kembali menutup pintunya. Ia benar-benar merasa bersalah karena pergi tanpa pamit pada Kim.


Terlihat Kim sudah duduk di sofa, ia menatap ponselnya dengan kaki yang di lipat salah satunya di atas kaki yang lain.


Divia dengan hati-hati duduk di sofa yang lain, ia harus mulai merancang alasan agar Kim tidak marah padanya,


"Kim!?"


Tapi sepertinya pria itu tidak terpengaruh dengan panggilan Divia, membuat Divia mengulang panggilannya,


"Kim!?"


"Maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud pergi tanpa pamit, sungguh. Tadi itu tiba-tiba aku sakit perut!" mendengarkan alasan Divia berhasil membuat pria itu menatap ke arah Divia.


Berhasil ....


Divia tersenyum dan menunjukkan wajah kesakitannya,


"Beneran Kim, sakit. Ini sekarang juga masih sakit!"


Dengan cepat Kim meletakkan ponselnya begitu saja dan mendekat ke arah Divia,


"Masih sakit? Kita ke rumah sakit ya? Atau aku panggil dokter sekarang juga?" Kim terlihat panik sambil memegangi perut Divia bergantian memegang kedua tangannya.


Waduhhh ...., kayaknya salah beralasan deh ....


"Lee dimana sih, dia seharusnya berada di sini kalau lagi genting seperti ini!" Kim dengan wajah cemasnya kembali mengambil ponselnya dan hampir saja menghubungi Lee, tapi dengan cepat Divia menahan tangan Kim agar tidak melakukan itu.


"Kim, Kim, tenanglah....!"


"Bagaimana aku bisa tenang kalau kamu sakit, kenapa tidak bilang dari tadi kalau kamu sakit? Aku bisa langsung mengantarmu ke rumah sakit!"


"Ya ampun Kim, aku sudah lebih baik. Sudah nggak usah panik ya, asal istirahat aja aku udah sembuh, ini cuma sakit biasa!"


"Baiklah kalau begitu kami istirahat ya, biar aku yang melakukan pekerjaanmu, masak, bersih-bersih!"


"Nggak perlu Kim!"


"Sudah jangan bawel!" Kim segera berdiri dan menyusupkan kedua lengannya di balik punggung dan kaki Divia, mengangkat tubuh mungil Divia dan membawanya ke kamar.


Dengan perlahan ia menurunkan Divia di atas tempat tidur, membalut tubuh Divia dengan selimut hingga sebatas perut,


"Tidurlah, dan jangan memikirkan apapun lagi, aku akan membuat makanan untuk mu!"

__ADS_1


Kim meninggalkan kecupan di kening Divia dan meninggalkan Divia di dalam kamar.


Setalah memastikan Kim benar-benar keluar dari kamarnya, Divia segera bangun.


"Yahhhh, aku jadi ngerasa bersalah. Dia benar-benar khawatir, tapi aku harus bagaimana, aku tidak mungkin mengatakan kalau kliennya adalah ayahku."


"Bagaimana kalau nanti Kim tahu dan dia mengatakan sejujurnya sama ayah, aku kan belum siap!"


"Aku harus apa sekarang?"


Belum juga selesai rasa bingungnya, tiba-tiba ponsel yang berada dalam genggamannya berdering. Ia dengan cepat melihat siapa yang melakukan panggilan dan ternyata itu ayah Rendi.


"Panjang umur banget, bagaimana ini?" gumamnya, ia tampak ragu untuk mengangkat sambungan telponnya.


"Bagaimana ini?"


Ponselnya berhenti berdering sebentar, tapi tiba-tiba kembali berdering dengan nama yang sama.


Akhirnya setelah begitu banyak pertimbangan Divia pun mengangkat telponnya,


"Hallo ayah!"


"Hallo nak, kenapa lama angkatnya?"


"Maaf yah, tadi Vi lagi di kamar mandi, ada apa yah?"


"Ayah sudah di Korea!?"


"Benarkah yah?"


Walaupun Divia sudah tahu hal itu, tapi ia tidak ingin membuat ayahnya curiga.


"Iya nak, ayah kangen sama kamu. Segera kirim lokasi kamu ya, ayah mau ke tempat kamu!"


Mati aku ...,, Divia sampai menepuk kepalanya. Ia benar-benar tidak menyangka akan secepat ini.


"Sekarang yah?"


"Iya, besok ayah akan sangat sibuk karena ayah tidak lama di sini, jadi ayah ingin segera menemui kamu, kamu tidak keberatan kan? Tidak ada yang sedang kamu sembunyikan sama ayah kan?"


"Enggak kok yah, memang Vi nyembunyiin apa?"


"Ya apa gitu, misalnya pacar Vi!"


"Apaan sih yah, Vi kan nggak punya pacar!"


"Syukurlah, ayah khawatir kalau kamu sampai pacaran sama orang Korea!"


Yahhhh, belum-belum langsung dapat lampu merah ....


Divia tidak berani menanggapi lagi ucapan ayahnya, ia memilih diam dari pada keceplosan.


"Bisa kan kirimkan lokasi kamu saat ini?"


"Iya yah! Vi kirimkan ya!"


"Ya udah ayah matikan sambungan telponnya, sampai jumpa nanti!"


Sambungan telpon pun terputus, dan dengan berat hati ia harus mengirimkan alamat lokasinya saat ini.


"Aku harus apa sekarang? Bagaimana dengan Kim?"


Divia dengan cepat turun dari tempat tidur, ia harus mencari cara agar Kim mau pergi sebentar selama ayahnya di apartemen itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2