
Div terlihat sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia merapikan kembali meja kerjanya.
Ersya sudah bersiap-siap dengan berjalan menghampiri suaminya saat melihat sang suami memakai jasnya kembali.
"Mas, jasnya nggak usah di pakek!"
"Kenapa?"
"Kita kan makannya nggak di restauran!"
"Dimana?"
"Pokoknya ikut aja lah mas!"
Ersya menarik tangan suaminya hingga sang suami melupakan niatnya untuk memakai kembali jasnya. Jas hitam itu dia gantung di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menggandeng sang istri.
kantor sudah terlihat sepi, bahkan beberapa lampu sudah di matikan. Sudah jam 7 malam, karena bukan akhir. tahun jadi karyawan jarang ada yang lembur. Sekretaris Revan juga sudah pulang lebih dulu atas perintah Div sedangkan Rangga punya tugas tambahan yaitu menjaga Divia di tempat camping.
Walaupun tidak di ijinkan ada orang tua yang menunggui, Rangga tetap di perintahkan untuk stand by di sekitar lokasi.
"Selamat malam pak, buk!" sapa scurity yang bertugas. Ersya cukup mengenal dengan bapak scurity itu, dulu bapak scurity itu sering menyapanya. Tapi mungkin sekarang dia tidak menyangka bahwa wanita yang ada di samping bos nya itu adalah wanita yang sama yang selalu menghabiskan waktunya di atap gedung.
"Selamat malam!" sapa balik Div dengan nada dinginnya, terlihat mobil sudah siap di depan mereka. Ersya tersenyum dan menoleh pada scurity itu,
"Pak Totok jaga malam ya?"
Mendengar pertanyaan Ersya, scurity itu terlihat terkejut dan segera memperhatikan wanita yang bersama bosnya,
"I-iya Bu!"
Ersya tersenyum senang melihat wajah panik scurity karena ulahnya.
"Masuklah!" ucap Div memotong kesenangannya dan Ersya pun segera masuk saat pintu mobil itu sudah di bukan oleh suaminya.
Div pun segera berlari mengitari mobil dan masuk melalui pintu samping.
Mobil pun melaju meninggalkan pak scurity yang masih bingung,
"Perasaan kayak tidak asing ya wajah Bu bos, siapa ya? Dimana?" gumam pak Totok sambil terus menatap mobil yang semakin menghilang.
Di dalam mobil, Ersya masih saja tertawa,
"Wajah pa Totok lucu banget ya!?"
"Senang sekali mengerjai orang!"
"Nggak mengerjai mas, aku kan cuma pengen mengetes ingatannya pak Totok aja!"
Div hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan alibi sang istri, memang tidak bisa di ragukan lagi kejahilan istrinya itu. Memang paling bisa.
"Mas mas ..., berhenti!" ucap Ersya sambil memukul berkali-kali lengan Div agar segera berhenti.
Ciiitttttttttttt ....
Karena ulah Ersya itu membuat Div mengerem mendadak,
"Aughhhhh!" keluh Ersya saat kepalanya dasbor depan.
Div segera mematikan mesin mobilnya dan menarik tubuh Ersya,
"Kamu tidak pa pa?"
Ersya terlihat masih memegangi keningnya Yang sedikit nyeri,
"Nggak pa pa mas, cuma nyeri sedikit!"
__ADS_1
"Mana aku lihat!"
Div menarik tangan Ersya yang menutupi keningnya,
"Darah!?"
Div semakin terlihat panik saat melihat darah di kening Ersya,
"Mana? Nggak pa pa!" Ersya malah begitu santai, ia melihat pantulan keningnya di cermin kecil yang menggantung di kaca depan mobil. Dan benar memang ada luka, tapi cuma sedikit, karena tepat di depan Ersya ada hiasan yang cukup keras, mungkin itu yang melukai keningnya.
"Kita ke dokter!"
Mendengar ucapan Div, Ersya begitu terkejut. Ia sampai melebarkan matanya tidak percaya.
"Nggak nggak ...., aku lapar bukan sakit! Jadi nggak perlu ke rumah sakit!"
Ersya menyambar tisu yang berada di atas dasbor dan mengusap darah itu,
"Nah gini aja udah ilang darahnya!"
"Itu bisa infeksi, Sya!"
"Nggak akan, pokoknya aku aku nggak mau ke rumah sakit, aku mau makan di sana! Sudah lapar!" ucap Ersya sambil menunjuk sebuah kedai lalapan langganan Ersya waktu masih kerja sebagai salah satu staf di bank swasta.
"Nggak, kita harus ke rumah sakit, lagi pula itu tempatnya kotor, di pinggir jalan lagi! Nggak baik buat kesehatan, Sya!"
"Siapa bilang, itu bersih tahu! Aku mau turun!"
Ersya pun menyambar tisu lagi yang ia gunakan untuk menghambat agar darahnya tidak terus keluar lalu segera membuka pintu mobil dan keluar meninggalkan Div.
"Dasar keras kepala!" gumam Div, "Okey kalau nggak mau ke rumah sakit berarti rumah sakit yang aku datangkan ke sini!"
Div segera mengikuti langkah istrinya yang keras kepala itu, walaupun terlihat tidak nyaman Div tetap memaksakan diri untuk ikut duduk di sebuah bangku panjang bersama sang istri.
"Terserah kamu saja, yang sama kayak punya kamu!"
"Okey!" ucap Ersya dengan mengacungkan jarinya membentuk huruf O.
Hehhh,
Div menghela nafas melihat kelakukan istrinya.
Dia benar-benar lebih bandel dari pada Divia .....
"Mang, sambel ati sama ampela dua ya!"
"Baik neng!"
Mereka pun menunggu hingga pesanan datang, butuh waktu lima menit karena ati dan ampelanya harus di goreng lebih dulu.
"Silahkan neng pesanannya!" ucap mang penjual lalapan dengan memberikan dua piring nasi lengkap dengan ampela ati dan sambal juga di lengkapi dengan irisan timun dan daun selada, dua pucuk daun kemangi.
"Gimana, mantap kan?" tanya Ersya melihat suaminya hanya terdiam mengamati piringnya.
"Gimana makannya? Nggak ada sendok atau pisau?"
"Ya nggak ada lah mas, kalau ada juga nggak akan nikmat kalau makannya pakek sendok, gini loh mas!"
Ersya mencontohkan dengan menyelipkan sebagian telapak tangannya ke dalam baskom kecil yang ada di samping piringnya.
"Itu buat apa?"
"Ini buat cuci tangan mas, mana tangannya!"
Ersya menarik tangan Div dan mencelupkannya di baskom kecil yang ada di samping piring Div,
__ADS_1
"Ngapain?" protes Div.
"Sekarang tangannya sudah bersih, sudah bisa makan!"
Ersya menunjukkan tangannya yang bersih dan segera menyantap makanannya.
Div merasa geli melihat betapa lahap istrinya makan dengan tangan.
"Nggak, nggak, aku pakek sendok saja!" ucap Div lalu mengambil sendok yang memang di sediakan di meja di tempat sendok, sedikit jauh dari mereka.
"Nggak seru mas!"
"Biarkan saja!"
Div pun segera menyantap makanannya, ini untuk pertama kalinya Div makan di pinggir jalan,
Lumayan rasanya .....
Tanpa sadar Div menghabiskan lebih dulu makanannya. Ersya hanya tersenyum melihat suaminya,
"Gimana mas, enak kan? Nggak kalah kan sama rasa makanan yang ada di restoran bintang lima?"
"Hmmm!"
"Di sini itu cuma kalau tempat aja mas, makanya jangan ngremehin pedagang kaki lima, kalau mau buka restauran mas harusnya cari tuh beberapa pedagang kaki lima yang potensial untuk di ajak kerja sama, biar yang kaya nggak makin kaya sendiri terus yang miskin makin miskin deh!"
"Hemmm!"
"Jangan hmmm aja mas, itu petuah bijak!"
"Iya!" jawab Div menyerah dengan kecerewetan sang istri.
"Mas kenapa itu mobil bagus-bagus berhenti di sini semua? Mas ya yang undang?" tanya Ersya saat melihat ada dua mobil yang bagus juga berhenti di samping mobil mereka.
"Iya!"
...Banyak hal yang sederhana yang ternyata begitu istimewa, seperti mutiara yang tertutup oleh cangkang....
Bersambung
Selamat tahun baru 2022, semoga di tahun yang baru ini kita semua di beri kesehatan dan Riski yang barokah, keluarga yang senantiasa di beri kebahagiaan, saling mencintai satu sama lain.
Dan untuk janjiku yang kemarin, mulai tanggal satu akan aku up cerita baru
aku up tanggal 1 Januari 2022
Wilson dan Tisya akan aku up tgl 2 Januari 2022,
Jadi karena ada dua cerita, aku tidak bisa up setiap hari, aku satu harinya Sanaya dan satu harinya Wilson
Dan satu lagi, yang nunggu-nunggu bonschap nya Mas Alex, insyaallah Bulan ini juga aku up, semoga bisa Istiqomah up nya
Terimakasih
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1