
Beberapa hari Ellen sering pergi, aku agak lega karena tidak ada yang menggangguku sepanjang siang.
Mama juga sama, setelah kedatangan ibu Ratih mama tidak suka berulah, bicaranya juga setajam biasanya, kalau berpapasan denganku yang biasanya melontarkan kata yang menyakiti perasaan sekarang hanya diam saja.
Aku tidak tahu apa maksud ibu Ratih memberi mama sebuah butik, apa benar itu hanya alasan supaya mama jauh dari kami, biarlah itu urusan mama dan ibu Ratih. Lagi pula aku hanya menantu di rumah ini.
Sebenarnya beberapa hari terakhir ini aku merasa sangat was-was, Divia tidak banyak bicara seperti biasanya, setiap aku akan tidur di kamarnya dia selalu melarangku dengan berbagai alasan. Divia juga memilih untuk di antara Ellen dari pada aku, alasannya tidak mau membuatku capek. Tapi hal itu malah membuatku sakit, aku sepeti kehilangan sosok Divia, putri kecilku.
Setelah pulang sekolah, Divia lebih sering menghabiskan waktunya di kamar, dia juga melarang encusnya untuk masuk ke dalam kamar, apa iya dia lebih cepat dewasa padahal aku belum puas dengan tingkah polosnya.
Aku sempat meminta pendapat Felic, tapi dia tidak jauh berbeda denganku, anaknya masih bayi tidak tahu cara mengatasi anak yang seperti itu, kemudian aku memilih untuk bertanya pada Ara, dia punya duo kembar yang usianya di atas Divia, dia pasti faham.
"Memang sih seperti itu kalau Gara, kalau Naya nggak gitu Sya, dia tetap Deket sama aku, coba di tanya, siapa tahu ada sesuatu yang tidak kita ketahui!"
Ara memberiku saran dalam telponnya, aku mengangguk mengerti,
"Lain waktu kalau pas senggang aku usahain ke situ deh sekalian aku bawa anak-anak!" sambungnya lagi.
"Terimakasih ya!"
Sedikit tenang mendapatkan saran dari Ara, tapi yang sudahlah mungkin aku hanya terlalu khawatir.
Aku pun kembali menghubungi Nadin, sebelumnya dia yang dekat dengan Divia karena Divia menganggap Rendi sebagai ayahnya.
"Ada apa? Nggak biasanya nih hubungi aku?" terdengar bersemangat sekali, Nadin memang suka seperti itu. Sepertinya aku satu server sama dia, pantas saja mas Div sempat jatuh cinta padanya. Ada sih sedikit rasa cemburu, tapi tidak banyak hanya sekedarnya saja karena aku sekarang sudah tahu kalau cinta mas Div hanya untuk aku dan anak-anak.
"Aku mau tanya tentang Divia!" aku pun menceritakan semua tentang Divia akhir-akhir ini yang berubah. Dan ternyata jawabannya berbeda dengan jawaban yang di berikan Ara.
"Kayaknya ada yang aneh deh, jangan gegabah ya! Aku tahu siapa yang bisa menyelesaikannya, jangan khawatir!"
Mungkin dia sedang membicarakan suaminya, dari cerita yang aku dengar suaminya itu luar biasa. Bahkan dia yang mengungkap keberadaan jika aku yang membantu Divia saat akan lahir, mau tidak mau ternyata aku sudah punya ikatan batin dengannya sejak dalam kandungan.
"Baiklah, jadi sekarang aku harus gimana?"
"Pura-pura aja tidak tahu, tapi tetap waspada!"
"Baiklah!"
__ADS_1
Jantungku semakin terpacu sekarang, aku benar-benar khawatir yang tidak bertepi. Tapi aku mencoba untuk tetap bersikap biasa saja selain karena aku sekarang sedang mengandung aku juga tidak boleh terlihat lemah di depan orang-orang seperti mereka, jika aku lemah maka Meraka akan menginjak-injak ku.
Hingga di suatu siang, aku mendengar ribut-ribut di depan, aku bisa mendengar jelas itu suara mama. Dia terdengar mengusir seseorang.
Aku yang sedang membaca buku segera menutup bukuku dan turun, mencoba mencari tahu ada ribut-ribut apa di depan. Tepat saat aku berada di ujung tangga, kepala pelayan tergopoh menghampiriku.
"Nyonya, sebaiknya nyonya masuk saja!"
"Ada apa di luar?" aku tidak mengindahkan permintaannya.
"Ini tidak baik untuk nyonya dan kandungan nyonya, sebaiknya nyonya masuk saja!"
Hehhhhh
Aku menghela nafas dan berlalu begitu saja melewati tubuh kepala pelayan yang berusaha untuk menghalangi langkahku.
"Nyonya ..., nyonya ...!" tidak ku indahkan panggilannya, aku tetap begitu penasaran dengan apa yang terjadi di depan.
Langkahku terhenti saat melihat siapa yang datang, empat orang berseragam petugas kepolisian sedang berdebat dengan mama di depan pintu.
"Ma, siapa?" tanyaku yang masih berada di ambang pintu.
"Mama bikin masalah lagi ya?" tidak peduli mama mengusirku, aku tetap ingin tahu apa yang terjadi.
Salah satu petugas itu pun menghampiriku karena berhasil lepas dari pengawasan mama,
"Anda siapa?"
"Saya nyonya di rumah ini!" jawabku lantang dan meyakinkan, tapi langsung mendapat tatapan sinis dari mama, tak Masalah lah, aku tidak merugikan mama juga akibat ini.
"Saya di minta pak Divta untuk mendatangi rumah ini, katanya ada kecurangan di rumah ini!"
"Saya istrinya, baiklah kalian masuk saja!"
"Ersya!" mama protes, aku hanya melengos masuk tidak peduli dengan penolakan mama.
Takut dosa sih sebenarnya, tapi aku juga tidak suka kecurangan terjadi di rumah kami.
__ADS_1
Mama tetap ngotot tidak mengijinkan mereka masuk meskipun aku sudah mengijinkannya. Untung mobil mas Div memasuki halaman, aku merasa lega sekarang.
Segera ku hampiri mas Div yang baru turun dari mobilnya.
"Mas, ada apa?"
Mas Div hanya tersenyum, dia mengusap puncak kepalaku lalu mengecup sebentar keningku.
Aku juga bisa melihat Divia bersamanya, ini belum waktunya pulang tapi ada apa sebenarnya, segera ku peluk tubuh mungil itu, dia bergeming mungkin membantuku bicara.
"Sayang, semua akan baik-baik saja!" walaupun aku sendiri tidak yakin, tapi aku tidak mau membuat putriku semakin tertekan.
Mas Div tidak memberitahukan apapun padaku, mungkin dia juga khawatir tentang keadaanku.
"Lebih baik kita bicara di dalam ya!"
Setelah kedatangan mas Div barulah mama menyerah, dia mengijinkan mereka untuk masuk.
"Maaf pak, bagaimana kelanjutannya?" tanya salah satu polisi yang sedang duduk.
"Sebentar ya pak, saya harus menunggu seseorang!"
Ku lihat mas Div sedang mengirimkan pesan pada Ellen untuk segera pulang, aku duduk di sebelahnya jadi tahu apa yang di lakukan mas Div saat ini.
Pelayan sudah menyuguhkan minuman dingin untuk para tamuku, aku masih duduk sambil memeluk tubuh Divia. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada putriku saat ini.
Mama yang duduk bersebelahan dengan mas Div tangannya terlihat beberapa kali ia usapkan ke rok sebatas lututnya, walaupun masih menampakkan wajah arogannya tapi aku tahu mama sangat khawatir. Apa semua ini ada hubungannya dengan mama?
Aku harus kembali bersabar, mungkin pembaca juga!
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...