Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Melepas dengan Ikhlas (Ersya)


__ADS_3

Ersya pun segera berjalan mendekati mereka dengan sisa-sisa tenaganya yang tiba-tiba


terkuras begitu saja, tenggorokannya juga tiba-tiba kering.


Ersya berdiri tepat di depan Rizal, menatap pria yang beberapa hari lagi itu akan


resmi bercerai dengannya.


 “Mas Rizal!”


Hanya itu yang bias keluar dari bibirnya, bibirnya terlalu kelu untuk mengatakan hal


lainnya.


“Kamu di sini, kebetulan sekali! Sekalian aku mau ingatin sama kamu kalau lusa kita


harus datang ke pengadilan agama!” ucap Rizal,


Ia tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu jika ucapannya akan begitu menyakitkan


bagi wanita yang telah ia cintai selama hampir sepuluh tahun itu. Hari-hari


yang telah mereka lalui selama pengenalan, berpacaran hingga menikah seakan


sirna dengan sebuah kata ‘Cerai’.


“Aku tahu mas, aku pasti akan datang! Rasanya tidak akan baik jika menunda sesuatu pekerjaan, apalagi wanita yang berada di samping mas sudah nggak sabar kan untuk mengambil bekas ku …, lagi pula aku tidak butuh sesuatu yang sudah di umbar untuk orang lain, akan lebih baik jika melepaskan demi mendapatkan yang lebih baik!”


Ersya benar-benar berusaha untuk mengatakan hal itu dengan nada yang sangat halus tapi ia tahu kata-kata itu pasti sangat menyakitkan. Terlihat sekali bagaimana ekspresi kemarahan Rizal saat itu.


“Ohhh iya mas, sekali lagi selamat ya atas hubungan kalian! Semoga nanti wanita ini akan menjadi wanita yang benar-benar srek untuk hati mas Rizal, aku masuk dulu ya!”


Ersya pun berjalan di antara Rizal dan Tisya hingga membuat kedua orang itu bergeser dari tempatnya. Ersya segera masuk ke dalam kafe dan berhenti di samping pintu masuk yang sedikit tertutup. Ia kembali menoleh ke luar dan memastikan jika mereka benar-benar pergi.


Ersya beberapa kali menata nafasnya agar tidak sampai menangis, ia tidak mungkin


menemui sahabatnya dengan berurai air mata.


“Ersya …, kamu kuat …! Semua akan baik-baik saja, dunia tidak akan hancur hanya dengan


bercerai dengan mas Rizal dia bukan pria yang baik!”

__ADS_1


Ersya berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri agar tidak terlalu terluka. Ia mengambil tisu dari dalam tasnya dan mulai mengusap air matanya yang sudah terlanjur mengambang di pelupuk matanya agar tidak sampai jatuh mengenai pipinya.


Setelah beberapa kali menghela nafasnya,dan memastikan jika dia sedang baik-baik saja.


Ersya pun beralih menata senyumnya. Ia terus menggerakkan bibirnya agar bisa tersenyum. Ia terus memasang senyum dan mencari keberadaan sahabatnya itu.


Ia bisa melihat sahabatnya itu sedang duduk di salah satu kursi bersama seorang


pria yang berdiri di dekatnya. Ia tahu siapa pria itu, dia buan suami sahabatnya


tapi pengawal pribadi sahabatnya.


“Hay Fe …!” sapa Ersya sambil melambaikan tangannya saat melihat Felic, Felic pun


membalas lambaikan tangannya.


Ersya mempercepat langkahnya dan mendekati sahabatnya itu. Dengan cepat Ersya memeluk


sahabatnya itu, Ersya segera melepaskan pelukannya saat melihat hal yang begitu janggal dari sahabatnya itu. Sahabatnya itu terlihat begitu berantakan.


“Fe …, lo ngapain berantakan gini? Abis perang sama siapa?” tanya Ersya sambil


“Mas Rizal!” ucap Felic sambil menatap Ersya. Ersya begitu terkejut setelah mendengar


nama itu.


Jadi mereka tadi bertemu …., apa Fe juga tahu tentang wanita itu, atau perceraian kami …, bagaimana kalau Fe cerita sama mama dan papa …, aku belum sanggup …., batin Ersya. Ia hanya terdiam mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, ia tidak tahu harus berkata apa, hatinya sudah terlanjur beku.


“Sya …, lo sembunyiin apa dari gue?” tanya sahabatnya itu.


“Mas Rizal?” Ersya segera menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Ia tidak tahu harus berkata apa pada sahabatnya itu. Felic mengangguk, ia ikut duduk di samping Ersya. Ia mendekatkan kursinya agar bisa mendengar dengan jelas apa yang akan di katakana


oleh sahabatnya itu.


“Kami sudah bercerai, Fe!” air mata Ersya yang sedari tadi di bendung kini tumpah juga akhirnya.


“Kenapa tidak pernah bercerita padaku?” Felic segera memeluk sahabatnya itu, pembawaan Ersya yang selalu ceria sehingga mampu menutupi semua kesedihannya.


Sebelumnya memang Felic sudah curiga karena setiap kali ia ke rumah sahabatnya itu, tidak


pernah sekalipun ia melihat Rizal di sana. Rizal juga sudah jarang menemani Ersya di acara-acara yang Ersya datangi dengan berbagai alasan yang kurang masuk akal.

__ADS_1


“Sekarang ceritakan padaku, Sya! Jika lo masih nganggap gue sahabat lo!”


Ersya pun membetulkan duduknya, ia sebenarnya tidak mau membebani sahabatnya itu


dengan masalah yang ia hadapi tapi sekarang Felic sudah terlanjur mengetahuinya. Ia tidak mungkin menutupinya lagi.


“Kami sudah memutuskan untuk bercerai!” ucap Ersya dengan begitu pasti. Memang sudah waktunya untuk sahabatnya itu tahu, seberapapun ia mencoba untuk menyembunyikan kenyataan itu, suatu saat semua orang juga akan tahu dan dia harus bisa


menjawabnya.


Felic terdiam dan menatap sahabatnya itu, mungkin dia merasa bersalah karena tidak


tahu apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya, “Sejak kapan?”


Ersya menerawang, ia hampir lupa sejak kapan rumah tangga mereka bermasalah hingga berujung ke pengadilan agama, “Sekitar dua bulan yang lalu, dan keputusan pengadilan  akan jatuh dua hari lagi! Lusa aku sudah resmi menyandang status janda!” ucap Ersya dengan masih mencoba untuk bersikap tegar, ia terlihat biasa saja. Mungkin karena memang air matanya sudah terlanjur habis untuk menangis dan memohon agar suaminya tidak menceraikannya.


“Karena wanita itu?” tanya Felic, Ersya pun menatap sahabatnya itu dan menghela nafas begitu berat.


“Mungkin!” jawabnya terlihat tidak pasti, “Tapi alasannya menceraikan aku bukan itu Fe …!”


Felic mengerutkan keningnya, “Apa?”


“Kami tidak juga mendapatkan keturunan! Dia bilang jika mungkin aku tidak bisa menjadi ibu karena kita sudah menikah selama empat tahun dan juga belum hamil, Fe! Sakit banget rasanya Fe …, menjadi ibu itu dambaan semua wanita, bagaimana aku jika hal itu benar?!”


Kali ini Ersya tidak mampu menahan untuk tidak menangis,ia butuh bahu untuk


bersandar kali ini bukan hanya bersandar pada kaki dan senyumnya. Felic pun


segera memeluk sahabatnya itu, ia mengusap punggung Ersya, mencoba menenangkannya.


“Aku rasa bukan itu Sya alasannya!” ucap Felic membuat Ersya melepaskan pelukan


Felic dan menatap sahabatnya itu.


Spesial visual Daddy Div dan Iyya



Bersambung


...Melepas sesuatu yang memang sudah tidak bisa di pertahankan jauh lebih baik dari pada mempertahankan tapi menyimpan luka yang besar...

__ADS_1


__ADS_2