Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (12. Hari pertama)


__ADS_3

Mereka pun kini sudah berada di rumah besar pria itu karena Dee tidak mau di tinggal olehnya.


Rumahnya lumayan bagus ....


Divia mengamati rumah yang di dominasi dengan dinding kaca itu, ia bisa melihat ke luar menatap pemandangan itu.


"Duduklah!" perintah Mr Kim setelah Dee mau lepas darinya.


Divia pun duduk, di sana sudah ada Lee juga.


Begitu cepat dan akhirnya surat perjanjian itu sudah jadi.


"Silahkan baca ini!" Mr Kim menyerahkan sebuah map yang baru saja di berikan oleh Lee.


Divia langsung membaca dengan seksama,


"Perjanjian ini akan berlangsung hingga dua tahun ke depan?"


"Iya!"


"Maksudnya aku akan tinggal di sini selama dua tahun?"


"Iya, bukankah itu bagus? Kamu tidak perlu menyewa tempat kos yang sempit itu lagi, kamu juga bisa menikmati semua aktifitas di sini tanpa harus membayarnya!"


Bagus sihhh tapi bertemu dengannya setiap hari apa akan baik untuk kesehatan jantungku? Divia menatap pria tampan di depannya, dia benar-benar tampan walaupun dingin.


Walaupun dia tidak mungkin jatuh cinta denganku, batinnya saat melihat kedekatan Mr Kim dengan Lee,


Bahkan mereka duduk pun selalu berdekatan seperti itu, benar-benar sepasang kekasih yang tidak terpisahkan ...


"Kenapa malah menatapku seperti itu?" tanya Mr Kim saat menyadari arah tatapan Divia.


"Bukan apa-apa, baiklah aku akan membaca kelanjutannya!"


Divia kembali fokus pada tulisan di depannya di banding dengan dua pria yang tengah duduk begitu dekat di depannya itu.


Ada begitu banyak poin, matanya sampai terasa lelah dengan surat perjanjian itu, bahkan hal kecil pun di atur seperti meletakkan barang pada tempatnya, tidak makan ini di jam ini, tidak mandi di jam ini, tidak nonton tv di jam ini, tidak membuat gaduh di jam ini, tidur di jam ini, dan masih banyak lagi peraturan yang Divia rasa terlalu aneh untuk di patuhi.


"Sudah!"


"Sudah paham?"


"Iya!"


Otakku tidak terlalu baik untuk mengingat, apalagi jika harus mengingat sebanyak ini ....


"Tapi wajahmu sama sekali tidak meyakinkan!"


"Perasaan mu saja kali!"


Setelah menyetujui semua peraturan itu, Divia pun pamit untuk pulang terlebih dulu, ia juga harus mengambil beberapa barangnya. Mr kim tahu kalau Divia pasti akan kembali karena ia masih belum mengembalikan laptop dan ponsel milik Divia.


Tanpa berpamitan dengan Dee, Divia pun segera pergi dan dia berjanji akan kembali esok hari.


Kedatangan Divia di tempat kos langsung di sambut oleh Yura, ia sudah merasa khawatir dengan temannya itu,


"Bagaimana, apa yang terjadi?"


Yura langsung membrondonginya dengan banyak pertanyaan,


"Aku haus!"


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan ambilkan minum!" Yura segera mengambilkan minuman dingin untuk Divia. Mereka memilih untuk duduk di atas atap sambil menatap langit yang malam ini begitu cerah.

__ADS_1


"Minumlah!"


Setelah membiarkan temannya itu selasai minum akhirnya Yura yang begitu penasaran kembali bertanya,


"Apa yang terjadi?"


"Aku dapat kerja!" ucap Divia bersemangat.


"Maksudnya kamu bekerja di perusahaan besar itu?" sekejap Yura merasa iri dengan temannya itu tapi Divia segera menggelengkan kepalanya.


"Bukan?"


"Iya, aku akan jadi baby sitter nya Dee, bukankah itu bagus?"


"Ahhh sungguh tidak keren!"


"Tapi gajinya lumayan besar dan yang paling penting aku bisa mendapatkan kembali laptopku!"


"Syukurlah kalau mereka tidak menyakitimu!"


"Memang siapa yang akan berani menyakitiku!?" ucap Divia dengan lantangnya.


"Memang siapa dirimu?" Yura menatap Divia curiga.


Hampir sama Divia keceplosan, ia sudah menutup rapat jati dirinya selama ini, ia ingin semua orang hanya mengenal dirinya bukan keluarganya.


"Ya aku kan pemberani, awas saja bikin gara-gara sama aku, aku akan bikin perhitungan dengannya!"


"Kau ini terlalu pemberani jadi orang!"


"Ngomong-ngomong terimakasih ya kamu sudah banyak membantuku!"


"Jangan seperti itu, aku temanmu! Ibu pasti seneng dengernya kamu dapat pekerjaan!"


Mereka pun tertawa bersama-sama dan menghabiskan malam mereka di atap untuk merayakan status baru Divia sebagai baby sitter.


...***...


Pagi-pagi sekali Divia pergi ke rumah Mr Kim, ia menepati janjinya untuk mengantar Dee ke sekolah hari ini.


"Eomma!?"


Kedatangannya langsung di sambut Dee, anak itu langsung memeluk Divia seolah tidak akan membiarkan Divia pergi lagi.


"Eomma jangan pergi!?"


"Aku tidak akan pergi sayang, lihat aku sudah membawa tasku ke sini!"


"Eomma, aku menyayangimu!"


"Sudah cukup Dee, habiskan sarapanmu!"


Mr Kim menatap Dee dan Divia dari kejauhan, ia sudah terlihat rapi.


Dee terlihat enggan untuk kembali sarapan,


"Dee, sarapan dulu ya, aku akan menemanimu, bagaimana?"


"Yeeee!" Dee teriak kegirangan, ia segera menarik tangan Divia dan mengajaknya ke meja makan. Melewati Mr Kim begitu saja.


Mr Kim hanya bisa mengikutinya dari belakang dan ikut duduk.


Melihat betapa manjanya Dee pada Divia membuatnya tidak tenang,

__ADS_1


"Dee, bisa kan makan tidak sambil bicara!?" ucap Mr Kim membuat Dee terdiam dengan kesal.


Divia hanya bisa menggelengkan kepalanya,


"Cepat habiskan makanannya dan aku akan mengantarmu!" Mr Kim kembali bicara dan Dee sama sekali tidak mau menjawabnya.


"Dee, aku akan marah padamu!" ancam Mr Kim,


"Kim, aku marah padamu!"


"Aku juga!"


Dee pun tiba-tiba turun dan meninggalkan meja makan begitu saja, ia kembali masuk ke dalam kamar. Jika sudah begini itu tandanya Dee tidak mau berangkat sekolah.


Brakkk


Tiba-tiba Divia berdiri dan menggebrak meja,


"Kamu keterlaluan, dia itu masih anak-anak. Bukan seperti itu menghadapinya!"


Divia pun akhirnya menyusul Dee dan membujuknya. Sedangkan Mr Kim benar-benar masih tercengang di tempatnya, ia tidak percaya gadis biasa itu bisa melakukan hal itu padanya.


Dia membentaku? Benarkah? ia masih tidak percaya tapi ini benar-benar terjadi padanya, selama ini bahkan Lyla tidak berani membentaknya dan gadis biasa itu melakukannya bahkan di depan para pelayannya.


"Yang benar saja!?" gumamnya sambil membetulkan dasinya yang sebenarnya tidak berantakan.


Ia pun ikut meninggalkan meja makan dan menyusul Meraka berdua. Ia hanya melihat mereka dari ambang pintu,


"Dee anak yang baik kan? Kita sekolah ya! Aku akan mengantarmu hari ini."


Dee yang menelungkupkan tubuhnya sehat berbalik dan menatap Divia,


"Benarkah, eomma?"


"Iya, nanti pulangnya aku juga akan menjemputmu bagaimana? Kalau malam aku akan membacakan dongen untukmu juga!?"


"Waahhhhh benarkah?"


"Hmmm!"


"Horee!"


"Baiklah, sekarang bersiap-siaplah, aku juga akan bersiap-siap berangkat kuliah!"


"Eomma tidak bohong kan? Eomma tidak mengingatkan aku seperti tadi malam kan?"


"Aku berjanji!" Divia mengacungkan jari kelingkingnya dan Dee pun segera menautkan jarinya.


"Aku akan siap-siap!"


"Anak pintar!"


Divia yang menyadari keberadaan Mr Kim di sana hanya menatapnya dengan tatapan mengejek.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2